Bisnis Kemiskinan yang Tidak “Fair”
Oleh F. Rahardi
Sejak pemerintah melansir sebuah istilah “Pengentasan Kemiskinan”, sudah ada hampir sepuluh kali diskusi, sarasehan, dan seminar dengan tema kemiskinan di kota Jakata. Tempatnya tak tanggung-tanggung, di hotel berbintang yang prestisius. Juga di televisi. Ini sebuah fakta.
Sejak Presiden Soeharto dalam pidatonya menyebut masih ada 27 juta orang miskin dan itu perlu dientaskan, maka sampai tulisan ini saya buat sudah ada sekitar 250 berita, pendapat, polemik, tajuk dan artikel tentang kemiskinan. Semua itu dimuat media pers di Indonesia. Semua diberi honor, dan honor itu untuk yang nulis. Bukan untuk yang ditulis.
Kemudian Prof Mubyato, pakar Ekonomi Pertanian dari UGM yang selama ini getol ngomong soal kemiskinan, direkrut masuk Bapenas dengan tugas mengentaskan orang miskin. Beberapa tokoh LSM seperti terjaga dari tidur siangnya. Kalau dulu mata lebih diarahkan ke lembaga dana luar negeri, kini mulai dilirik potensi dana dari negeri sendiri. Beberapa oportunis langsung mendirikan yayasan penanggulangan kemiskinan dengan ketua para ibu atau mantan pejabat.
Program pemerintah
Mengapa baru sekarang orang tertarik ngomong (bukan berbuat) untuk membantu orang miskin? Semestinya dulu-dulu pemerintah hanya memperhatikan orang kaya. Padahal kenyataannya, di hampir semua departemen ada program untuk menyejahterakan orang miskin. Misal program PKK, LKMD, BPR, Bapak Angkat, PIR, Transmigrasi, Kredit Candak Kulak dan lain-lain. Yang nondepartemen, ada Inpres ada Banpres.
Mengapa segala macam upaya itu tidak dapat menyentuh kaum yang paling gembel. Teori para pakar LSM, konon lantaran pendekatan pemerintah itu top down. Itulah sebabnya mereka bikin yang bottom up atau grass root yag lebih afdol. Padahal problemnya bukan ada di pendekatan yang salah. Semua program itu bagus.
Yang jadi masalah adalah, etos kerja para birokrat pelaksana program itu rata-rata rendah. Mereka memang direstui negara untuk 1/2 atau malah 2/3 menganggur.
Kontradiktif
Beberapa kebijakan pemerintah selama ini saya nilai justru agak kontradiktif dengan program pengentasan kemiskinan. Misalnya soal SDSB. Urusan satu ini jelas lebih meyusahkan orang miskin daripada mengentaskannya.
Kemudian iklan di tv, yang akan merangsang tingkat konsumerisme orang miskin di desa-desa.
Deregulasi otomotif juga sangat atraktif. Sekarang orang boleh membeli sedan mewah built up. Jadi jalan-jalan tol yang sudah ada dan yang baru rencana tidak takut sepi. Calon konsumen yang suka menggelinding di sana sudah dirancang. Dan bea masuknya juga sudah digetok tinggi 200 dan 300 persen. Namun apakah pajak tinggi ini otomatis akan dinikmati orang miskin? Misalnya dalam bentuk peningkatan jumlah dan variasi angkutan massal?
“Lip servis”
Menghadapi kemiskinan di Indonesia, orang bisa bermacam sikap. Ada yang menganggapnya biasa-biasa saja. Bukan masalah benar. Misalnya menghadapi laporan UNDP barusan. Apakah tingkat penggunaan kertas itu relevan untuk mengukur kesejahteraan orang Indonesia? Mereka cebok pakai tisu. Orang Indonesia pakai air. Orang Kubu dan Lembah Baliem sama juga tidak perlu koran. Saya sendiri juga tidak pernah punya masalah tinggal di rumah yang tidak ada teleponnya.
Tapi di lain pihak ada yang justru memandang kemiskinan sebagai obyek bisnis seminar, diskusi, sarasehan, artikel, buku, semua itu bisnis. Ketika Ethiopia dan Somalia yang miskin itu kelaparan, CNN mengirim wartawan dan kameramennya yang tangguh. Mereka naik pesawat, tidur di hotel, makan steak, minum champagne. Semua itu bisnis agar penonton tv di dunia bisa menikmati kemiskinan sambil ngemil kacang goreng.
Saya sendiri tetap menganggap kemiskinan sebagai sesuatu yang serius dan darurat. Penanggulangannya juga harus serius dan darurat.
Rekruting Mubyarto ke Bapenas bagi saya bisa sangat strategis, namun bisa juga hanya sebuah lip servis. Kenapa tidak mengefektifkan ditjen atau departemen yang strategis? Misalnya Departemen Koperasi. Sebab koperasi kalau bisa berfungsi dengan baik akan lebih dapat meratakan pendapatan dibanding upaya-upaya lain. Lebih-lebih, Presiden sendiri pernah mengimbau agar para konglomerat menyisihkan sahamnya untuk diberikan kepada koperasi.
Dana nasional
Pada akhirnya ngomong soal kemiskinan larinya pasti ke soal duit. Apakah duit itu diberikan ke orang miskin dalam bentuk ikan atau pancing, itu soal lain. Di Indonesia, budaya pajak belum sebaik Jepang, Eropa atau Amerika. Kalau tiba-tiba kue orang kaya dipotong begitu saja dalam bentuk pajak lalu dibagikan ke orang miskin mereka akan main petak umpet. Pemerataan dalam bentuk kebijakan tetap sulit untuk menolong yang miskin. Dalam dunia pers misalnya, ada pembebasan halaman dan iklan untuk pemerataan, tetap saja tak ada koran miskin yang tiba-tiba jadi kaya. Yang ada malahan penjualan SIUUP dengan istilah bantuan modal dari manajemen.
Karena dengan cara formal susah, cara menghimpun dana yang efektif versi Indonesia adalah dengan semacam dompet bencana alam, dana mitra lingkungan, gotong-royong, kemanusiaan dan lain-lain. Dana yang terkumpul bisa digunakan untuk tindakan operasional yang konkret.
Misalnya, memagangkan para petani miskin itu ke petani maju, sekaligus memodalinya. Pemerintah Malaysia mengajari para nelayan miskin di sana cara membakar ikan dan buka restoran. Rantai pemasaran jadi pendek dan nilai tambah didapat nelayan. Kenapa kita tidak berani mengirim dan memodali nelayan kita untuk belajar melayani turis mancing di Australia sana misalnya. Karena nantinya pendapatan nelayan sebagai pemandu mancing akan jauh lebih besar daripada penangkap ikan biasa.
Langkah konkret
Sebagai langkah awal yang konkret, saya berniat untuk menyumbangkan honor tulisan saya ini sebagai dana nasional untuk program pengentasan kemiskinan. Harapan saya, langkah awal saya yang naif ini dapat diikuti pula oleh para penulis lain terutama yang menulis soal kemiskinan. Para pemakalah dan pembicara dalam seminar tentang kemiskinan. Juga pada pengusaha atau siapa pun yang antusias untuk mengentaskan kemiskinan di Indonesia.
Untuk sementara uang itu bisa dititipkan misalnya di harian Kompas. Penggunaannya, bisa dengan berbagai model pendekatan. Asalkan langsung dapat bermanfaat untuk mengentaskan orang miskin. Yang bisa memanfaatkan dana ini lembaga atau siapa pun yang profesional namun punya itikad baik.
Langkah awal saya ini juga saya maksudkan sebagai kritik. Setiap kali ada gagasan, seminar, diskusi, program dan lain-lain yang ditujukan terhadap orang miskin, yang jadi kaya justru yang punya gagasan, yang bikin seminar dan program. Memang bisa saja ide ini dibantah. Bukankah penulis, pemakalah dan penyelenggara program itu memang berhak atas jasanya sebagai orang profesional?
Tapi, bukankah kalau fotografer memotret model, si model juga dibayar? Adalah tidak etis kita membisniskan kaum miskin, dan mereka tidak mendapatkan apa-apa. Kemiskinan memang bisnis yang menarik. Dan orang miskin berhak mendapatkan bagian dari bisnis itu. ***
* F. Rahardi, penyair, wartawan.
GEJALA KRISIS KEPEMIMPINAN DI MASYARAKAT
KOMPAS – Kamis, 15 Jun 1995
Oleh F. Rahardi
AKHIR-AKHIR ini di lingkungan mahasiswa, buruh, LSM, cendekiawan dan seniman sering bermunculan aktivitas ekstra. Bentuknya bisa berupa pengelompokan, gerakan maupun publikasi pernyataan. Fenomena ini sering dianggap sebagai indikasi dari membaiknya situasi keterbukaan yang diberikan oleh pemerintah dan menguatnya kesadaran masyarakat pada prinsip-prinsip demokrasi. Ini sebuah gejala positif.
Namun di lain pihak, kita bisa pula melihatnya sebagai sesuatu yang negatif. Beda dengan gerakan mahasiswa pada kurun waktu tahun 1966, 1974 maupun 1978, gerakan mahasiswa akhir-akhir ini sifatnya sangat sporadis dan sektoral dalam kelompok-kelompok kecil. Dalam gerakan semacam ini yang muncul adalah kolektivitas tanpa figur yang kuat untuk dijadikan panutan. Akibatnya, tema-tema yang digarap menjadi sangat spesifik; antipenggusuran, antinuklir, solidaritas buruh dan lain-lain sampai ke yang sangat bersifat intern. Misalnya menentang kebijakan rektor, bentrok dengan menwa dan lain-lain.
Di masyarakat buruh, LSM, cendekiawan dan seniman pun muncul gejala serupa. Ada gerakan menuntut upah, kegiatan membentuk aliansi maupun lontaran pernyataan ke media massa. Figur-figur yang menjadi motor atau aktifis gerakan semacam ini, sebenarnya sudah memiliki kapasitas standar sebagai pemimpin dalam kelompok kecilnya. Namun gerakan-gerakan yang dibuatnya, sekaligus justru menunjukkan cacat mereka sebagai figur pemimpin. Dengan berlindung di balik kedok kelompok dan tema gerakan, mereka tidak pernah punya nyali untuk tampil ke depan publik secara transparan dengan identitas jelas.
Padahal, salah satu syarat untuk menjadi pimpinan adalah keberanian untuk tampil, bertindak dan sekaligus bertanggung jawab atas risiko yang ditimbulkan oleh tindakannya. Kemampuan para aktifis untuk mengorganisir kelompok, ternyata tidak diimbangi dengan keberanian untuk tampil sebagai individu yang kuat. Bahkan, tokoh semacam Gus Dur pun, yang sebagai individu sangat canggih sekaligus didukung massa NU, ternyata masih perlu sebuah Forum Demokrasi. Ini adalah indikasi bahwa hanya untuk bicara soal demokrasi pun, di Indonesia, saat ini orang sekelas Gus Dur dengan massa NU-nya ternyata masih belum cukup kuat.
***
DI masyarakat, dewasa ini sebenarnya telah muncul figur-figur nasional yang secara kualitatif memenuhi syarat untuk menjadi motor penggerak sebuah kelompok besar. Misalnya saja Emha Ainun Nadjib, Romo Mangun, dan yang terakhir Sri Bintang Pamungkas.
Namun tokoh-tokoh ini sejak semula sudah terbiasa soliter. Mereka memang punya massa. Tapi massa itu tidak terorganisir. Jadi kehadiran mereka lebih seperti bintang-bintang selebriti. Emha misalnya, mula-mula pernah menolak masuk ICMI, lalu sempat terbujuk dan masuk lalu keluar. Tokoh-tokoh seperti ini memang tercipta bukan untuk berada dalam sebuah kelompok. Bahkan dalam wadah formal tempat bernaungnya pun yang bersangkutan bisa tidak memiliki peran yang besar. Romo Mangun misalnya, dalam hirarki gereja Katolik justru tidak memegang jabatan penting. Sri Bintang yang sudah berhasil masuk ke lingkungan Legislatif, akhirnya juga “disingkirkan”.
Gejala krisis kepemimpinan seperti yang saya lontarkan ini, diduga oleh banyak kalangan disebabkan adanya kekangan atau tekanan dari pihak pemerintah. Dalam aktivitas politik praktis, kekangan itu berbentuk kebijakan massa mengambang. Di lingkungan kampus berupa NKK/BKK. Di kalangan organisasi kemasyarakatan, cendekiawan maupun seniman berupa perizinan dan pelarangan. Di lingkungan media massa (pers) dalam bentuk ancaman pencabutan SIUPP.
Tapi di luar kendali formal tadi, masih ada pula faktor eksternal lain yang pengaruhnya cukup besar terhadap krisis kepemimpinan di masyarakat kita.
Membaiknya ekonomi selama dua dasawarsa terakhir ini, sedikit banyak telah mendorong arah minat generasi muda kita untuk tampil di bidang tersebut. Menjadi manajer, eksekutif muda, konglomerat, dan bos adalah idaman baru. Figur seperti Tanri Abeng lalu menjadi idola generasi muda di samping idola-idola konvensional seperti artis dan bintang olahraga.
Bidang ekonomi lalu menjadi semacam “tangga alternatif” untuk tampil di pentas politik. Di samping “tangga baku” lewat KNPI, FKPPI, AMPI, dan lain-lain. Muncullah kemudian tokoh-tokoh politik alumni dunia bisnis. Misalnya Siswono Judohusodo, Abdul Latif, Kwik Kian Gie, Laksamana Sukardi, dan lain-lain.
Munculnya bidang ekonomi sebagai tempat untuk tampil ke pentas nasional telah menyebabkan gerakan-gerakan mahasiswa, buruh, LSM bahkan organisasi semacam KNPI lalu seperti mendapat saingan dalam hal mencetak pemimpin. Selain faktor eksternal tadi, sebenarnya masih ada pula faktor internal yang menjadi penyebab tersendatnya kelahiran figur pemimpin di masyarakat.
