KRITIK SASTRA PASCA-HB JASSIN


Kompas Minggu, 23 April 2000
H.B. Jassis Harga Diri Sastra Indonesia, Oyon Sofyan Ed, Indonesia Terra bekerjasama sama dengan Lingkar Mitra Yayasan Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, 2001. 
KRITIK SASTRA PASCA-HB JASSIN

Oleh F Rahardi

SEPENINGGAL  HB  Jassin,  masyarakat  sastra Indonesia merasakan adanya  sebuah  “kekosongan”.  Sebenarnya   kekosongan   ini  bahkan telah mulai disadari semenjak akhir tahun ‘ 70-an ketika sang “Paus” sastra kita mulai tidak aktif menulis kritik.

Memang tetap ada orang yang rajin mengulas karya sastra. Misalnya Korie Layun Rampan, Faruk, Umar  Junus,  Sapardi  Djoko  Damono, untuk  menyebut  beberapa nama. Tetapi, dibandingkan HB Jassin sosok  mereka  masih  belum “dianggap”
oleh  khalayak  sastra  Indonesia. Konsumen sastra lalu merasa tidak ada  lagi “guru”  yang  membimbing   mereka.   Para  sastrawan   pun kehilangan figur berwibawa  yang bisa mensahkan kesastrawanan mereka. Demikianlah anggapan  umum  yang tercermin  dari berbagai tulisan di media  massa  dalam   rangka  mengiringi  kepergian   kritikus   dan dokumentator besar kita.

Saya  justru  berpendapat  bahwa  kondisi  kritik  sastra  pasca HB Jassin sangat sehat. Kesusastraan  Indonesia  mampu  hadir secara wajar  lewat   media   massa,  penerbitan   buku   maupun  pembacaan puisi/cerpen.  Tidak  adanya  figur tunggal  yang  berwibawa,  telah membuat para sastrawan bisa  tumbuh  sendiri  secara  alamiah  untuk mendapatkan pengakuan  dari  masyarakat. Sementara  konsumen  sastra bebas memilih bacaan sesuai selera dan kemampuan otak masing-masing.

Dari tahun  1966  sampai  dengan tahun ’80-an pengesahan seorang sastrawan sebenarnya sudah dilakukan secara kolektif melalui majalah Horison.  Meskipun  HB  Jassin  masih  duduk  sebagai  anggota dewan redaksi, namun  perannya  sebagai  penentu  pemuatan karya sastra di Horison sudah tidak  dilakukannya  sendiri  sebab  di  sana juga ada Muchtar Lubis, Arief Budiman,  Goenawan  Mohamad,  Taufiq Ismail dan kemudian Sapardi Djoko Damono,  Sutardji  Calzoum  Bachri dan Hamsad Rangkuti. Pada kurun waktu itu,  peran  tunggal  Horison  sebenarnya juga tidak sehat bagi perkembangan sastra Indonesia.

* * *

Banyak  kalangan  yang  tidak puas  hingga cenderung mengirimkan tulisan-tulisan  mereka  ke  lembar budaya koran atau menerbitkannya dalam  bentuk  buku.  Memang  pada  waktu  itu ada  majalah Basis di Yogyakarta yang juga memuat puisi, tetapi  kewibawaan Basis dianggap masih di  bawah  Horison. Terutama setelah jabatan redaktur puisinya ditinggalkan oleh  Sapardi  Djoko Damono. Dewasa ini, selain Horison juga ada jurnal  Kalam  yang  kewibawaannya  dianggap  setara dengan Horison. Para sastrawan sendiri  pun kini  sadar bahwa kesastrawanan seseorang tidak perlu  harus  tergantung pada seorang redaktur media massa. Romo  Mangun bisa menjadi  sastrawan cukup dengan menerbitkan karya-karyanya dalam bentuk buku. Sementara para sastrawan besar pun sekarang  tidak  lagi  fanatik  dengan  Horison  dan  mau menyiarkan karyanya di koran-koran.

Dari  sisi  ini,  ketiadaan  figur  tunggal   sebagai   pengesah seseorang untuk  menjadi  sastrawan  jelas sangat  positif.  Mungkin kasus Linus Suryadi  AG  bisa  menjadi  contoh. Penyair  prosa lirik Pengakuan Pariyem ini  mula-mula  diasah  oleh  Umbu  Landu Paranggi “presiden” penyair Malioboro,  sekitar  akhir  tahun ’60-an dan awal ’70-an Ketika itu HB Jassin sudah mulai kurang menulis kritik karena tengah sibuk menghadapi  kasus cerpen  Langit Makin Mendung dan juga mulai tertarik untuk  menerjemahkan Al  Qur’an. Kemudian pada  akhir tahun ’70-an  dan  awal ’80-an.  Linus menulis   Pengakuan  Pariyem. Ketika itu yang “mengorbitkannya” Umar  Kayam  serta  Bakdi Soemanto. Dua-duanya dari UGM. Tetapi  dalam  waktu  bersamaan Faruk juga dari UGM,  membuat   ulasan  kritis   terhadap  karya  Linus   ini.  Juga JB Kristanto yang waktu itu  redaktur   budaya  Harian  Kompas.  Ada keberagaman  pendapat  dan  itu  sangat positif.

