Poetry reading by and for prostitutes
JAKARTA (JP) : Five prostitutes from various red-light districts in the city will read a poem by Floribertus Rahardi entitled Pledge of a Prostitute, at the Teater Tertutup in Taman Ismail Marzuki on July 30.
The poem which will be read by the invited guests is one of the poems in a book of collective pems by the author which was recently published.
Other poems by Rahardi will also be presented by a fellow poet Leon Augusta and by children of Teater Adinda.
Rahardi said that the prostitutes are given Rp 10.000 each for their participations in the poetry reading program.
The poet had a hard time in persuading the women to read his poem at the art center. He repeatedly visited the five prostitutes for chats while treating them to dinner, drinks and ciragettes to gain their confidence.
“They were also afraid of their pimps,” the poet said.
It does not take any special training to read out the poem, Rahardi said, all that they would have to do is to read it out just like any other pledge.
He emphatically rejected the idea that he is inviting the women just for a “cheap sensation” of his work. “This happens to be the promise of the prostitutes themselves,” he said.
He is in the opinion that when prostitutes are detained by the authorities and then sent to rehabilitation center, would only make the pimps procure more women from villages for prostitution.
Employment should be guaranteed for the women after they go to rehabilitation centers otherwise they would return to their former profession, Rahardi said. (Jakarta Post)
No poetry reading be prostitutes
The poetry reading by prostitutes scheduled for manday evening at Taman Ismail Marzuki was cancelled after the Jakarta Arts’ Council chairwoman protested.
The chairwoman, Toeti Herati, in a letter dated July 28, said that F. Rahardi, the sponsor, wanted to exploit prostitutes in literature by involbing them in the poetry reading. She added that the performance would also have a negative psychological impact on the audience.
Inresponse to the chairwoman’s letter, Rahardi, in a letter which he read before the oudience that night, stated that he could not accept the chairwoman’s argument, and insisted that prostitutes had the same rights as anyone else.
He also confirmed thet he will ask for Rp 1.563.000 in compensation.
Pickpocket picked up
A pickpocket who was in the act of stealing from a bus passengers was nabbed by some senior high school students. (JP, 1/8/1984)
Sajak-sajak F. Rahardi Mengundang Kontroversi
Mencuat kesederhanaan yang khas pada visi F. Rahardi dalam memandang kehidupan, pergolakan-pergolakan manusia, dan kesemestaan. Bahkan kegaiban keilahian pun, baginya, bisa sangat kasat mata, dan mengalami desakralisasi. Hilang suasana magis-mistis, kepekaan kontemplatif yang merumit.
Tegas sekali F. Rahardi mencanangkan visinya. Menulis puisi, baginya, sama halnya dengan berkomunikasi dengan sesamanya. Pengalaman puitik yang diraihnya pun tak muluk-muluk, lantaran dapat ditangkap siapa saja, kapan saja, di mana saja. Dalam memandang kehidupan, dia terkesan santai. Layak bila puisi-puisinya yang terkumpul dalam Catatan Harian Seorang Koruptor, Silsilah Garong dan Tuyul menampakkan kesederhanaan, kesantaian, dan kenaifan bahasa puitik yang komunikatif.
Dalam pengamatan saya, F. Rahardi menjadi kontroversial lantaran kesederhanaannya dalam menangkap kehidupan, dan membebaskannya lewat puisi yang mudah dipahami. Menulis puisi bukanlah merupakan sesuatu yang dahsyat, atau semulia empu yang mesti bertapa, melainkan sebagai proses kreatif yang benar-benar manusiawi.
Dengan memanfaatkan ragam bahasa percakapan keseharian, F. Rahardi menyajikan puisi-puisi yang bisa bicara segala hal. Sudah semestinya kita menduga, penggunaan bahasa keseharian yang encer itu sengaja diciptakan untuk mencapai pemahaman orang banyak. Lebih jauh, pemakaian bahasa keseharian itu telah membentuk arus kesadaran penciptaan puisi-puisinya, sebagai keseimbangan substansi tema yang diangkat dari sentuhan realitas keseharian.
Harus diakui, puisi-puisi F. Rahardi terasa komunikatif, gampang ditangkap maknanya, lantaran berbicara secara langsung kepada pembacanya. Kesadaran akan pergeseran persoalan zaman yang kian merumit belakangan ini telah membangkitkan obsesi F. Rahardi untuk mengembangkan tema-tema puisi yang digarapnya. Dia berbicara tentang persoalan kehidupan secara santai, dan memberikan sentuhan humor di dalamnya.
Kenaifan
Dapat dikatakan, kreativitas F. Rahardi mengisyaratkan pada pembebasan terhadap mitos agung penciptaan puisi-puisi Chairil Anwar. Sebutlah, F. Rahardi sengaja melahirkan kontra mitos terhadap sikap dan visi kepenyairan si penyair binatang jalang. Di tangannya, puisi tak lebih cuma perpanjangan sastra lisan yang mentradisi, senapas dengan obrolan di warung, di gardu ronda, atau di saat nongkrong di mulut gang : bisa bicara apa saja, dengan bahasa keseharian, dan mencipta suasana kekonyolan yang akrab dan menggelitik.
Selaras benar bila F. Rahardi mengakui bahwa puisi itu bukan seni yang muluk-muluk, apalagi agung. Lalu, puisi pun senilai dengan kacang goreng dan topeng monyet. Orang boleh makan, nonton lalu melupakan.
Rupanya ia cenderung menampakkan persoalan keseharian yang memberangus nurani manusia; dan puisi-puisinya telah mengapungkannya tanpa memihak. Dia bisa bicara segala persoalan yang melibatkan manusia sekitarnya, seperti penuturan seorang bocah tak mengenal dosa, naif, polos, dan sesekali menikamkan kritik.
Puisi-puisinya lebih bersifat prosais dan bahkan terkesan berseloroh. Dia memiliki sudut pandang yang lain ketika menangkap realitas dan distorsi perilaku sosial budaya manusia. Ada kesan puisi-puisinya menjadi kenes, tetapi keterlibatannya dengan persoalan kehidupan menawarkan kegelisahan kita yang kian terasa menyesakkan.
Lewat puisi-puisinya, F. Rahardi bisa bicara apa saja : sesuatu peristiwa yang melibatkan kehidupan masyarakat luas; atau sesuatu peristiwa yang sangat personal; bahkan tentang krisis spiritual manusia. Ia terkesan ingin memudarkan kepekatan puisi yang biasanya sarat metafor dan simbol, dengan bahasa yang polos, dengan kekuatan sentilan-sentilan nakal. Dalam puisi-puisi yang mengungkapkan masalah personal manusia, dia masih menyusupkan gurauan-gurauan yang seringkali mengapungkan tokoh antagonis dalam masyarakat tanpa menghakimi. Eksistensi maling atau pelacur dalam puisi-puisinya bukanlah sosok manusia yang diadili atau layak memperoleh penghukuman, tetapi ditempatkan sebagai suatu bagian komunitas kehidupan yang memiliki pranatanya sendiri.