***
GERAKAN-GERAKAN dan aktivitas kelompok masyarakat akhir-akhir ini sebenarnya merupakan indikasi dari belum berkembangnya pola kepemimpinan di Indonesia. Para aktivis kelompok dalam gerakan-gerakan tadi, masih terbelenggu oleh pola gerakan politik di awal abad XX. Gerakan-gerakan mereka masih mengandalkan pengerahan massa dan membuat aksi secara langsung untuk memancing publisitas.
Dalam kondisi semacam itu gerakan mereka akan langsung berbenturan dengan aparat pemerintah, khususnya pihak keamanan, dan tidak memperoleh publisitas yang memadai. Sebab media massa di Indonesia, khususnya media elektronik, berada dalam kontrol ketat pemerintah.
Aktivitas kelompok di negara maju, misalnya sekte-sekte keagamaan kecil, justru bisa sangat memanfaatkan media elektronik. Mereka berusaha untuk tidak berbenturan dengan kepentingan publik. Sebab publik di negara maju justru lebih galak dari pemerintah. Dan pemanfaatan media massa oleh kelompok-kelompok kecil di sana, adalah dengan tujuan untuk menarik simpati massa agar mau bergabung dengan mereka. Inilah beda pola gerakan kelompok di awal dan akhir abad XX.
Sebenarnya, dalam keadaan sensor yang paling ketat pun, figur pemimpin sejati dapat tetap eksis. Contohnya Imam Khomeini. Dalam menghadapi rezim Shah Iran, Khomeini juga dihadang sensor media massa. Namun tokoh spiritual Iran itu segera memanfaatkan kaset untuk merekam suaranya lalu diselundupkan ke masyarakat dari tempat pengasingannya di Irak dan kemudian di Perancis.
Para mahasiswa Cina pasca-peristiwa Tiananmen juga menghadapi hal sama. Dan mereka pun menggunakan sarana faksimile untuk mengirim informasi ke luar negeri. Dewasa ini, sarana komunikasi itu bertambah lagi dengan jaringan komputer dan modem. Namun sarana-sarana semacam ini tampak kurang dimanfaatkan oleh para aktifis kelompok yang telah saya sebutkan.
Mungkin, kualitas para aktifis kelompok itu memang belum dalam kapasitas sebagai calon pemimpin. Mereka tidak punya keuletan dan daya manuver yang tinggi. Namun, mungkin juga di Indonesia saat ini memang tidak ada isu sosial, politik, lebih-lebih ekonomi yang dapat menjadi pemicu lahirnya gerakan berskala nasional untuk melahirkan pemimpin berkualitas.
Artinya, tekanan dari pihak pemerintah, kalau itu dianggap ada, saat ini belum cukup kuat untuk menimbulkan daya dorong balik. Mungkin tekanan itu memang ada dan juga kuat. Namun seperti halnya reaksi-reaksi yang muncul berupa gerakan tadi, tekanan itu pun sifatnya juga sporadis, sektoral dan tematis.
Secara nasional banyak yang beranggapan bahwa di atmosfir Indonesia ini masih tersedia banyak oksigen untuk bernapas. Namun itu semua justru kurang memberikan tantangan bagi lahirnya figur pemimpin yang berkualitas. ***
* F. Rahardi, Penyair, Wartawan
PUISI YANG NARATIF, PROSA YANG PUITIS
KOMPAS – Minggu, 02 Apr 2006
Sastra
Oleh F Rahardi
Membaca penggalan novel dan puisi berikut ini, kalangan awam akan sulit membedakan mana puisi dan mana prosa. Tren sastra Indonesia mutakhir, puisi cenderung naratif, prosa makin puitis.
Aku pulang malam sekali. Istriku terbangun, membukakan pintu.
Ia tersenyum. “Tak apa, kalau tak ada siang di sini,” katanya.
Aku segera meletakkan tas. Aku lihat matanya,
sebuah pemandangan baru mendapatkan sinar.
“Bisakah besok kamu jadi ibu rumah tangga,” katanya.
Aku tak tahu lagi apakah masih ada dosa.
Seks terlalu indah. Barangkali karena itu Tuhan cemburu
sehingga Ia menyuruh Musa merajam orang-orang yang berzinah?
Tetapi perempuan selalu disesah dengan lebih bergairah.
Ke manakah pria yang bersetubuh dengan wanita yang dibawa orang-orang Farisi untuk dilempari batu di luar gerbang Yerusalem?
Aku mencintai kamu. Aku mencintai kamu.
Aku tidak ingin kamu dihukum.
Tetapi kamu sungguh cantik, seperti dinyanyikan Kidung Raja Salomo.
Membaca kutipan pertama, asosiasi pembaca awam lebih tertuju ke prosa. Bisa penggalan cerpen, bisa potongan novel. Sebaliknya, kutipan berikutnya lebih layak disebut puisi. Padahal kutipan pertama adalah puisi (Afrizal Malna, Usaha Menjadi Ibu Rumah Tangga 1997).
Kutipan kedua adalah Novel (Ayu Utami, Saman 1998). Afrizal dan Ayu kemudian diikuti oleh generasi penyair, cerpenis, dan novelis yang lebih muda.
Kecenderungan purba
Selalu ada kecenderungan prosa menjadi puitis, sementara puisi mencair menjadi bernarasi. Kecenderungan inilah yang melahirkan epik (epos) dan prosa lirik. Karya sastra besar seperti Mahabharata menggunakan bentuk epos. Meskipun saduran paling awal, yang dilakukan para pujangga Jawa terhadap karya ini, justru mengambil bentuk prosa (parwa). Baru kemudian, karya ini disadur dalam bentuk puisi (kakawin).
Prosa memang sudah dibedakan dengan puisi sejak era sastra purba. Prosa digunakan untuk menuliskan kisah raja, dongeng binatang cerita kepahlawanan. Puisi difungsikan sebagai doa dan mantra. Puisi purba adalah alat komunikasi untuk menyampaikan perasaan kolektif kepada satu individu. Komunitas itu bisa berupa suku atau kumpulan keluarga.
Individunya bisa Tuhan, dewa, atau roh nenek moyang.
Puisi modern kebalikan dari puisi purba. Ia merupakan sarana menyampaikan perasaan individu (penyair) kepada komunitas yang lebih luas, terutama publik sastra. Puisi purba maupun modern sama-sama bersifat individual. Dalam arti, puisi purba individual sesuai individu Tuhan, dewa atau roh yang dituju oleh doa atau mantra tersebut. Misalnya, mantra untuk dewa hujan, doa bagi roh penunggu gunung. Puisi modern juga bersifat individual, tergantung dari individu penyairnya.
Baik prosa maupun puisi purba bersifat kolektif dan anonim.
Perubahan prosa menjadi puitis dan puisi menjadi naratif juga berlangsung secara kolektif, baik lisan maupun tertulis, melalui proses puluhan bahkan ratusan tahun. Hingga dari proses prosa yang puitis dan puisi yang bernarasi itu, terciptalah epos dan prosa lirik. Proses demikian, dalam sastra Indonesia mutakhir berlangsung secara individual dengan rentang waktu sangat pendek.
Khitah puisi
Puisi adalah medium untuk mengungkap perasaan, bukan pikiran, dan tidak mungkin disampaikan melalui prosa. Perasaan takut, berharap, pasrah, bersyukur dari masyarakat purba hanya bisa terungkap lewat puisi berupa doa dan mantra. Bukan prosa. Dalam kehidupan modern, perasaan penyair juga hanya bisa disampaikan melalui medium puisi.
Bukan cerita pendek, novel, roman, maupun tulisan nonfiksi (artikel, opini, kolom, dan esai).
Itulah sebabnya secara konvensional, puisi yang dianggap baik adalah yang tidak terlalu dibebani pesan atau pikiran si penyair.
Perasaan galau dan kesepian Chairil Anwar dalam Senja di Pelabuhan Kecil, Untuk Sri Ajati sangat kuat dan masih bisa dirasakan oleh publik sastra sekarang. Kekuatan itu muncul justru karena puisi tadi tidak terlalu dibebani pesan dan pikiran si penyair, yang biasanya sangat kontekstual.
Barangkali itulah yang disebut sebagai “khitah puisi”. Rintisan genre puisi modern Indonesia yang dipelopori Amir Hamzah dan Chairil Anwar telah melahirkan penyair-penyair hebat, misalnya Sitor Situmorang, Ramadhan KH, Soebagio Sastro Wardojo, Rendra, Goenawan Mohamad, dan Sapardi Djoko Damono. Tetapi, khitah puisi yang dikembalikan Chairil Anwar akhirnya juga sampai pada titik buntu. Puisi menjadi naratif tetapi dangkal.
Puncak dari pendangkalan puisi terjadi pada awal tahun 1970-an.
Para epigon Goenawan dan Sapardi telah terjebak dalam genre “puisi gelap”.
Puisi yang asal panjang dan asal sulit dipahami. Pengakuan Pariyem-nya Linus Suryadi AG malah sekalian menjadi prosa lirik.
Kebuntuan inilah yang pernah melahirkan peristiwa “Pengadilan Puisi” untuk mengembalikan puisi pada khitahnya. Lahirlah genre “puisimbeling” yang dimotori Remy Silado dan mengkristal dalam sosok Sutardji Calzoum Bachri.
Kunang-kunang Kayam
Upaya Sutardji mengembalikan puisi pada khitahnya cukup berhasil. Lahirlah sosok penyair kuat seperti Afrizal Malna dan Joko Pinurbo. Puisi mereka memang naratif, tetapi rasa puitiknya masih terjaga dengan baik. Generasi penyair naratif selanjutnya, kualitas puisinya banyak yang mirip dengan genre puisi gelap tahun 1970-an. Para pengikut Afrizal dan Jokpin ini mengira bahwa puisi yang baik adalah yang bernarasi dan temanya aneh-aneh.
Bersamaan dengan itu, dalam khazanah prosa lahirlah genre Ayu Utami. Prosa yang puitis secara sporadis sebenarnya pernah muncul jauh sebelumnya, misalnya pada Seribu Kunang-kunang dari Manhattan (Umar Khayam). Cerpen ini tidak ada plotnya, setting-nya tunggal, dan tokohnya juga tidak penting. Tetapi kekuatannya luar biasa, justru karena Khayam mampu menangkap suasana kesia-siaan manusia di tengah modernitas New York yang hiruk-pikuk.
Generasi berikutnya ada Beni Setia. Suasana cerpen Beni yang puitis telah mengalahkan tokoh, plot, dan setting-nya. Sayang, setelah menyepi di Madiun, dia seperti berhenti menulis. Puitisasi
prosa inilah yang oleh Ayu Utami dicoba dieksploitasi habis- habisan dalam Saman. Meskipun dalam Larung, upaya Ayu kurang berhasil. Seperti biasa, tren ini kemudian diikuti ramai-ramai oleh cerpenis dan novelis yang lebih muda. Puncaknya adalah booming teenlit dan chicklit awal tahun 2000-an yang sekarang sudah mulai mereda.
Eksploitasi linguistik berupa puitisasi prosa, sesuatu yang sehat. Risikonya, kekuatan karakter tokoh terabaikan. Ini ibarat pelukis Amri Yahya yang melulu mengeksploitasi tekstur dalam
lukisannya. Garis, bidang, dan warna sebagai komponen pokok seni lukis konvensional telah diabaikannya. Generasi perupa yang lebih muda kemudian melakukan eksplorasi lebih jauh berupa seni grafis dan instalasi. Sastra instalasi tentu sulit direalisasi sebaik dalam seni rupa.
F Rahardi,
Penyair dan Wartawan
SASTRA TANPA KREDO
F. Rahardi*
Sejak 20 tahun terakhir, sastra buku dan koran maju cukup pesat. Namun, kemajuan itu tampak hanya sekadar teknis, sekadar kulit. Bukan isi dan bukan esensi, alias sastra tanpa kredo.
Bait puisi Wiji Thukul yang sangat terkenal adalah, Hanya ada satu kata: Lawan! Itulah “Kredo Puisi” Wiji Thukul yang walau tak pernah ditulis seperti Kredo Puisinya Sutardji Calzoum Bachri, tetapi tetap kuat dan punya makna. Sebab yang dia tulis juga dia lakukan dalam bentuk perbuatan. Selain menulis, Thukul juga aktif secara konkret melawan kekuasaan yang represif dan otoriter. Akibat perlawanan melalui kata dan perbuatan ini, Thukul raib sampai sekarang.
Ada memang pihak yang mencemoh Thukul bahwa dia terlalu maju, terlalu berani, terlalu sembrono. Hingga nasib yang menimpanya adalah sebuah konsekuensi dari kesembronoan itu sendiri. Namun, sembrono membela buruh yang digencet kekuasan kapital, kekuasaan birokrasi dan senjata, jauh lebih mulia dibandingkan dengan mereka yang sembrono bermunafik, apalagi sembrono menembaki rakyat sampai mati. Mereka yang munafik tampak seakan-akan kritis terhadap kapitalis AS dan Pemerintah RI, tetapi uang proyek dari dua negeri ini diembat juga dengan lahap.
Sastra lalu menjadi bagian dari proses degradasi nasional. Mereka yang bersedia ikut arus besar akan segera menjadi makmur dan tampak mulia. Mereka yang masih konsisten menjalankan semangat Chairil Anwar, Iwan Simatupang dan Wiji Thukul, dan secara ekstrem menolak berkompromi, akan tertinggal jauh dalam keterbelakangan atau gugur di tengah jalan. Sementara kota-kota besar di Indonesia sudah dipenuhi mal yang menawarkan semua kenikmatan hidup sebuah metropolis.
Inovasi penerbit
Tidak semua kemajuan bersifat negatif. Tak bisa dimungkiri, selama dua dekade terakhir ini, sastra koran dan buku memang sangat menonjol dan jauh mengungguli sastra majalah yang pernah berjaya pada tahun 1970-an. Kemajuan ini terutama tampak dari kuantitas oplah dan luasnya peredaran. Dampak dari kuantitas cetak yang tinggi adalah, menulis karya sastra menjadi bisa diandalkan secara ekonomis. Tampilnya generasi penulis cantik yang beredar dari kafe ke kafe bak selebritis juga telah ikut mendongkrak prestise sastra.