Agak berbeda dengan kondisi  tahun ’50-an  dan  awal ’60-an ketika  HB  Jassin  demikian berwibawanya hingga  seseorang baru sah dianggap  sebagai  sastrawan apabila sudah dibicarakannya, atau karya-karyanya dimuat  di majalah yang diasuhnya: Panji  Pustaka (1942-1945),  Panca  Raya (1945-1947), Zenith  (1951-1954),  Kisah  (1953-1956),  Seni (1955),  Bahasa  dan Budaya (1952-1963)  dan  Sastra (1961-1964  dan  1967-1969).  Ketika tahun 1973-1979 Ajip Rosidi  menjadi Ketua  Dewan  Kesenian  Jakarta, Direktur   penerbit   Pustaka  Jaya   dan  juga  Ketua  IKAPI  Pusat, “kekuasaan” HB  Jassin  seakan-akan  mendapat  tandingan. Ketika itu Ajip  dan  kawan-kawan   juga   menerbitkan  majalah   Budaja  Djaja (1968-1979) dan Bunga Rampai Laut Biru  Langit  Biru (1977).  Sayang, kekuatan “tandingan” ini kemudian begitu saja ditinggalkan oleh Ajip.

* * *
 
PADA  pertengahan  tahun ’90-an silam, ramai  dibicarakan  ihwal “revitalisasi  sastra   pedalaman”  Pada  kurun   waktu   itu memang bermunculan komunitas-komunitas sastra di luar Jakarta. Jurnal serta penerbitan sastra juga marak di  berbagai  kota. Komunitas-komunitas itu dengan  sangat  bersemangat  berusaha menaklukkan dominasi pusat (Jakarta). Sesuatu  yang  sebenarnya sia-sia. Sebab pengertian pusat dan daerah  atau  pinggiran  atau  pedalaman sebenarnya sangat kabur. Cerpenis  muda  papan  atas dewasa ini, misalnya  Gus tf Sakai, Agus Noor, Indra Tranggono, Joni Ariadinata, untuk menyebut beberapa nama, mereka tidak tinggal di Jakarta. Memang mereka mempublikasikan karya-karya mereka terutama melalui media massa Jakarta, tetapi itu justru sebuah  keunggulan. 

Dengan   demikian  terciptalah  kantung-kantung sastra yang  mampu  mengembangkan  komunitas  mereka  sendiri secara sehat,  tanpa  campur   tangan   kritikus  yang   berwibawa.  Mereka mendapatkan pengakuan sebagai  sastrawan  bukan  karena karya mereka diulas  oleh   kritikus, tetapi  lantaran   rajin    menulis,  rajin mempublikasikan karyanya dan dibaca masyarakat. Di sini, ulasan atau komentar dari sang kritikus menjadi  tak terlalu penting Mendambakan ulasan atau kritik, termasuk meminta pengantar dari sastrawan senior bagi buku yang mau terbit, adalah ciri sastrawan yang kurang pe-de.

Menaklukkan  pusat (Jakarta), tidak perlu dengan cara marah atau merengek-rengek. Setelah era Balai  Pustaka dan Pustaka Jaya berlalu, penerbitan  buku  sastra  yang  produktif juga  datang  dari  daerah. Misalnya Bentang di Yogyakarta dan Tera di  Magelang. Ini menandakan bahwa Jakarta memang bukan segala-galanya. Tetapi klaim bahwa sastra Riau  adalah  bagian (setara  dengan) sastra  dunia dan bukan bagian dari sastra  Indonesia, terkesan  hanyalah  sebagai  main-main, atau kesombongan yang luar biasa. Raja Ali Hadji memang sastrawan kelas dunia,  tetapi dia menulis dalam  bahasa  Melayu  Riau  yang  sekarang  hanyalah  bahasa daerah. Meskipun bahasa Indonesia (juga bahasa Malaysia) berasal dari bahasa Melayu,  tetapi  Melayu  Riau  bukan  bahasa Indonesia atau Malaysia.

Samalah  halnya  dengan  bahasa  Latin  bukan  bahasa Italia. Bahasa Sansekerta  lain dengan  bahasa  Hindi.  Jasadipoera I dan II serta Ranggawarsita adalah sastrawan kelas  dunia. Tetapi Pramudya, Rendra, Goenawan Mohamad menjadi  sastrawan  kelas dunia bukan karena mereka Jawa sebab mereka  menulis  dalam bahasa Indonesia.

Sutardji menjadi sastrawan  kelas  dunia  bukan  karena  dia Riau, tetapi  karena dia penyair Indonesia yang baik. Bahwa sastrawan Indonesia yang berkelas dunia  itu  mengadopsi  kekuatan  sastra  daerah,  itu  sah-sah saja, tetapi klaim itu bukannya dibalik.

Sastra Jawa  adalah  sastra  dunia,  karenanya  Pram, Rendra dan Goenawan lalu berkelas dunia pula. Kenyataannya, sastrawan Jawa yang kuat dewasa ini, semuanya menulis dalam bahasa Indonesia, dan hampir semuanya tinggal di Jakarta, “pusat” Republik Indonesia. Saya setuju bahwa “pusat” sastra  bukan  identik  dengan Jakarta tetapi dengan figur sastrawan kuat. Mengapa di Padang dan sekitarnya (Jambi,  Pekanbaru)  banyak  lahir  cerpenis kuat? Karena  di Padang bermukim   AA   Navis.   Kehadiran   seorang   Navis,   bagaimanapun  mendatangkan “aura” di  sekitarnya. Aura  itu  bisa  saja  berakibat ke pemujaan atau konflik  yang lalu menjadi  pemicu persaingan dalam bentuk kreatifitas. Minimal produktivitas. Kelahiran banyak cerpenis kuat di Yogya, antara lain  juga disebabkan di  sana ada Umar  Kayam dan Kuntowijoyo. Jakarta, pada  akhirnya akan lebih menjadi penyedia fasilitas, sarana dan prasarana.  Dan apabila nantinya di daerah pun tersedia fasilitas yang sama,  maka  Jakarta  menjadi  bukan apa-apa lagi. Lebih-lebih kalau semakin  banyak  figur-figur  sastrawan kuat yang bersedia untuk “mudik” dan meninggalkan Ibu Kota.

Peran  tunggal  Jakarta,  yang  merupakan  “warisan”  dari peran tunggal HB Jassin, mestinya memang menjadi tidak berlaku lagi. Figur-figur kuat  dengan kantung-kantung  sastralah  yang   akan  menjadi penentu arah perjalanan sastra di Indonesia. Figur-figur  sastrawan  kuat  yang  saya  sebutkan di atas, bisa tidak pernah  menulis  kritik  untuk  mengesahkan  kehadiran seorang sastrawan  baru.   Tetapi  mereka  “menguasai”  institusi.  Goenawan Mohamad misalnya, adalah  Pemred Tempo  dalam kurun waktu yang cukup lama.  Sekarang ini, setelah  lengser  dari  Tempo  dia  “menguasai” Komunitas Utan  Kayu,  dengan jurnal  Kalamnya. Sutardji  dan Taufiq Ismail  “memerintah”  Horison.  Sementara  Sapardi  Djoko Damono dan Faruk adalah figur yang disegani di UI serta UGM.

Pusat-pusat sastra itu juga berupa lembar  budaya di koran-koran,  yang  biasanya  juga diasuh  oleh  seorang  sastrawan. Di sinilah  sebenarnya  pengesahan  seseorang  sebagai  sastrawan  terjadi. Figur-figur  yang  menguasai institusi itulah yang secara tidak langsung berperan membangun opini publik    terhadap   kesastrawanan   seseorang.    Dengan   demikian “demokratisasi” sastra itu terjadi. Linus  Suryadi yang  pernah  disahkan oleh  Umar Kayam dan Bakdi Soemanto,  telah  ditanggapi dengan  sikap  kritis  oleh  Faruk  dan JB Kristanto.  Sutardji yang di awal tahun ’70-an mengejutkan publik sastra  Indonesia  pernah  dicap  sebagai  bukan  penyair oleh Sutan Takdir Alisyahbana.  Kantung-kantung  sastra  dengan  figur  kuat di dalamnya itulah  yang  akan  ikut  menentukan  apakah  seseorang itu merupakan   sastrawan “sejati”  atau  hanya  sastrawan  kelas  Dewan Kesenian Jakarta, kelas Teater Utan Kayu, kelas Horison kelas Kompas, kelas Fakultas Sastra  UGM dan sekadar menjadi “medioker”. Sastrawan sejati pasti mendapatkan pengakuan dari semua institusi dengan figur-figur di dalamnya tadi Itulah yang  saya sebutkan sastra kita justru lebih sehat sepeninggal HB Jassin.