Betapapun F. Rahardi telah mengemas kehidupan dengan banyolan nakal, tapi kehendaknya untuk memberikan suatu gambaran kenyataan secara gamblang sebagaimana prosa, telah mengantarkan penjelasan makna-makna yang ingin dicapainya. Tak ada lagi penafsiran-penafsiran yang membuka pemahaman multidimensi. Rasanya dia telah mengambil peran terlalu banyak untuk menjadi juru bicara realitas yang mengepung di sekelilingnya.
Dunia Makna
Titik balik penciptaan puisi-puisi F. Rahardi telah melawan arus kesadaran penciptaan puisi pada masa-masa sebelumnya, terutama pada keagungan vitalitas daya cipta Chairil Anwar. Dapatkah ini dipandang sebagai kemerosotan? Dan karenanya, perlu dikembalikan lagi ke proses penciptaan puisi sebagai dunia makna?
Keagungan puisi, tentu bukan dipatokkan dari kesederhanaan pengalaman puitik penyairnya, kecairan bahasanya, dan keterlibatan yang nyinyir terhadap zamannya semata-mata. Diperlukan pula kemurnian bentuk dan pemikiran, kekhasan gaya ucap, dan keorisionalan.
Meskipun akhirnya puisi lahir dalam bahasa prosa, suasana naratif, dan bersentuhan langsung dengan batin pembacanya, tetapi toh tidak jatuh sebagai karya yang terkesan vulgar. Ingat puisi-puisi Rendra, Goenawan Mohamad, Subagio Satrowardoyo, dan Emha Ainun Nadjib? Terasa sekali bahasa prosa yang digunakan dan suasana naratif yang dibangun tidak memerosotkan puisi sebagai karya murahan. Malah sebaliknya, bahasa prosa dan suasana naratif itu membangun dunia makna yang tak habis sekali baca.
Berbeda halnya dengan puisi-puisi F. Rahardi yang tidak membekaskan makna yang mendalam, dan kering penafsiran. Usai membaca puisi-puisinya, kurang terusik batin dan kesadaran kita untuk memaknainya. Akan mudah bagi kita meninggalkan dan melupakannya. Hampir mirip obrolan di warung yang enak dan hangat, tetapi segera dilupakan setelah beralih suasana.
Layaknya puisi-puisi yang baik memang tak terlewat begitu saja dari kesan pemahaman pembacanya. Sekalipun memanfaatkan bahasa keseharian dan disisipi banyolan, puisi yang baik akan membentuk dunia baru yang sarat perenungan. Tak mudah terhapus dari kedalaman batin kita.
Eksistensi seorang penyair tentu bukan ditandai dengan kelugasannya semata. Namun, lebih mendasar lagi, adakah kreativitasnya sanggup melahirkan karya yang dapat mengatasi pergeseran masa?
Seyogianya, kita kini mengembalikan puisi sebagai dunia makna. (S. Prasetyo Utomo)
Sosok F. Rahardi : Puisi Bisa Menumbangkan Kekuasaan, Asal . . .
F. Rahardi adalah salah satu seniman yang menganggap puisi adalah karya seni yang tak punya ‘kelebihan’ apa-apa dibandingkan seni-seni yang lain. “Puisi itu, sama dengan bakso atau singkong”, kata pria kelahiran Ambarawa, Jawa Tengah, 10 Juni 1950.
Ia juga penyair yang tak pernah pusing dengan pelarangan-pelarangan kesenian, terutama pelarangan pembacaan sajak. Beberapa tahun lalu ketika ia dilarang membacakan puisi Sumpah WTS dan kemudian Catatan Harian Sang Koruptor, ia biasa-biasa saja. “Karena puisi itu dibacakan atau tidak tetap puisi. Maka, ketika Rendra dilarang baca sajak di TIM, kemudian mengadu ke DPR, itu cengeng namanya”, kata penyair pembela orang kecil ini, enteng.
Orang yang merambat dari bawah ini, kini telah sukses. Tamatan kelas II SMA yang pernah tujuh tahun menjadi guru SD di Gunung Ungaran ini, kini adalah Wakil Pemimpin Umum majalah TRUBUS. Dan, ia tetap produktif sebagai penyair. Kumpulan puisi terbaru Rahardi adalah Migrasi Para Kampret (1993). Ia juga merencanakan akan menerbitkan semacam buletin sastra, yang berisi informasi sastra dari seluruh Indonesia. Berikut petikan wawancara Media dengan Rahardi di kantornya, Jl. Gunung Sahari III/7, Jakarta Pusat, Jumat (3/6).
***
Belakangan ini ada gejala menarik, yakni pembacaan sajak pada setiap unjuk rasa atau demonstrasi. Sajak, seperti mengandung simbol pembangkangan atau perlawanan. Bagaimana menurut Anda.
Sebenarnya di Indonesia, sejak zaman purba, sajak itu sudah fungsional. Misalnya tembang, pantun, itu sangat fungsional. Di Jawa, misalnya, sajak itu dimanfaatkan oleh rakyat jelata sampai orang-orang keraton. Bahkan, kalau di Sumatera (Melayu), acara apa pun dengan pantun.
Jadi, kalau ada puisi pembangkangan, itu lebih banyak ditentukan oleh faktor-faktor di luar puisi. Jadi, kalau Goenawan Mohamad ngomong puisi tidak mungkin bisa merobohkan pemerintahan. Ya, bedil juga sama juga tidak mungkin bisa merobohkan pemerintahan.
Masak . . .?
Ya, kalau tentara berontak, dan tidak didukung oleh rakyat, ulama, dan cendekiawan, itu tidak mungkin bisa. Indikasi lain, puisi juga bisa punya power sejauh memang ada figur yang kuat. Mengapa pemerintah takut dengan Rendra dan Emha Ainun Nadjib? Karena dua orang ini punya power, punya massa. Rendra sekarang mungkin tidak seperti dulu, tetapi Emha punya massa. Dan, jangan mengatakan, Emha punya massa karena juga berda’wah. Masyarakat tidak peduli. Jadi, bagaimanapun Emha adalah seorang penyair yang punya power dan pemerintah takut. Dia bisa menciptakan sajak untuk menggalang massa. Kalau ini dimanfaatkan, bukan mustahil bisa meruntuhkan kekuasaan.
Jadi, puisi memang punya fleksibelitas atau kelenturan?
Puisi itu kan merupakan suatu pancaran dari daya hidup manusia. Dan pasti punya power dan fleksibelitas. Jadi, kalau orang mengatakan, kreativitas dipasung, seperti Rendra dilarang baca sajak Rangkas Bitung di TIM, kemudian ngadu ke DPR itu cengeng. Kalau saya nggak boleh baca sajak, ora patheen (tidak ada pengaruhnya). Puisi tetap puisi. Memang ada puisi kamar, puisi auditorium, tetapi kekuatan puisi bukan berada di panggung, tetapi pada daya hidup karya itu sendiri.
Rendra kan aktor, jadi tampil di panggung menjadi penting?
Ya, itu memang. Jadi, tampil di panggung bagi Rendra itu penting sekali.
Puisi itu bagi Anda punya fungsi apa sebenarnya?
Bagi saya, sejak semula puisi itu sama dengan bakso, sama dengan baju, sama dengan masalah keseharian yang lain. Tentu saja, memang pada suatu ketika ada upacara pemakaman, misalnya, kemudian puisi itu dibacakan dan orang menangis semua, dalam keadaan seperti itu puisi memang menjadi sakral. Tetapi, bukan karena puisinya, tetapi karena situasinya. Sama dengan pertanyaan bisa nggak puisi untuk menumbangkan kekuasaan? Bisa sejauh didukung oleh yang lain. Jadi, tergantung pemanfaatan.
Jadi, Anda nggak percaya kalau ada yang beranggapan penyair itu sebagai penjaga moral?
Itu omong kosong.
Jadi kedudukan penyair tidak istimewa?
Sama saja dengan guru, tentara, petani atau juga tukang becak?
Sama persis. Tentu saja dibandingkan dengan tentara ada jenderal ada prajurit. Mungkin, penyair Indonesia, prajuritnya ada 2.000, kolonelnya 400, dan jenderalnya 10-20 orang. Ini lepas dari konteks puisi itu bagus apa jelek. Orang mengatakan, puisi Emha itu jelek. Tidak bisa, yang penting Emha menjadi figur penyair itu punya kekuatan. Sutardji memang lain lagi. Ia dianggap penting karena memang kekuatan sajaknya. Tetapi, pemerintah tidak takut dengan Sutardji. Orang dengar puisi Sutardji itu senang, manggut-manggut, ketawa-ketawa, tapi pemerintah tidak takut dengan penyairnya. Dan, menurut saya dua-duanya penyair-penyair kelas satu. Seperti juga Goenawan Mohamad. Ada orang bilang, ia besar karena wartawan, konglomerat, itu suara orang ngiri saja. Dia tetap penyair yang baik, yang punya power, dan kebetulan menjadi wartawan Tempo. Ini justru sangat mendukung sebagai penyair.
Jadi penyair dan bekerja itu nggak masalah?
Sekarang kalau ada orang yang beranggapan bahwa jadi penyair itu harus murni, tidak bekerja. Kalau Goenawan, Rendra, dan Emha, tidak murni. Sekarang saya tanya, penyair yang hanya sebagai penyair (mungkin yang kerja istrinya), apa puisinya lebih baik dari penyair yang kerja? Kok sajaknya Goenawan lebih bagus. Ini menandakan pekerjaan yang disandang oleh penyair itu nggak problem. Malah kalau Goenawan tidak bekerja, mungkin sajaknya jelek. Karena tidak punya pengalaman sekaya jadi wartawan.
Kalau Anda kemudian memilih bahasa pengucapan yang cair, linier, dalam puisi-puisinya, seperti sekarang, apa karena ada kebutuhan untuk berkomunikasi seluas mungkin, tidak seperti si Malin Kundang, terasing?
Ya. Ini karena pengaruh kewartawanan juga. Profesi kewartawanan kan menuntut harus menulis jelas, lugas, padat, tidak boleh ada ambiguitas. Dan itu berpengaruh pada puisi-puisi saya. Karena penyair yang jujur, pasti akan mengutarakan hal-hal yang memang keluar dari jiwanya. Sehingga pengaruh dari lingkungan itu pasti akan diserap, kemudian akan dipantulkan. Tetapi, proses peralihannya cukup lama. Baru akhir 80-an menemukan bentuk yang pas.
Komentar Anda terhadap penyair yang muda-muda sekarang ini.
Begini, penyair itu pertama harus punya otak cukup baik. Kedua, harus punya nyali/keberanian yang besar, dan ketiga harus punya kejujuran. Yang pertama ini memang agak kurang dimiliki dunia kepenyairan. Orang yang otaknya baik-baik dalam periode Orba ini bisa memakmurkan Indonesia lewat ekonomi. Daya tarik bisnis atau ekonomi itu luar biasa kuatnya, jadi putra-putri terbaiknya tersedot ke sana, sehingga politik dan juga sastra-budaya menjadi tidak sebanding dengan ekonomi.
Itu dari segi kecerdasan. Sekarang soal keberanian. Orang yang punya keberanian itu bisanya masuk tentara, atau mungkin juga bandit. Dan, yang terakhir, orang jujur ini makin susah.
Kemudian, kenapa penyair yang muda-muda sekarang tidak mencuat, karena mereka tidak punya kecerdasan, nyali kurang kuat, dan kejujuran masih langka. Selain itu, juga masih didominasi oleh penyair-penyair yang sudah mapan. Masih ada Goenawan, Rendra, Sapardi Djoko Damono, itu masih terlalu kuat. Masih hidup dan berkarya. Jadi, yang di bawah ini harus mempunyai power yang luar biasa untuk mendobrak atau paling tidak menyusup ke dalam. Harus punya kecerdasan, nyali, kejujuran yang lebih dari mereka. Kalau tidak, ya jangan mimpi. (Djadjat Sudradjat)
Sumber : Media Indonesia, 5 Juni 1994
DPRD Setuju WTS Dilibatkan dalam Kegiatan Sastra
Jakarta, Kamis (Pos Kota)
Anggota DPRD DKI setuju dan menyambut baik adanya ide menampilkan WTS untuk membaca puisi di TIM (Taman Ismail Marzuki), Jakarta. Ketua DPRD DKI Soedarsono menyebutkan hal ini atas pertanyaan Pos Kota di Balai Kota DKI, Rabu.
Ketua Dewan yang mengamati masalah-masalah sosial ini menilai, mengajak WTS untuk terlibat dalam kegiatan sastra merupakan salah satu upaya menanamkan nilai kemanusiaan kepada mereka. Disebutkan, Pemda DKI selalu berupaya meresosialisasi para WTS. Upaya ini belum bisa memenuhi harapan karena adanya berbagai faktor yang mempengaruhi.
“Dengan jalur kegiatan-kegiatan sastra atau budaya, mudah-mudahan bisa menumbuhkan kepercayaan kepada WTS bahwa mereka mampu untuk berbuat sesuatu yang positif,” katanya.
Pendapat ini digarisbawahi anggota dewan lainnya, yakni Drs. H. Fadlun Amir, dan Komisi A. Wakil ketua komisi yang antara lain membidangi masalah budaya ini mengatakan, kita harus mampu menumbuhkan kepercayaan kepada WTS bahwa mereka masih punya jalan lain untuk mempertahankan hidupnya. “Mengajak WTS untuk membaca puisi, itu gak ada salahnya,: demikian dikatakan.
Kepada Dinas Kebudayaan DKI yang juga Direktur TIM Drs. Soeparmo ketika Pos Kota temui mengatakan, ide menampilkan WTS untuk membaca puisi itu tumbuh dari sastrawan sendiri, yakni F. Rahardi. Penyair ini akan mengajak beberapa WTS Kramat Tunggak dan Bongkaran untuk membacakan sajaknya, di TIM, 30 Juli mendatang.
“Tidak ada latar belakang lain kecuali hanya ingin menunjukkan bahwa WTS juga punya hak tampil di depan sastra,” ujarnya.
Drs. Achmadi, Kepala Biro Bina Sosial DKI, ketika Pos Kota temui juga menilai hal itu merupakan langkah baik. Pihaknya akan mempelajarinya untuk bisa dikembangkan. Kalau memungkinkan, katanya, bisa dijadikan salah satu jalur pola pembinaan WTS di Ibu Kota agar mereka mengalihkan profesinya. (D-2/18).
Sumber : Pos Kota, 25 Juli 1984.
Rahardi Tuntut Ganti Rugi Rp 1,5 Juta Karena WTS Dilarang Bacakan Puisi
JAKARTA : Sejumlah WTS (Wanita Tuna Susila) gagal tampil di panggung TIM untuk membacakan puisi “Sumpah WTS”. Kegagalan tersebut disebabkan karena adanya larangan dari Dr. Toeti Heraty, selaku Ketua Dewan Kesenian Jakarta dalam bentuk surat tertanggal 28 Juli 1984 yang ditujukan kepada penyair F. Rahardi yang sedianya akan tampil bersama WTS yang dikoordinirnya sejak beberapa bulan yang lalu. Sehingga kejutan baru di panggung TIM gagal total dan mengecewakan publik.
Akibat larangan tersebut irama pembacaan sajak Senin malam menjadi tersendat. Apalagi sebelum acara dimulai, tampak sejumlah alat keamanan (Polres 701) dan Koramil Menteng sempat berulah dibalik panggung dengan cara mencatat nama-nama calon pembaca yang berlangsung di Pusat Kesenian Jakarta itu seolah berubah menjadi peristiwa kriminal. Gara-gara ini agaknya memprihatinkan sejumlah seniman kreatif.
Ketua DKJ sekarang menurut pelukis Hardi sudah pada latah. Lagaknya sudah ikut-ikutan pejabat yang suka melarang ini dan itu.
Tindakan Dr. Toeti Heraty dalam hubungan ini sangat disayangkan. Karena sebagai pengayom justru banyak mensuport seniman yang berada di bawah, tetapi justru malah memenggal leher seniman.
Surat larangan yang datang dari Ketua DKJ malam itu sempat dibacakan oleh penyakir Rahardi di depan publik yang memenuhi Teater Tertutup.
Berbarengan dengan itu Rahardi sempat pula membacakan surat balasan yang ditujukan kepada Ketua DKJ yang intinya menolak surat larangan yang datangnya secara mendadak dan tidak bijak.
“Saya merasa dirugikan”, ucap Rahardi, karena dalam mempersiapkan acara ini, saya telah melakukannya dengan prosedur yang syah, tetapi tiba-tiba harus digagalkan. Padahal saya telah banyak mengeluarkan tenaga, fikiran dan juga uang sebanyak Rp 1,5 juta lebih.
Itikad baik menghubungi para WTS di tempat lokalisasi mereka seperti di Kramat Tunggak, Boker dan Tanah Abang Bongkaran itu bukan pekerjaan yang gampang. Apalagi melatih mereka membaca puisi dan mereka pun menuntut honor yang sudah terlanjur saya serahkan sebanyak Rp 563 ribu, kepada lima WTS.
Oleh sebab itu, tutur Rahardi, sebagai ganti rugi untuk beban moral yang saya derita, saya menuntut ganti rugi kepada Ketua DKJ sebesar Rp 1,5 juta.
Sementara itu sastrawan terkemuka HB. Jassin yang hadir pada acara tersebut mengomentari bahwa tindakan larangan oleh Dr, Toeti Heraty sangat disesalkan dan sebagai suatu hal yang tidak terpuji.
Seharusnya, kata Jassin seorang Toety harus lebih bersikap dewasa, sebagai landasan untuk mendewasakan publik TIM. Karena justru dengan adanya Pusat Kesenian Jakarta TIM, inilah masyarakat diharapkan akan dapat memperoleh hikmah dan sanggup membudayakan masyarakat luas lewat pergelaran kesenian yang belum tentu buruk tetapi sudah dicurigai. Ironis jadinya. (Buana/Tjok)
Sumber : Pusat Dokumentasi Sastra HB. Jassin/Berita Buana, Rabu 1 Agustus 1984.
5 WTS Gagal Baca Sajak di TIM
Jakarta, (Suara Karya)
Lima orang WTS (Wanita Tuna Susila) dari berbagai lokalisasi di Jakarta yang disiapkan untuk membacakan sajak karya F. Rahardi berjudul “Soempah WTS” di Teater Tertutup TIM Senin malam lalu, terpaksa batal membaca sajak itu. Hal ini disebabkan adanya larangan secara tertulis dari Ketua Dewan Pekerja Harian Dewan Kesenian Jakarta, Toety Heraty Noerhadi, yang mendadak disampaikan kepada F. Rahardi pada Sabtu malam lalu.
Alasan yang dikemukakan oleh Toety Heraty, antara lain karena ia merasa “kebobolan”, tak mengetahui adanya WTS yang dilibatkan dalam pembacaan sajak, dan karena ia tak ingin mengeksploitir WTS untuk maksud publisitas, promosi dan acara lainnya. Di samping itu, ia tak dapat menebak reaksi publik dan dampak psikologisnya.
F. Rahardi sama sekali tak dapat menerima alasan yang dikemukakan lewat pemberitahuan terlalu mendadak itu, hingga ia merasa dirugikan secara moral dan material. Untuk itu ia menuntut DKJ memberikan ganti rugi kepadanya sebesar Rp 1.563.000. Perinciannya, untuk mengganti biaya berkunjung ke 6 lokalisasi WTS masing-masing sebanyak 4 kali bersama 2 teman, termasuk honor yang sudah terlanjur dibayarkan kepada 5 WTS sebanyak Rp 563.000, dan ganti rugi beban moral yang dideritanya dalam menghadapi penonton sebanyak Rp 1.000.000.
Dalam sanggahannya, Rahardi mengemukakan penampilan WTS untuk kegiatan sastra adalah sah, sejauh mereka bersedia dan tak ada unsur paksaan. Karena mereka juga warga masyarakat yang berhak ikut perperanserta dalam berbagai bidang kegiatan, termasuk kegiatan sastra. Dampak psikologis, reaksi publik dan sebagainya merupakan tanggung jawabnya secara pribadi.
Sedangkan terhadap istilah “kebobolan” yang dikemukakan oleh Toety, Rahardi juga tak dapat menerimanya. Sebab bahan sajak yang akan dibacakan dan bahan untuk Kalender Acara TIM sudah disalurkannya lewat prosedur yang benar. Bahan itu diserahkannya kepada Masril, karyawan Dewan Kesenian Jakarta yang telah meneleponnya guna meminta bahannya.
Rahardi sangat menyesalkan cara kerja Dewan Kesenian Jakarta yang tidak rapi dengan pemberitahuan sangat mendadak, sementara rencananya menampilkan para WTS sudah terlanjur tersiar luas di masyarakat. Termasuk melalui Kalender Acara TIM bulan Juli yang memuat acara penampilan para WTS membacakan sajak itu, dan sudah disebarkan kepada umum mulai awal Juli. Sementara itu poster-poster acara itu sudah banyak ditempel di TIM, termasuk kantor DKJ sendiri.
Toety Heraty yang dihubungi Suara Karya menyatakan tak membaca Kalender acara TIM tersebut. Hanya dikatakannya, “Tak ada sama sekali unsur paksaan dari luar. Ini kemauan saya sendiri melarang penampilan WTS di TIM untuk membacakan sajak itu”. Ia sama sekali tak mengetahui adanya jumpa pers dengan F. Rahardi mengenai penampilan para WTS tersebut di Wisma Seni TIM pada 23 Juli, yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta sendiri. Akibat larangan Toety ini, “Soempah WTS” itu terpaksa dibacakan oleh anak-anak di bawah umur dari Teater Adinda asuhan Renny Djajusman.
Komentar HB. Jassin
Kritikus sastra HB Jassin yang hadir pada pembacaan sajak F. Rahardi merasa prihatin, karena sajak “Soempah WTS” dibacakan oleh anak-anak asuhan Renny Djajusman. Menurut Jassin, seandainya sajak itu dibacakan oleh para WTS, tak jadi masalah. “Masakan anak-anak di bawah umur yang harus membacakan sajak-sajak F. Rahardi,” kata HB Jassin.
Sementara itu, penyair Abdul Hadi WM menilai pembacaan sajak dengan WTS itu tidak masalah, sejauh memang sajak-sajak itu bagus. “Menurut pengamatan saya, sajak-sajak F. Rahardi termasuk baik,” kata Abdul Hadi WM.
Penyair lainnya, Eka Budianta, menyatakan rasa penyesalannya atas sikap Toety Heraty, sebab dengan dibatalkannya pembacaan sajak itu, berarti kelihatan bahwa Toety tidak konsekuen. “Apalagi sebagai ketua DKJ Toety tidak membaca kalender acara TIM bulan Juli yang dipersiapkan pada bulan Juni. Istilah kebobolan yang dikatakan Toety juga tidak simpatik,” kata Eka Budianta.
“DKJ Komite Sastra ceroboh. Mereka yang duduk dalam DKJ tidak memberitahukan pada saya jauh sebelumnya,” kata F. Rahardi dengan lesu, tapi masih tetap dengan tekadnya untuk menuntut Toety Heraty. (F-1/F-2)
Menggugat Tuhan
Rabu, 26 Desember 2007
“Menggugat Tuhan” disini merupakan satu judul buku yang ditulis oleh Rahardi, F seorang romo katolik yang cukup concern dengan persoalan sosial dalam hubungannya dengan fenomena keberagamaan. Judul “Menggugat Tuhan” ini sama sekali tak dimaksudkannya untuk memberi cap negatif pada entitas Tuhan dengan kata “gugat” itu sendiri. Karena itu prasangka buruk hendaknya dijauhkan terlebih dahulu. Esai kali ini pun bukan dimaksudkan sebagai sebuah resensi buku, tapi lebih kepada satu usaha untuk memetik kebenaran dengan beranjak dari uraian buku tersebut. Dalam buku “Menggugat Tuhan” penulisnya mencoba menguraikan bagaimana pengamatannya tentang fenomena ketuhanan dan sosio-religio walaupun dalam konteks terbatas, yaitu seputar pengalaman dan kehidupan beragama dimasanya. Buku itu merupakan suatu tuturan pengalaman pribadi seorang Jawa Katolik yang mau serius, banyak bertanya dan berusaha menghayati imannya secara bebas dan personal dalam konteks sosial, budaya dan sejarah bangsanya.
Yang seterusnya lantas dia refleksikan dan bandingkan kembali dengan doktrin dan dogma yang telah dia pelajari dan aminkan selama ini. Nyatanya ada lebih dari satu “kontra” antara pilihan teologinya dengan realitas yang ada didepan matanya. Mulai dari persoalan tentang hantu yang ditakuti oleh penduduk, yang mayoritas beragama kristen; dukun sakti yang lebih disegani dan dianggap berkuasa dibanding dengan pastor atau malah kuasa Tuhan sendiri; tempat yang dikeramatkan penduduk desanya; juga paradoks Tuhan; sampai dengan persoalan sosial tentang budaya kristen ala kolonial, sampai dengan segala asesoriesnya.
Meski dalam hal ini penulis buku tersebut mencoba memikirkan tentang sesuatu yang tak masuk diakalnya, bahkan lebih cenderung menggugatnya dengan nalar rasional, namun ada satu point positif yang layak diacungi jempol. Yaitu, dalam menuliskan refleksinya tentang realitas sosial dan religiositas, penulis sadar betul bahwa dia bukanlah apa-apa dan bukan siapa-siapa jika dibandingkan dengan entitas Tuhan dengan segala karya agung-Nya yang tengah dipikirkannya. Ia sadar betul kalau dirinya adalah ciptaan yang penuh dengan segala keterbatasan, sedangkan yang coba dia selidiki adalah Sang pencipta, yang segala sesuatunya serba maha, dan tak mungkin masuk diakalnya, karena memang supra-akali (melampaui) akal.
Karena itulah penulis tadi mengambil sikap melakukan “pembiaran” segala sesuatu yang diluar akalnya. Maksudnya adalah, penulis tersebut mencoba meletakkan segala sesuatu pada porsinya. Tak lagi mencoba mengutak atik segala hal yang tersembunyi dan membiarkannya tetap menjadi misteri ilahi. Dan bila Allah berkenan membukakan bagi hamba-Nya, maka segala sesuatunya kan segera tersingkap dengan sendirinya. Memahami, memikirkan, menyelidiki dan mencoba mencari tahu tentang Tuhan itu adalah satu hal yang positif. Ini merupakan satu bentuk iman yang terekspresi, bukan satu iman yang buta – layaknya berjalan dalam keadaan gelap – tapi iman yang “mengerti”, iman yang berpenjelasan, iman yang mampu dipertanggungjawabkan.
Namun demikian memikirkan Tuhan pun juga harus dengan prasuposisi yang pas. Prasuposisi yang beranjak dari pengakuan iman bahwa Yesus adalah Tuhan. Dan iman itu sendiri merupakan anugrah ilahi yang begitu besar bagi orang yang dipilih-Nya. Dengan beranjak dari prasuposisi ini maka pencarian dan penyelidikan kita akan realitas Tuhan tetap selaras dengan rel yang sudah ditentukan. Dan tatkala menemukan satu hal yang tak terpecahkan, seperti yang dialami penulis tadi, maka segala sesuatunya sudah selayaknya dikembalikan kepada Sang empunya. Dan segala sesuatu yang misteri bagi Allah, biarlah itu tetap menjadi misteri-Nya. Sebab tatkala manusia mampu memecahkan semua misteri Ilahi, maka manusia secara kualitas sudah melebihi Tuhan. Dan itu merupakan kemustahilan. Dengan meletakkan iman dan ekspresi iman kita tetap terarah pada jalurnya, maka kita akan terus bergantung pada-Nya. Dengan terus bergantung pada-Nya niscaya kita kan diberkati dengan sukacita dan sensifitas rohani yang lebih. Bukankah ini yang kita harapkan bersama? Slamet Wiyono
Menikmati Sajak Guru Biologi
Oleh : Sunoto Surodibroto
Sebagai seorang sastrawan, F. Rahardi lebih banyak kita kenal lewat cerpen-cerpennya yang suka mengangkat binatang-binatang, seperti kadal, burung, dan sebagainya. Ya, tentu saja. Soalnya memang F. Rahardi adalah orang yang berkecimpung dalam bidang biologi. Seperti kita ketahui, dia adalah salah seorang pengasuh majalah pertanian Trubus. Dia juga pernah menerbitkan bukunya seperti Beternak Kodok, dan Bercocoktanam Dalam Pot.
Kenyataan seperti itulah yang mungkin sekali memberi warna pada karya-karyanya. Seolah-olah lewat binatang-binatang, F. Rahardi lebih mudah dan lincah meneteskan karya-karyanya. Kalau pelukis Basuki Abdullah merasa lebih cocok melukis wanita, maka F. Rahardi merasa lebih senang bermain-main dengan dunia binatang.
Di samping dia dikenal sebagai seorang cerpenis, akhir-akhir ini dia tampil sebagai seorang penyair. Dan uniknya, sebagai penyair dia menampilkan sajak-sajak yang lucu tapi penuh sindiran. Buku kumpulan puisinya itu diberi judul SOEMPAH WTS.
Walau bernada menyindir, kebanyakan puisi-puisinya dibawakan dengan kocak dan lucu. Baca sajak di bawah ini :
SUNAN BIRU
sunan baju biru
berjalan-jalan sampai kuning
dia berhenti di stanplat bis
kotamadya semarang
di bawah patung burung
sunan mata biru
berdarah kuning dan matanya
dibiarkannya meraba-raba
sampai Jakarta
dan dia pensiun
di bawah jembatan semanggi
sunan bersandal jepit
berniat mengendorkan syarafnya yang coklat
dia tiarap di puncak monas
sambil dipijat gadis
dan diurut janda
sekali diurut sunan terpejam
duakali dipijat sunan terperanjat
tigakali diinjak sunan bergumam
empatkali dibetot sunan copot
sunan mati empatkali
jubahnya yang biru luntur jadi kuning
semarang mengerang
bajingang
Tentu saja, kita tak tahu benar, siapa yang dimaksud Sunan biru. Tapi sebagai pembaca, dimana kita berhak memberi makna sajak, sejauh ini kita pasti boleh meraba siapakah itu si sunan biru yang dimaksudkan F. Rahardi. Dan jelas, dugaan kita itu, walaupun mungkin tidak sama persis dengan yang dimaksudkan F. Rahardi, tidak dapat disalahkan. Mengapa? Sebab sebagai pembaca, bagaimanapun juga kita berhak untuk berpendapat berbeda. Apalagi dalam dunia sastra, dimana kebenaran yang berlaku sangat relatif.
Sajak-sajak yang lain yang terangkum dalam “SOEMPAH WTS” pun kebanyakan bernada kritik sosial yang dibawakan dengan lucu atau kadang pula “mengejek dengan terang-terangan. Sajak berjudul “Doktorandus Tikus 1” ini saya kira salah satu contoh sajaknya yang mengejek (menyindir) dengan terang-terangan.
DOKTORANDUS TIKUS I
selusin toga
me
nga
nga
seratus tikus berkampus
di atasnya
dosen dijerat
profesor diracun
kucing
kawin
dan bunting
dengan predikat
sangat memuaskan
1983
Sementara itu situasi para transmigran pun tak luput dari pengamatan F. Rahardi. Ia menyaksikan para transmigran hampir tak bisa berpisah dengan singkong. Ke mana-mana bertemu dengan singkong.
Soal kangkung lain lagi masalahnya. F. Rahardi menjungkirbalikkan soal penciptaan kangkung. Dia bilang bahwa kangkung mempunyai silsilah. Sehingga lahirlah sajak yang berjudul “Silsilah Kangkung”.
SILSILAH KANGKUNG
seusai zaman es
nenek kangkung dan kakek kangkung
berzinah di sawah dan
lahirlah kangkung-kangkung
haram jadah
nenek kangkung dicumbu kakek kangkung
cucu kangkung dicium menantu kangkung
anak kangkung dirayu bapak kangkung
gadis kangkung ditraktir oom kangkung
dan ibu-ibu diperkosa
di kebun kangkung
bayi kankung meratapi ibu kangkung
adik kangkung merindukan tante kangkung
ipar kangkung digauli istri kangkung
pakde kangkuing menggauli keponakan kangkung
keponakan mencret-mencret
kebanyakan sayur kangkung
seusai zaman batu
kangkung-kangkung dicincang
bayi-bayi telanjang
tak berbapak.
1983
Dibaca sepintas lalu sajak itu dibuat seperti main-main belaka, seakan-akan tidak mengundang makna yang mendalam. Tapi sungguhkah sajak itu tidak mengandung makna yang tersirat? Pembaca yang satu dengan pembaca lainnya pasti punya pandangan sendiri-sendiri. Yang pasti menurut dugaan saya, Rahardi lewat sajak Silsilah Kangkung mau menyarankan tentang keadaan dunia yang kacau, dimana setiap saat bisa terjadi ipar kangkung digauli istri kangkung, pakde kangkung dirayu gadis kangkung, dsb. Tapi mungkin juga bisa diduga siapakah yang dimaksudkan kangkung itu sendiri. Simbol dari apakah kangkung dalam sajak tersebut?
Tentu saja pembaca berhak untuk berpendapat berbeda, seturut dengan pandangannya yang ia anggap paling tepat. Siapa tahu pembaca lain lebih jitu menyusuri makna sajak yang dibuat seperti main-main itu.
Dari 40 sajak yang terangkum dalam “Soempah WTS” itu, sajak yang menurut rasa saya bagus adalah sajak “Sepotong Paha Tikus”. Coba para pembaca resapi.
SEPOTONG PAHA TIKUS
sepotong paha tikus
kuupetikan ke hadiratmu
ya tubuh
semoga kau tangkap
dengan lapang leher
lompatnya yang coklat
cicitnya yang rincing
maukah kau
moncongkan mertua
mengendus-endus tetangga
ya tumit
kupaketkan salamku
padamu
selamat maling.
1983
Menurut rasa saya, sajak tersebut terasa menyentuh dan unik. Meskipun agak sulit apa yang dimaui penyair, tapi sajak tersebut apik dirasa. Juga sajak tersebut terasa sederhana dan memikat, imagenya unik dan lucu.
Dari 40 sajak yang terangkum dalam Soempah WTS tersebut ada beberapa sajak yang kurang berhasil, dibuat tergesa-gesa. Misalnya sajak Bandung II, Konser Kampung, Bulan, Selamat Wafat. Tampaknya F. Rahardi, dalam keempat sajak itu, kurang begitu mendalam saat merenung. Begitu ilham datang, langsung saja ia bikin sajak. Sehingga sajak-sajak tersebut kurang matang.
Menikmati sajak-sajak F. Rahardi memang tak usah mengerutkan kening seperti kalau kita menghadapi sajak-sajak penyair ternama kita Subagio Sastrowardoyo. Meski demikian, sajak-sajak F. Rahardi bukan mudah untuk direbut maknanya. Yang sering terjadi justru sebaliknya. Simbol binatang atau tumbuh-tumbuhan yang ditampilkan dalam saja, sering kabur dan ide yang ingin disarankan oleh penyair tidak jelas atau bahkan kurang tepat mengenai sasaran.
Pengalaman saya menghadapi sajak-sajak F. Rahardi mengatakan, membaca sajak-sajaknya memang cukup nikmat, menyenangkan dan menggelikan; tetapi harus dikatakan pula, saya sering bingung dan kurang jelas dengan makna yang ingin disampaikan oleh penyair.
Barangkali ini kebodohan saya sebagai pembaca dan penikmat sajak. Walaupun sudah berkali-kali saya berusaha merebut makna yang ingin disarankan penyair, toh sering kandas. Atau mungkin sajak-sajaknya yang ruwet? Saya kurang tahu. Pembaca budiman lainnya, mungkin punya pengalaman sendiri dalam usahanya merebut makna sajak.
Akhirnya harus disebut, kumpulan puisi “Soempah WTS” (Puisi Indonesia, 1983) memang ada artinya dalam rangka menambah ragam (genre) sastra kita. Paling tidak, image dan tipografinya terasa unik. Dan sebagai penutup kata, saya ingin mengutip sajak “Soempah WTS” yang dijadikan judul kumpulan puisi tersebut.
SOEMPAH WTS
satu
kami
bangsa
tempe
bersurga
satu
surga
dunia
dua
kami
bangsa
tahu
bergincu
batu
berbantal
pantat
tiga
kami
bangsa
tokek
bertarget
satu
menggaet
tuhan
jadi
langganan
1983
Sumber : SK, 24 Mei 1985
Sastra Kita Buat Siapa?
Hendrawan Nadesul
Kalau di negara maju masyarakat berkesenian hanya sekitar 10 persen dari populasi, berapa yang kita harapkan tumbuh di tengah masyarakat kita? Berapa porsi untuk seni sastra?
Karya sastra dianggap sebagai cermin masyarakat. Bagi kita karya sastra modern sesungguhnya mewakili segmen masyarakat yang mana? Apakah sastra kita hanya berpihak kepada kalangan yang tak mampu saja pada ketika porsi masyarakat melek huruf kita sudah lebih dari separo populasi. Bagi yang menerima novel pop sebagai karya sastra juga, karya Marga T, Mira W. atau Eddy D. Iskandar agaknya lebih mewakili strata menengah generasi muda kita. Lalu siapa yang mewakili kegelisahan para konglomerat, penguasa dan masyarakat elite kita kalau dulu kita mengenal ada sastra istana, misalnya.
Kesadaran kita bersastra membawa kita kepada perenungan untuk apa kita berkarya sastra? Adakah memadai saja kepuasan kita belaka setelah katarsis merasakan kegelisahan kita sendiri. Bisakah kerja bukan warisan naluri begini membuat kita bertahan menulis terus seperti kebutuhan makan, karena kehidupan bersastra perlu rangsangan yang agaknya harus dirancang bangun sejak kita kecil. Padahal tradisi apresiasi sastra kita harus diakui sangat miskin, sehingga kepedulian masyarakat elite kita terhadap dunia sastra wajar saja kalau terasa acuh. Majalah sastra Horison kita hidup-matinya terkesan tanpa dibela masyarakat, karena sastra belum dirasakan sebagai komoditi batin sebagaimana disadari oleh kebanyakan masyarakat maju. Tidak berlebihan jika perasaan kita tetap, bahwa dunia sastra kita masih dilecehkan.
Kebutuhan kita akan sastra memang harus dibentuk, dan bukan dilahirkan begitu saja. Untuk itu perlu rancang bangun. Politik kesenian kita perlu berubah. Kurikulum kesusastraan seyogyanya memadai dan digarap serius. Jika tidak kita akan terus menyaksikan kehidupan membaca anak didik kita berpihak kepada bacaan-bacaan yang kurang gizi batin dan menolak bacaan sastra karena tidak dikondisikan sejak kecil.
Sudah waktunya kita menggeser kecintaan anak didik dan masyarakat kita dari pola reading habit kepada learning habit yang di dalamnya terkandung unsur memasyarakatkan sastra juga. Sejalan dengan itu penanaman kesusastraan di sekolah mestinya bukan terasakan sebagai kewajiban melainkan kesenangan. Bagaimana ini bisa terjadi banyak ditentukan oleh sikap dan kiat para guru kesusastraan, karena terbukti, dari guru yang apresiator lahir peminat bahkan pencipta karya sastra pada anak-anak didiknya.
***
Keprihatinan kita terhadap kehidupan sastra kita menjadi lebih keras jika benar anggapan bahwa sastra kita semakin terasing di tengah-tengah masyarakatnya yang mewarisi peradaban.
Tapi keprihatinan semacam itu sepatutnya juga menjadi milik pemerintah agar masyarakat sastra kita tidak bertambah kerdil. Sastra juga mengemban fungsi sosial selain fungsi kultural bagi suatu bangsa. Apabila selama ini kita bisa prihatin terhadap kurangnya penanaman budi pekerti bagi anak didik kita, mengapa kita tidak sekaligus prihatin terhadap kehidupan kumaniora generasi terakbar dalam sejarah yang akan mewarisi peradaban luhur kita? Bukankah sastra juga mengasah citarasa seni yang tajam selain membentuk kehalusan perasaan sejati.
Sastra koran sebagai unsur pembela kehidupan sastra kita ketika Horison belum mempublik, perlu semakin memberikan kesempatan bagi sastrawan kita untuk lebih memasyarakatkan karya-karyanya. Dalam satu dasawarsa ini sastra koran semakin tergusur oleh kolom berita ekonomi, politik dan iklan yang dinilai lebih bisa dijual. Tanpa sikap idealisme pemilik perusahaan pers yang luhur terhadap kehidupan sastra, sastra koran semakin tersisih dan kehidupan sastra semakin teralienasikan.
Selain koran kita juga butuh penerbitan, karena hanya dengan cara demikian seorang penulis bisa tampil. Tapi konflik bisnis kebanyakan penerbitan kita memang masuk akal, karena pilihan menerbitkan buku sastra tetap menjadi pos yang merugi dibanding pilihan novel pop atau komik. Masuk akal pula sedikit sekali penerbit dari yang tak banyak menaruh kepeduliannya terhadap dunia kesusastraan, yang sudi dan rela subsidi silang untuk juga menerbitkan buku sastra, yang menjadi bagian dari tanggungjawab sosialnya bagi kehidupan sastra nasional. Penerbit Pustaka Jaya memelopori sikap begini. Tapi tanpa dibarengi oleh pemupukan apresiasi sastra di sekolah dan kurikulum kesusastraan tetap tidak kaya, daya ungkit memasyarakatkan sastra betapa kecil.
Kita masih beruntung karena memiliki orang seperti F. Rahardi, Eka Budianta dan Sori Siregar, untuk menyebut beberapa nama selain Korrie Layun Rampan yang tetap prihatin bagaimana terus-menerus bisa menampilkan karya sastra kita sendiri, potensi khasanah terpendam. Simak, umpamanya, kegiatan sastra di daerah-daerah yang tampil sederhana lewat buletin dan stensilan, yang mestinya mendapat dukungan penuh dari pihak Dewan Kesenian atau Kanwil Dikbud. Penerbit dengan orientasi begini, sebagaimana layaknya juga diterima Majalah Horison, sepatutnya mendapat perhatian lebih dari pihak pemerintah untuk ditopang.
Kehidupan sastra kita masih butuh mesenas. Jika pihak konglomerat bisa dipikat oleh citarasa sastra lewat pembacaan puisi musiman atau acara semacam itu, pintu itu sudah dibuka oleh Ibu Pertiwi Bob Hasan yang selama ini banyak mensponsori kegiatan sastra. Sastra masuk kantor atau masuk departemen sekarang bukan mustahil lagi. Gagasan Penerbit Puspa Swara meluncurkan buku antologi puisi Catatan Gunung Sahari, yang menampilkan seluruh karyawannya yang mau dan merasa bisa berpuisi, perlu ditradisikan pada semua kantor. Kita sering merasa kehilangan banyak saluran untuk bisa dengan longgar mengkatarsiskan segala bentuk kegelisahan batin. Menulis puisi tanpa pretensi untuk menjadi penyair memang bisa menjadi kran yang budiman.
Kita masih bisa melihat terbitnya buku-buku sastra di tengah-tengah gencarnya buku komik dan komputer dari penerbit-penerbit yang merasa ikut bertanggungjawab terhadap kehidupan sastra bangsanya. Kita harus bersyukur masih memiliki pihak-pihak yang memelihara dan menumbuhkan pusaka sastra kita. Karena kalau kita sebentar saja menyimak kegairahan sedikit kelompok anak-anak muda dari beberapa kota terhadap sastra, sesungguhnya harus dilihat bahwa merekalah asset bagi kehidupan sastra kita yang tetap lestari, tapi terabaikan.
Kegiatan sastra yang sporadis di beberapa kota selalu kalah gaungnya oleh apresiasi anak muda kita terhadap musik, misalnya, walaupun selalu harus dilihat tetap lebih bermanfaat ketimbang tidak ada. Pembacaan puisi di sekolah, di kantor, di departemen belakangan ini harus menggugah semua pihak bahwa kehidupan bersastra kita memang belum padam, yang perlu senantiasa dipupuk, karena merupakan bagian dari memasyarakatkan sastra juga, saya kira.
Untuk membina publik sastra inilah barangkali gagasan turba para sastrawan maupun kritikus sastra ke sekolah-sekolah perlu disambut. Mereka yang kita harapkan mampu menjembatani keterasingan untuk tidak menyebut “mercu suar” kesusastraan kita, sehingga kita tak perlu mendegradasi nilai-nilai kesusastraan dalam karya sastra siapa pun agar bisa pop untuk bisa diterima semua kalangan. Kita cuma ingin mengutip konsep memasyarakatkan sastra dengan hasil seperti yang dipikat musik dangdut tanpa mendangdutkan karya sastra.
Kita juga ingin agar karya sasta dirasakan sebagai hiburan bagi banyak orang, sekalipun konotasi menghibur di sini tidak identik dengan hiburan pasar yang hiruk pikuk. Kita perlu Mak Comblang yang mampu menjodohkan karya sastra kita yang membanjir dengan publik. Musikalisasi puisi, baca puisi dan puisi masuk kartu ucapan selamat, umpamanya, punya potensi untuk itu.
Peran guru kesusastraan harus didukung politik kesenian kita yang melihat pengajaran sastra cuma sebagai pelengkap di pinggir bahasa. Jika sastra di sekolah saja sudah terkucil dan nomer dua, bagaimana kita bisa mengharapkan masyarakat sastra kita tidak terus-menerus kerdil. Dari masyarakat sekolah, sejak TK mula, pengajaran dan kecintaan terhadap sastra, sudah harus dirancang bangun. Tradisi apresiasi sastra kita kebanyakan baru dimulai sewaktu remaja dan berakhir sesudah masuk perguruan tinggi. Panjangnya kecintaan terhadap sastra hanya tumbuh dari guru yang sungguh apresiator. Sebut saja S.N. Ratmana dan Piek Ardijanto untuk Tegal, Deddy Roamer PS untuk Bogor yang bisa menjelmakan karya sastra terkesan seenak musik.
***
Kita melihat masyarakat sastra kita ibarat bola salju yang tetap kecil karena kurang menggelinding. Kalau kita sadar bahwa masyarakat sastra adalah kita sendiri, para penyedia kolom kebudayaan di koran dan majalah, para penerbit buku sasta para mesenas sastra, mengapa tidak memulai peran itu sekarang. Dewan Kesenian sebagai salah satu unsur masyarakat sastra hanya bisa kita himbau agar bola salju masyarakat sastra yang sudah terbentuk akan semakin menggelinding dan bertambah besar, antara lain dengan memberikan perhatian terhadap kegiatan-kegiatan sastra di pusat-pusat sastra, terhadap apresiator sastra, dan kesempatan lebih luas bagi sastrawan untuk hadir dan tampil.
Kita sebagai pencipta karya sastra, apa yang bisa kita lakukan selain mencipta? Karena kita juga kebanyakan merangkap sebagai wartawan, penerbit, mungkin kritikus, dan wakil dari dewan kesenian atau menduduki jabatan di pemerintahan, ada sisi yang bisa disisihkan untuk membantu agar bola salju masyarakat sastra kita tidak tetap kerdil.
Untuk apa kita menulis? Kita menulis apa? Ya, kita menulis kegelisahan kita sendiri. Selama kita bisa jujur pada kegelisahan kita sendiri, itulah universalitas realita milik kita dan milik semua orang yang berada bersama kita. Merekalah yang akan mengunyah dan menelan karya kita berkali-kali tanpa jemu dan merasa nikmat. ***