Kolaborasi antara media audiovisual, pers, dan penerbit buku telah ikut memosisikan sastra ke ranah publik yang lebih luas dan terhormat. Penerbit buku, koran, televisi, dan radio tidak saling mengungguli, melainkan berkolaborasi. Dekade 1990-an, penulis dan penerbit buku berada dalam posisi tawar yang lebih rendah dibandingkan dengan produser film. Ketika itu, novel yang terpilih untuk difilmkan menjadi tampak lebih terhormat dan terangkat martabatnya.
Sekarang, penerbit buku bisa meminta teks skenario film dan sinetron untuk dinovelkan. Promosi dalam bentuk roadshow dilakukan melalui radio. Novel yang lahir dari skenario ini bisa “meledak” di pasaran. Di AS, Jepang, Korea, dan Taiwan, kolaborasi ini malahan meluas. Di negeri-negeri ini, satu cerita dengan tokoh, plot dan setting sama bisa tampil dalam bentuk novel, komik, film, theme song, dan game. Pasar diserbu oleh pemilik modal dengan enam jenis produk massal sekaligus.
Manipulasi pasar
Ciri utama produk massal adalah tunduk pada selera pasar. Kalau pasar Indonesia dianggap pemilik modal sedang menyenangi hantu dan setan, materi ini menjadi andalan produk massal berupa sinetron, film, dan juga novelnya. Indonesia masih belum mampu melengkapi tiga produk ini sekaligus dengan komik, theme song, dan game. Meskipun beberapa fiksi yang difilmkan dan sekaligus dinovelkan, theme songnya juga ikut meledak di pasaran. Misalnya Cinta Pertama (Sunny) yang penyanyi sekaligus pemeran utamanya sama, yakni Bunga Citra Lestari.
Sastra koran dan buku yang maju pesat dan menjadi produk massal juga merupakan pengabdi selera pasar. Sebagai abdi, produk massal demikian harus patuh pada titah pasar sebagai Sang Majikan. Namun, pasar ini bisa dimanipulasi oleh pemilik modal. Film sampah yang sejak tahun 1970-an mendominasi bioskop kita, dan sinetron yang sejak tahun 1990-an merajai televisi, sebenarnya bukan merupakan kehendak pasar, melainkan kehendak “selera rendah” pemilik modal. Dan, publik terpaksa menonton dan membaca produk sampah ini karena tidak ada alternatif lain.
Film-film Usmar Ismail, Nyak Abas Akub, dan Syumanjaya, misalnya, juga tetap diterima pasar, tanpa harus mengeksploitasi selera rendah. Demikian pula dengan Losmen, Si Doel Anak Sekolahan, dan Bajaj Bajuri. Untuk bisa mencapai oplah cetak puluhan sampai ratusan ribu eksemplar, sastra koran dan sastra buku juga tidak harus serta merta mengabdi pada selera rendah. Sebab, produk massal yang mutlak harus tunduk pada kehendak pasar, tidak harus identik dengan selera rendah. Namun, kalangan bisnis sering terkecoh menyamakan produk massal, tren pasar dan selera rendah.
Narasi besar
Kalangan pengamat sastra sering bertanya: Selama 20 tahun ini telah terjadi banyak peristiwa besar di dunia dan juga di Indonesia. Namun, mengapa tidak ada karya sastra dengan “narasi besar” lahir dari sana? Penculikan aktivis, rusuh Mei 1998, gempa dan tsunami Aceh, korupsi, pemanfaatan isu sektarian untuk tujuan politik praktis dan lain-lain hanya sekadar melahirkan karya sastra yang bersifat “reaksioner”. Jenis karya sastra ini beda dengan “sastra kontekstual” dan memang menjadi tuntutan koran yang harus selalu aktual. Namun, sastra yang baik tidak cukup hanya bersifat reaksioner.
Ada pula anggapan bahwa narasi besar memang sudah tidak diperlukan lagi dalam kehidupan yang “ultra modern” ini. Sebab, dunia harus bergerak dengan super cepat dengan jet foil, kereta api kapsul berbantal udara, dan jumbo jet. Informasi juga bisa menembus ruang publik sampai sedetail dan sekecil mungkin melalui internet dan SMS. Puisi bisa ditulis di layar telepon seluler dan menyebar secara cepat sesuai dengan kebutuhan. Lalu untuk apa narasi besar? Apakah kredo sastra juga masih diperlukan? Bukankah sah kalau sastra hanyalah berupa kerajinan tangan sebagai aksesori dalam sebuah koran dan novel hanyalah bagian dari industri hiburan di televisi?
Sebenarnya, selama 20 tahun terakhir ini, bukan hanya telah terjadi dominasi industri sastra secara massal, melainkan juga penindasan terhadap harkat kemanusiaan. Publik hanya dianggap sebagai target pasar yang harus dieksploitasi oleh kapitalisme global. Ozon yang bolong karena pemanasan atmosfer akibat pembakaran bahan bakar fosil yang berlebihan menjadi bukan lagi urusan sastra. Ketidakadilan, keserakahan, dan kekerasan terhadap masyarakat sipil juga bukan pula urusan sastra yang sudah menjadi bagian dari bisnis besar, tanpa isi, tanpa kredo.
* F Rahardi, Penyair, Wartawan
Sumber: Kompas, Minggu, 3 Juni 2007
LINUS SURYADI AG; SEORANG PENYAIR KORBAN BUDAYA JAWA
Subject : dari acara mengenang linus suryadi ag
“Linus menjadi korban budaya Jawa”, kata F. Rahardi. Budaya Jawa sepertinya telah menjadi sesuatu yang buruk bagi F. Rahardi, terutama aspek “nrimo”, yang membuat manusia Jawa (juga Indonesia yang sudah terhegemoni budaya Jawa) menjadi demikian “pasrah” menerima berbagai bentuk penjajahan tanpa perlawanan yang berarti. Penyair yang terkenal dengan sajak-sajaknya yang kontroversial ini dengan tajam mengupas Linus Suryadi AG dengan menarik latar belakang jauh ke belakang sejarah-sejarah nenek moyang. Sangat menarik. Karya masterpiece Linus Suryadi Pengakuan Pariyem dilihat dari perspektif “gender” menurut berbagai kebudayaan yang mempengaruhi Linus: ajaran Katolik, Hindu, animisme, dinamisme, Jawa, Indonesia…
Dimoderatori Eka Budianta, dengan para pembicara: Korrie Layun Rampan, Titie Said, F. Rahardi dan Ahamdun Yosi Herfanda, berjalan dengan sangat segar, terutama ketika membahas puisi-novel (demikian Titi Said mengatakan) “pengakuan pariyem” yang terdapat nuansa “saru”.
Acara yang dimaksudkan untuk mengenang Linus “Pariyem” Suryadi AG diadakan oleh Komintas Sastra Indonesia bekerja sama dengan Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, pada 11 September 1999 dari pukul 14.00-17.00, di ruang PDS HB. Jassin, Taman Ismail Marzuki.
Sebelum diskusi berlangsung diadakan pembacaan puisi karya-karya Linus Suryadi.
Banyak hal menarik yang diungkap dalam pertemuan ini, antara lain sisi-sisi kemanusiaan Linus Suryadi, pandangan hidupnya, serta proses kreatifnya . Tak kurang dari Danarto, AD. Donggo, Titis Basino serta peserta-peserta lain memberikan komentar (pertanya an) kepada para pembicara (yang merupakan sahabat-sahabat Linus) dengan sangat antusias.
Eka Budianta sebagai moderator, melihat begitu antusias dan banyaknya peserta acara ini mengharapkan agar acara seperti ini bisa dilanjutkan secara kontinyu, antara lain mungkin pada peringatan 100 hari Linus Suryadi AG.
MANAJEMEN BERKESENIAN
KOMPAS – Minggu, 22 Feb 1998 Halaman: 13 Penulis: RAHARDI, F Ukuran: 9464
Oleh F Rahardi
DALAM pertemuan sastrawan yang baru lalu di Sumatera Barat, ada sebuah sesi diskusi mengenai dewan kesenian. Dalam diskusi tersebut saya melontarkan gagasan tentang manajemen pengelolaan kesenian. Ketika gagasan tersebut saya lontarkan, peserta diskusiyang rata-rata pengurus dewan kesenian terkesan kaget. Tampaknya mereka belum pernah bersentuhan dengan perangkat manajemen, kecuali Ratna Riantiarno dari DKJ. Dia kelihatan mengenal dengan baik sistem tersebut, hingga tidak mengherankan kalau Teater Koma yang dikelolanya sangat berhasil dari segi manajemen.
Kenyataan bahwa pengurus dewan kesenian tidak pernah bersentuhan dengan perangkat manajemen adalah sesuatu yang sangat menyedihkan. Dan itu merupakan kenyataan yang terjadi di Indonesia selama ini.
Manajemen memang sesuatu yang sering dinilai negatif oleh para seniman. Sebab manajemen adalah sebuah sistem yang menuntut adanya target pasti. Target itu harus realistis dan bisa diukur secara kuantitatif. Ukuran-ukuran kualitatif pun, harus dapat dikuantitatifkan. Misalnya, ukuran baik tidaknya mutu tontonan kesenian (dan pengelolaannya), dapat dilihat dari jumlah penontonnya. Ini semua pada akhirnya akan mengacu pada sistem produksi dan pemasaran.
Untuk itu juga diperlukan pengelolaan akuntansi (data stok, dokumentasi, dan lain-lain) serta keuangan. Hal-hal seperti ini, sering dianggap oleh para seniman, bertentangan dengan prinsip-prinsip berkesenian. Sebab kesenian lebih mengandalkan improvisasi dan kreatifitas. Di sinilah sebenarnya letak kesalahpahaman itu.
Biasanya, kalangan kesenian melihat perangkat manajemen sebagai sesuatu yang melulu berurusan dengan pabrik atau toko. Sementara masyarakat luas memandang kesenian, khususnya senimannya, sebagai sesuatu yang “susah diatur”.
Manajemen memang merupakan sebuah sistem kerja yang lebih banyak mengandalkan rasionalitas. Namun, manakala seseorang sedang atau telah buntu rasionya, mereka harus segera menggunakan intuisi dan kreativitas untuk mengambil sebuah keputusan. Dan tak jarang, keputusan yang diambil berdasarkan intuisi dan kreativitas ini hasilnya justru lebih baik dibanding dengan keputusan yang diambil berdasarkan rasionalitas. Bukankah ini juga mirip atau malah sama dengan kerja berkesenian? Penyair misalnya, dalam berkarya memang lebih banyak mengandalkan intuisi dan kreativitas. Namun, penyair yang baik juga mutlak harus cerdas. Berarti, dalam menulis puisi dia juga harus menggunakan kecerdasannya, menggunakan rasionalitasnya. Dan hampir semua penyair yang berhasil, kecerdasannya di atas rata-rata.
Berarti rasionalitasnya juga tinggi. Ini merupakan satu indikasi bahwa perangkat manajemen sebenarnya tidak harus dipertentangkan dengan kerja berkesenian.
***
KERJA berkesenian, sebenarnya sama saja dengan kerja-kerja yang lain. Berkesenian adalah memproduksi karya seni. Bisa berupa puisi, novel, lukisan, musik, gerak tari atau pentas teater. Produktifitas adalah tuntutan semua profesi, termasuk profesi seniman.
Seniman juga dituntut untuk dapat piawai menjual produk keseniannya. Pasar kesenian se-benarnya sama saja dengan pasar produk-produk lain seperti beras, minyak goreng atau garmen. Bedanya, beras dan lain-lain itu merupakan kebutuhan primer. Kesenian mungkin merupakan kebutuhan tersier atau kuarter atau mungkin belum merupakan kebutuhan dari sebagian besar masyarakat kita.
Pasar, termasuk pasar produk kesenian, dapat dibedakan menjadi pasar umum dan khusus, pasar individual dan massal. Bila seorang penata tari membuat pentas tari dan menjual tiket untuk umum, maka yang dijangkaunya adalah pasar umum. Bila dia mengajukan proposal ke lembaga dana untuk membiayai pentas yang akan digratiskan, maka yang ditujunya adalah pasar khusus.
Kalau penari itu melenggak-lenggok di depan raja atau pengusaha di dalam sebuah kamar, ini pasar individual.
Pasar para pelukis rata-rata juga individual. Tetapi kalau penari itu beraksi di alun-alun dan ditonton 1.000 orang, namanya pasar massal.
Seperti telah saya sebut di atas, menentukan pasar ini sangat penting sebab akan menyangkut seberapa banyak dan seberapa bagus kualitas seni yang harus diproduksi oleh sang seniman.
Setelah produk itu jadi, karakteristik pasar tadi juga sangat penting untuk menentukan strategi promosi. Publikasi yang banyak dilakukan oleh para seniman, adalah salah satu bentuk promosi untuk melariskan produk kesenian yang dihasilkannya. Kebetulan, promosi berupa publikasi cocok untuk pasar umum, khusus, individual maupun massal. Tetapi, kalau pasar kita umum dan massal, publikasi saja tidak cukup. Diperlukan pula iklan di media massa maupun di media luar ruang berupa poster, spanduk dan baliho. Tanpa itu, biasanya penonton tidak akan banyak.
Ketika saya dan beberapa penyair lain datang membaca puisi di Graha Bhakti Budaya TIM, November 1997 dalam rangka ulang tahun PKJ, hanya ditonton oleh sekitar 25 orang dengan membayar tiket masuk Rp 10.000. Padahal kapasitas gedung itu 800 orang. Ini merupakan indikasi bahwa para pengelola PKJ, baik dewan maupun TIM, memang tidak tahu manajemen berkesenian. Ini yang membuat Tarji ngambek tidak mau ikut baca puisi, padahal sebelumnya sudah mau.
Kalau memang PKJ malas berpromosi, atau dana promosi tidak ada, mestinya acara baca puisi tadi digratiskan. Atau kalau tiketnya mau dijual, nontonnya cukup di ruang rapat dewan atau TIM saja. Kapasitas 25 orang saya kira pas. Menghemat listrik dan AC, sang penyair juga
bisa bangga lantaran penonton jadi penuh dan berdesak-desakan.
***
MENJADI seniman adalah pilihan hidup. Jadi tidak pernah ada istilah “terpaksa” menjadi seniman. Yang ada adalah terpaksa menjadi buruh, terpaksa maling, terpaksa melacur. Karena jarang memang orang yang sengaja bercita-cita menjadi buruh kasar, maling atau lonte.
Karena menjadi seniman adalah pilihan hidup, mestinya harus ada target, harus ada sasaran. Target itu bisa banyak hanya satu. Misalnya, ingin menjadi pelukis supaya kaya, terkenal, dihormati mertua dan dikerubuti gadis-gadis cantik. Ini target yang cukup banyak. Bisa juga cuma satu. Menjadi penyair agar bisa dicalonkan dan dipilih sebagai anggota MPR. Target itu harus jelas dan bisa diukur.
Kalau targetnya menjadi kaya, pengertian kaya itu pasti ada ukurannya. Target itu juga harus realistis. Tapi target itu juga harus menantang. Kalau TIM mengundang saya, Putu Wijaya, Afrizal Malna, Sitok, Eka dan lain-lain dengan target penonton hanya 25 orang, itu
sangat tidak realitis dan sekaligus tidak menantang.
Target adalah sesuatu yang harus diperjuangkan agar dapat dicapai. Perjuangan itu harus dilakukan secara terus-menerus bahkan setelah target itu tercapai. Sebab mestinya target itu sendiri juga berkembang. Misalnya, kalau semula targetnya menjadi penyair di buletin kampus, setelah hal itu dapat dicapai lalu berkembang. Sekarang sasarannya menjadi penyair di koran daerah. Lalu menjadi penyair nasional.
Rata-rata para seniman gagal Indonesia, hanya bertarget tunggal. Bahkan kebanyakan sama sekali tidak punya target. Ketika seorang seniman ditanya wartawan, sering jawabannya adalah: “Pokoknya saya sudah berkarya dan sudah saya lempar ke masyarakat, terserah bagaimana masyarakat akan memberikan penilaian.”
Tetapi ketika masyarakat memberi penilaian jelek, dia marah. Target tunggal yang saya maksudkan di sini adalah, kalau target utamanya sesuatu yang sangat idealis, segi ekonominya diabaikan.
Hingga untuk menerbitkan buku misalnya, harus pakai pengemis-ngemis ke pejabat. Tetapi kalau target utamanya ekonomi (uang), maka segi idealismenya menjadi luntur. Sesuatu yang ideal, mestinya dapat dengan mudah dijual dan menghasilkan duit. Gagasan yang baik, seharusnya justru dapat dijual mahal hingga membuat sang seniman kaya. Se-suatu yang bisa dipasarkan secara masal pun, mestinya tidak serta-merta mengakibatkan menurunnya mutu produk tersebut. Cerpen yang dipublikasikan di koran-koran secara massal, kenyataannya juga tetap bermutu baik. Malahan bisa lebih baik dari cerpen di majalah sastra sekalipun.
Di ruangan ini beberapa waktu yang lalu, ada tulisan rekan saya pelukis Hardi yang hobinya suka meledak-ledak. Dia banyak mengambil contoh seniman-seniman yang sukses dari segi produktifitas, kualitas maupun segi ekonomisnya dengan langsung menyebut nama. Itu bukan berarti banyak seniman yang sukses. Hardi pasti tahu bahwa lebih banyak lagi seniman yang gagal dan frustrasi lalu menyalahkan berbagai pihak. Tetapi memang tidak etis untuk menyebut-nyebut nama mereka yang gagal. Meskipun kadang-kadang kegagalan mereka itu bukan akibat
rendahnya kemampuan teknis berkesenian. Kebanyakan, kekusutan seniman Indonesia, justru karena rendahnya kemampuan manajerial mereka. Kalau diangkat ke skala makro, kekusutan iklim berkesenian di negeri ini, juga akibat tidak adanya manajemen berkesenian yang baik. Rendah-nya kemampuan manajerial ini bukan hanya terjadi di kalangan seniman, tetapi juga di lingkungan pengelola sarana berkesenian dan para birokrat serta penguasanya. ***
*) F Rahardi, penyair.
GEJALA KRISIS KEPEMIMPINAN DI MASYARAKAT
KOMPAS – Kamis, 15 Jun 1995
Oleh F. Rahardi
AKHIR-AKHIR ini di lingkungan mahasiswa, buruh, LSM, cendekiawan dan seniman sering bermunculan aktivitas ekstra. Bentuknya bisa berupa pengelompokan, gerakan maupun publikasi pernyataan. Fenomena ini sering dianggap sebagai indikasi dari membaiknya situasi keterbukaan yang diberikan oleh pemerintah dan menguatnya kesadaran masyarakat pada prinsip-prinsip demokrasi. Ini sebuah gejala positif.
Namun di lain pihak, kita bisa pula melihatnya sebagai sesuatu yang negatif. Beda dengan gerakan mahasiswa pada kurun waktu tahun 1966, 1974 maupun 1978, gerakan mahasiswa akhir-akhir ini sifatnya sangat sporadis dan sektoral dalam kelompok-kelompok kecil. Dalam gerakan semacam ini yang muncul adalah kolektivitas tanpa figur yang kuat untuk dijadikan panutan. Akibatnya, tema-tema yang digarap menjadi sangat spesifik; antipenggusuran, antinuklir, solidaritas buruh dan lain-lain sampai ke yang sangat bersifat intern. Misalnya menentang kebijakan rektor, bentrok dengan menwa dan lain-lain.
Di masyarakat buruh, LSM, cendekiawan dan seniman pun muncul gejala serupa. Ada gerakan menuntut upah, kegiatan membentuk aliansi maupun lontaran pernyataan ke media massa. Figur-figur yang menjadi motor atau aktifis gerakan semacam ini, sebenarnya sudah memiliki kapasitas standar sebagai pemimpin dalam kelompok kecilnya. Namun gerakan-gerakan yang dibuatnya, sekaligus justru menunjukkan cacat mereka sebagai figur pemimpin. Dengan berlindung di balik kedok kelompok dan tema gerakan, mereka tidak pernah punya nyali untuk tampil ke depan publik secara transparan dengan identitas jelas.
Padahal, salah satu syarat untuk menjadi pimpinan adalah keberanian untuk tampil, bertindak dan sekaligus bertanggung jawab atas risiko yang ditimbulkan oleh tindakannya. Kemampuan para aktifis untuk mengorganisir kelompok, ternyata tidak diimbangi dengan keberanian untuk tampil sebagai individu yang kuat. Bahkan, tokoh semacam Gus Dur pun, yang sebagai individu sangat canggih sekaligus didukung massa NU, ternyata masih perlu sebuah Forum Demokrasi. Ini adalah indikasi bahwa hanya untuk bicara soal demokrasi pun, di Indonesia, saat ini orang sekelas Gus Dur dengan massa NU-nya ternyata masih belum cukup kuat.
***
DI masyarakat, dewasa ini sebenarnya telah muncul figur-figur nasional yang secara kualitatif memenuhi syarat untuk menjadi motor penggerak sebuah kelompok besar. Misalnya saja Emha Ainun Nadjib, Romo Mangun, dan yang terakhir Sri Bintang Pamungkas.
Namun tokoh-tokoh ini sejak semula sudah terbiasa soliter. Mereka memang punya massa. Tapi massa itu tidak terorganisir. Jadi kehadiran mereka lebih seperti bintang-bintang selebriti. Emha misalnya, mula-mula pernah menolak masuk ICMI, lalu sempat terbujuk dan masuk lalu keluar. Tokoh-tokoh seperti ini memang tercipta bukan untuk berada dalam sebuah kelompok. Bahkan dalam wadah formal tempat bernaungnya pun yang bersangkutan bisa tidak memiliki peran yang besar. Romo Mangun misalnya, dalam hirarki gereja Katolik justru tidak memegang jabatan penting. Sri Bintang yang sudah berhasil masuk ke lingkungan Legislatif, akhirnya juga “disingkirkan”.
Gejala krisis kepemimpinan seperti yang saya lontarkan ini, diduga oleh banyak kalangan disebabkan adanya kekangan atau tekanan dari pihak pemerintah. Dalam aktivitas politik praktis, kekangan itu berbentuk kebijakan massa mengambang. Di lingkungan kampus berupa NKK/BKK. Di kalangan organisasi kemasyarakatan, cendekiawan maupun seniman berupa perizinan dan pelarangan. Di lingkungan media massa (pers) dalam bentuk ancaman pencabutan SIUPP.
Tapi di luar kendali formal tadi, masih ada pula faktor eksternal lain yang pengaruhnya cukup besar terhadap krisis kepemimpinan di masyarakat kita.
Membaiknya ekonomi selama dua dasawarsa terakhir ini, sedikit banyak telah mendorong arah minat generasi muda kita untuk tampil di bidang tersebut. Menjadi manajer, eksekutif muda, konglomerat, dan bos adalah idaman baru. Figur seperti Tanri Abeng lalu menjadi idola generasi muda di samping idola-idola konvensional seperti artis dan bintang olahraga.
Bidang ekonomi lalu menjadi semacam “tangga alternatif” untuk tampil di pentas politik. Di samping “tangga baku” lewat KNPI, FKPPI, AMPI, dan lain-lain. Muncullah kemudian tokoh-tokoh politik alumni dunia bisnis. Misalnya Siswono Judohusodo, Abdul Latif, Kwik Kian Gie, Laksamana Sukardi, dan lain-lain.
Munculnya bidang ekonomi sebagai tempat untuk tampil ke pentas nasional telah menyebabkan gerakan-gerakan mahasiswa, buruh, LSM bahkan organisasi semacam KNPI lalu seperti mendapat saingan dalam hal mencetak pemimpin. Selain faktor eksternal tadi, sebenarnya masih ada pula faktor internal yang menjadi penyebab tersendatnya kelahiran figur pemimpin di masyarakat.
***
GERAKAN-GERAKAN dan aktivitas kelompok masyarakat akhir-akhir ini sebenarnya merupakan indikasi dari belum berkembangnya pola kepemimpinan di Indonesia. Para aktivis kelompok dalam gerakan-gerakan tadi, masih terbelenggu oleh pola gerakan politik di awal abad XX. Gerakan-gerakan mereka masih mengandalkan pengerahan massa dan membuat aksi secara langsung untuk memancing publisitas.
Dalam kondisi semacam itu gerakan mereka akan langsung berbenturan dengan aparat pemerintah, khususnya pihak keamanan, dan tidak memperoleh publisitas yang memadai. Sebab media massa di Indonesia, khususnya media elektronik, berada dalam kontrol ketat pemerintah.
Aktivitas kelompok di negara maju, misalnya sekte-sekte keagamaan kecil, justru bisa sangat memanfaatkan media elektronik. Mereka berusaha untuk tidak berbenturan dengan kepentingan publik. Sebab publik di negara maju justru lebih galak dari pemerintah. Dan pemanfaatan media massa oleh kelompok-kelompok kecil di sana, adalah dengan tujuan untuk menarik simpati massa agar mau bergabung dengan mereka. Inilah beda pola gerakan kelompok di awal dan akhir abad XX.
Sebenarnya, dalam keadaan sensor yang paling ketat pun, figur pemimpin sejati dapat tetap eksis. Contohnya Imam Khomeini. Dalam menghadapi rezim Shah Iran, Khomeini juga dihadang sensor media massa. Namun tokoh spiritual Iran itu segera memanfaatkan kaset untuk merekam suaranya lalu diselundupkan ke masyarakat dari tempat pengasingannya di Irak dan kemudian di Perancis.
Para mahasiswa Cina pasca-peristiwa Tiananmen juga menghadapi hal sama. Dan mereka pun menggunakan sarana faksimile untuk mengirim informasi ke luar negeri. Dewasa ini, sarana komunikasi itu bertambah lagi dengan jaringan komputer dan modem. Namun sarana-sarana semacam ini tampak kurang dimanfaatkan oleh para aktifis kelompok yang telah saya sebutkan.
Mungkin, kualitas para aktifis kelompok itu memang belum dalam kapasitas sebagai calon pemimpin. Mereka tidak punya keuletan dan daya manuver yang tinggi. Namun, mungkin juga di Indonesia saat ini memang tidak ada isu sosial, politik, lebih-lebih ekonomi yang dapat menjadi pemicu lahirnya gerakan berskala nasional untuk melahirkan pemimpin berkualitas.
Artinya, tekanan dari pihak pemerintah, kalau itu dianggap ada, saat ini belum cukup kuat untuk menimbulkan daya dorong balik. Mungkin tekanan itu memang ada dan juga kuat. Namun seperti halnya reaksi-reaksi yang muncul berupa gerakan tadi, tekanan itu pun sifatnya juga sporadis, sektoral dan tematis.
Secara nasional banyak yang beranggapan bahwa di atmosfir Indonesia ini masih tersedia banyak oksigen untuk bernapas. Namun itu semua justru kurang memberikan tantangan bagi lahirnya figur pemimpin yang berkualitas. ***
* F. Rahardi, Penyair, Wartawan
SEBUAH KELUH-KESAH SETENGAH HATI
Makalah Diskusi Peluncuran Buku JJ. Kusni: Sansana Anak Naga
Komunitas Mata Bambu, PDS – TIM, Sabtu 13 Agustus 2005
Oleh F. Rahardi
Mereka yang sekarang ini berumur di atas 55 tahun, tahu betul apa yang pernah terjadi di Indonesia sekitar tahun 1965 – 1966. Tanggal 30 September 1965, ada sekelompok perwira TNI Angkatan Darat yang diculik dan dibunuh oleh sebuah komplotan. Kemudian menyusul gelombang pembunuhan terhadap para anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) berikut organisasi onderbownya. Pembunuhan ini dilakukan oleh masyarakat yang diprovokasi, atau dipaksa oleh aparat TNI. Pelaksana utama operasi ini adalah pasukan elite Angkatan Darat, Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) yang kemudian berubah nama menjadi Korps Pasukan Sandhi Yudha (Kopasandha) dan sekarang Korps Pasukan Khusus TNI AD (Kopassus).
Tragedi Nasional 1965 – 1966, sampai sekarang tetap kontroversial. Ada yang menyebut korbannya sampai jutaan orang. Ada yang mengatakan sekitar 500 ribu. Aparat pemerintah memberikan angka kurang dari 500 ribu jiwa. Selain yang terbunuh, jutaan orang lain dipenjara tanpa proses pengadilan. Di antaranya diasingkan ke Pulau Buru, Maluku. Dalang dari peristiwa tragis yang kemudian populer sebagai Gerakan 30 September (G 30 S) ini, menurut versi pemerintah adalah PKI. Menurut PKI, Gestok (Gerakan Satu Oktober) merupakan konflik intern Angkatan Darat. Meskipun kenyataannya Angkatan Udara pun ikut terlibat. Ada yang mengatakan bahwa, dalang dari peristiwa ini adalah Soekarno. Ada yang menyebut Letjen Soeharto. Banyak pula yang mengatakan bahwa Central Intellegence Agency (CIA) berperan besar dalam peristiwa ini. Mereka yang kritis akan menyebut bahwa, peristiwa ini merupakan gabungan dari berbagai permasalahan yang sangat kompleks, dan melibatkan banyak pihak, tetapi dengan pemegang peran utama Partai Komunis Indonesia.
Tragedi 1965 – 1966 adalah konflik politik. Bukan peristiwa kriminal, bukan pula masalah pelanggaran hukum. Puncak dari konflik politik biasanya adalah perang. Dalam peperangan, pasti ada yang kalah dan ada yang menang. Yang menang, akan membunuh dan memenjarakan yang kalah dengan atau tanpa proses hukum. Dalam peperangan, menyerbu negara lain tanpa alasan jelas juga dibolehkan. Sampai sekarang teror politik seperti ini tetap terjadi. Contohnya Afganistan yang dulu diserbu Uni Soviet, dihajar Taliban dan sekarang ganti ditaklukkan AS. Irak pun merupakan contoh dari negara berdaulat, yang bisa seenaknya diserbu dan diduduki pasukan Asing tanpa bisa dicegah oleh hukum internasional.
* * *
Salah satu korban dari tragedi 1965 – 1966 adalah JJ Kusni. Dia putera Dayak, kelahiran Kasongan, Kalimantan Tengah, 25 September 1940. Sejak tahun 1951 ia sudah pergi dari kampung halaman untuk sekolah. Termasuk kuliah publisistik di UGM, Yogyakarta. Di Yogya inilah JJ. Kusni masuk menjadi anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), sebuah organisasi onderbow PKI. Sebagai anggota Lekra, akhir tahun 1965 ia diundang oleh Himpunan Pengarang Seluruh Tiongkok untuk berkunjung ke RRC. Sejak itulah ia tidak bisa (atau tidak bersedia) pulang ke tanahair. Hidupnya kemudian mengembara ke mana-mana sampai akhirnya terdampar di Paris. Kota yang merupakan “oasis” bagi para pelarian politik kiri maupun kanan.
Tahun 1990, JJ. Kusni menjadi sangat produktif menulis puisi. Pada tahun 1990 tersebut, total ia menghasilkan 33 puisi yang kemudian dibukukan dengan judul Sansana Anak Naga, dengan sub judul Dan Tahun-tahun Pembunuhan. Ketika itu JJ. Kusni menggunakan nama Magusig O Bungai. Penerbitnya Stichting ISDM, Postbus 439, 4100 AK Culemborg, Nederland, 1990, dengan pengantar dari Prof. Dr. W.F. Wertheim dan catatan editor dari A. Kohar Ibrahim. Buku kumpulan puisi inilah yang kemudian pada tahun 2005 ini, kembali diterbitkan oleh Penerbit Ombak, Yogyakarta. Pemberi illustrasi sampul dan isi pada buku setebal 88 halaman ini adalah Surya Wirawan, perupa kelahiran Mojokerto 17 Februari 1973.
Sebanyak 33 puisi JJ. Kusni ini, warnanya seragam. Semuanya bersuasana seperti yang tertera dalam sub judul buku: Dan Tahun-tahun Pembunuhan. Yang dimaksudkannya adalah pembunuhan para anggota PKI, organisasi underbow serta simpatisannya. Secara umum ke 33 puisi JJ. Kusni bersifat linier. Pandangannya terhadap para korban serta pelaku pembunuhan sangat stereotip. Para korban selalu berhati bersih. Mereka adalah pejuang kepentingan rakyat yang heroik: maka yang tak mau jadi budak, ayo, bangkit/ memberontak! Sementara para pembunuhnya, militer Indonesia itu berhati keji: sedikit saja gundah pentung menghunjam di kepala/serdadu-serdadu siap mengantar/ke penjara subversi (Yang Tak Mau Jadi Budak, Ayo, Bangkit Memberontak!)
Akibat pandangan linier yang stereotip ini, kekeliruan terjadi. “Petrus” akronim dari pembunuhan misterius yang diprakarsai L.B. Moerdani selaku Panglima ABRI ketika itu, dianggap sebagai pembunuhan terhadap petani yang tergusur dan menggelandang di kota (Revolusi Hijau). Padahal, lepas dari kontroversi tindakan L.B. Moerdani, korban petrus adalah residivis. Para residivis ini tidak ada hubungannya dengan petani yang lahannya tergusur. Kesalahan lain adalah, pengertian Gerakan Aksi Sepihak BTI (Barisan Tani Indonesia), sebagai perjuangan untuk melaksanakan UUPA (Undang-undang Pokok Agraria) dan UUPBH (Undang-undang Pokok Bagi Hasil). Padahal dalam praktek, aksi sepihak adalah pengambilalihan perkebunan swasta besar dengan kekerasan oleh BTI, untuk selanjutnya dikuasai partai (Matinya Arjo Pilang di Tengah Mimpi).
* * *
Tidak semua puisi dalam buku ini bertemakan pembunuhan di sekitar G. 30 S. Sebagai anak Dayak, ada pula puisi Tabur Beras Garam Berabu. Puisi ini menceritakan adat Dayak Katingan, Kalimantan Tengah. Tetapi, suasana yang bisa ditangkap dalam sajak bertemakan adat setempat inipun, tetap aroma pembunuhan: lebih baik kepala terpenggal/harga diri kampung halaman pantang dijual/terhalau kami anak enggangmu dari sungai kelahiran/perihnya luka tak meneteskan airmata/darah yang tumpah penyang berlawan tujuh/turunan. Tampaknya, yang menaruh dendam tujuh turunan bukan hanya sang penindas, melainkan juga yang tertindas. Baris tersebut mengingatkan ketika paruh pertama 1960an, PKI masih berkuasa dan menindas para penandatangan Manifes Kebudayaan.
Jargon-jargon politik yang digunakan oleh pemerintah Orde Baru seperti subversiv, OTB (Organisasi Tanpa Bentuk), terlibat G. 30 S. PKI, tidak bersih lingkungan dll. terhadap musuh politik mereka, sebenarnya juga pernah digunakan oleh PKI pada paruh pertama 1960an. Misalnya: Komunisto Phobia, Antek Nekolim (Neo Kolonialisme dan Imperialisme), Kabir (Kapitalis Birokrat) Tujuh Setan Desa dll. Hanya kebetulan, pada akhir tahun 1965 yang keluar sebagai pemenang adalah Soeharto dan tentaranya, yang kemudian memerintah negeri ini. Seandainya yang menang bukan Soeharto, melainkan pihak PKI dengan angkatan kelimanya, tidak ada jaminan bahwa keadaan akan menjadi seperti yang diimpikan oleh JJ. Kusni. Sebab siapa pun, isme apa pun, bisa menjadi sangat otoriter setelah berkuasa tanpa adanya kontrol.
Gereja Katolik (Vatikan), pernah selama 300 tahun menjadi agama terlarang di wilayah kekaisaran Romawi. Pemimpin agama dan umatnya dikejar-kejar, ditangkap dan disalib atau diumpankan binatang buas sebagai tontonan. Kemudian setelah berkuasa, institusi agama ini juga menjadi sangat otoriter dan kejam di hampir seluruh Eropa. Mereka yang dianggap “berdosa” juga dihukum seperti cara kekaisaran Romawi menghukum para pendahulu mereka. Sekarang ini di salah satu negara Komunis, kembali tokoh Gereja Katolik yang tidak loyal kepada penguasa masih terus ditangkapi dan dipenjara. Tetapi yang otoriter dan bengis, sekarang bukan hanya pemerintah negara Komunis. Pemerintah AS, yang mengaku sebagai biangnya demokrasi pun, kekejamannya ibarat centeng tuan tanah di jaman VOC.
Tindak sewenang-wenang, kejam dan bengis, bisa dilakukan oleh siapa saja. Mulai dari Gereja Katolik, Partai Komunis, Taliban, dan Pemerintah AS. Bahkan perilaku iblis ini bukan hanya bisa dilakukan oleh institusi keagamaan dan negara. Pers, perusahaan multinasional, lembaga pendidikan, dan LSM bisa saja bengis dan menyeramkan. Stigma dan jargon-jargon untuk meneror lawan, bisa silih berganti penggunanya. Jargon yang digunakan oleh penguasa Orde Baru bahwa komunis itu najis (Yang Tak mau Jadi Budak, Ayo, Bangkit Memberontak!), sebenarnya sama saja dengan akronim Manikebu (maninya kerbau), yang pernah dilontarkan kaum Komunis untuk meneror penandatangan Manifes Kebudayaan. Sejarah akan terus berputar dan berulang. Perang antara kebaikan dan kejahatan tidak akan pernah ada habisnya.
Namun di lain pihak, tidak pernah ada yang mutlak di muka bumi. Mutlak jahat tidak ada, mutlak baik juga tidak mungkin. Sejahat-jahatnya Komunis, tetap masih ada sisi baiknya. Sekejam-kejamnya pemerintah Orde Baru, juga masih ada lemah-lembutnya. Yang bisa 100% baik katanya hanya Allah, sementara yang 100% jahat namanya syaiton. Dengan landasan berpikir demikian, bukan berarti sebuah puisi harus oportunis dan tidak punya sikap. Sebab puisi yang baik justru harus berpihak. Dalam keadaan tertentu, puisi tidak hanya berpihak kepada kebenaran, melainkan juga kepada yang lemah dan terkalahkan. Tetapi puisi bukan berita. Puisi bukan jargon-jargon politik. Puisi adalah sebuah ungkapan yang kalau disampaikan dengan medium lain akan kehilangan kekuatannya.
Suasana di sekitar G. 30 S memang sungguh mencekam. Tetapi materi puisi yang diciptakan JJ. Kusni, bisa dibuat oleh siapapun dalam bentuk apapun. Mulai dari berita, keluh-kesah, catatan harian dll. Namun keluh kesah yang disampaikan oleh JJ. Kusni adalah-keluh kesah setengah hati. Sebab dia kemudian memilih tinggal di Paris, sebuah negeri kapitalis. Bahkan setelah sempat pulang kampung 1998 pun, dia hanya bisa bertahan sampai 2002 dan kemudian kembali ke Paris. Keluh-kesah JJ.Kusni yang setengah hati, sebenarnya juga disebabkan oleh kenyataan bahwa, penguasa keterbukaan dan media massa dunia justru negara-negara barat yang kapitalis. Bukan negara Komunis. Kemudian pada saat Soeharto mengeksekusi para anggota PKI, maka di Uni Soviet, RRC, Vietnam, Kuba dan Korea Utara para pembangkang justru sedang dihajar oleh penguasa Komunis. Di Kamboja malahan sedang terjadi pembantaian massal oleh rezim Polpot.
* * *
Betapa pun lemahnya posisi kepenyairan JJ. Kusni, kumpulan puisi Sansana Anak Naga ini tetap punya nilai bagi khasanah sastra Indonesia. Kumpulan puisi ini justru tidak tepat kalau didekati hanya dengan kacamata sastra. Sebab pernyataan-pernyataan yang linier dan stereotip justru menunjukkan bahwa yang sedang marah dan sakit hati adalah penyairnya. Bukan pembacanya. Padahal, sebuah karya sastra yang baik (juga karya tulis lain pada umumnya), yang harus emosional adalah pembacanya, bukan penulisnya. Untuk bisa menjadikan pembacanya emosional, sang penulis harus dalam kondisi tidak sedang emosional. Sebab kalau seseorang sedang emosional karena menghadapi penguasa yang otoriter dan bengis, lebih baik memberontak atau demo dan bukan menulis puisi.
Kumpulan Sansana Anak Naga, mungkin lebih tepat didekati dengan disiplin ilmu non sastra. Bisa psikologi, politik, antropologi atau ilmu-ilmu sosial lainnya. Justru di sinilah sumbangan kumpulan puisi ini terasa kuat. Sajak-sajak JJ. Kusni, bisa menjadi sebuah model untuk menggambarkan salah satu figur intelektual, yang terusir dari tanah-airnya karena pergolakan politik. Dan dia tidak sendirian. Banyak mahasiswa, seniman dan intelektual yang pasca G. 30 S terdampar di negeri asing. Selain mereka yang beraliran kiri, pada tahun 1990an juga banyak aktivis politik kanan yang terusir ke negeri jiran. Belum lagi para pejuang kemerdekaan Timtim, Papua dan Aceh yang sangat tegas menyuarakan perjuangan mereka. Para aktivis politik kanan yang lari ke Afganistan, Libya, Malaysia dan Filipina Selatan, meski secara rahasia, juga lebih jelas merumuskan perjuangan dan menggalang kekuatan. Sementara para pelarian politik pasca G. 30 S, hanya bisa berteriak dengan setengah hati.
Saya pribadi akan sangat hormat, apabila penganut faham Komunis bisa lebih lantang dan tegas menyuarakan perjuangannya. Misalnya memperjuangkan bangkitnya Komunisme dunia termasuk Indonesia. Mengapa takut? Sebab yang menakutkan bukan Komunis, bukan Zionis, bukan Islam, bukan Kristen tetapi sikap ekstrim, tertutup, totaliter, tidak adil, sewenang-wenang dan teror. Baik teror fisik maupun mental sampai ke pembunuhan dan pemusnahan lawan politik. Sikap ekstrim demikian, bisa datang dari mana saja. Ketika Uni Soviet menyerbu Afganistan, maka wajah Komunisme dunia menjadi tampak menyeramkan. Ketika Taliban meledakkan Situs Warisan Dunia, Patung Budha Raksasa di Bamyan, Afganistan 2001, maka wajah Islam pun menjadi garang. Sekarang ini ketika pasukan AS yang Protestan petentang-petenteng di Irak, maka yang paling sebel justru warga AS sendiri. * * *
Cimanggis, 9 Agustus 2005
SAUT KECIL BICARA DENGAN MABOK DAN BIRAHI
Makalah untuk Bahan Diskusi Bulanan Meja Budaya
PDS HB Jassin (TIM), Kamis 15.00 WIB, 18 Desember 2003
Oleh : F. Rahardi
Judul buku kumpulan puisi Saut Situmorang: saut kecil bicara dengan tuhan, ada baiknya kita ubah. Sebab dalam sajak dengan judul sama pada buku tersebut (hal 25), tidak akan kita temukan adanya indikasi “Saut Kecil yang bicara dengan Tuhan”. Baik secara tersurat maupun tersirat (kiasan). Bahkan, keseluruhan 52 sajak yang terkumpul dalam buku ini, tidak mengisyaratkan adanya pembicaraan yang intens antara Saut dengan Tuhan. Yang ada justru bertebarannya kata-kata mabok, alkohol, bir, anggur dan ungkapan-ungkapan kebirahian. Yakni, ungkapan yang berhubungan dengan seksualitas dan sensualitas (voyeurisme). Maka judul paling pas untuk buku ini adalah: Saut Kecil Bicara dengan Mabok dan Birahi.
Judul buku kumpulan puisi, memang bisa saja asal comot. Misalnya Blues untuk Bonnie, Perahu Kertas, Golf untuk Rakyat dll. Tetapi kalau seorang penyair mengambil judul yang agak lebih serius, misalnya Priangan Si Jelita, maka khalayak sastra akan menuntut adanya “ruh” dari Bumi Priangan yang Jelita tersebut, pada sebagian besar puisi yang dihadirkan. Kalau “ruh” Priangan yang Jelita itu tidak terasa keberadaannya, maka khalayak sastra akan menganggap judul tersebut hanya asal tempel. Meski Saut menampilkan judul “bicara dengan tuhan” tetapi yang dominan dalam kumpulan puisi ini justru kata-kata mabok dan birahi. Dan itu pulalah sebenarnya yang ia tuliskan dalam sajak cinta untuk semua perempuanku yang lampau yang kini yang akan datang (hal 38-39). Saya kutipkan bait terakhir sajak tersebut.
cakar kuku kuku possum yang tajam
menyayat kulit mukaku
beraturan¾
sebuah tattoo warna-warni
sebuah pelangi warna warni
membusur di dinding kamar
tempat kalian turun bermain
dari dongeng dongeng nenek moyang
dan mandi telanjang di kolam di kasur
kolam harum alkohol dan mani
sementara aku cuma tersenyum
mabok dan birahi
menulis sajak ini.
Istilah kecil dalam saut kecil bicara dengan tuhan, sebenarnya dimaksudkan oleh penyair dalam arti harafiah. Yakni mengacu ke sebuah masa, ketika Saut masih kanak-kanak. Namun, secara tidak sadar, makna kecil dalam konteks ini, bisa pula menjadi kiasan akan kekecilan hati Saut dalam menghadapi “para raksasa” penyair Indonesia. Kekecilan hati ini tampak ketika ia mengutip baris-baris penggalan sajak Rendra dan Chairil Anwar di halaman 3. Juga ketika ia menyebut-nyebut nama Amir Hamzah, Chairil Anwar, Sutardji Calzoum Bachri dan Afrizal Malna dalam blurb di sampul belakang.
Sebelum menyebut nama para “raksasa” penyair Indonesia dalam blurb tersebut, Saut menyatakan: matahari sudah condong ke barat, kehidupan sedang berada/di titik klimaks musim kemarau tropis yang panjang, dst. Musim kemarau di kawasan Tropis itu justru sangat pendek. Kemarau yang panjang terjadi di kawasan beriklim munson (monsoon), sabana (savanah) dan yang paling ekstrim di gurun. Penyebutan musim kemarau tropis yang panjang, untuk dianalogkan dengan ketiadaan para pahlawan, para datuk yang menguasai keempat mata angin dunia kangouw sastra, merupakan akibat dari kekurang tahuan penyair, dan bukannya kesengajaan untuk menciptakan paradoks atau ironi. Kecuali dia hanya menyebut kemarau yang panjang, tanpa embel-embel musim dan tropis.
Kekecilan hati Saut, pada akhirnya melahirkan kekaguman yang berlebihan terhadap “raksasa” penyair Indonesia. Dalam hal ini Rendra. Pada kumpulan puisi ini, ada tiga sajak dengan judul disebabkan oleh rendra 1, 2 dan 3 (hal. 15, 16 dan 17). Selain itu juga ada sajak berjudul blues untuk katrin (hal 64) yang jelas mengingatkan kita pada salah satu sajak Rendra berjudul Blues untuk Bonnie. Sajak Rendra ini memang merupakan salah satu master piece, hingga pengaruhnya terhadap Saut juga merembet ke sajaknya berjudul do you like basketball, berangere? (sajak jazz untuk dale turner). Meskipun struktur dan semangat dua sajak ini sangat berlainan, namun Saut menyebut:
malam yang penuh asap rokok
malam yang penuh gadis mabok
malam yang penuh harum anggur
si negro tua memainkan saxophonenya
menghembuskan napas tuanya memainkan saxophonenya
seorang negro tua
sebuah saxophone tua
di sebuah cafe penuh gelak tawa, dst.
Sementara dalam Blues untuk Bonnie, Rendra menulis:
Kota Boston lusuh dan layu
kerna angin santer, udara jelek,
dan malam larut yang celaka.
di dalam cafe itu
seorang penyanyi negro tua
bergitar dan bernyanyi.
Hampir-hampir tanpa penonton.
Cuma tujuh pasang laki dan wanita
berdusta dan berciuman dalam gelap
mengepulkan asap rokok kelabu
seperti tungku-tungku yang menjengkelkan.
Pengaruh penyair yang lahir lebih awal, merupakan hal yang wajar dan tidak perlu terlalu dirisaukan. Ballada-ballada Rendra pun sangat terpengaruh oleh penyair dan dramawan kenamaan Spanyol, Federico Garcia Lorca (1898 – 1936). Sebab pengaruh hanyalah sekadar pegangan, agar seorang penyair segera mampu menemukan jatidirinya. Pengaruh yang terlalu kuat dan berkepanjangan akan menyebabkan seorang penyair sekadar menjadi “bayang-bayang” dari penyair yang lebih besar. Namun sebaliknya, terlalu over acting dalam menghujat penyair yang lebih mapan pun, baik dalam berkreasi maupun bertingkah laku, hanya akan menjadi sekadar “pengukuh” bahwa penyair senior itulah yang lebih hebat.
Pada tahun 1976, dalam mengomentari Yudhis, Norca, Adri dll., Darmanto Yatman menulis: “Tidak usah kayak Buto Cakil, pencilakan, pecicilan tapi hadir cuma untuk mempertunjukkan bahwa Arjuna lebih sakti. Joss Sarhadi, B. Priyono, Syarifuddin A.Ch, Noorca Marendra, kalau toh betul terjun ke pentas, ya cuma untuk menunjukkan bahwa Sutardjilah yang sakti – sekalipun sama-sama menari dan bawa keris”. Sebab ketika itu para penyair muda dengan “puisi mbeling” dan “puisi lugu” nya, banyak yang memparodikan sajak-sajak Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, Rendra dll. termasuk sajak Darmanto juga. Ternyata omelan Darmanto 27 tahun silam itu benar. Dari sembilan penyair yang ditampilkan dalam program Penyair Muda di Depan Forum oleh DKJ tahun 1976 tersebut, hanya tinggal Dami N Toda yang masih eksis. Lainnya tak ketahuan jejaknya atau berkiprah di luar dunia kepenyairan.
* * *
Dalam sajak yang dijadikan judul kumpulan puisinya, Saut memposisikan diri sebagai anak kecil. Bocah kecil itu masih terus memandangi langit biru dan mempertanyakan hal yang baginya sangat aneh, yakni: kenapa kadang turun hujan ke bumi/membuat becek jalan di depan rumah/membuat dia tak boleh main di luar rumah dst. Ruh sajak tersebut, mencerminkan dunia kanak-kanak. Sama halnya dengan sajak pertama dalam buku ini: tidurlah cicak (hal 5): tidurlah cicak walau dinding-dinding terbakar/biarkan anak anak ayam berpesta atas ekor gadingmu/tidurlah cicak tidurlah dst. Juga dalam sajak musim salju (hal 12): angin mencuri air dari kerajaan lautan dan/melarikannya ke puncak bukit-bukit berkabut./karena meronta-ronta gaun tidur putri laut/ yang putih robek robek berceceran sepanjang pantai, jalan-jalan kota dst. Itu semua adalah 100 % pikiran anak-anak.
Memang dalam dunia kesenian, ada faham Dadaisme, Surealisme, Naifisme, Absurdisme dll. Tetapi, faham-faham itu tidak pernah bermaksud untuk mengkopi pikiran anak-anak 100% dan menyajikannya sebagai karya seni. Sapardi Djoko Damono misalnya, juga senang mengangkat dunia kanak-kanak dalam sajaknya. Sebagian sajak Sapardi juga terjebak menjadi puisi kanak-kanak seperti pernah dikritisi oleh Sutardji pada tahun 1977. Namun dengan gayanya tersebut, Sapardi tetap merupakan penyair papan atas Indonesia yang tak tergoyahkan. Berikut saya kutipkan penggalan bait sajak saut kecil bicara dengan tuhan dan juga sajak Sapardi.
mungkin di bawah tanah ini
sama seperti di atas sini, serunya dalam hati
ada pohon ada rumah rumah
ada tanah lapang di mana orang
main layang layang
dan tentu mereka mengira
di atas sini tinggal tuhan mereka!
dia mulai tersenyum
dia tahu sekarang kenapa kadang kadang turun hujan
tentu saja hujan turun dari langit
karena di atas sana tuhan sedang pesta
dan air hujan itu
tentu air yang dipakai mencuci piring gelas
sehabis pesta
sama seperti ibu waktu cuci piring gelas
dan airnya hilang masuk ke dalam tanah
senyumnya makin lebar sekarang
dibayangkanNya anak anak mandi hujan
di bawah sana!
Berikut penggalan bait sajak Sapardi Djoko Damono, Perahu Kertas.
Waktu masih kanak-kanak kau membuat perahu
kertas dan kaulayarkan di tepi kali; alirnya
sangat tenang, dan perahumu bergoyang
menuju lautan.
“Ia akan singgah di bandar-bandar besar”, kata
seorang lelaki tua. Kau sangat gembira, pulang
dengan berbagai gambar warna-warni di kepala.
Sejak itu kau pun menunggu kalau-kalau ada
kabar dari perahu yang tak pernah lepas dari
rindumu itu.
Akhirnya kaudengar juga pesan si tua itu, Nuh,
“Telah kupergunakan perahumu itu dalam
sebuah banjir besar dan kini terdampar di
sebuah bukit”.
Meskipun sama-sama mengambil tema dunia anak-anak, Sapardi tampak lebih unggul mengolah materi, hingga sajaknya tidak terjebak menjadi puisi anak-anak. Membayangkan bahwa di atas sana tuhan sedang pesta/dan air hujan itu/tentu air yang dipakai mencuci piring gelas, memang tipikal pikiran anak-anak. Sama halnya dengan sikap menunggu kabar dari perahu kertas yang pernah dilepas di pinggir kali. Tapi Sapardi telah berhasil mengambil jarak, hingga seluruh gambaran di sekitar perahu kertas tersebut berubah menjadi sebuah kerinduan akan masa kanak-kanak yang tak akan pernah kembali. Bukan hanya sekadar adegan anak-anak yang melepas perahu kertas, dan bukan pula berhenti pada pikiran kanak-kanak.
Adanya kesadaran, bahwa perahu kertas itu telah diambil oleh Nuh, untuk dijadikan bahtera dalam banjir besar, hingga tak akan pernah datang lagi, sebenarnya juga masih tipikal pikiran anak-anak dan kekanak-kanakan. Yang menyebabkan Sapardi tidak terjebak dalam sikap kekanak-kanakan adalah kabar dari perahu yang tak pernah lepas dari/rindumu itu. Dunia anak-anak memang merupakan sumber inspirasi yang sebenarnya luar biasa. Namun kalau kita tidak berhati-hati mengolahnya, akan terjebak hingga hanya menghasilkan puisi kekanak-kanakan. Penyair kontemporer Jepang Kotaro Takamura (1883 – 1956), pernah menulis Percakapan Bocah yang diterjemahkan Abdul Hadi WM dari versi Inggrisnya.
PERCAKAPAN BOCAH
Chieko bilang Tokyo tak punya langit sama sekali,
bilang ia ingin melihat langit yang benar.
Sambil memandang ke langit aku terkejut.
Di antara daun-daun sakura yang segar
terbentang langit cerah
langit lama, langit cerah yang kukenal.
Kabut muram dan berasap di cakrawala
adalah bunga kurus dan basah di pagi hari.
Memandang ke tempat jauh Chieko bilang:
langit biru yang setiap hari muncul
di atas gunung Adatara
itulah sebenarnya yang kumaksudkan.
Tentu ini cuma percakapan seorang bocah tentang
langit.
Meskipun sajak di atas berjudul Percakapan Bocah dan sama dengan sajak Saut, mempertanyakan tentang langit, namun Kotaro tidak terjebak menulis sajak yang kekanak-kanakan. Sebab kenyataannya Tokyo dengan pencakar langitnya, dengan polusinya, dengan segala hiruk pikuknya, memang seakan sudah tak berlangit sama sekali. Dan percakapan bocah itu mengejutkan sang penyair. Sambil memandang ke langit aku terkejut./Di antara daun-daun sakura yang segar/terbentang langit cerah/langit lama, langit cerah yang kukenal. Sajak Kotaro ini sangat sederhana. Namun justru dari kesederhanaan itulah muncul kekuatan puitik. Dalam tradisi perpuisian Jepang, kesederhanaan (kebersahajaan), pada awal abad XVI telah berhasil mencapai puncaknya dalam ujud Haiku, Hokku atau Haikai. Puisi pendek yang hanya terdiri dari tiga baris dengan total 17 suku kata.
* * *
Eksploitasi terhadap alkohol, narkotika dan seks dalam khasanah sastra, sebenarnya bukanlah hal yang baru. Pada awal abad XX, di Surakarta, Jawa Tengah, pernah terbit dua buku dengan judul Balsafah (Filsafat) Gatoloco, dan Darmogandoel. Buku Balsafah Gatoloco, berisi percakapan (berbentuk tembang mocopat) si tokoh bernama Gatoloco alias Barang Kinisik alias Barang Panglusan yang arti harafiahnya adalah kemaluan laki-laki. Nama-nama tokoh perempuannya pun menjurus ke arah kemaluan perempuan: Dewi Mlenukgembuk, Dewi Dudulmendut, Dewi Rorobawuk dan Dewi Bleweh. Si Gatoloco dilukiskan bertampang buruk, kurus kering, hobinya mengisap candu (opium) dan menelan kleletnya, serta jagoan berdebat.
“Memang aku sangat kurus, itu kehendak Allah dan Nabi, setiap hari aku harus makan candu dan madat yang kutelan dan kubakar. Kalau tidak kuturuti perintah ini, Nabi akan marah-marah.” Ajaran agama Islam pun dilabraknya habis-habisan: “Nabi Mekah yang kau sembah, sudah tidak ada ujudnya, sudah meninggal seribu tahun silam, tempatnya pun di tanah Arab, perjalanan ke sana tujuh bulan (ketika itu), itu pun dihadang laut, dan di sana tinggal hanya makamnya, kalian sembah jungkir balik tiap hari, apa bisa sampai?” Dan lain-lain yang tingkat kekurang ajarannya telah menyebabkan buku ini dilarang sampai sekarang.
Dalam buku Darmogandoel (Darmo = ajaran; Gandoel = menggelantung, posisi kemaluan laki-laki), disebutkan antara lain istilah syariat (Islam) yang diplesetkan menjadi sarengat (yen sare njengat), yang artinya kalau tidur berereksi. Mekah (kota suci Mekah) diartikan sebagai mekakah (posisi perempuan yang mengangkang). Kristus diartikan sebagai keris, yang merupakan senjatanya kaum lelaki, yang di “tus” (dituntaskan) airnya, dengan cara ditusukkan. Yesus diartikan sebagai ebahing wanito (goyangnya perempuan). Kalau dalam Gatoloco Kristen hanya dicap sebagai “kapir”, dalam Darmogandoel kaum Nasrani (Katolik dan Kristen) lebih banyak diledek dan dijadikan lelucon secara total.
Meskipun Saut terobsesi oleh seks dan alkohol yang maunya akan ditabrakkan dengan dunia Theologi, namun eksplorasi terhadap hal ini jelas masih dalam tahap iseng kalau dibanding dengan Balsafah Gatoloco dan Darmogandoel. Dia memang sudah menyentuh figur Nabi, Malaikat, Tuhan dan Kitab Suci, tetapi sikapnya masih belum jelas dan kuat. Dia masih tampak malu-malu, ragu-ragu, takut-takut, untuk secara tegas melabrak doktrin keagamaan. Itu semua tampak dalam sajak cinta perempuanku yang lampau yang kini yang akan datang, yang mencoba menggarap eksploitasi ini. Saya kutipkan penggalan bait sajak tersebut.
sajak sajak cinta yang terlahir
dari harum alkohol dan mani
dibabtis dalam harum alkohol dan mani
apa yang lebih suci
daripada alkohol dan mani?
(bulan tiba-tiba jadi iri!)
seekor kupu-kupu yang tinggal rangka
di sudut jendela kamar
mengerti apa yang para nabi
para malaikat para tuhan tidak mengerti.
perempuanku perempuanku perempuanku
sajak sajak cinta jauh lebih suci
daripada keangkuhan semua kitab suci.
Sebenarnya gugatan terhadap Theologi formal Nasrani maupun Islam, merupakan kelanjutan dari gugatan terhadap Teologi Hindu pada abad V dan IV SM, dan Hindu serta Budha pada abad-abad awal millenium I. Secara sederhana, gugatan tersebut berupa pertanyaan, mengapa untuk bebas dari Samsara dan bisa mencapai Nirvana (Surga), harus lewat jasa para Dewa dan Dewi (Hindu). Pertanyaan inilah yang melahirkan Theologi Budha, bahwa melalui meditasi, mengosongkan pikiran dan bertapa brata, orang bisa sampai ke Nirvana tanpa bantuan siapa pun. Dari Theologi Hindu dan Budha ini, pada abad-abad awal millenium I lahir Theologi Tantraisme dan Syiwaisme, yang setelah menyatu dengan ajaran Budha menjadi Syiwa Budha dan Budha Bhairawa.
Kutub paling ekstrim Tantraisme mengajarkan, bahwa untuk mencapai Nirvana seseorang tidak perlu bantuan Dewa dan Dewi atau susah payah bermeditasi, tapa brata selama puluhan tahun. Sebab, itu semua bisa dilakukan dengan cara sangat mudah dan enak. Yakni dengan minuman keras, berjudi, berhubungan seks, merampok, membunuh dan lain-lain tindak kemaksiatan. Ritual keagamaan bisa dilakukan dengan mengorbankan gadis atau perjaka yang terlebih dulu diperkosa. Syiwaisme, Tantraisme yang digabung dengan Budhisme ini, pernah menjadi agama resmi (agama negara) bagi masyarakat Jawa pada jaman Kediri, Singosari dan Majapahit. Ketika itu agama Budha, Wisnu, Syiwa (+ Tantraisme) dan Syiwa Budha (+ Tantraisme), hidup berdampingan dengan berbagai konflik dan intriknya. Puncak dari konflik ideologis ini terjadi pada jaman pemerintahan Kerajaan Demak yang Muslim, antara para Wali Kerajaan (Wali Songo) dengan Syech Siti Jenar yang ajarannya dianggap terpengaruh Tantraisme.
Hingga ungkapan Saut dibabtis dalam alkohol dan mani, sebenarnya telah ketinggalan 100 tahun (dari Gatoloco), 1.000 tahun (dari Syiwa Budha sekitar jaman Kediri), dan 2.000 tahun dari kelahiran Tantraisme di tanah India sana. Memang, di kolong langit ini tidak pernah ada hal yang 100% baru. Sebaliknya juga tidak pernah ada hal yang 100% usang. Hingga upaya Saut untuk mengeksploitir seks dan minuman keras dalam sastra, sebenarnya merupakan sesuatu yang sah dan harus dihormati. Namun upaya tersebut baru akan tampak kuat apabila dikaitkan dengan konteks kekinian dan dilontarkan dengan intensitas tinggi. Intensitas tinggi ini baru bisa dicapai kalau si penyair punya rasa percaya diri (pede) yang tinggi pula.
Sebenarnya, dengan modal keberanian menabrak konvensi religi, seseorang tidak perlu mengkaitkan dirinya dengan penyair yang lebih senior. Dan juga tidak perlu takut kepada institusi keagamaan yang dianut. Mundurnya Sutardji dari hobi ngebir ketika dia mengklaim dirinya sastrawan sufi misalnya, memang seperti yang disebut Saut, merupakan sebuah kelemahan. Sebab Gus Mik, ulama besar kita pencetus tradisi Samakan, tetap datang ke diskotik dan menenggak bir hitam sampai dia meninggal. Gus Dur yang waktu itu Ketua Umum PBNU dan umurnya lebih tua pun, selalu mencium tangan Gus Mik. Para Kiai Sepuh juga tidak pernah berani mempermasalahkan “tradisi” Gus Mik ini, sebab ia telah sampai ke “puncak ilmunya”. Salah satu buktinya, ia tahu kapan akan meninggal.
* * *
Sebagai penyair yang relatif muda usia (saat ini 37 tahun), Saut masih punya kesempatan menghasilkan sajak yang lebih baik. Untuk itu dia harus lebih banyak belajar dari dirinya sendiri. Bukan dengan terus membebek penyair yang lebih senior. Selain itu diperlukan pula fokus yang lebih terarah serta keberanian dalam mengeksploitir sesuatu yang menjadi obsesinya. Kalau memang benar seks dan alkohol adalah obsesinya, maka dua hal inilah yang harus ditampilkannya secara intens dan konsisten. Resiko dari eksploitasi terhadap dua hal ini adalah, adanya tantangan dari institusi dan penganut agama, yang mayoritas pasti tidak setuju dengan hal-hal tersebut.
Bahaya lain dari intensitas menggeluti hal tertentu adalah, sang penyair akan ditelan oleh materi yang digelutinya. Kirdjomulyo dan Linus Suryadi AG adalah dua penyair Jawa yang mencoba secara intens mengangkat masalah mistik Jawa. Namun dua penyair ini hanyut terbawa oleh arus kejawen yang sangat kuat. Beda dengan Goenawan Mohamad yang juga menggeluti masalah tersebut, namun tetap bisa menjaga jarak untuk tidak hanyut. Baik dalam karya maupun kehidupan sehari-harinya. Eksploitasi terhadap alkohol dan seks untuk kepentingan sastra, bisa saja menghanyutkan penyairnya, hingga benar-benar menjadi pemabuk dan pecandu seks bebas. Efeknya, seseorang bukan menjadi penyair hebat, melainkan terkena gangguan lever, GO atau HIV.
Kesan mencari-cari pada diri Saut juga tampak masih sangat kuat dalam buku ini. Dari 52 puisi yang dihadirkan, hampir seluruhnya menggunakan pola penulisan rata kiri, lurus. Kecuali pada sajak musim salju (hal 12) dan ibu seorang penyair (hal 23) yang menggunakan pola rata tengah. Pada sajak karena laut sungai lupa jalan pulang (hal 44), rata pinggir kiri ini divariasi dengan dua bait masuk ke dalam satu “tab”. Pada sajak blues untuk katrin, dia mencoba menggunakan pola rata kiri kanan (justified). Ini merupakan upaya untuk menyegarkan diri si penyair (agar tidak bosan dalam menulis) dan pembaca (supaya tidak capek dalam membaca). Tetapi ketika dia menampilkan sajak hujan dengan tipografi yang disusun mirip hujan, maka kesan norak itu segera timbul. Sebab pola demikian (menulis aple dengan tipografi yang disusun menjadi gambar buah apel dll.) sudah menjadi trend di Eropa, khususnya di Perancis pada awal abad XX.
Di Indonesia, Remmy Silado dengan gerakan Puisi Mbelingnya, Danarto dan Jeihan dengan Puisi Konkritnya, pernah mengadopsi hal ini dan cukup menghebohkan pada dekade tahun 1970an. Puncak dari “pemberontakan” dekade tahun 1970an adalah hadirnya gaya kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri. Di dunia ini, tentu tidak ada hal yang sempurna (100% baik). Sebaliknya juga tidak mungkin sesuatu itu 100% jelek, hingga sama sekali tidak mengandung kebaikan. Buku kumpulan puisi Saut ini, tentu menghadirkan pula sajak-sajak bagus yang kalau dia mau tekun mengembangkan, akan bisa menjadi basis kuat bagi kepenyairannya di masa mendatang. Misalnya sajak Aku telah menjelajahi kemulusan tubuhMu (hal 34). Saya kutipkan keseluruhan sajak ini:
Aku telah menjelajahi kemulusan tubuhMu
seperti seekor kupu kupu menjalangi
semua mawar di taman
di luar kamar, biarlah bulan itu
sendiri
dalam kedinginannya.
perempuan yang merangkulku
dalam embun pagi hari, janganlah
engkau tertidur. tak kan ada mimpi
yang seindah permainan cinta kita ini.
hunjamkanlah lagi kuku kuku manismu
ke rambutku yang basah bau tubuh.
aku telah berdamai dengan bayanganku
di kemulusan tubuhmu
seperti kupu kupu yang menemukan
celah daun di mawar
di luar kamar. biarlah bulan itu mengutuki
bayangannya sendiri
yang pecah bersama embun di
pagi hari.
perempuan bermata biru
sebiru kemulusan ombak laut yang memukul mukul perahu
lihatlah malam tak berawan di mataku.
cinta dan bintang bintang telah bersatu
di dada si pengembara jemu.
di ujung kuku kukumulah lahir
semua kata kata sajakku!
Sajak ini relatif lancar, jujur dan tidak berlebihan dalam mengungkapkan nilai puitiknya. Meskipun materi utamanya tetap birahi, namun kesan jorok atau cabul tidak tampak. Beda misalnya dengan disebabkan oleh rendra 2 (hal 16) yang terkesan vulgar: di dalam tenda pinjamam/tubuhnya hangat/bagaikan lidah yang menyengat./susunya kecil bulat penuh/bagai bola kasti di sd dulu dst. Atau pada Aku mencintaiMu dengan seluruh jembutKu (hal 68): ada jembut nyangkut/di sela gigiMu dst. Ini lebih terkesan jorok daripada puitis. Meskipun kejorokan, bisa saja dieksploitir untuk melukiskan suasana chaos, kekumuhan dan penderitaan. Tetapi dalam puisi tadi suasana tersebut tidak muncul. Sebenarnya Saut bisa pula menulis bagus tanpa harus mengeksploitir birahi dan mabok. Misalnya pada sajaknya di hal 24 berikut ini.
hanya airmata dan terik matahari
yang mengerti
rumput-rumput sudah mulai panjang
dan seperti rambut kusut
merambati permukaan gundukan tanah
yang tak lagi berwarna merah
waktu aku datang mengunjungimu
pertemuan kita ini
punya arti
hanya airmata dan terik matahari
yang mengerti
seperti cerita dalam lagu
anak anakmu mencabuti rumput rumput itu
lalu mencoba mempertinggi gundukan tanah seperti semula
lalu menanam beberapa bunga di atasnya
sebentar lagi aku akan pergi lagi
sebentar lagi tinggalah kau sendiri lagi
hanya bekas-bekas jari tanganku
bekas bekas tapak sepatuku
pertanda aku pernah mengunjungimu
ada yang bilang tak boleh menoleh ke belakang
kalau laki sudah beranjak mau pulang
tapi dari jauh
kulihat salib kayumu
tegak penuh
seperti dirimu waktu melepasku
di pelabuhan dulu
Sajak ini berkisah tentang seorang laki-laki yang berziarah ke makam perempuan, yang pernah punya hubungan khusus dengannya (mungkin istrinya). Biasanya materi demikian akan melahirkan sajak yang cenderung cengeng atau sentimental. Dalam hal ini Saut tidak terjebak ke dua hal tadi. Beberapa sajak dalam kumpulan ini, masih bisa dikatagorikan seperti dua sajak yang saya kutip penuh tadi. Meskipun jumlahnya tidak banyak. Ini semua bisa menjadi modal dasar, kalau Saut mau mengembangkannya. Hingga sebenarnya, tanpa harus vulgar, norak dan terlalu mengeksploitir alkohol serta seks pun, Saut bisa melahirkan puisi yang baik. Mengeksploitir dua hal tadi pun, sehat-sehat saja untuk dilakukan. Asal secara intens, konsisten, dan berani berhadapan dengan institusi keagaman yang mirip tembok raksasa yang sangat kokoh. * * *
DISTRIBUSI PERAN DI MASYARAKAT MODERN
KOMPAS – Senin, 02 Sep 1996
Oleh F. Rahardi
AKHIR-akhir ini sering muncul keluhan bahwa ada golongan atau kelompok masyarakat yang kurang mendapatkan peran sebagaimana mestinya
dalam pembangunan. Mereka tersisih atau sengaja menyisihkan diri dari
hiruk-pikuk pembangunan. Secara diam-diam mereka kemudian bekerja
sesuai dengan fungsi serta profesi masing-masing. Tapi banyak pula
yang kemudian bersikap apatis, bahkan kemudian secara diam-diam maupun
terang-terangan memusuhi kemapanan.
Biasanya yang terang-terangan memusuhi kemapanan mempunyai konsep
yang jelas meskipun belum tentu benar. Tuntutan mereka juga transparan, karena yang mereka tuntut itu sebenarnya juga merupakan tuntutan sebagian besar masyarakat kita.
Sebaliknya, mereka yang tidak secara terang-terangan memusuhi kemapanan, biasanya juga tidak mempunyai tuntutan yang transparan. Kadang-kadang yang mereka kemukakan sebagai tuntutan sebenarnya bukan merupakan tuntutan mereka yang sesungguhnya. Mereka itu adalah kelompok yang tersisih dan sakit hati, hingga seandainya ditanyakan kepada mereka apa sebenarnya yang mereka perjuangkan, mereka akan kebingungan. Kelompok masyarakat atau individu demikian biasanya cenderung bersikap atau berbuat yang aneh-aneh dan ekstrem untuk menarik perhatian publik.
***
DI tahun enam puluhan dulu, kita belum mengenal istilah konglomerat, profesional muda, kelompok informal, politikus pinggiran dan lain-lain. Ini adalah indikasi bahwa pada kurun waktu itu jumlah kelompok masyarakat tadi masih terlalu sedikit hingga dampak peran mereka masih sangat kecil bagi masyarakat luas. Pada kurun waktu itu yang menonjol perannya justru para politikus. Tak ada istilah politikus pinggiran sebab siapa pun waktu itu boleh berpolitik asal tidak mengganggu-gugat sosok Pimpinan Besar Revolusi. Ancaman bagi mereka yang berani mengganggu-gugat yang satu ini adalah penjara. Ini dialami oleh misalnya mantan PM Sutan Syahrir, sastrawan Mochtar Lubis dan lain-lain.
Pada kurun waktu itu, ekonomi Indonesia morat-marit. Kelompok yang
mapan hanyalah politikus dan birokrat. Kalau toh ada kelompok lain
yang juga ikut menonjol perannya, mereka pasti memiliki akses ke kelompok birokrat maupun politikus. Wartawan atau seniman yang perannya besar pasti sekaligus merupakan pengurus partai politik atau organisasi kemasyarakatan yang merupakan onderbouw dari partai politik. Kalau ada pedagang atau pengusaha yang sukses, biasanya mereka adalah pengurus koperasi. Sebab kebutuhan pokok masyarakat pada waktu itu tidak dijual bebas seperti sekarang melainkan didistribusikan lewat koperasi. Beras, gula, sabun, minyak tanah dan minyak goreng, semua hanya bisa didapat lewat antrean yang panjang dengan jumlah yang sangat terbatas.
Namun ada sesuatu yang sangat menonjol pada kurun waktu yang serba
susah itu. Seniman, khususnya para sastrawan, sangat produktif dalam
menghasilkan pemikiran-pemikiran baru. Mereka tidak hanya sekadar
menulis melainkan juga peduli terhadap kondisi sosial politik masyarakat. Tercatat misalnya lahirnya Manifes Kebudayaan (Manikebu), yang merupakan reaksi terhadap Manifesto Politiknya Bung Karno. Di tahun enampuluhan itu pula tercatat adanya kasus cerpen Langit Makin Mendung yang ditulis oleh Ki Panji Kusmin. Cerpen ini telah mengakibatkan majalah Sastra yang memuat cerpen itu ditutup dan HB Jassin diseret ke pengadilan. Pemikiran-pemikiran yang kreatif pada kurun waktu itu diberi tempat yang layak dan diperhatikan oleh masyarakat.
***
DI tahun 90-an ini terasa adannya kehausan akan pikiran-pikiran yang kreatif. Baik pikiran-pikiran yang muncul langsung dari kalangan cendekiawan, maupun berupa karya-karya kreatif para seniman. Para cendekiawan maupun seniman berdalih, mandulnya mereka terutama disebabkan oleh adanya kekangan dari pihak penguasa. Indikasi ini tampak dari banyaknya pencekalan acara seminar, diskusi, pentas kesenian dan pemuatan berita serta tulisan di media massa. Ini memang bisa menyebabkan mandulnya kreativitas berpikir. Namun pelarangan-pelarangan demikian sebenarnya bisa saja justru malah dapat merangsang proses kreatif para cendekiawan maupun seniman.
Saya menduga, menguatnya ekonomi Indonesia dewasa ini juga merupakan faktor yang telah menjadi penghambat lahirnya pikiran-pikiran kreatif tadi. Pada tahun 60-an, politik dianggap sebagai “panglima” yang mengatur seluruh perikehidupan masyarakat. Sekarang ini ekonomi telah pula menjadi bagian dari politik dan menyusup ke seluruh sendi kehidupan masyarakat. Jalin menjalin antar-ekonomi dan politik telah membuat para cendekiawan serta seniman terpilih dan masuk ke jaring-jaring mereka. Lahirnya berbagai
organisasi cendekiawan adalah indikasi yang kuat bahwa sebagian besar
cendekiawan kita larut ke dalam arus deras politik dan ekonomi dewasa
ini. Mereka yang menolak arus deras ini akan dikucilkan atau tidak
mendapatkan peran serta akses ke sumber-sumber ekonomi.
Tidak selamanya hambatan terhadap lahirnya proses kreatif ini datang dari pihak pemerintah. Tak jarang hambatan itu datang sendiri dari lembaga-lembaga yang mengatur dan menguasai wadah untuk menampung
serta memasyarakatkan pikiran-pikiran tadi.
Namun kadangkala dalih yang dikemukakan adalah faktor publik. Merekalah yang justru akan menolak pikiran-pikiran baru yang aneh tadi. Padahal, dewasa ini tidak mungkin sebuah gagasan dalam bentuk murni maupun yang telah dikemas menjadi produk kesenian dapat disampaikan ke masyarakat tanpa melalui jalur kekuatan ekonomi. Dari sini tampak bahwa cendekiawan dan seniman dewasa ini telah dipaksa masuk ke sebuah peran yang sekadar sebagai penghibur masyarakat atau menjadi alat politik dalam wadah yang telah disediakan oleh penguasa. Produk kesenian yang sampai ke masyarakat dewasa ini terbanyak memang hanya merupakan sarana hiburan. Kreator yang benar-benar ingin menghasilkan pikiran-pikiran baru tidak pernah mendapatkan tempat. Atau, para kreator itu sendirilah yang justru membatasi diri hingga tidak berani mengemukakan pikiran-pikiran mereka yang sejati.
***
DALAM berbagai kesempatan kita sering mendengar bahwa yang menjadi
tujuan pembangunan adalah membangun manusia Indonesia seutuhnya.
Artinya, bukan hanya manusia Indonesia yang kenyang, berbaju bagus,
berumah megah, melainkan juga manusia Indonesia yang bertakwa, yang
sadar politik, yang tahu akan hak dan kewajibannya. Dalam kondisi
semacam ini, masyarakat lebih sering diperlakukan sebagai balita atau
malah bayi yang terus-menerus diproteksi. Padahal untuk dapat
menciptakan masyarakat yang tangguh, seluruh kelompok maupun golongan
yang ada harus diberi peran yang memadai. Termasuk mereka yang selama
ini dikenal sebagai penentang kebijakan pemerintah.
Sebagai pemegang mandat dari rakyat, mestinya pemerintah sadar
bahwa kekuatan itu justru akan datang apabila ada tantangan. Para
penyair yang gencar menyuarakan keluhan para buruh itu, misalnya,
mestinya tidak perlu dilarang. Kalau memang benar buruh Indonesia itu
sudah sangat sejahtera lahir dan batin, sajak-sajak penyair-penyair
itu akan jadi tampak aneh dan nyinyir dan hanya akan ditertawakan
justru oleh para buruh itu sendiri. Tetapi, kalau memang para buruh
itu masih sering menerima upah rendah, kadang diperlakukan tidak
wajar oleh para majikan, maka mestinya hal itulah yang harus dibenahi
tanpa harus menempeleng sang penyair.
Fenomena ini cenderung akan membuat seluruh kekuatan masyarakat
tidak lagi berperan sesuai dengan fungsi masing-masing. Penyair yang
seharusnya menyuarakan kebenaran, berubah menjadi badut yang menjadi
tertawaan. Wartawan yang mestinya menulis fakta dan peristiwa, hanya
sibuk menulis pernyataan aparat pemerintah. Tentara dan polisi yang
seharusnya membela rakyat justru berbuat yang sebaliknya.
Salah satu ciri masyarakat modern adalah adanya pembagian peran
serta fungsi dari masing-masing kelompok masyarakat itu sendiri.
Petani bertugas menghasilkan pangan dan produk pertanian lainnya.
Untuk itu mereka berhak mendapatkan imbalan sesuai dengan fungsi yang
telah mereka perankan. Demikian pula halnya dengan buruh. Kalau buruh
mogok dan berdemontrasi, itu berarti gaji mereka kurang. Kalau gaji
mereka cukup, meskipun diintimidasi dan dihasut LSM, mahasiswa dan
ditunggangi siapa pun, mereka pasti menolak. Kalau mereka digencet
majikan dan tidak lari ke SPSI, tentu karena organisasi buruh ini
tidak berperan sebagaimana mestinya. Cendekiawan dan seniman pun
mestinya harus “berani” berperan sesuai dengan kodratnya untuk
menghasilkan pikiran-pikiran kritis dan kreatif. Risiko berbenturan
dengan kemapanan tentu sudah menjadi pertimbangan sejak seseorang
menentukan pilihan hidupnya, hingga tidak sepantasnya untuk dihindari.
Siapakah yang harus mengatur distribusi peran dari masing-masing
kelompok masyarakat ini? Di sebuah kantor, distribusi peran ini diatur
oleh manajemen, ditentukan oleh direktur serta manajer. Merekalah yang
akan mengatur agar tukang sapu menjalankan tugasnya dengan baik,
tukang ketik mengetik dengan rapi dan bagian keuangan mengurus duit
dengan tertib dan terkendali. Direktur dan manajer adalah pihak yang
paling berwenang dan sekaligus juga paling kuat untuk mengatur
distribusi peran di sebuah kantor. Di sebuah negara berkembang semacam
Indonesia ini, pihak yang paling kuat adalah pemerintah. Mestinya
pemerintahlah yang harus mengatur agar seluruh potensi masyarakat yang
ada dapat berperan dengan baik sesuai dengan fungsi masing-masing.
Pembagian dan distribusi peran dalam sebuah negara, tentu berbeda
dengan yang terjadi di sebuah kantor atau lingkungan yang relatif
lebih kecil. Pembagian peran dalam sebuah negara tentu cukup hanya
dengan memberikan iklim serta kelonggaran agar seluruh potensi
masyarakat yang ada dapat berfungsi dengan sebaik-baiknya. Hambatan
atau pengucilan justru hanya akan menyulitkan pihak yang selama ini
telah mapan, yang menguasai sarana/ prasarana sebagai saluran dari
potensi-potensi masyarakat tadi.
* F. Rahardi, penyair/wartawan.