* * *

KRITIK   sastra,  baik   kritik   apresiatif   maupun   analitik, sebenarnya  lebih  ditujukan  untuk  keperluan  para  pembaca sastra. Kritik  analitik  sekaligus  juga bermanfaat bagi perkembangan  ilmu sastra. Kalau  sang  sastrawan  masih  hidup  dan dapat memanfaatkan kritik yang ditujukan pada  karyanya,  maka  itu  hanyalah merupakan sebuah efek samping saja. Sayang  sekali  bahwa  kritik-kritik  yang lahir sekarang ini, nadanya masih sama dengan kritik model HB Jassin. Pengertian  kritik  apresiatif  lebih  banyak  diterjemahkan sebagai sekadar jembatan yang berusaha menuntun para pembaca sastra.

Kritik-kritik  tajam  yang  pernah  lahir  dari  tangan  Subagio Sastrowardojo  tidak  pernah   ada   yang   tertarik   untuk  serius melanjutkannya.  Tampaknya  budaya sungkan yang menjadi trend selama Orde Baru juga  merasuki  kalangan  sastrawan. Kritik apresiasi lalu menjadi  kritik basa-basi  Isinya  sekadar  puja-puji. Atau, apabila kritik itu ditujukan ke figur yang tidak disukainya, maka yang lahir adalah  caci-maki.  Puja-puji  atau  caci-maki  jelas   tidak   akan bermanfaat bagi publik sastra. Ketika Subagio  Sastrowardojo menulis tentang pengaruh  penyair  Spanyol  Federico  Garcia Lorca  terhadap balada-balada  Rendra, maka  terciptalah  sebuah  kritik yang imbang. Tidak terkesan caci-maki maupun puja-puji.

Ketidakberanian   kritikus   untuk   melontarkan   kritik  tajam, sebagian juga  disebabkan  oleh  sikap  para  sastrawan  besar  yang cenderung “antik kritik”.  Kecenderungan  ini  menurun  ke sastrawan yang lebih muda dan seterusnya.  Dugaan  saya  kecederungan demikian merupakan “warisan” dari kritik  apresiatif HB  Jassin  yang  selama kurun  waktu 30 tahun mendominasi  dunia  sastra  Indonesia.  Kritik-kritik Jassin  memang  cenderung “lunak”. Padahal dalam dunia modern, kritik juga  berfungsi  mendidik  agar  pembaca  juga mampu bersikap kritis terhadap bacaannya. Sama  halnya dengan kritikus restoran dan kritikus film.  Sehebat-hebatnya  sebuah  film,  tidak  pernah  bisa memboyong  seluruh  katagori  penghargaan  yang  disediakan.  Hingga selain memuji, kritikus mestinya  juga mengecam  kelemahan-kelemahan yang ada.

Termasuk  salah  satu  kelemahan para kritikus kita sekarang ini adalah kebiasaan mereka  yang  baru  mau menulis apabila ada pesanan. Entah pesanan  dari redaktur koran/majalah, dari penerbit buku, dari panitia seminar  atau lokakarya  dan  lain-lain. HB Jassin melakukan pendokumentasian  sastra  Indonesia  dan  menulis  kritik tanpa ada seorang pun  yang memesannya dan memberinya  honor. Inilah kelebihan Jassin.

Meskipun banyak  kalangan  yang  melecehkan  kritik  Korie Layun Rampan dan  menganggapnya hanya sebagai ulasan dangkal, tetapi Korie terus rajin  menulis tanpa peduli ada atau tidak ada yang memesannya. Lagi pula,  kritik-kritik Korie tetap  punya manfaat  bagi keperluan apresiasi sastra  kepada khalayak yang lebih umum.  Sementara kritik-kritik yang ditulis Umar Junus, Faruk dan Sapardi Djoko Damono lebih ditujukan kepada  para  peminat  sastra  yang lebih  serius. Mungkin memang benar sinyalemen  bahwa sastra Indonesia mengalami kekosongan kritik  sepeninggal Jassin. Kalau pengertian kritik masih mengacu ke ulasan terhadap karya seseorang. Tetapi, fungsi kritikus tidak hanya itu. Dengan  menjadi redaktur budaya  koran, menjadi pengasuh rubrik cerpen dan  puisi,  menjadi  anggota  Komite  Sastra  Dewan Kesenian, seseorang sudah  bisa  berperan  ikut  menentukan  arah perkembangan sastra Indonesia.  Dan sastrawan  yang  baik akan  terus menulis dan menyiarkan hasil  karyanya, tanpa  peduli ada  atau  tidak  ada yang mengulas dan mengritiknya. * * *

F. Rahardi, Penyair, Wartawan

1 Komentar

  1. winda said,

    panjang amat artikel x…..mmm…ada g’ contoh artikel tentang kritik

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 85 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: