Resensi : Kumpulan Cerpen Manusia Singkong

23/10/2012 at 11:21 (berita)

Televisi, Laser Disc, Buku, Kaset, Film, CD

Judul        : Kentrung Itelile
Pengarang    : F. Rahardi
Penerbit    : PT. Pustaka Pembangunan Swadaya Nusantara, 1993
Tebal        : 130 hal. + vii

Entah apa yang ada dibenak penulis ketika memberi judul buku ini Kentrung Itelile. Dalam kata pengantar yang ditulis oleh Eka Budianta pun, kata ini tidak disebutkan maknanya. Bahkan kata ini sama sekali tidak disebut-sebut. Dalam kosa kata daerah Jawa (penulis lahir di Ambarawa, Jawa Tengah dan banyak menghabiskan waktu di sana) kata ini juga sulit dicari artinya.

Sepintas, judul tadi memang terdengar unik dan memancing rasa ingin tahu. Malahan bagi pembaca yang sedikit nakal, pelesetan dari kata itu dapat memberi konotasi berbau seks. Apapun interpretasi yang muncul dari judul tadi tampaknya F. Rahardi, sang penulis, menyerahkan saja pada masing-masing pembaca.

Upaya membebaskan pembaca dari pembatasan makna juga diberikan setelah membaca cerpen yang berjudul Kentrung Itelile. Cerpen yang mengisahkan tentang ketidakpahaman tokoh bernama Rahardi (mungkin ada kesengajaan memberi nama tokoh sama dengan nama pengarang) terhadap jurusan Kentrung Itelile, tempat sang isteri menimba ilmu, terus mewarnai isi cerita. Sampai akhirnya, Rahardi merasa lelah dan bosan mencari makna kata itu, karena sang isteri tak kunjung menjelaskan.

Namun di akhir cerita, tokoh kita, Rahardi, lagi-lagi harus dicekoki kata Kentrung Itelile saat menanyakan latar belakang pacar anaknya. Dia hanya mendapat jawaban bahwa sang pacar bernama Jakielin dan masih kuliah di jurusan Kentrung Itelile. Itu saja. Lalu apa arti itu? Tetap saja samar.

Membuat pembaca penasaran! Inilah gaya khas dari cerpen-cerpen F. Rahardi. Simak saja 21 cerpen lain yang tersusun dalam buku kumpulan cerpen ini, penulis seperti keasyikan membuka cerita dengan hal-hal yang mengundang berbagai interpretasi. Tanpa ada maksud membebani dengan pesan apapun.

Hanya memang ada beberapa yang jelas terjawab karena ada kutipan atau penjelasan yang gamblang di akhir cerita. Misalnya saja pada cerpen Rencana, Dia Tidak Mati, atau Two Mi Nem. Namun tak kurang banyak cerpen lain yang membiarkan pembaca mengumbar angan-angan sendiri. Sebutlah seperti di Sesuatu Itu atau Bertarung Dengan Banteng.

Bagi seorang cerpenis, keinginan untuk membiarkan pembaca bebas berinterpretasi memberi keuntungan ganda. Pertama penulis tak terperangkap oleh opini pribadi yang belum tentu kebenarannya. Kedua, penulis dengan leluasa menangkap nuansa-nuansa yang ada di masyarakat ke segala arah. Malahan sampai ke soal yang agak rawan macam politik.

Simak saja dalam Menikuskan Tikus, misalnya, secara samar Rahardi menyinggung tentang tikus-tikus besar yang rakus tapi dibiarkan bebas berkeliaran. Atau dalam Yang Terhormat Surat yang dengan halusnya meneriakkan kesewenang-wenangan si kuat pada si lemah.

Membaca kumpulan cerpen ini, kita seperti diajak berkaca diri dan melihat borok-borok yang belum sempat terobati di dalam masyarakat. Borok itu ada tapi seperti sulit tersentuh oleh obat derap pembangunan.

Enaknya, cerpen itu disajikan dengan bebas, lincah, dan kadang membuat pembaca tersenyum sendiri. Jadi jangan takut kening dibuat berkerut sebab paling-paling kita hanya sedikit diajak merenung saja. Nyata sekali kalau kumpulan buku ini lahir dari hati penulis yang banyak menaruh perhatian pada lingkungannya. Terutama lingkungan masyarakat pedesaan. Sehingga tak heran bila buku ini disebut sebagai Kumpulan Cerpen Manusia Singkong.

Kendati kumpulan cerpen ini terasa sarat isinya, sebetulnya bukan berarti Rahardi seorang penulis yang produktif. Malahan ada kesan ia agak sulit membuat cerpen. Sekadar tahu saja, 22 judul cerpen yang kini tersusun telah dimulai penulisannya sejak 20 tahun lalu. Yakni sejak dia menjadi kepala Sekolah Dasar di desa Sumowono, Jawa Tengah, 1973. Jadi boleh dibilang ia cuma mampu menghasilkan satu cerpen dalam setahun. Semua cerpen ini pernah dimuat dalam majalah Horison, Trubus, Kartini, Femina, dan harian Kompas.

Di sampul belakang buku ada anjuran supaya digunakan sebagai bacaan santai dalam perjalanan. Boleh-boleh saja anjuran ini diikuti asalkan hati-hati memperlakukan buku ini. Sebab mutu penjilidan masih kurang bagus sehingga kertas di dalamnya mudah terlepas. (agam)

Sumber : HAI 51/XVII 21 DESEMBER 1993

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 77 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: