Sastra Profetik dalam Lembata sebuah novel

11/05/2012 at 14:38 (novel)

Catatan atas Literature Khatulistiwa Award)
Oleh Hengky Ola Sura

Tulisan ini merupakan apresiasi atas Literature Khatulistiwa Award yang dimenangkan oleh Lembata sebuah novel. Juli 2008 lalu, penerbit Lamalera menerbitkan sebuah novel yang ditulis oleh sastrawan dan jurnalis senior Indonesia, F. Rahardi, dengan judul Lembata. Catatan pengantar dari penerbit menulis, mengapa Lembata dan mengapa sebuah novel? Pertanyaan tersebut sebenarnya menempatkan dimana suara kenabian (profetik) Gereja Katolik yang telah berada di Lembata sudah seabad lebih ternyata belum menunjukan ada perkembangan berarti yang dialami masyarakat Lembata. Masalah kemiskinan berujung pada masalah- masalah sosial lainnya, seperti pendidikan, sanitasi dan moral masih akrab membelit masyarakat. Lebih buruk lagi, di tengah pusaran kemiskinan itu pemerintah yang sudah (terlanjur) didewakan sebagai motor pembangunan justru dengan seenaknya mengkampanyekan kemiskinan Lembata kepada para cukong pembangunan (pengantar penerbit hal v dan vi). Rahardi menggores sesuatu yang ‘beda’ dalam pelesirnya ke Lembata. Lembata adalah eksotika bagi Rahardi untuk mencoba membahasakan suasana Lembata yang menggeliat dalam pandangan pro dan kontra seputar tambang. Lembata yang punya potensi untuk ditata secara lebih anggun.

Ketika membahas novel ini bersama kawan- kawan di Bengkel Sastra, ada yang memuji kepiawaian Rahardi menggores penanya dalam cerita tentang tempat-tempat di Lembata (latar). Rahardi seolah menjadi seorang putera asli Lembata. Ada yang berkomentar Rahardi terlalu memojokkan perempuan lewat kebinalan Luciola sebagai seorang perempuan yang gila dengan ketampanan dan intelektualitas dari tokoh pujaannya, Romo Pedro. Ia seorang imam diosesan keuskupan Larantuka teman sekelas Luciola yang berhasil menggondol titel sarjana Ekonomi pada Universitas Atmajaya dengan predikat terpuji. Ada lagi yang membandingkan Pedro dan Luciola mirip Wisanggeni dan Laila dalam novel Saman- nya Ayu Utami. Cuma ada sedikit perbedaan antara Saman dan Lembata. Dalam Saman, Laila berhasil memperkosa Wisanggeni yang kemudian melepaskan imamatnya dan berganti nama menjadi Saman. Sedangkan pada Lembata–nya F. Rahardi, Luciola yang kesengsem berat pada Romo Pedro harus kecewa dan nyaris tak punya tujuan hidup setelah perjuangannya mendapatkan Romo Pedro sia-sia. Luciola perempuan cantik yang memiliki segalanya itu bahkan sampai menelanjangi dirinya agar bisa bercinta dengan Pedro. “Baik aku akan telanjang bulat Pedro. Sekarang kita hanya berdua. Kamu sudah bukan imam lagi. Apa masih takut kamu pada uskup? Tidak ada urusan lagi bukan? Pedro, sekarang aku akan serahkan tubuh ini padamu, seperti dulu Yesus menyerahkan tubuhnya ke Laskar Romawi untuk dicambuk, dan disalibkan. Pedro, salibkan aku. Pentanglah tangan dan kakiku, paku dan pukullah dengan palu yang keras di dua tepi bed itu Pedro. Tusuklah aku dengan tombakmu Pedro, aku siap mati ditanganmu. Pedro kamu tidak impotent bukan? Kamu sudah ereksi bukan? Ayo Pedro”, ungkap Luciola dengan memelas. …(hal 208). Pedro adalah seorang tokoh imam dan agamawan sejati yang sadar bahwa imamatnya adalah sebuah tugas profetik yang mulia. Kemuliaan imamatnya tidaklah boleh dicemarkan dengan meladeni kebinalan dan rasa kesengsem berat dari seorang perempuan yang jatuh hati padanya. Ia harus menjadi imam yang politis. Rela tinggal dan bekerja sebagai pastor pembantu di Paroki Santa Maria Pembantu Abadi Aliuroba (Lembata, sebuah novel,hal. 22). Imamatnya adalah sebuah solidaritas yang menuntut perhatian untuk terlibat dalam rencana tambang emas di pulau yang bernama Lembata. Imamatnya adalah juga semacam pencerahan dari keragu-raguan sikap LSM lokal yang demikian bernafsunya menolak penambangan emas, tetapi tidak pernah secara serius memikirkan bagaimana mengatasi masalah kemiskinan yang merupakan derita rakyat banyak. Sebelum ada emas pun mereka sudah menderita (hal 71). Keberpihakannya terhadap orang kecil, bukan hanya pada soal tambang tetapi bagaimana berjuang menyuarakan agar tuak dan jagung titi menggantikan posisi hosti dan anggur yang harganya melonjak, jauh dari masuknya derma setiap hari Minggu (hal. 112). Sampai pada usahanya ini membuat berang uskup (hal 119) dan diserbu massa ke pondok persembunyiannya, tetapi si Pedro selamat gara-gara nyenyak di lubang tidurnya (hal. 183).

Pedro tetaplah Pedro, ia pejuang sejati, agamawan yang setia pada imamatnya meski tak lagi harus merayakan kurban misa. Ia adalah sebuah suara profetik dari horizon Rahardi tentang bagaimana meredefenisi seruan profetik yang lama dikekang atau terlalu berada jauh di atas menara gading, masih tuli, kaku dan apatis.

Tidak sejalan dengan Pedro, seorang rekan imamnya Pater Bona justru menikmati tubuh bugil Luciola di rumah penginapan saat berziarah bersama ke Lourdes. Meskipun tidur sekamar dan bercinta dengan Pater Bona, hati Luciola tetap untuk Romo Pedro (hal 83& 85). Semua lelaki yang dikencaninya sebenarnya adalah pelarian dari rasa kecewa akibat tak pernah meluluhkan keagamawanan dan imamatnya seorang lelaki impian bernama Pedro. Pedro bagi Luciola adalah seorang yang telah meluluh-lantakan segala perjuangan dari cintanya yang egois. Dari cinta yang egois Luciola akhirnya pulang pada sebuah kesadaran bahwa keinginan untuk mencintai terlebih keinginan untuk bersetubuh dan menikmati puncak orgasme bersama lelaki pujaan bukanlah hal yang utama. Ini menyata dalam permintaan Luciola kepada Pedro untuk berjuang bersama demi kemanusiaan. “Melalui gereja, aku mau membantu orang –orang susah, apa pun bangsa dan agamanya. Tapi jelas, aku mau konsentrasi di Indonesia, bukan di Peru, bukan di Zambia. Kamu masih tetap mau membantu aku bukan? Pedro, cinta, terlebih seks, ternyata memang bukan hal yang utama ya?” (hal 256).

Pedro pada akhirnya berhasil mengarahkan Luciola pada sebuah bentuk perjuangan cinta yang ‘beda’. Luciola adalah seorang yang mewakili individu- individu masyarakat modern, yang mengalami kekosongan, kesepian dan kecemasan. Kekosongan merupakan kondisi dimana individu tidak lagi mengetahui apa yang harus diinginkan dan tidak lagi memiliki kekuasaaan tarhadap apa yang terjadi dan dialami. Kekosongan jiwa telah mengubah Luciola seorang individu modern menjadi individu yang outer- directed, yaitu individu yang mengarahkan dirinya kepada orang lain dalam rangka mencari pegangan atau petunjuk bagi penentuan hidupnya. Itulah Luciola, ia memiliki kekuasaan dan kekayaan, sayang ia tidak berdaya dan selalu merasa asing. Kesepian yang dialami Luciola merupakan akibat langsung kekosongan jiwa, keterasingan dari diri sendiri dan maupun dengan sesama Akibat dari semua itu melahirkan kegelisahan dalam diri Luciola. Kota- kota besar tempat persinggahannya, Darwin, Singapura, Milan, Montreaux – Lavaux dan kota – kota lainnya hanyalah perjumpaan yang sementara dan hanya berlangsung sementara. Semuanya mengantar Luciola pada hidup yang materialistis dan hedonistis. Ia akhirnya pulang pada sebuah kesadaran akan sebuah nilai ‘lebih’ bila bersama Pedro berjuang untuk orang- orang Lembata dalam misi kemanusiaan dan bukan pada urusan kelamin. Lembata sebuah novel karya Rahardi merupakan karya humanistik nan dramatis yang melibatkan ekspresi tertinggi nilai-nilai kemanusiaan, keindahan dan moral. Novel ini menyuarakan nilai – nilai kemanusiaan dan layak dikategorikan sebagai sebuah karya sastra profetik.***

Permalink 1 Komentar

ULASAN LEMBATA

25/09/2010 at 19:44 (novel)

Novel Picisan Tentang Pedalaman

February 2, 2009 |  Tagged Review Novel |

Judul               : Lembata
Penulis           : F. Rahardi
Penerbit        : Lamalera, 2008
Tebal               : ix + 256

Orang-orang bergerak tak jauh dari kemelaratan. Sementara itu, segelintir orang yang bergerak mendorong orang-orang melarat tersebut menjauh dari kemelaratan. Semua bergerak, namun Lembata, pulau kecil melarat yang baru delapan tahun menjadi kabupaten menjadi simpul utama bagi keseluruhan isi novel.

“Novel ini merupakan gugatan keras atas kebekuan dan ketulian Gereja” begitu pengantar penerbit diawal novel ini dengan sedikit contoh ilustrasi keberhasilan novel Da Vinci Code karya Dan Brown. Penerbit memberi sedikit gambaran kontekstual bagaimana novel karya F. Rahardi ini muncul.

Beberapa novel yang menyinggung sisi “lain” gereja memang sukses dipasaran beberapa tahun belakangan. Sebut saja, setelah Da Vinci Code dan Angel and Demon karya Dan Brown, menjamur novel dan buku dengan tema-tema serupa di Barat. Dan seperti tipikal industri kreatif di Indonesia, para penerbit dan penulis pun latah tak mau ketinggalan. Penerbit ramai menerjemahkan novel kontroversial tersebut. Penulis pun tak mau ketinggalan tren yang sedang digeluti para penerbit dengan menulis novel atau buku dengan tema serupa.

Jika dirunut kebelakang, jauh sejak puluhan bahkan ratusan tahun lalu, gereja memang selalu obyek yang menarik. Kesakralan dan kuasa yang dimiliki gereja adalah daya tarik tersendiri bagi  beberapa orang untuk imajinasikan isi dibalik temboknya. Hebatnya, di Barat imajinasi paling liar, layaknya ide tentang kebebasan adalah hal yang dilindungi.

Hal ini berbeda dengan dunia Timur yang selalu lebih melindungi simbol-simbol sakral daripada melindungi orang-orang yang menhidupi simbol-simbol tersebut. Lihat saja, orang-orang yang berimajinasi liar tentang Masjid, Al Quran, bahkan tentang ulama adalah orang yang dihalalkan untuk dibunuh. Karena itu, lagi-lagi gereja adalah simbol kesakralan yang aman untuk diimajinasikan secara liar.

Agaknya F. Rahardi menjadi salah satu contoh tipikal penulis Indonesia yang latah tak mau ketinggalan momen. Tanpa tema segar dan original, Lembata menjadi novelnya yang picisan dan mengimitasi ide populer tentang kekolotan gereja. Praktis tak ada hal baru yang akan menjadi inspirasi ketika membaca novel ini, terlebih jika pernah membaca Angel and Demon atau Da Vinci Code.

Dari segi tema, F. Rahardi memang tidak menawarkan hal baru selain sentuhan lokal dalam novelnya. Lembata menjadi pilihan tepat untuk menggambarkan sebagian kecil kemelaratan Indonesia. Selain Lembata, masih banyak pulau-pulau kecil yang dihuni orang-orang yang tak pernah bergerak menjauh dari kemelaratan. Sebut saja pulau-pulau seperti Nipah, Solor, Adonara, dan ratusan pulau kecil lainnya. Di pulau-pulau seperti ini, listrik PLN tidak pernah ada, listrik swadaya pun hanya bertahan dua jam sehari. Selama itulah jatah nonton TV yang interaksi dengan dunia luar dapat dilakukan.

Di pulau-pulau seperti ini, institusi agama menjadi salah satu pemilik kekuasaan politik selain pemerintah. Institusi agama seperti gereja bahkan memiliki jaringan yang bisa lebih dalam masuk dalam komunitas masyarakat daripada yang dilakukan pemerintah. Bayangkan saja, kepala desa bisa lebih tunduk kepada pastor daripada kepada camat maupun bupati.

Tanpa ide segar, memang membosankan membaca novel Lembata karya F. Rahardi ini. Terlebih pembaca Indonesia dalam beberapa tahun belakangan dicekoki dengan novel-novel Barat yang memiliki jalan cerita lebih canggih dan kompleks. Jika dibandingkan, bahkan dalam hal akrobat kata-kata F. Rahardi kalah telak.

Akrobat kata yang minim telah menjebat novel ini dalam kategori novel picisan. Kualitasnya tak mampu mengalahkan Pram dan novelis jadul Indonesia. Namun sepeninggal Pram, novel ini tetap layak dibaca. Minimal jika pembaca tak mendapat pencerahan, pembaca akan sedikit mengetahui kondisi Lembata dan masyarakat di dalamnya.


Kamis, 2009 Mei 28

MISKINNYA CERITA DAN MIMPI TANAH MISKIN

Judul : Lembata (sebuah novel)
Pengarang : F. Rahardi
Tebal : x + 256 halaman
Penerbit : Penerbit Lamalera, Yogyakarta
Tahun terbit : Juli 2008

Bertamasya di dunia kisah dengan sebuah iming-iming sebelumnya memang bermadu-racun. Berbahagia bila iming-iming itu terpuaskan, sebaliknya kecewa apabila tak ditemukan. Menikmati Lembata dengan terlebih dahulu terprovokasi pengantar penerbitannya, saya tak jamin anda bertemu madu.
Tolle et Lege. Ambil dan bacalah. Begitu penerbit mengakhiri pengantar penerbitan novel ini, setelah menjanjikan sebuah novel yang …merupakan gugatan keras atas kebekuan dan ketulian Gereja (hal. v), setara dengan Da Vinci Code serta God’s Spy. Namun yang ditemui justru lebih banyak berkutat pada hubungan dua anak manusia berbeda pilihan dan gaya hidup, Pedro dan Luciola. Memang ada permasalahan kebekuan dan ketulian Gereja dalam Lembata. Tetapi bila ditapis dan dibuang, ia tak memustahilkan terangkainya cerita.

Terlepas dari itu, mengangkat nama sebuah tempat real sebagai judul novel adalah tindakan berani. Apalagi ketika tempat itu begitu sepi publikasi sebelumnya dan jauh dari kata populer. Keunikan Lembata bukan hanya itu. Ia juga adalah novel pertama dari F. Rahardi yang di kancah sastra Indonesia lebih dikenal sebagai penyair dan essais.

Dua Kutub Berbeda

Lembata ampunya tokoh utama pastor muda Keuskupan Larantuka, Pedro, dan Luciola, putri konglomerat-pembisnis lintas benua. Bersettingkan Jakarta, Larantuka, Lembata, Darwin, Montreux, Monaco, dll, Lembata berkelindan bersama sosok Luciola yang kaya sonder-ampun, berpadu Pedro dan masyarakat Lembata yang sonder-ampun pula miskinnya. Bayangkan! Uang yang dihambur-hamburkan Luciola dalam sehari, hampir sama dengan jumlah pendapatan empat kepala keluarga di Aliuroba sebulannya. Hidup bebas a la manusia modern dikonfrontasikan dengan kepatuhan hidup selibat seorang pastor Katolik. Luciola atau Ola adalah anak metropolis yang akrab dengan kebebasan, free sex, dan alkohol. Dengan uang yang ia punya, apa pun mampu didapatnya. Di sisi lain, Pedro yang berlatar belakang kota tua Katolik, Larantuka, begitu setia pada kaul hidup selibat dan kaul kemiskinannya. Keduanya bertemu di kampus Atma Jaya.
Lembata pun berhulu ketika Luciola jatuh cinta pada Pedro. Segala hal dicobanya untuk bisa menikahi Pedro, atau setidak-tidaknya berhubungan seks semalam saja. Dari menyertai Pedro ke tempat tugas barunya di Paroki Aliuroba yang miskin hingga mengirimkan foto-foto hubungan seksnya dengan para gigolo Monaco dilakukan Ola. Namun, bahkan setelah Pedro menanggalkan jubah pastornya pun, Pedro tetap teguh pada pilihan hidup selibat.

“… Papi, aku mau bekerja untuk kemanusiaan. Melalui Gereja, aku mau bekerja untuk kemanusiaan. …… Kamu masih mau tetap membantu aku bukan? Pedro, cinta, terlebih seks, ternyata memang bukan hal yang utama ya?” (hal. 256). Itulah akhir cerita ini, ketika Luciola yang modern ’menyerah’ pada pendirian dan pilihan Pedro.

Sebuah Solusi Utopis?

Selain berhasil menyusupkan problematika pemerintahan dan gereja lokal Lembata kontemporer, F. Rahardi yang pernah berkhitmat di majalah Trubus ini pun renyah menampilkan potensi pertanian tanah Lembata. Dengan rinci diuraikannya unsur-unsur tanah, iklim, dan potensi serta komoditi-komoditi yang cocok untuk tanah di daerah yang terlanjur dicap tandus itu. Pemahaman Rahardi akan dunia pertanian lokal mau pun global mengkristal dalam novel ini. Bukan hanya potensi tanah dan komoditasnya yang dibahas, Lembata seakan ’menciptakan strategi’ melawan hegemoni pasar pertanian global.

Sayang. Strategi yang tercipta dalam Lembata terkesan utopis, mengejar akhir cerita yang manis, berbau deus ex machina. Luciola yang sonder-ampun kayanya itu menjadi dewi penyelamat bagi petani Aliuroba. Dengan kekuasaan dan uangnya, Ola memungkinkan petani Aliuroba mandiri dan punya posisi tawar dalam berhadapan dengan pemerintah, pun pula mafia perdagangan pangan global. Bukankah ini sebuah dongeng sebelum tidur yang terlampau manis, ketika hampir semua petani di negeri penghasil padi terbesar ketiga dunia ini begitu merana hidupnya?

Selain itu, Lembata kurang berhasil pula menjadi novel yang mengalir indah dengan dialog-dialog dan jalan cerita yang mampu membuat terpana. Lembata lebih banyak diisi monolog-monolog tanpa interaksi intens para tokoh. Masalah pertanian, kemiskinan, dan perbedaan kontrasnya dengan kekayaan Ola, dengan tak apik menjadi unsur-unsur cerita yang tidak saling menyatu. Sehingga, pada tikungan kesekian novel ini, niscaya rambu-rambu kebosanan menanti. Hadirnya Luciola sebagai penggoda Pastor Pedro—yang terkesan terlampau suci, tak semanusiawi, misalnya, tokoh Saman-nya Ayu Utami—pun cukup mengganggu bila dibaca dengan kaca mata pembacaan yang lain. F. Rahardi seakan ’melestarikan’ konstruksi sosial patriarkis, di mana perempuan selalu menjadi sumber masalah manusia. Lembata-pun menambah panjang daftar kisah yang bias jender, di mana tokoh penggoda nan jahat kerap berkelamin perempuan.

***

Terlepas dari semua itu, Lembata termasuk novel yang patut dinikmati dengan kekritisan dan juga empati pada korban ketakadilan dunia; para petani kecil di seluruh pelosok negeri ini. Lembata mungkin punya sumbangsih kecil yang patut dilirik, ketika ia membisikan sebuah mimpi para petani dari tanah miskin di pelosok-pelosok Pulau ’lomblem’ Lembata.
Bila bahan-bahan baku Lembata menjadi adonan cerita yang tak semiskin ini, lebih menarik, saling padu dan nir-pisah, niscaya novel ini menjadi mata air penyegar di tengah kemelut krisis pangan global. Ia bisa pula menjadi peringatan keras, di tengah mengaburnya identitas Indonesia sebagai negara agraris dewasa ini.

Diposkan oleh kecoa merah di 04:08
Label: isengiseng di sastra

1 komentar:

tukangbikincerita mengatakan…

wuih template blognya baru liat nih yang kaya’ gini. gimana bikinya? mampir dunk ke blog saya yang sederhana dan kasih komentarnya ya. makasih

http://novel-cerita-indonesia.blogspot.com


2009 Juli 17 13:28

PENERBIT LAMALERA GELAR BOOK FAIR

KUPANG, PK–Dalam rangka merayakan HUT emas Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Penerbit Lamalera menggelar Lamalera Book Fair di Aula Univeristas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang. Book Fair (pameran buku) bertajuk “Orang Pintar Baca Buku” ini dimaksudkan sebagai sumbangan penerbit ini untuk membangun sumber daya manusia NTT.

Demikian dikatakan Wakil Direktur Penerbit Lamalera, Pater Charles Beraf, SVD, dalam konferensi pers di ruang Program Magister Manajemen Lantai I Unika Widya Mandira (Unwira)- Kupang, Kamis (18/12/2008) siang.

Pada hajatan ini Penerbit Lamalera-Jakarta akan memamerkan dan menjual 30 ribu judul buku dari berbagai disiplin ilmu termasuk cerpen dan buku untuk anak-anak dengan harga mulai dari Rp 5.000,00. Pameran buku ini merupakan bagian dari tanggung jawab dan partisipasi Penerbit Lamalera terhadap pembangunan sumber daya manusia di NTT.

Pameran buku ini berlangsung empat hari, terhitung 19-22 Desember 2008. Ada banyak buku yang akan ditampilkan dan dijual murah. Lamalera Book Fair ini terselenggara atas kerja sama dan dukungan Unwira Kupang, Kelompok Penerbit Buku dan Multimedia Gramedia (Gramedia, Grasindo, Elex Media Komputindo) dan Harian Pos Kupang.

Menurut Beraf, HUT ke-50 Propinsi NTT merupakan momentum syukur dan momentum refleksi bagi warga NTT supaya berani melihat diri. “Lima puluh tahun hendaknya tidak diartikan secara sederhana sebagai momentum eforia politis- teritorial orang NTT, melainkan patut dilihat sebagai kairos, saat di mana orang-orang NTT menyatakan kesigapannya melangkah ke depan dengan berani untuk melihat sekarang dan membongkar apa yang lalu,” kata Beraf.

Beraf mengatakan, banyak masalah yang terjadi di NTT turut disebabkan oleh keengganan orang melihat dan mengolah yang sekarang. Dan, hal itu berakar pada masalah sumber daya manusia (SDM) orang NTT yang belum baik. “Keprihatinan ini mendorong Penerbit Lamalera menyelenggarakan kegiatan pameran dan bedah buku. Dengan harapan isolasi intelektual yang melanda masyarakat NTT terutama generasi muda bisa dibuka. Selain itu diharapkan dapat meningkatkan pengenalan akan pentingnya buku bagi masyarakat NTT. Buku adalah jendela untuk melihat dunia,” kata Beraf.

Sementara itu Sekretaris Panitia Lamalera Book Fair, Wenifrida Kristina Beding, dalam kesempatan yang sama menambahkan, untuk menyukseskan kegiatan Lamalera Book Fair pihak panitia juga akan menghadirkan artis Happy Salma. “Happy Salma hadir bukan sebagai artis tetapi sebagai penulis buku. Happy Salma telah menulis dua buku selama ini,” kata Wenifrida.

Pembatu Rektor III Unika Widya Mandira Kupang, Damianus Tallok dalam jumpa pers ini mengatakan, Unika Widya Mandira Kupang menyambut baik kegiatan Lamalera Book Fair yang diisi dengan pameran buku serta acara diskusi dan bedah buku yang diselenggarakan Penerbit Lamalera Jakarta. “Unika Widya Mandira Kupang wellcome kepada siapa saja, termasuk Penerbit Lamalera. Karena selama ini masalah buku di NTT adalah masalah mahalnya harga buku. Padahal buku merupakan barang berharga yang kalau kita sering baca buku bisa membuka wawasan dan pengetahuan kita,” kata Tallok. (mar)

Happy Salma Bedah Cerpen

SELAIN pameran, Lamalera Book Fair juga akan diisi dengan membedah empat buku menarik. Empat buku itu yakni HAM untuk Masyarakat Komunal, karya Marianus Kleden, Lembata, Sebuah Novel, karya F Rahardi, Kampung-Bangsa-Dunia: 50 Tahun NTT, karya Paul Budi Kleden, dan Telaga Fatamorgana (kumpulan cerpen), karya Happy Salma (artis dan cerpenis).

Buku HAM untuk Masyarakat Komunal akan dibedah pada 20 Desember pukul 16.00 Wita oleh Stanley Adi Prasetya (anggota Komnas HAM), Dr. Frans Rengka dan Dr. Karolus Kopong Medan. Buku Lembata Sebuah Novel dibedah pada hari yang sama pukul 10.00 Wita oleh Sri Palupi (Direktur ECOSOC), FX Rudy Gunawan (wartawan dan novelis) dan Dr. Paul Budi Kleden (teolog dan peminat sastra).

Pada tanggal 21 Desember buku Kampung-Bangsa-Dunia: 50 Tahun NTT akan dibedah pukul 10.00 Wita oleh Stanley Adi Prasetya dan Sri Palupi. Sedangkan Telaga Fatamorgana dibedah sore hari pukul 16.00 oleh Mezra Pellondou (novelis dan cerpenis), FX Rudy Gunawan dan Happy Salma.

Direktur Penerbit Lamalera, Bona Beding, mengatakan, acara selama empat hari ini diharapkan bisa membuka mata orang NTT tentang pentingnya buku. “Dengan acara ini kami mengharapkan isolasi intelektual bisa dibuka, budaya bacar ditradisikan dan minat akademis ditumbuhkan di kalangan masyarakat NTT,” kata Bona.

Karena itu, Bona mengharapkan agar acara ini benar-benar membawa manfaat. “Kami juga mengundang pak gubernur untuk hadir dalam acara ini. Pak gubernur akan kami minta untuk meluncurkan tiga buku pada acara puncak. Pak gubernur kami undang karena inilah sumbangan kami untuk HUT emas NTT,” kata Bona Beding. (len)


MENGGUGAT ROTI DAN ANGGUR

Minggu, 19 Juli 2009 | 03:56 WIB
BUDI KLEDEN

• Judul: Lembata: Sebuah Novel • Pengarang: F Rahardi • Penerbit: Lamalera, 2008 • Tebal: ix + 256 halaman

”Sesuai hakikatnya, seorang sastrawan dewasa ini tidak dapat memberi dirinya untuk melayani kepentingan mereka yang membuat sejarah; sebaliknya dia harus memenuhi kepentingan mereka yang menjadi korban sejarah. Jika tidak, dia mengkhianati diri dan keseniannya.”

Demikian penggalan bagian dari pidato Albert Camus saat menerima Hadiah Nobel Sastra di Oslo, 10 Desember 1957. Bagi Camus, seni bukan sebuah kesenangan yang dinikmati sendiri, melainkan ”satu sarana untuk menggugah sebanyak mungkin orang dengan cara menghadirkan di depan mereka satu gambaran dari penderitaan dan kegembiraan bersama”. Ia melihat ”keutamaan bidang karyanya senantiasa berakar pada dua kewajiban yang tidak mudah dipenuhi: menolak untuk menipu dan melawan penindasan”.

Jebakan sastra

”Menolak untuk menipu”, dengan pernyataan ini Camus memberikan arah untuk memahami dimensi fantasi dari karya sastra. Fantasi bukanlah tipuan dan lawan dari kebenaran. Dia adalah cara mengungkapkan kebenaran tentang kehidupan. Dalam fantasi, melalui tokoh dan kisah rekaan, dihadirkan gambaran tentang penderitaan dan kegembiraan. Sebuah karya seni, termasuk sastra, menyatakan bahwa kebenaran kehidupan itu jauh lebih berwarna-warni daripada hitam putih. Dan karya sastra yang juga hitam putih adalah pembohongan.

Pembohongan dapat terjadi atas dua alasan. Pertama adalah indoktrinasi. Sastra menjadi sarana pembohongan publik ketika dia membiarkan diri diperalat oleh ideologi sebagai sarana indoktrinasi. Dalam indoktrinasi terjadi penyederhanaan konsep tentang kehidupan dengan kategorisasi baik-buruk, kawan-lawan. Karena itu, ideologi cenderung menindas keanekaan pandangan dan gaya hidup. Kedua, sentimentalisme. Karena terlampau kuat dipengaruhi oleh rasa takjub atau dibelenggu oleh amarah, seorang sastrawan menjadi tidak realistis terhadap kehidupan dan berlaku tidak adil di hadapan banyak manusia.

Membaca Lembata, Sebuah Novel karya F Rahardi memberi kesan, betapa penulis berjuang keras untuk tidak terjebak dalam belenggu ideologi dan ditelan jurang sentimentalisme. Temanya jelas, yakni mengkritisi peran gereja Katolik sebagai satu komunitas agama yang dianut mayoritas warga pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dalam napas seperti ini, seorang penulis bisa saja hanyut dalam arus kritik yang dilancarkan ke alamat lembaga-lembaga agama, termasuk gereja Katolik. Agama dinilai sebagai pembentuk kesadaran yang salah. Tidak sedikit yang menilai agama sebagai kolaborator dari agen-agen penindasan. Novel ini mengangkat permasalahan hosti dan anggur yang digunakan di dalam perayaan ekaristi gereja Katolik, yang bahannya didatangkan dari luar negeri.

Tema-tema sampingan yang disentil di dalam novel ini pun penuh muatan kontroversial, seperti selibat dan hierarkisisme dalam gereja Katolik. Di tengah derasnya arus kontroversi seperti ini, ada godaan besar untuk memaparkan kebobrokan dalam gaya hitam putih, atau mengambil sikap membela bernuansa ideologis.

Penulis berhasil menampilkan sebuah gambaran yang berwarna-warni tentang kehidupan gereja dan masyarakat Lembata. Dia membuka tirai prasangka untuk dapat menatap sebuah panorama yang tidak sehomogen yang dibayangkan. Di satu pihak ada uskup yang boleh jadi karena tradisi dan tekanan keadaan merasa terpaksa menjadi mitra yang patuh dari pemerintah dan pengusaha. Di lain pihak ada Pedro, romo Deken Lembata, pastor Alex dan Zebua, empat imam yang bertugas di Lembata, yang memiliki keprihatinan sosial dan bersikap terbuka.

Dengan pemaparan gaya ini, Rahardi tidak meninggalkan Pedro, sang mantan pastor, sendirian. Dia mendapat bantuan dari beberapa rekan pastornya, bukan sekadar karena belas kasih kemanusiaan yang menggugah, melainkan karena keyakinan yang sama akan pentingnya komitmen terhadap upaya perbaikan kualitas kehidupan masyarakat.

Cerdik

Sebuah kontras dibangun secara cerdik untuk memberi bingkai yang menegangkan bagi isi kisah yang provokatif. Ola jatuh cinta kepada Pedro, teman mahasiswanya di Fakultas Ekonomi Unika Atma Jaya Jakarta. Pedro adalah seorang pastor yang baru menyelesaikan studi ekonomi itu tampangnya ganteng, pikirannya cemerlang, pergaulannya luwes. Masalahnya, dia sangat yakin akan ketepatan pilihan hidup selibat sebagai imam.

Ola bukan gadis sembarangan, mudah bergaul dan pandai menjalin lobi. Dia putri tunggal seorang pengusaha kaya yang memiliki jaringan usaha internasional. Semua keinginannya dipenuhi. Cuma dia harus menghadapi kerasnya hati Pedro. Berbagai jalan dan cara ditempuhnya. Dia bersedia ke Flores, juga ke Lembata, malahan sampai ke Aliuroba, kampung kecil di bagian timur Lembata, tempat tugas Pedro.

Kisah tentang relasi ini, yang dilukiskan secara ekstensif, dapat menjadi pintu masuk untuk melihat sebuah realitas di dalam gereja Katolik, tetapi juga di dalam agama-agama lain. Sikap dingin yang ditunjukkan pemimpin keuskupan dan penolakan dari pihak keluarga Pedro menunjukkan betapa orang-orang beragama, di sini orang-orang Katolik, cenderung menyempitkan penilaian moralnya dari perspektif seksualitas. Dengan ini orang beragama menempatkan moral sosial pada urutan kesekian.

Ada banyak ironi dalam hidup, juga di dalam novel ini. Setelah melakukan sebuah tindakan fatal pada kesempatan perayaan ibadat, Pedro mengambil keputusan untuk melepaskan jabatan sebagai imam dan mulai berusaha sendiri menanam anggur dan gandum di Lembata. Setelah usaha ini membawa hasil, ternyata gereja berubah sikap. Ini justru terjadi pada satu momen, ketika ia tidak dibutuhkan lagi. Sebuah institusi besar bisa berubah, tetapi sering itu terjadi ketika kondisi sekitar sudah berubah seluruhnya dan tidak lagi membutuhkan perubahan.

Yang lamban berubah ternyata bukan satu lembaga agama. Seorang manusia pun dapat sangat pelan berubah. Rahardi menunjukkan ini dalam sosok Ola. Dia tetap pada sikapnya, mencintai Pedro. Sangat perlahan dia sampai pada keyakinan bahwa cinta tidak mesti sama dengan seks. Setelah berubah sikap, dia menjadi penyelamat bagi Pedro dan masyarakat Lembata yang sedang mencari jalan untuk memasarkan anggur dan gandumnya.

Sampai di sini Rahardi gagal menyajikan karya sastra—apa yang disebut Albert Camus—sebagai gambaran penderitaan dan kegembiraan dunia. Kedatangan Ola sebagai penyelamat di tengah sebuah situasi yang demikian krusial untuk seluruh proyek hidup Pedro terlalu bersifat kebetulan. Orang Jerman akan berkata: ”Es ist zu schön, um wahr zu sein”, ini terlalu indah untuk bisa menjadi kenyataan.

Budi Kleden Dosen Teologi dan Sastra pada STFK Ledalero, Flores


Rabu, 04 Maret 2009

GUGATAN DI ATAS SEBUAH KISAH

OlehMega Christina
Judul Buku : Lembata: Sebuah Novel Penulis : F Rahardi Penerbit : Lamalera Cetakan : Pertama, Juli 2008Tebal : 256 halaman.

Nama Lembata terkenal dengan budaya berburu ikan paus di Lamalera, desa pedalaman di pesisir selatan pulau di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Tradisi menangkap ikap paus menggunakan perahu dan alat tangkap tradisional ini telah menjadi objek wisata bahari sekaligus wisata budaya menarik yang mashyur di kalangan penggemar petualangan hingga ke mancanegara.

Setahun belakangan nama Lembata mencuat dengan adanya konflik pertambangan yang mendapat izin dari Bupati Lembata dengan rakyat yang menentang Kontrak Karya di atas lahan seluas 91.600 hektare, sementara luas seluruh pulau itu hanya 126.648 hektare. Namun, dalam novel yang ia akui sebagai novel pertamanya, Rahardi tidak banyak menyinggung konflik riuh-reda itu, kecuali di satu bagian Emas LSM-Saint-Etienne-de-Tinee. Rahardi lebih asyik menyajikan konflik lain, konflik batin seorang imam Katolik berbumbu romantika.

Awalnya Rahardi membawa pembaca ke sebuah perjalanan menyusuri Adonara, Solor, Gunung Ile Mandiri yang memagari Larantuka. Sayangnya, keindahan pulau-pulau eksotik di bagian timur ini tidak mendapat eksplorasi yang memadai, sebagai sebuah “pemanis” dalam novel. Padahal, sebelumnya Rahardi terkenal sebagai penyair dengan “sihir” kata-kata puitisnya. Namun, Rahardi membukanya dengan cantik melalui percakapan yang lebih mirip monolog tokoh utamanya, Luciola dan Pedro. Sayangnya bentuk dialog dan monolog kemudian nyaris tak dapat dibedakan, mungkin ini bagian dari keunikan awal sebuah novel Rahardi.

Singkat cerita bagian pertama yang bertajuk San Dominggo mengisahkan Luciola, gadis cantik mengantar teman kuliahnya, Romo Pedro, seorang pastor yang pulang menghadap pembesarnya, Uskup Larantuka.

Dikisahkan keduanya sarjana ekonomi yang baru lulus dari Universitas Atma Jaya, Jakarta.“Aku tahu bangunan paling baik di kota ini pasti rumah bupati dan juga rumah uskup. San Dominggo yang tadi kita lewati itukah rumah uskupmu?” (tanda petik dari peresensi).

Begitu Rahardi memulai gugatan halus lewat tokohnya. Setelah menunggu seminggu, Pedro ditugaskan di Lembata. Itu pun ia belum tahu ditempatkan di paroki (satuan setingkat kota, red) yang mana. Tiba di Lewoleba, kota pelabuhan Lembata, Pedro harus menghadap Pastor Dekenat, yang mengepalai 13 paroki di Lembata. Akhirnya ia ditugaskan sebagai pastor pembantu di Paroki Aliuroba ujung timur laut Lembata. Baru di sini Rahardi bermurah hati membagi pengetahuannya tentang misi pertama Gereja Katolik yang berkembang secara tak sengaja karena dua misionaris Eropa dari Solor terdampar di Lamalera. Terasa nuansa Katolik yang kental sebagaimana realitas masyarakat di sebagian besar NTT.

Meski Aliuroba desa terpencil dengan listrik dari genset PLN yang hanya hidup malam hari, Ola, Luciola masih juga mengikuti Pedro. Ola digambarkan sebagai gadis cantik berkulit putih, menawan, pintar dan kaya raya dengan ayah yang memiliki bisnis di Las Vegas, Monako dan berbagai belahan dunia lainnya. Sehingga Ola bisa meminta ayahnya memasang antena parabola untuk telepon satelit serta pembangkit listrik panel surya dan angin di Aliuroba.

Rahardi menggambarkan Pedro lulus dengan IP (indeks prestasi) 3,8. Ia merupakan lelaki gagah, tampan dan kulitnya tak sehitam orang-orang Larantuka pada umumnya, wajahnya tipikal para bintang sepakbola dari Italia, suaranya juga sangat bagus (halaman 29). Terasa tokoh-tokoh utama novel ini jadi seperti bukan manusia-manusia biasa. Bak kisah di negeri dongeng. Setelah sekian lama di Lembata, Ola merasa telah kehilangan harapan menakhlukkan Pedro. Maka ia menenangkan pikiran dengan memutuskan ke Eropa. Dari Lewoleba, Ola terbang ke Kupang, via Darwin ia terbang ke Milan dengan Singapore Airlines. Yang di setiap persinggahan selalu ada kaki-tangan ayahnya yang siap sedia memfasilitasi Ola.Terasa benar Ola bermegah-megah di Eropa, sementara Pedro bergulat dengan kemiskinan, yang digambarkan dengan kedatangan umat yang suami adiknya menikah lagi di Sabah, menjadi TKI di Malaysia. Dari sini Pedro dengan kritis bertanya pada koleganya, Pastor Alex, “… aku mau tanya, apa saja yang telah dikerjakan oleh gereja, hingga umat kita tetap miskin?”

Mulailah gugatan demi gugatan meluncur di atas kisah ini. Rahardi menulis, “Harga kopra hanya Rp 3.000 per kilogram. Tapi petani kelapa harus membeli minyak goreng dengan harga Rp 8.000 per setengah liter. Mereka makan hanya satu kali sehari dan gizi mereka juga sangat buruk.”Di Lavaux, sehari Ola menghabiskan seratus euro setara dengan Rp 1.300.000 (waktu Novel ini ditulis). “Umatku di Aliuroba, pendapatan rata-ratanya sebulan hanya sekitar Rp 300.000, seperempat dari pengeluaranmu sehari” (halaman 63). Puncaknya Pedro menggugat perjamuan dengan anggur dan hosti yang terbuat dari gandum yang harus diimpor. Lalu ia mengganti anggur dengan moke (tuak yang disuling lagi hingga mencapai kadar alkohol 60 persen) dan hosti diganti jagung titi. Bagai sebuah pemberontakan yang tak seimbang, Pedro terlempar ke luar gelanggang permainan dan bergulat melawan dirinya hingga sebuah akhir yang sulit ditebak. Sebagai sebuah bacaan yang relatif ringan, novel Rahardi ini cukup menghibur dan tak membuat dahi berkerut meski sebagian gugatan cukup kuat.

Sumber : Harian Sinar Harapan

Diposkan oleh John Mamun Sabaleku di 03:30

Label: Resensi


PEMENANG PENGHARGAAN KHATULISTIWA KRITIK KAPITALISME DI GEREJA

Rabu, 11 November 2009 | 18:45 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta -Pencipta novel Lembata, Floribertus Rahardi, yang meraih Penghargaan Literatur Khatulistiwa atau <i>Khatulistiwa Literary Award</i> ke-9 untuk kategori prosa terbaik mengritik gereja yang jadi bagian kapitalisme modern.

Dalam novel Lembata tersebut, menurut Rahardi, gereja membentuk orang untuk mendukung misi gereja itu sendiri. Ia melihat, meski telah mendidik para petani dan peternak, gereja malah menjadi otosentris. “Tetap saja orang itu dibentuk untuk mendukung gereja,” jelas Rahardi, Selasa (10/11) malam.

Menurut Ketua Tim Juri Penghargaan Robertus Robet, kritik dalam karya Rahadi tersebut terbangun secara alami. Rahardi, kata Robet, bisa membangun hubungan antar tokoh dengan kejadian kritik yang dibangun secara alami.

Karyanya mengarah ke pembangunan nilai-nilai universalitas, sehingga kritik tersebut dapat diapresiasi. “Itu yang diapresiasi lebih oleh tim juri,” ujar Robet disela acara.

Menurut Robertus, menilai karya sastra itu bukan perkara mudah. Cara terbaik memutuskannya adalah memperdebatkan secara serius sebuah karya sastra dari sudut pandang subjektivitas masing-masing juri. “Tim juri tidak mengenal standar baku sastra, karena yang ada adalah perdebatan tentang sastra,” Robertus menjelaskan.

Menanggapi karya Rahardi, Robet melihat bagaimanapun itu, sastra mempertimbangkan aspek ke arah universalitas. Di samping dilihat dari sumbangannya terhadap kebaruan kondisi kemanusiaan.

Selebihnya tim juri menggali mengenai kesetiaan si penulis untuk memperjuangkan imajinasinya sendiri. “Juri melihat sejauh mana militansi si penulis membangun ide dan imajinasinya dalam bahasa,” kata Robet.

HERU TRIYONO
 

UJUNG LEMBATA MASIH DI MATA


:: F. Rahardi

Ujung Lembata masih di mata
ketika kau ajak aku menyeberang pulau bernusa
Bahkan pun bau tanah Lewoleba
masih tersangkut dalam bulu hidung
yang tegak berdiri pada kedua lubang buatan-Nya

Ujung Lembata masih di mata
ketika gegar Gunung Kemukus kau hadirkan
secara tegak berdiri menutup sapuan pandang
kedua mata hasil ciptaan-Nya

Aku bahkan merasa bau badan Ola sang Luciola
masih menempel lekat pada seringai tubuh hitamku
Sebagaimana sosok Romo Pedro
yang demikian kuat beriman
dalam godaan kasih asih yang menggelora

Sekuat ingat juga pada asap ikan bakarmu yang membubung
setelah menyapa Solor, Adonara dan Ile Mandiri-mu

Terkesiap aku malam ini manakala
Romo Drajad menjemputku
juga Romo Islam yang Romo Jowo itu

Tak ada selubung keinginan mereka yang lain kecuali
sekedar untuk menggugatku
sehanya mempertanyakanku
karena aku telah menjadi Badrun
dalam kisahmu

Jakarta, 301108


Salam,

Fajar S Pramono

Catatan :
Sebuah apresiasi untuk wawasan pandang baru dari seorang F. Rahardi.
Agustus lalu, saya “diajak” beliau melihat Lembata di Nusa Tenggara Timur, melalui kisahnya dalam novel Lembata (Lamalera, Juli 2008). Kini, saya sudah “bersama” beliau di Gunung Kemukus Jawa Tengah, membacakan halaman demi halaman dalam novel Ritual Gunung Kemukus (Lamalera, November 2008). Sebuah kinerja sastra riset sekaligus sastra historis yang luar biasa menurut saya.
Selamat, Bung! Saya tunggu Para Calon Presiden-mu!

Ilustrasi : Sebuah pemandangan salah satu gunung volcano di Lembata. Diambil dari image53.webshots.com.


SIBUK DENGAN RITUAL Nov 12, ’08 11:56 PM
for everyone

“Novel ini ingin menggugat institusi Gereja yang seringkali terlalu fokus pada upacara ke­agamaan. Sibuk dengan ritual dan doa-doa sehingga terkadang kurang peka terhadap per­soalan kemiskinan masyarakat.”

PERNYATAAN tersèbut di­ungkapkan novelis Ayu Uta­mi dalam acara Peluncuran dan Bedah Buku “Lembata, Sebuah Novel” karya F. Rahardi dengan tema “Sastra Menggugat – Anta­ra Gairah dan Impotensi Sosial” di Gramedia Plaza Semanggi, Semanggi, Jakarta Selatan, Minggu, 26/10. Acara ini di­adakan Penerbit Lamalera be­kerja sama dengan PT Buku Ki­ta dan Gramedia.

Ayu mengatakan, “Buku mi mengungkapkan berbagal kriti­kan terhadap Gereja. Salah satu­nya, mengapa Gereja Katolik dalam masyarakat yang miskin di salah satu pulau kecil Indone­sia harus menggunakan produk impor berupa roti dan anggur dalam Ekaristi, mengapa tidak menggunakan produk lokal Se­perti jagung dan minuman khas daerah itu?”

Sementara Rahardi memberi­kan alasan tentang tema novel tersebut. “Mengapa diberi judul demikian? Karena saya ingin menuliskan kisah yang bertema agama. Saya juga melihat ke­nyataan bahwa di Lembata yang  masyarakatnya sangat kental beragama Katolik, penduduknya miskin. Padahal. tanahnya su­bur. Pasti ada sesuatu di balik itu,” ungkapnya. Akhirnya, ia merasa tertantang menuliskan realita itu dalam novel.

Selain itu, Rahardi ingin me­ngenang seorang pastor yang pernah memperjuangkan nasib rakyat miskin. Namun, karena berbagal benturan, ia mengun­durkan din dan karyanya dan meninggal di Jakarta dalam ke­adaan kurang menyenangkan. Ia tidak tega melihatnya dan ber­usaha agar gagasan yang telah diperjuangkan pastor tersebut ti­dak putus di tengah jalan.

Panjikristo/ HIDUP No 46 – 16 November 2008/ hlm 13


Friday, November 13, 2009

KHATULISTIWA UNTUK RAHARDI DAN SINDU

Jakarta, Kompas – Sastrawan F Rahardi memperoleh penghargaan Anugerah Sastra Khatulistiwa tahun 2009 untuk kategori prosa terbaik lewat novelnya Lembata. Untuk kategori puisi, penghargaan ini diberikan kepada Sindu Putra atas karyanya Dongeng Anjing Api. Setiap penerima penghargaan memperoleh hadiah Rp 100 juta.

Penghargaan juga didapat Ria N Badaria dengan karya Fortunata untuk kategori penulis muda berbakat di bawah usia 30 tahun dengan hadiah Rp 25 juta. Kemudian Hadiah Khusus Metropoli D’Asia Khatulistiwa jatuh kepada Sihar Ramses Simatupang dengan karya Bulan Lebam di Tepian Toba. Selain karyanya diterjemahkan dan diterbitkan di Italia, Sihar juga menerima hadiah 3.000 euro.

Malam Anugerah Sastra Khatulistiwa diumumkan di atrium Plaza Senayan, Jakarta Selatan, Selasa (10/11) malam. Penjurian dilakukan oleh tim dengan ketua juri Robertus Robet. Para pemenang ketiga kategori itu terpilih di antara lima finalis.

Untuk kategori prosa, misalnya, ada lima finalis, yaitu Tanah Tabu (Anindita S Thayf), Lacrimosa (Dinar Rahayu), Lembata (F Rahardi), Sutasoma (Cok Sawitri), dan Meredam Dendam” (Gerson Poyk). Finalis kategori puisi terdiri dari Perahu Berlayar sampai Bintang (Cecep Syamsul Hari), Puan Kecubung (Jimmy Maruli Alfian), Partitur, Sketsa, Potret, dan Prosa (Wendoko), Kolam (Sapardi Djoko Damono), dan Dongeng Anjing Api (Sindu Putra).

Dalam katalog penghargaan, Robertus mencatat, penjurian dilakukan tim yang beranggotakan banyak orang dengan latar belakang beragam: pengarang, psikolog, sejarawan, sosiolog, pengajar filsafat, dan pekerja media. Tim ini tak berniat menasbihkan pengarang-pengarang hebat dalam sastra Indonesia, tetapi mengungkapkan pandangan kebenaran subyektif karya sastra.

Penggagas dan penyelenggara Anugerah Sastra Khatulistiwa, Richard Oh, mengatakan, anugerah tahunan itu diberikan untuk menghargai pencapaian penulis sastra di Indonesia sekaligus mendorong para penggiat sastra mengembangkan kerja kreatifnya. Dana hadiah diperoleh dari sejumlah sponsor.

Anugerah Sastra Khatulistiwa ajek memberikan penghargaan sastra setiap tahun sejak 2001. Penghargaan tahun ini merupakan yang kesembilan. Selain pemenang utama, biasanya para finalis di kategori prosa dan puisi juga memperoleh hadiah.(IAM)

Sumber: Kompas, Jumat, 13 November 2009

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

ULASAN KEMUKUS

25/09/2010 at 19:23 (novel)

CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
Ritual Gunung Kemukus
Stanley Adi Prasetyo – Jakarta

*) Antara Harapan, Kemiskinan, dan Eksploitasi

Adakah hal seaneh seperti yang terjadi setiap Kamis Pahing malam Jumat Pon di Gunung Kemukus? Di kawasan bukit yang terletak di Sragen, Jawa Tengah, ini ada ratusan bahkan ribuan orang mencari keberuntungan dengan cara aneh, yaitu berhubungan seks dengan orang yang bukan pasangannya secara sukarela. Suasana di kawasan ini pada saat-saat itu lebih mirip pasar malam. Kawasan yang pada hari-hari biasa umumnya temaram tiba-tiba menjadi benderang. Ada banyak warung jajanan, ada penjual pernik-pernik, penjual rokok dan kacang rebus hingga orang yang menyewakan bilik atau tikar secara jam-jaman untuk kepentingan short time.

Awalnya legenda

Apa hubungan antara keberuntungan dan syahwat? Awalnya adalah sebuah legenda tentang Oedipus Jawa pada zaman keruntuhan Majapahit akibat menguatnya kerajaan Islam di Jawa Tengah. Ia seorang pemuda ganteng bernama Pangeran Samodro, putra Raja Brawijaya, penguasa Majapahit. Ia terlibat dalam cinta terlarang dengan ibu tirinya yang juga selir Brawijaya, Nyai Ontrowulan. Meski sudah agak tua, Nyai Ontrowulan masih terlihat sangat menawan. Mereka berdua memutuskan untuk pergi ke Demak Bintoro guna menikah. Namun, sesampai di tempat tujuan ada banyak duda kaya dan prajurit Demak yang jatuh hati kepada Nyai Ontrowulan. Mereka berupaya menggagalkan pernikahan keduanya. Pangeran Samodro dan ibu tiri beserta para pengawalnya lantas memutuskan untuk lari ke selatan. Saat berada di Gunung Kemukus, Pangeran Samodro dan Nyai Ontrowulan tak bisa lagi menahan hasrat seksual mereka. Di bawah pohon nagasari, mereka melakukan hubungan seks layaknya suami-istri.

Dasar sial, pasukan Demak Bintoro berhasil menyusul. Keduanya dibunuh pada saat sedang berhubungan seks belum sampai pada puncaknya. Si pangeran dan ibu tirinya lantas dikubur dalam satu lubang. Konon, dalam lubang tempat terbunuhnya mereka itulah muncul sebuah sumber air jernih yang kini disebut sebagai Sendang Ontrowulan. Air sendang ini dipercaya memiliki multikhasiat dan bisa bikin orang awet muda. Dalam legenda juga dikisahkan munculnya asap, disusul suara di atas makam Samodro dan Ontrowulan yang baru dikuburkan, ”Wahai manusia, barang siapa mau datang ke tempat ini dan bisa menyelesaikan hubungan seks layaknya suami-istri kami yang belum selesai ini tujuh kali, maka segala permintaan kalian akan dikabulkan oleh Dewa Bathara yang Maha Agung.”

Novel ini mengambil Gunung Kemukus sebagai setting cerita. Ada banyak tokoh dalam cerita ini. Ada Meilan, seorang wartawan keturunan China yang menggerutu saat mendapat penugasan untuk meliput Gunung Kemukus. Ada Sarmin, si pedagang bakso yang kalah wibawa dengan istrinya yang bermimpi kehidupannya bisa kembali seperti zaman sebelum ia nikah dan jualan baksonya kembali laris manis. Ada Badrun, juragan tembakau; ada Romo Drajad, seorang hombreng yang punya pengaruh kuat dan berpendapat bahwa fenomena Kemukus adalah sebuah revolusi kultural.

Ada juga tokoh Wati, istri Sarmin, yang terobsesi bisa kawin dengan si pak guru, Mas Bagus. Ada perempuan kelas menengah paruh baya Sri Wahyuni alias Yuyun yang mengikuti dorongan suaminya untuk ngalap berkah ke Kemukus. Ada Parti, seorang perempuan pelacur yang siap memangsa siapa saja lelaki yang baru pertama kali mencoba datang ngalap berkah.

Ada beberapa karakter tokoh antagonis yang kuat dalam novel ini, tetapi karakter yang paling kuat ada pada diri Wati. Istri Sarmin ini digambarkan sebagai perempuan yang menilai suaminya sebagai lembek, goblok, tak pandai menipu dalam menjalankan dagangan baksonya. Ia terpaksa menikah dengan Sarmin hanya lantaran niatnya untuk menjebak Mas Bagus dengan mengajaknya berhubungan seks dan kemudian mengaku hamil ketahuan oleh orangtuanya. Ia selalu ragu-ragu antara ingin bercerai dan rasa takut bercerai dalam keadaan miskin.

Cara bertutur dalam novel ini betul-betul lancar. Gaya bahasa juga mengalir. Pada beberapa bagian, di mana si tokoh menjadi orang pertama, seperti halnya saat tokoh Wati ngedumel pada dirinya sendiri (hal 51-60), kita sepertinya diingatkan pada gaya Linus G Suryadi dalam Pengakuan Pariyem. Bedanya, Pariyem adalah seorang perempuan yang pasrah, nrimo, dan menikmati sekaligus memuja Den Bagus-nya. Kalau Wati adalah perempuan yang terobsesi bisa menikah dengan Mas Bagus, tetapi tak pernah kesampaian.

Pengetahuan pengarang yang lengkap mengenai sejumlah permasalahan sosial ikut membungkus buku ini dengan berbagai informasi, antara lain mengenai kehidupan warok dan per-gemblak-annya di Ponorogo dan mengenai penyair Wiji Thukul dan Romo Mangunwijaya. Juga cerita tentang hiruk-pikuk pembangunan Waduk Kedung Ombo. Keberpihakan pengarang pada wong cilik tampak jelas dalam novel itu. Demikian pula dengan pemberontakan terhadap kemapanan, yang tampaknya ditampilkan pengarang melalui tokoh Romo Drajad (hal 124-129).

Gambaran irasionalitas bangsa

Apa kaitan ritual Kemukus dengan kehidupan sehari-hari kita? Barangkali setelah membaca novel ini, kita memang perlu mencari jawabannya. Apalagi, cerita tentang pasangan Samodro dan Ontrowulan di Gunung Kemukus itu terjadi pada abad XIV. Artinya, umur legenda kini mencapai lebih dari 600 tahun.

Namun, fenomena Gunung Kemukus kalau kita lihat bukannya kian menyurut. Bahkan, pada malam 1 Suro 2007 jumlah orang yang datang ke Gunung Kemukus dilaporkan mencapai angka 10.000 orang. Pada malam 1 Suro 28 Desember 2008, angka ini dilaporkan jauh membengkak.

Di Kemukus upaya pencarian berkah, tirakat, penyucian diri perselingkuhan, pembersihan diri, kepuasan seksual, dan prostitusi telah campur aduk dengan kepentingan bisnis. Mulai dari bisnis ritual, bisnis esek-esek, hingga bisnis wisata yang mendatangkan masukan bagi kas pemerintah daerah.

Sebagai gambaran, setiap pengunjung Gunung Kemukus dikenai biaya retribusi sebesar Rp 4.000. Itu belum termasuk tarif parkir untuk kendaraan. Artinya, pada saat malam 1 Suro, di mana dilakukan acara membuka kelambu makam Pangeran Samodro, Pemerintah Kabupaten Sragen minimal akan mengantongi pemasukan pendapatan asli daerah sebesar 10.000 x Rp 4.000 atau sebesar Rp 40 juta. Itu hanya semalam.

Di Indonesia, fenomena orang mencari peruntungan juga bukan monopoli masyarakat kecil yang miskin dan nyaris putus asa. Fenomena Kemukus adalah bagian dari irasionalitas bangsa Indonesia yang sebagian masih meyakini bahwa ”laku” dan ”teknik menjalani kehidupan” jauh lebih penting daripada ilmu pengetahuan, manajemen, dan membangun sistem sosial yang lebih adil.

Pada faktanya kita masih kerap menjumpai ada banyak pejabat yang melakukan tetirah ke makam, pergi konsultasi atau mencari jimat ke dukun untuk mendapatkan atau mempertahankan kedudukan.

Untuk kalangan masyarakat bawah, ritual semacam Kemukus merupakan sarana hiburan sekaligus gambaran dari sebuah budaya perlawanan. Melalui ritual inilah nilai kebebasan untuk menikmati seks juga bisa mereka kecap, bukan hanya hak kaum laki-laki bangsawan saja.

Di Kemukus ini pula sebetulnya kaum perempuan bisa menemukan aktualisasi nilai-nilai jender di mana perempuan punya hak yang sama dengan lelaki, terutama untuk mendapatkan ”pasangan tidur” yang diminati.

— Stanley Adi Prasetyo Anggota Komisioner Komnas HAM, Pemerhati Masalah Sosial Kemasyarakatan dan Penikmat Sastra



Ritual Gunung Kemukus
Published Wednesday, May 13, 2009
Fisafat , Sastra , anthropology , wisata 8 Comments
Novel “Ritual Gunung Kemukus,” kental dengan bau seks. Tapi kesan yang tertangkap tidaklah sevulgar buku Moamar Emka, “Jakarta Under Cover.” Buku terakhir ini lebih banyak mengeksploitasi seks sebagai bacaan dangkal, hanya mengumbar syahwat semata. Buku pertama mengupasnya dari tinjauan antropologis. Ditulis dengan gaya dialog, dikupas habis dengan sudut pandang wartawan. Kebetulan penulis novel ini memang wartawan yang penyair, F. Rahardi. Cover novel digarap oleh Si Ong, menambah kesan mistis dan sunyi.

Novel ini mampu menghadirkan sisi unik dari ritual orang Jawa mencari srono untuk kaya, dengan ziarah di makam Pangeran Samodra dan Nyai Ontrowulan di Gunung Kemukus. Ritual diakhiri dengan berhubungan seks di tempat terbuka dengan pasangan yang didapat di tempat tersebut. Dan itu harus dilakukan selama 7 kali setiap malam Jumat Pon. Untuk menggenapi 7 kali ritual itu diperlukan waktu hampir 8 bulan. Dalam kalender Jawa perputaran bulan terjadi setiap 35 hari. Di mana jumlah hari kalender Masehi yang tujuh hari itu, bertemu dengan jumlah hari Jawa yang hanya terdiri dari lima hari: legi, pahing, pon, wage, kliwon.

Membaca novel ini, serasa menambah miris tentang perilaku masyarakat Jawa yang kebingungan mencari pegangan atas segala derita kemiskinan yang mendera, serta keingingan untuk kaya secara instan. Ritual di atas Gunung Kemukus, seakan menggenapi kebingungan atas praktik keagamaan yang diyakini. Di atas makam Pangeran Samodra dan Nyai Ontrowulan, orang sibuk membawa sesaji kembang tujuh rupa, tapi tetap berdoa, berdzikir, bahkan sholat, dan ditutup dengan berhubungan seksual dengan pasangan lawan jenis yang didapat di sana. Lebih kacau lagi, Pemda Sragen menulis legenda tentang Pangeran Samodra sebagai pembawa syiar Islam. Tapi kok mempraktekan perbuatan mesum? Padahal legenda yang berkembang di masyarakat meyakini bahwa Pangeran Samodra dan Nyai Ontrowulan adalah pasangan antara ibu tiri dengan anak tiri Brawijaya VI yang menjalin asmara, melakukan hubungan intim di atas bukit itu, dan dibunuh sebelum selesai melampiaskan hasrat seksual. Keduanya dikubur dalam satu lihat lahat. Dari lobang kubur lalu keluar asap, kukus, dan terdengar kutukan, “barang siapa mampu menyelesaikan hubungan intim di sini, akan terkabul keinginannya.” Entah siapa yang memulai menebarkan legenda itu, nyatanya, kini ritual Gunung Kemukus telah menjadi bisnis seks yang mendatangkan pendapatan baik bagi Pemda maupun masyarakat sekitar.

Cerita dalam novel mengalir dengan gaya dialog apa adanya, dengan beberapa istilah Jawa yang kental. Cerita dibuka dengan ditugaskanya, Meilan, wartawai majalah Fidela, untuk membuat tulisan berseri seputar praktik ritual. Dari sana mengalirlah cerita potret para pelaku ritual, dari penuturan tokoh utama, Mas Sarmin. Dari mulut Sarminlah, mengalir muncul tokoh-tokoh lain: Wati, istrinya yang selalu mengomel karena capek hidup miskin dan meminta Sarmin untuk pergi ke Gunung Kemukus. Sarmin kemudian ketemu Bu Yuyun, pasangan ritualnya, pedangan beras dari Ponorogo. Bu Yuyun adalah wanita cantik, berkulit putih, kaya, dan Sarmin tak pernah menyangka bakal mendapat pasangan seperti itu.

Ada juga tokoh Romo Drajad yang eksentrik, yang menyatakan bahwa ritual Gunung Kemukus justru mengakui eksistensi perempuan untuk punya hak dalam menentukan pasangan seksual. Selama ini, privilege itu hanya dimiliki kaum priyayi, laki-laki, dan kaya. Wanita hanya menerima nasib, tapi tidak di Gunung Kemukus.

Cerita Sarmin mengalir deras, disampaikan di atas gerbong kereta Argo Lawu jurusan Solo Balapan – Gambir, kepada Meilan yang mengoreknya sebagai imbalan telah menyelamatkan Sarmin karena uangnya telah ludes menunggu Ibu Yuyun di Gunung Kemukus yang tak kunjung datang. Padahal itu adalah kunjungan ketujuh, atau kunjungan terakhir untuk menggenapi ritual itu. Artinya Sarmin telah gagal menjalani ritual itu, dan harus mengulanya dari awal lagi sebanyak tujuh kali dengan pasangan yang berbeda. Maukah Sarmin mengulangi kebodohannya? Adakah pelajaran yang ia peroleh dari hasil mencari srono itu?

— Review oleh Hartono —

nug Thursday, May 14, 2009 at 9:25 pm ..
selintas gaya penuturannya mengingatkan dengan Roman “Sang Priyayi” nya Umar Kayam. Aneh juga kalau di akhir cerita (meski ritual ngga selesai) baik karmin dan bu yuyun pada akhirnya justru merasa bahwa hubungan dengan pasangannya masing2 (suami & istri) menjadi lebih baik, sepertinya itu neh pelajarannya — atau justru sindiran karena banyak dari kita yg cenderung mengejar harta padahal ada “harta” lain yg lebih bernilai ..keluarga..?

Reply 2 kanjeng dipo Wednesday, May 27, 2009 at 6:44 pm
Gunung Kemukus. orang hanya akan tertarik atau malah mecaci perilaku nyleneh seks bebas yang dibungks ritual. tapi kalau kita memahami sejarah kita akan tahu kalau sebenarnya apa yang mereka lakukan sudah ada sejak jaman Singosari. Raja Kertanegara setiap tahun konon melakukan ritual semacam itu. juga Caligula kaisar Roma melakukan ritual pesta seks untuk melanggengkan kekuasaanya.

Reply 3 tribuana murti Monday, July 13, 2009 at 10:44 am
siap membantu memandu ke kemukus

Reply 4 ciyu♥pyon Monday, July 13, 2009 at 1:24 pm
waks tmpat setan cmua ttu… ko gug dtu2p ea, hran dech!!! punya banyak sjrah, bdya, ma bragam cara Ritual heuh


Novel “Ritual Gunung Kemukus”
Tradisi Melawan Ketidakadilan

Oleh Dwin GideonJakarta – Di balik kisah peziarah yang memercayai bahwa Gunung Kemukus adalah tempat ritual seks demi kekayaan, F Rahardi dalam novelnya, melihat sisi lainnya, yaitu protes peziarah yang umumnya pekerja keras. Menggugat ketidakadilan di negeri ini, berontak dari “takdir” kemiskinan.

Ritual seks di Gunung Kemukus diangkat penulis F Rahardi dalam novel berjudul Ritual Gunung Kemukus: Sebuah Novel. Kisahnya dimulai dari kemunculan Meilan yang berprofesi sebagai wartawati majalah Fidela di Jakarta.

Dia meliput Gunung Kemukus, meskipun dia biasanya meliput kegiatan fashion di luar negeri. Tentu saja, Meilan kaget dengan tugas tersebut, karena selain tak mengetahui masalah yang diistilahkannya sebagai perklenikan, dia juga tak memahami budaya di Gunung Kemukus. Namun, justru latar belakang wartawan seperti inilah yang diinginkan pemimpin redaksinya untuk dia menulis masalah tersebut.

Meilan mewawancarai banyak pihak untuk tulisannya, mulai dari peziarah, museum Radya Pustaka, ahli antropologi di UNS, hingga Romo Drajat, tokoh spiritual kejawen yang banyak tahu tentang Gunung Kemukus. Namun, dia merasa belum memperoleh liputan seimbang, sebab belum bertemu peziarah yang gagal.

Singkat cerita, Meilan bertemu peziarah yang gagal berkencan dengan pasangannya. Namanya Sarmin, pedagang bakso keliling asal Gunung Kidul, Yogyakarta, yang mengadu nasib di Jakarta. Sarmin kehabisan uang pada kedatangannya yang terakhir di Gunung Kemukus. Oleh Meilan, dia diajak pulang ke Jakarta dengan Kereta Api Argo Lawu. Di sepanjang perjalanan dalam kereta api inilah Sarmin diwawancarai Meilan mengenai praktik penziarahannya.

Secara keseluruhan, novel ini hendak menggambarkan ritual penziarahan yang mayoritas diikuti kelompok masyarakat marginal dan miskin sebagai gugatan ketidakadilan. “Yang menjadi pokok soal bukan upaya mencari kekayaan melalui cara yang kontroversial, melainkan telah terjadi ketidakadilan distribusi pendapatan,” kata F Rahardi dalam diskusi novel yang diselenggarakan di Toko Buku Gramedia Matraman, Jakarta, Sabtu (29/11).

Rahardi menilai ketidakadilan ini dapat dilihat pada keadaan masyarakat pekerja berat yang justru memperoleh pendapatan paling kecil, sementara bangsawan yang tinggal di sekitar kekuasaan bisa memperoleh pendapatan melimpah tanpa bekerja keras. Maka, fenomena di Gunung Kemukus pun bukan sekadar dimaknai ritual seks untuk mencari kekayaan, namun juga simbol perlawanan rakyat kecil yang termarginalkan. “Legenda” Kemukus Gunung Kemukus adalah lokasi penziarahan di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.

Yang disebut gunung itu sebenarnya hanyalah gundukan kecil bernama Kemukus. Letaknya di sisi barat jalan raya Surakarta Purwodadi, di tepi Waduk Kedungombo. Para peziarah memercayai Gunung Kemukus sebagai tempat keramat berdasarkan legenda yang berkembang secara lisan.

Tersebutlah Pangeran Samodro dan Nyai Ontrowulan, yang merupakan anak dan selir Prabu Hudhara (Brawijaya VII, 1498-1518), raja terakhir Majapahit. Setelah runtuhnya Majapahit, keduanya berpindah ke Demak Bintoro di Jawa Tengah. Anak dan ibu tiri dari Majapahit ini lalu terlibat skandal asmara, terusir dari Demak, dan pihak yang tidak menyukainya terus mengejar pasangan ini.

Di Gunung Kemukus, Pangeran Samodro dan Nyai Ontrowulan terkejar, dibunuh, lalu dimakamkan di satu liang lahat. Menurut legenda, ketika pasukan pengejar datang, mereka berdua sedang melakukan hubungan seks di alam terbuka. Karena itu, setelah tewasnya pasangan ini, beredar kabar, “Barang siapa bisa melanjutkan hubungan seks yang terputus ini, segala keinginannya akan terkabul!”

Dari legenda ini, Gunung Kemukus berkembang menjadi lokasi penziarahan kontroversial, karena adanya ritual seks sebagai upaya meraih sukses untuk mencari kekayaan. Apabila ritual delapan bulan ini terlaksana dengan baik, si peziarah akan bisa meraih kekayaan materi. Karenanya, mereka yang datang ke Gunung Kemukus umumnya pedagang dan pengusaha kecil.

Copyright © Sinar Harapan 2008


Ritual Gunung Kemukus” di Gramedia Matraman
Mitos sepertinya menjadi satu sisi yang mengiringi realitas kehidupan masyarakat kita, entah dipercayai ataupun cukup berhenti pada posisi mitos belaka. Sabtu kemarin sempet mengikuti Bedah Buku sebuah Novel berlatar Mitos (atau kenyataan sejarah?) dari penerbit medioker berjudul “Ritual Gunung Kemukus’ di Fuction Hall Gramedia Matraman lantai 2 Jakarta pusat. Dengan pembicara : Ahmad Sobary, Happy Salma dan F. Rahardi sebagai penulis, diskusi lumayan menarik diikuti. Tentu saja bercerita tentang mitos yang berkembang seputaran tempat wisata di sekitaran kampung halamanku di Sragen.

Ritual “srono” atau upaya meminta peningkatan kesejahteraan (kekayaan) dalam usaha mereka di Tempat Wisata Gunung kemukus ini sangat menarik diceritakan. Cerita tentang Pangeran (tokoh yang diziarahi) sendiri memang banyak sekali versi yang berkembang di masyarakat. Cerita tentang Pangeran Samudra yang berkembang di masyarakat sendiri kurang lebih begini:

Pangeran Samudra sebagai anak Girindrawardhana atau Raja Brawijaya VI, dan Nyai Ontrowulan sebagai salah satu selir sang raja saling jatuh cinta. Sedangkan Prabu Brawijaya sendiri telah Moksa seiring dengan bubarnya majapahit. Mereke ke Demak untuk menikah, tetapi karena kecantikan Nyai ontrowulan, banyak petinggi Demak yang Jatuh cinta padanya dan mengejar-ngejar dia dan menggagalkan pernikahan mereka. Mereka lari ke selatan untuk menyelamatkan diri.

Di sebuah daerah hasrat keduanya tidak bisa ditahan lagi, sehingga mereka melakukanya di alam terbuka. Ketika itulah pasukan demak datang dan hubungan mereka terhenti. dan mereka dibunuh. Mereka dikubur dalam lubang yang sama. Tempat mereka Terbunuh mengalir air yang jernih dan dinamai Sendang Ontrowulan. Dan Di makam mereka ada kukus (asap) dan adaa suara menggelegar; “wahai Manusia, barangsiapa mau datang ke tempat ini dan bisa menyelesaikan hubungan suami istri kami yang belum selesai, sebanyak tujuh kali, maka segala permintaan kalian, akan dikabulkan oleh Dewa Bathara yang Maha Agung.

Berbeda dengan versi yang berkembang di masyarakat, Pemerintah lewat Pemda Sragen mengubah cerita dengan tujuan memperbaiki citra kawasan wisata; Cerita yang berkisah tentang seorang tokoh penyebar agama Islam di sekitar daerah bukit ini (kelak dinamakan Kemukus). Pangeran Samudra meninggal dalam dakwah kemudian dikubur di atas bukit di bawah pohon nagasari. Ibu tiri pangeran yang bernama Nyai Ontrowulan sangat bersedih atas kematianya sehingga menyusul ke daerah ini hingga meninggal. Nyai Ontrowulan dikubur di sebelah kuburan anak tirinya ini.

Sebagaimana di Novel ini, aku juga tak tahu pasti alasan pemerintah punya versi lain dengan versi berkembang turun-temurun di masyarakat. Sudut pandang Pemerintah daerah jelas sangat ambigu sebagai upaya membersihkan kesan negatif tempat ini dengan tujuan pragmatis, meningkatkan jumlah pengunjung dan pemasukan PAD. Sejak kapan cerita ini diyakini oleh masyarakat dan Sejak kapan pastinya tradisi ziarah dan wisata ini berlangsung, aku kurang bisa memastikan. Sejak aku kecil dan masih hidup di sekitar Gunung Kemukus sampai proyek Waduk Kedung Ombo yang memisahkan area ini dengan kampungku sekarang. Mungkin bagi yang belum mendengar tentang tempat ini pasti tidak percaya masih ada kepercayaan di masyarakat tentang ritual “berbau prostitusi” ini. Memohon diberi kemudahan dalam berusaha di Gunung Kemukus melalui perantara Pangeran Samudro da Nyai Ontrowulan secara nalar ketauhidan (sudut pandang agama) jelas sebuah kesyirikan tingkat tinggi.

Mitos tujuh kali melakukan hubungan suami istri dengan pasangan yang sama namun bukan dengan istri atau suami kita sepertinya kok memang sebuah pemikiran “yang tak masuk akal. Tetapi terlepas dari semua itu, inilah kenyataan dan ironi di masyarakat kita. Wujud perlawanan ketidakadilan? Satu bagian di Novel “Ritual Gunung Kemukus’ juga menyitir tentang adanya bentuk perlawanan dari ketidakadilan yang dialami masyarakat miskin.

Dalam novel yang diwakili oleh tokoh Sarmin seorang Penjual Bakso yang terlilit beban ekonomi. Atas desakan istri juga dia menjalani “srono” ini untuk meminta usahanya laris. Pada akhirnya tokoh ini tersadar dengan sebuah realitas manusiawi usaha yang berhasil harus dengan jalan dan usaha yang benar, bukan dengan tujuh kali ke Gunung Kemukus menjalani “ritual melenceng” dengan istri orang lain. Tokoh ini digambarkan berjuang untuk keluar dari ketidakadilan.

Jika seorang penguasa dengan bebasnya melalukan segalanya tanpa rasa bersalah, tak ada yang salah dengan usahanya demi eksistensi hidup anak istrinya. Sampai pada titik ini aku kurang sepakat dengan alasan perlawanan ketidakadilan. Ketidakadilan bisa jadi tantangan kehidupan untuk kita belajar menuju keadilan. Meskipun begitu kita tak sepenuhnya bisa menghakimi orang yang percaya akan ritual mencari pesugihan ini.

Pemaksaan kebenaran kepada sesama adalah wujud ketidakdilan juga kata M. Sobary menanggapi hal ini. Yang menjadi kunci adalah kepercayaan di dalam diri kita masing-masing. Kita harus menanamkan fundamentalisme ketauhidan dalam diri kita sendiri. Kepercayaan spiritual seseorang datang dari proses yang tak akan bisa dipahami orang lain. Melakukan ritual ini di Gunung kemukus adalah untuk yang percaya dan kita tak bisa memaksa untuk tidak percaya.

Bedah Buku dan launching Buku ” Ritual Gunung Kemukus” di Gramedia Matraman sabtu kemarin sepertinya memberikan satu kenyataan yang sebelumnya jauh dari sudut pandang kita.

Labels: Budaya, Review


Ritual Seks di Gunung Kemukus Dalam Cerita
Selasa, 25-11-2008 12:17:59
oleh: Panjikristo
Kanal: Gaya Hidup“Kalau kamu mau sukses dan kaya secara instan, datanglah ke Gunung Kemukus. Kalau kamu ke Gunung Kawi, salah satu anak, keponakan, cucu, atau cucu keponakan, akan terlahir idiot. Kalau kamu memelihara tuyul, dan tuyul itu tertangkap, lalu salah satu tangannya dipaku, maka tanganmulah yang akan luka ditembus paku.

Kalau kamu datang ke Jimbung, dan memelihara bulus, maka kulitmu akan belang-belang putih yang terus meluas. Ketika belang itu menyatu, maka kamu akan mati dan menjadi bulus. Kalau kamu jadi babi ngepet, dan tertangkap, akan langsung dibunuh orang.

Paling aman memang ke Kemukus. Tidak ada resiko, tidak ada tumbal… Demikian sebuah nasihat orang tua kepada seseorang yang ingin sukses tanpa resiko, bahkan bisa dibilang mudah dan nikmat. Lho koq nikmat? Ya, karena kita hanya diminta berziarah ke makam pangeran Samudro dan mandi di sendang Ontrowulan, lalu melakukan hubungan seks dengan seorang yang bukan muhrimmu di alam terbuka. Baik laki-laki maupun perempuan. Dan hanya diperlukan 7 kali kehadiran di sana. Tidak percaya? Buktikan saja.

Kemukus di sini adalah bukan sejenis nama tumbuh-tumbuhan atau sebutan untuk sebuah komet yang kerap kali disebut bintang kemukus, tapi nama sebuah gunung – sebenarnya hanya sebuah gundukan tanah – yang bernama Kemukus, yang selalu penuh sesak didatangi oleh orang yang datang ke sana untuk melakukan suatu ritual dalam upaya mencari kekayaan. Ada dua alasan mereka ke sana, Yang pertama tentu tentu saja tak lepas dari rezeki. Sedang yang kedua, nah ini yang menarik, karena berkaitan erat dengan birahi. Sehingga seringkali Gunung Kemukus pun dicap masyarakat luas sebagai tempat peziarahan paling mesum di Indonesia.

Gunung Kemukus seringkali disebut sebagai kawasan wisata seks karena di situlah orang bisa sesuka hati mengkonsumsi seks bebas dengan alasan untuk melakukan ritual ziarahnya, karena itulah syarat jika mereka ingin kaya dan berhasil Operasi pelarangan perbuatan mesum di sekitar makam Pangeran Samodro pun digelar setiap malam Jumat Pon (saat dimana ritual itu dilaksanakan) seringkali dilakukan Pemkab namun herannya tempat ini tidak pernah ditutup sama sekali. Operasi itu terkesan hanya setengah hati, karena sumbangannya terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD), tergolong besar.

Ritual Gunung Kemukus, sebuah novel adalah novel kedua dari F. Rahardi setelah novel perdananya yang cukup kontroversial. Lembata. Novel ini diinspirasikan ritual nyata yang terjadi di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, yang masih dilakukan oleh banyak orang hingga saat ini. Berikut cuplikannya :

* * *

Meilan adalah seorang reporter yang ditugaskan bosnya di Redaksi Majalah Fidela. Ia tak habis pikir sekaligus kesal karena tiba-tiba mendapat tugas untuk meliput Ritual di Gunung Kemukus. Mendengar namanya pun baru kali ini. “Aku ini kan biasa jalan ke luar negeri, dan liputanku pasti fashion. Mengapa Redpel Bimo tiba-tiba bilang ke Yani, akan nyuruh aku liputan perklenikan, di Jawa lagi. Dia kan tahu aku ini Cina, tidak bisa ngomong Jawa sama sekali, apalagi tahu kulturnya…”

Apa jawaban Redpel. Bimo? “Yang nulis harus orang yang sebelumnya sama sekali tidak tahu Gunung Kemukus, tidak bisa ngomong Jawa, dan pasti juga tidak tahu kultur Jawa, dengan tujuan agar tulisannya benar-benar mewakili mayoritas masyarakat pembaca, sekaligus pengguna jasa penerbangan.”

Apa yang dilakukan Meilan selanjutnya? Bagaimana ia sampai ke sana? Apa yang ditemui di sana? Ternyata novel ini bisa sebagai buku pedoman wisata ke gunung Kemukus, karena dalam buku ini diuraikan rute perjalanan, jarak tempuh, lokasi, biaya dan hal-hal lain yang berkaitan dengan tempat tersebut hingga penggambaran (deskripsi) tempat tersebut. Siapapun akan sampai di sana jika membaca dan mengikuti petunjuknya dalam novel ini.

Tidak sulit bagi Meilan untuk mencapai tempat tersebut. Apa yang ia lakukan? Berbaur dengan para peziarah dan menginap di lokasi untuk mendapatkan informasi sebanyak mungkin.

“Saya sudah empat kali ini datang, Bu. Berarti masih harus datang tiga kali lagi. Pertama datang, kebetulan ketemu ibu-ibu juragan selèpan dari Bantul. Tetapi dia barusan SMS, kalau mau datang besuk saja, bukan hari ini. Ibu tahu bukan, kalau untuk bisa ngalap berkah dari Pangeran, pasangan seperti kami ini, harus datang sampai tujuh lapan? Selapan itu 35 hari Bu, kalau salah satu dari kami absen tidak bisa datang, harus diulang dari awal lagi. Bisa dengan pasangan semula, bisa pula ganti pasangan. Tetapi saya jangan dipotret, jangan ditulis. Sebab istri saya tidak tahu hal ini. Kalau tahu ia akan ngamuk Bu. Juga anak-anak. Kalau pasangan saya itu, namanya Mbak Rini, dia kemari atas ijin suaminya. Malah setengahnya, suaminya yang mendorongnya pergi.”

Di saat Meilan hampir putus asa karena data yang diperolehnya belum sesuai dengan keinginannya, ia menjumpai seorang pria yang sedang sedih. Sarmin, yang berprofesi sebagai tukang bakso.

“Saya kehabisan uang Ibu. Saya sudah datang ke Kemukus Jumat Pon yang lalu. Seharusnya, ini Jumat Pon terakhir. Tetapi pasangan saya tidak datang Bu. Saya menunggunya selama seminggu, tetapi tidak datang juga dan uang saya habis. Apakah benar Ibu akan menolong saya?”

Meilan merasa, bahwa justru Sarminlah yang akan menolongnya. Bukan dia.

* * *

“Mengapa pasangan Pak Sarmin, siapa namanya? Ibu Yuyun ya? Mengapa ia tidak datang? Tidak tahu ya? Padahal ini sudah yang ketujuh bukan? Ke delapan? O, ya. Yang pertama Pak Sarmin keliru mendapat pasangan wanita yang PSK ya? O, begitu. Lalu baru yang kedua bisa ketemu Bu Yuyun. Dari mana ia? Ponorogo ya? O, pedagang beras. Pak Sarmin pernah ke sana? Ya, ya, sebelumnya pernah kontak telepon, kalau Jumat Pon minggu lalu ini akan datang. Pak Sarmin juga sudah menelepon HPnya melalui wartel. Tetapi tidak diangkat ya. O, tidak bunyi ya? Tetapi apa Pak Sarmin yakin bahwa kalau bisa ketemu Bu Yuyun sampai tujuh kali, biasanya di mana menginapnya? Di dekat sendang ya? Apakah kalau benar bisa ketemu sampai tujuh kali dagangan Pak Sarmin akan laris? Tidak yakin? Mengapa?”

Bagaimana kelanjutan kisahnya? Siapakah Sarmin sebenarnya? Siapakah Yuyun?

“Sebenarnya saya malu sekali menceritakan hal ini Ibu. Tetapi saya percaya kepada Ibu. Ya, dengan Yuyun, dia punya suami Ibu, suaminya petani biasa, anaknya empat. Katanya, dagangnya mundur, karena suaminya judi. Saya tidak terlalu tahu ibu. Saya memang pernah menyusul ke Ponorogo, kemudian kami berangkat bersama ke Kemukus, menginap dulu di Wonogiri. Tetapi waktu itu saya tidak ke rumahnya. Saya hanya ke pasar, tempatnya jualan. Jadi saya tidak tahu rumahnya, tidak tahu anak-anak dan suaminya. Tetapi saya percaya yang dikatakannya benar. Saya tidak tahu mengapa ia tidak datang. Dia memang masih lebih baik dari saya Ibu. Dia pakai kalung, pakai seweng, pakai gelang, punya HP, arlojinya juga bagus. Yang membayar penginapan, yang membayar makan juga dia. “

* * *

”Ini bukan sandiwara kan Mas? Mas siapa sampeyan? Mas Badrun? Sebab saya benar-benar kapok, dan tidak ingin pengalaman Jumat Pon yang lalu terulang lagi. Bu Yuyun ini benar dari Ponorogo kan? Boleh saya lihat KTPnya? Ya dulu itu saya juga ditunjuki KTPnya, KTP Donorejo. Ternyata dia perempuan bayaran. Habis duit saya jadinya. Untung aku hanya membayar Rp 30.000. Kalau tidak, aku tidak bisa pulang. Ya maaf lo Bu Yuyun, sebab pengalaman Jumat Pon yang lalu memang tidak baik. Lo, jadi sampeyan ini bukan pasangannya to? Tadinya saya mengira sampeyan berdua ini pasangan. O, jadi Mas Badrun sudah lima kali ini, dan Bu Yuyun baru sekali? Saya sudah dua kali ini, tetapi yang kemarin tertipu.”

Apa yang dikatakan Romo Drajad sebagai salah seorang narasumbernya? “Itu semua tidak adil!” Kata Romo Drajad dalam hampir semua wawancaranya.

“Mengapa hanya bangsawan dan orang kaya yang boleh menikmati seks bebas? Dan mengapa hanya laki-lakinya? Mengapa perempuannya tidak boleh? Maka digagaslah sebuah ritual seks antara pasangan yang bukan suami isteri, di alam bebas. Di sini laki-laki dan perempuan setara. Yang laki-laki boleh memilih pasangannya, perempuannya juga bebas memilih pasangan masing-masing. Hubungan seks di tempat terbuka secara massal, adalah hal yang sangat unik di dunia ini. Agar acara kurangajar ini memperoleh legitimasi, maka dikaranglah legenda Pangeran Samodro dan Nyai Ontrowulan.”

“Ritual seks, sebenarnya bukan hal yang istimewa pada jaman neolitikum, Ibu. Ya di Afrika, di Eropa, di Amerika Tengah dan Latin, juga di Jawa ini, ritual seks sangat terkait dengan dewa atau dewi kesuburan. Itu semua milik rakyat. Kemudian ada budaya metropolis. Ketika itulah strata dibuat, aturan main dibakukan, dan penguasa serta orang kaya, menjadi punya hak-hak khusus, yang dibedakan dengan hak rakyat jelata. Di Timur Tengah lalu ada perbudakan, yang kemudian dilanjutkan di Amerika. Di India sana ada kasta. Untung di sini tidak ada. Tetapi hak-hak rakyat tetap dirampas. Hingga muncullan protes gaya Jawa. Mahabharata dan Ramayana versi Jawa, ada punakawan, yang pada versi aslinya di India sana tidak ada.”

* * *

Bagaimana akhir dari kisah tersebut diatas? Mengapa Yuyun tidak datang lagi? Siapakah Wati? Mengapa Wati merelakan Sarmin berburu rezeki di Gunung Kemukus? Siapakah Kartien? Apa benar dia seorang pekerja seks? Siapakah Romo Drajat? Benarkah ia mencintai Mas Katno? Siapakah Mas Badrun? Apakah Sarmin berhasil menjadi kaya? Apakah Revolusi Kultural itu? Sebenarnya apa saja sih yang dilakukan di Gunung Kemukus itu? Ritualnya seperti apa? Sanggupkah Meilan memenuhi harapan redpelnya?

Bagi yang penasaran, tidak ada jalan lain lagi selain membaca dari sumbernya langsung, “Ritual Gunung Kemukus, Sebuah Novel” yang diterbitkan oleh penerbit Lamalera, November 2008. Selamat membaca!


Antara Harapan, Kemiskinan, dan Eksploitasi
Sumber: Kompas, Febuari 2009
Judul: Ritual Gunung Kemukus
Penulis: F. Rahardi
Penerbit: Lamalera
Terbit: November 2008
Tebal: viii + 234 hlm

Adakah hal seaneh seperti yang terjadi setiap Kamis Pahing malam Jumat Pon di Gunung Kemukus? Di kawasan bukit yang terletak di Sragen, Jawa Tengah, ini ada ratusan bahkan ribuan orang mencari keberuntungan dengan cara aneh, yaitu berhubungan seks dengan orang yang bukan pasangannya secara sukarela. Suasana di kawasan ini pada saat-saat itu lebih mirip pasar malam. Kawasan yang pada hari-hari biasa umumnya temaram tiba-tiba menjadi benderang. Ada banyak warung jajanan, ada penjual pernik-pernik, penjual rokok dan kacang rebus hingga orang yang menyewakan bilik atau tikar secara jam-jaman untuk kepentingan short time.

Awalnya legenda Apa hubungan antara keberuntungan dan syahwat? Awalnya adalah sebuah legenda tentang Oedipus Jawa pada zaman keruntuhan Majapahit akibat menguatnya kerajaan Islam di Jawa Tengah. Ia seorang pemuda ganteng bernama Pangeran Samodro, putra Raja Brawijaya, penguasa Majapahit. Ia terlibat dalam cinta terlarang dengan ibu tirinya yang juga selir Brawijaya, Nyai Ontrowulan. Meski sudah agak tua, Nyai Ontrowulan masih terlihat sangat menawan. Mereka berdua memutuskan untuk pergi ke Demak Bintoro guna menikah.

Namun, sesampai di tempat tujuan ada banyak duda kaya dan prajurit Demak yang jatuh hati kepada Nyai Ontrowulan. Mereka berupaya menggagalkan pernikahan keduanya. Pangeran Samodro dan ibu tiri beserta para pengawalnya lantas memutuskan untuk lari ke selatan. Saat berada di Gunung Kemukus, Pangeran Samodro dan Nyai Ontrowulan tak bisa lagi menahan hasrat seksual mereka. Di bawah pohon nagasari, mereka melakukan hubungan seks layaknya suami-istri.

Dasar sial, pasukan Demak Bintoro berhasil menyusul. Keduanya dibunuh pada saat sedang berhubungan seks belum sampai pada puncaknya. Si pangeran dan ibu tirinya lantas dikubur dalam satu lubang. Konon, dalam lubang tempat terbunuhnya mereka itulah muncul sebuah sumber air jernih yang kini disebut sebagai Sendang Ontrowulan. Air sendang ini dipercaya memiliki multikhasiat dan bisa bikin orang awet muda.

Dalam legenda juga dikisahkan munculnya asap, disusul suara di atas makam Samodro dan Ontrowulan yang baru dikuburkan, ”Wahai manusia, barang siapa mau datang ke tempat ini dan bisa menyelesaikan hubungan seks layaknya suami-istri kami yang belum selesai ini tujuh kali, maka segala permintaan kalian akan dikabulkan oleh Dewa Bathara yang Maha Agung.”

Novel ini mengambil Gunung Kemukus sebagai setting cerita. Ada banyak tokoh dalam cerita ini. Ada Meilan, seorang wartawan keturunan China yang menggerutu saat mendapat penugasan untuk meliput Gunung Kemukus. Ada Sarmin, si pedagang bakso yang kalah wibawa dengan istrinya yang bermimpi kehidupannya bisa kembali seperti zaman sebelum ia nikah dan jualan baksonya kembali laris manis. Ada Badrun, juragan tembakau; ada Romo Drajad, seorang hombreng yang punya pengaruh kuat dan berpendapat bahwa fenomena Kemukus adalah sebuah revolusi kultural. Ada juga tokoh Wati, istri Sarmin, yang terobsesi bisa kawin dengan si pak guru, Mas Bagus. Ada perempuan kelas menengah paruh baya Sri Wahyuni alias Yuyun yang mengikuti dorongan suaminya untuk ngalap berkah ke Kemukus. Ada Parti, seorang perempuan pelacur yang siap memangsa siapa saja lelaki yang baru pertama kali mencoba datang ngalap berkah.

Ada beberapa karakter tokoh antagonis yang kuat dalam novel ini, tetapi karakter yang paling kuat ada pada diri Wati. Istri Sarmin ini digambarkan sebagai perempuan yang menilai suaminya sebagai lembek, goblok, tak pandai menipu dalam menjalankan dagangan baksonya. Ia terpaksa menikah dengan Sarmin hanya lantaran niatnya untuk menjebak Mas Bagus dengan mengajaknya berhubungan seks dan kemudian mengaku hamil ketahuan oleh orangtuanya. Ia selalu ragu-ragu antara ingin bercerai dan rasa takut bercerai dalam keadaan miskin.

Cara bertutur dalam novel ini betul-betul lancar. Gaya bahasa juga mengalir. Pada beberapa bagian, di mana si tokoh menjadi orang pertama, seperti halnya saat tokoh Wati ngedumel pada dirinya sendiri (hal 51-60), kita sepertinya diingatkan pada gaya Linus G Suryadi dalam Pengakuan Pariyem. Bedanya, Pariyem adalah seorang perempuan yang pasrah, nrimo, dan menikmati sekaligus memuja Den Bagus-nya. Kalau Wati adalah perempuan yang terobsesi bisa menikah dengan Mas Bagus, tetapi tak pernah kesampaian.

Pengetahuan pengarang yang lengkap mengenai sejumlah permasalahan sosial ikut membungkus buku ini dengan berbagai informasi, antara lain mengenai kehidupan warok dan per-gemblak-annya di Ponorogo dan mengenai penyair Wiji Thukul dan Romo Mangunwijaya. Juga cerita tentang hiruk-pikuk pembangunan Waduk Kedung Ombo. Keberpihakan pengarang pada wong cilik tampak jelas dalam novel itu. Demikian pula dengan pemberontakan terhadap kemapanan, yang tampaknya ditampilkan pengarang melalui tokoh Romo Drajad (hal 124-129).

Gambaran irasionalitas bangsa

Apa kaitan ritual Kemukus dengan kehidupan sehari-hari kita? Barangkali setelah membaca novel ini, kita memang perlu mencari jawabannya. Apalagi, cerita tentang pasangan Samodro dan Ontrowulan di Gunung Kemukus itu terjadi pada abad XIV. Artinya, umur legenda kini mencapai lebih dari 600 tahun.

Namun, fenomena Gunung Kemukus kalau kita lihat bukannya kian menyurut. Bahkan, pada malam 1 Suro 2007 jumlah orang yang datang ke Gunung Kemukus dilaporkan mencapai angka 10.000 orang. Pada malam 1 Suro 28 Desember 2008, angka ini dilaporkan jauh membengkak. Di Kemukus upaya pencarian berkah, tirakat, penyucian diri perselingkuhan, pembersihan diri, kepuasan seksual, dan prostitusi telah campur aduk dengan kepentingan bisnis. Mulai dari bisnis ritual, bisnis esek-esek, hingga bisnis wisata yang mendatangkan masukan bagi kas pemerintah daerah. Sebagai gambaran, setiap pengunjung Gunung Kemukus dikenai biaya retribusi sebesar Rp 4.000. Itu belum termasuk tarif parkir untuk kendaraan. Artinya, pada saat malam 1 Suro, di mana dilakukan acara membuka kelambu makam Pangeran Samodro, Pemerintah Kabupaten Sragen minimal akan mengantongi pemasukan pendapatan asli daerah sebesar 10.000 x Rp 4.000 atau sebesar Rp 40 juta. Itu hanya semalam.

Di Indonesia, fenomena orang mencari peruntungan juga bukan monopoli masyarakat kecil yang miskin dan nyaris putus asa. Fenomena Kemukus adalah bagian dari irasionalitas bangsa Indonesia yang sebagian masih meyakini bahwa ”laku” dan ”teknik menjalani kehidupan” jauh lebih penting daripada ilmu pengetahuan, manajemen, dan membangun sistem sosial yang lebih adil. Pada faktanya kita masih kerap menjumpai ada banyak pejabat yang melakukan tetirah ke makam, pergi konsultasi atau mencari jimat ke dukun untuk mendapatkan atau mempertahankan kedudukan.

Untuk kalangan masyarakat bawah, ritual semacam Kemukus merupakan sarana hiburan sekaligus gambaran dari sebuah budaya perlawanan. Melalui ritual inilah nilai kebebasan untuk menikmati seks juga bisa mereka kecap, bukan hanya hak kaum laki-laki bangsawan saja. Di Kemukus ini pula sebetulnya kaum perempuan bisa menemukan aktualisasi nilai-nilai jender di mana perempuan punya hak yang sama dengan lelaki, terutama untuk mendapatkan ”pasangan tidur” yang diminati.

—Stanley Adi Prasetyo Anggota Komisioner Komnas HAM, Pemerhati Masalah Sosial Kemasyarakatan dan Penikmat Sastra

March 27th, 2009 | Tags: lamalera, novel | Category: Novel Dewasa | Leave a comment Ritual Gunung Kemukus Toko Buku Gramedia Matraman bekerjasama dengan Penerbit Lamalera dan Distributor Buku Kita mengadakan Peluncuran dan Bedah Buku “Ritual Gunung Kemukus”. Bedah buku akan dihadiri oleh Happy Salma (Artis dan Penulis Novel), Mohammad Sobary (Sastrawan dan Budayawan), Maria Hartiningsih (Wartawan Senior KOMPAS / Pemerhati Gender), dan F. Rahardi (Penulis Buku). Acara ini akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 29 November 2008 pukul 15.00 WIB bertempat di Function Room Lt.2 TB Gramedia Matraman. Untuk pendaftaran dapat dilakukan di Customer Service Gramedia Matraman, telepon 021-8581763.


Ritual Gunung Kemukus
This entry was posted on Sunday, November 23rd, 2008 at 11:06 am and is filed under Events. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.Ritual Hubungan Seksual di Makam Pangeran Demak ; Mitos yang Diselewengkan 5 Bagus +5 genjas Rabu, 14 Okt ’09 18:04

Ritual memohon berkah maupun mencari “pesugihan” melalui arwah leluhur sering dilakukan sebagian masyarakat jawa dengan cara bersemedi di makam para leluhur, tetapi di Gunung Kemukus ritual mencari berkah dilaksanakan dengan cara yang unik yaitu melakukan hubungan seksual di luar nikah dengan pasangan orang lain (selingkuh).

Meilan adalah tokoh fiksi dalam novel ritual gunung kemukus, seorang wartawati dari majalah traveling terkemuka di jakarta yang selama satu minggu melakukan reportase di Gunung Kemukus, sebuah tempat yang terletak di pinggir waduk Kedungombo itu diberi nama demikian, gunung adalah istilah, penanda bahwa tempat tersebut memiliki geografis yang cukup tinggi dan kemukus yang berarti kabut yang terlihat seperti asap (kukus), “disebut kemukus karena dahulu bila pagi hari bukit ini diselimuti kabut yang seperti asap putih mas” tutur seorang warga kepada reporter Keadilan. Dalam novel “Ritual Gunung Kemukus”, tokoh utama Meilan terkejut melihat bagaimana ritual memohon berkah dalam prosesi ziarah, suatu budaya yang lahir dari hasil akulturasi antara kebudayaan Hindu dan Islam, dilakukan dengan ritual yang tidak lazim, yaitu melakukan hubungan suami istri diluar pernikahan, bahkan dalam tahap tertentu hubungan seksual ini dilakukan secara massal di tempat yang dikeramatkan. Tokoh Meilan memang tokoh rekaan, novel ritual gunung kemukus juga merupakan novel fiksi. Tetapi ritual yang dilihat Meilan memang benar adanya, di makam keramat seorang pemuka dari Demak tersebut ada ritual unik yang harus dilakukan sebagai syarat bila ingin memohon berkah dan peruntungan.

Bila pada suatu waktu anda berkunjung ke Gunung Kemukus, anda akan melihat puluhan bahkan ratusan warung dan lapak yang menjual makanan dan minuman ringan juga menyediakan jasa penginapan ala kadarnya untuk menunjang ritual unik tersebut, “ya kami warga sekitar sini mas yang membuka warung dan kamar untuk para peziarah, yang mau ritual itu”, ungkap salah seorang pemilik warung di kawasan Gunung Kemukus. Pada malam tertentu bahkan dapat ditemui banyak wanita pekerja seks komersial (PSK) dari berbagai daerah yang turut meramaikan suasana warung di sekitar kawasan tersebut, hal ini diakui pula oleh pemilik warung bahwa para PSK juga datang untuk memanfaatkan ritual “Ngalab Berkah” di Gunung Kemukus.

Ritual unik di tempat ini ternyata juga mengundang para wanita pekerja seks komersial untuk ikut mencari berkah, mencari sedikit penghasilan tambahan. Ritual “Ngalab Berkah” ala Gunung Kemukus Gunung kemukus sebenarnya lebih tepat disebut sebuah bukit yang tingginya sekitar 250 meter dari permukaan laut, yang terletak di Desa Pendem, Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, sekitar 25 km dari Kota Solo. Bukit ini berada di pinggir Waduk Kedung Ombo, untuk mencapai ke lokasi tersebut kita harus melewati jembatan yang hanya bisa dilewati pada musim kemarau saja karena bila musim penghujan, jembatan akan tergenang air waduk sehingga tidak bisa dipergunakan untuk menyeberang, untuk itu pada musim penghujan pengunjung mempergunakan jasa penyeberangan perahu atau dengan sampan yang memang di sediakan warga sekitar selama musim penghujan untuk menyeberang ke lokasi tersebut.

Gunung kemukus sesungguhnya adalah komplek pemakaman seorang keturunan ningrat jawa dan penyiar agama islam, dimana keturunan raja atau bangsawan jawa biasa disemayamkan di tempat yang memiliki geografis yang tinggi. Hal ini adalah buah dari sistem feodal yang meyakini raja adalah utusan Tuhan dan perlu ditempatkan lebih tinggi daripada rakyatnya, hal ini juga sebagai simbol bahwa semakin tinggi makamnya maka semakin ia didekatkan dengan Tuhan yang Maha Esa.

Komplek pemakaman Gunung Kemukus ini dipercaya penduduk sekitar sebagai makam pasangan pangeran Samudro dan nyai Ontrowulan. Pangeran Samudro adalah seorang keturunan majapahit yang merupakan putra tertua dari istri resmi Prabu Brawijaya VII dan nyai Ontrowulan adalah selir dari Prabu Brawijaya VII. Dalam komplek makam ini juga terdapat mata air yang disebut “sendang Ontrowulan”, tempat ini dipercaya sebagai lokasi terbunuhnya pasangan ini.

Seperi layaknya komplek pemakaman keturunan raja jawa pada umumnya, komplek makam ini juga sering dikunjungi para peziarah yang datang dengan berbagai motif dan tujuan, ada yang sekedar napak tilas, ada yang memang berziarah, dan ada juga yang khusus datang ke tempat ini untuk mohon berkah, berdoa, dan mengadu terhadap segala permasalahan dengan melakukan ritual tertentu, seperti ritual semedi yang sering dilakukan masyarakat jawa di tempat-tempat yang dianggap keramat seperti makam leluhur. Sebagian masyarakat jawa percaya bahwa arwah leluhur dapat menjadi medium yang cukup ampuh sebagai penyampai pesan kepada Tuhan. Ritual tersebut dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh jalan keluar dari segala permasalahan dan memperoleh kelancaran serta kemudahan dalam menjalankan hidup, bahkan tak jarang yang melakukan ritual khusus untuk pesugihan yaitu agar menjadi kaya.

Di Gunung kemukus dalam mencari berkah maupun pesugihan atau masyarakat setempat mengistilahkan ritual “Ngalab Berkah” tidak dengan cara semedi, tetapi dengan cara yang bisa dibilang nyeleneh dan unik yaitu dengan adanya ritual seks, dimana menurut mayarakat, ritual seks itu harus dilakukan pada hari Kamis Paing (malam Jumat Pon), selama tujuh kali berturut-turut, dengan pasangan tetap yang bukan suami isteri (pasangan selingkuh), di alam terbuka. Sebelumnya, peziarah harus mandi di Sendang Ontrowulan, lalu berziarah ke makam Pangeran Samodro dan Nyai Ontrowulan di puncak bukit.

Kalau seluruh ritual yang akan memakan waktu delapan bulan ini terlaksana dengan baik, maka si peziarah akan bisa meraih sukses berupa kekayaan materi. Reporter Keadilan berhasil menemui seorang lelaki yang mengaku sering menjadi perantara para wanita yang ingin melakukan ritual seks, ia yang tidak bisa kami sebutkan namanya mengatakan bahwa ia dapat membukakan jalan kepada kesuksesan, “benar mas, saya sering melayani perempuan yang mau Ngalab Berkah, tapi ini murni lho mas, saya sebelum menjadi perantara harus melakukan beberapa syarat terlebih dahulu”, katanya menegaskan.

”banyak yang berhasil lho mas, setelah melakukan ritual seksual ini, banyak yang usahanya sukses, banyak dari jawa barat mas” lanjutnya kemudian. Lelaki tersebut juga mengatakan bahwa yang sering datang ke Gunung Kemukus untuk ritual “Ngalab Berkah” kebanyakan pedagang kecil yang usahanya tidak begitu sukses. Ia juga bercerita bahwa tata cara ritual seks ini bermacam versi juga, seperti yang ia dengar secara turun temurun dari orang tuanya dahulu bahwa agar lebih sempurna dan ampuh ritual seksual dilakukan secara bersama-sama atau massal di bawah pohon beringin keramat yang terletak di belakang bangunan makam Pangeran Samudro.

Ritual seksual ini dilakukan bukan tanpa alasan, mitos mengenai ritual seksual berasal dari legenda yang berkembang secara lisan turun temurun yang berkaitan dengan Pangeran Samudro. Ada beberapa versi mengenai legenda ini namun yang menjadi legitimasi atas ritual seksual adalah versi dari masyarakat dan peziarah yaitu bahwa bahwa Pangeran Samodro dan Nyai Ontrowulan adalah anak, dan selir Prabu Hudhara (Brawijaya VII, 1498-1518), raja terakhir Majapahit (Mojokerto, Jawa Timur). Setelah runtuhnya Majapahit, mereka berdua ikut berpindah ke Demak Bintoro di Jawa Tengah. Anak dan ibu tiri dari Majapahit ini, kemudian terlibat dalam afair asmara, terusir dari Demak, dan pihak yang tidak menyukainya, terus mengejar pasangan ini. Di Gunung Kemukus, Pangeran Samodro dan Nyai Ontrowulan terkejar, dibunuh, lalu dimakamkan di satu liang lahat. Konon, ketika pasukan pengejar datang, mereka berdua sedang melakukan hubungan seks di alam terbuka. Kemudian dari atas makam mereka berdua muncullah asap (kukus), hingga bukit kecil ini disebut Kemukus. Di tempat terbununhnya pasangan ini juga timbul mataair yang sekarang disebut sebagai Sendang Ontrowulan. Sesaat setelah tewasnya pasangan ini, terdengar suara:

“Barangsiapa bisa melanjutkan hubungan seks yang terputus ini, segala keinginannya akan terkabulkan!”

Pemujaan terhadap seksualitas dalam ritual seks di Gunung Kemukus mengingatkan kita akan pemujaan seksualitas masyarakat Jawa pra-Islam, di Jawa, banyak peninggalan kebudayaan Hindu mengungkapkan pemujaan terhadap simbol-simbol seksual seperti lingga dan yoni yang merupkan simbol kesuburan.

Menurut konsep tradisional Jawa, seksualitas merupakan bagian dari keperkasaan dan kekuasaan, sehingga ada anggapan bahwa hubungan seksual dan alat kelamin merupakan simbol pusaka yang dikeramatkan. Misalnya dalam kisah-kisah kuno dalam serat Centini banyak diceritakan hubungan seksual antara raja, penyiar agama, atau calon raja dengan seorang perempuan yang terjadi tanpa formalitas namun tidak ada yang berkeberatan terhadap hal itu. Di Candi Sukuh dan Cetho misalnya, ada pahatan alat kelamin laki-laki dan alat kelamin perempuan yang keduanya dianggap sebagai pusaka dan mempunyai kekuatan magis. Demikian pula menurut Purwadi M.Hum bahwa seorang raja yang memiliki potensi seksual yang besar, maka dipercaya kerajaannya akan menjadi makmur. Makin banyak anak keturunan raja itu, semakin makmur pula rakyatnya. Walaupun kebenarannya perlu disangsikan, namun anggapan tersebut nampaknya masih berlangsung hingga kini terbukti masih seringnya kita dengar istilah “banyak anak banyak rezeki” Yang menarik apabila dibedah lagi melalui mitos unik ini, tidak hanya lelaki yang bisa melampiaskan hasrat seksualnya, namun perempuan juga bisa mencari pasangan di luar nikahnya secara bebas dengan tujuan mencari berkah. Pembalikan hirearki atas kuasa seksual patriarki dalam sistem feodal masyarakat jawa secara tersirat terjadi dalam ritual seksual di Gunung Kemukus. Melalui selubung mitos ini perempuan dapat menemukan aktualisasi nilai-nilai persamaan gender dalam hal seksualitas. Legitimasi mitos atas motif ekonomi Seiring perkembangan jaman tepatnya sekitar era tahun 80-an kawasan gunung Kemukus mulai ramai didatangi pengunjung, hal ini seperti disampaikan oleh juru kunci makam Pangeran Samudro, ia mengatakan, “lokasi makam ini baru mulai rame tahun 80-an, entah bagaimana pokoknya seingat saya periode itu mulai banyak dikunjungi peziarah maupun pencari berkah”.

Cerita mengenai mitos ritual seksual tampaknya menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat luas. Hal ini tetntu berdampak ekonomis bagi masyarakat sekitar lokasi makam tersebut, dimana masyarakat sekitar mulai dapat menjajakan makanan, minuman ringan, maupun alat-alat kelengkapan untuk ziarah seperti kembang tuju rupa, telur ayam kampung, dan lain sebagainya.

Ritual seksual juga kemudian mengundang para pekerja seks komersiil maupun lelaki iseng untuk ikut menjajakan tubunya, karena syarat ritual seksual adalah berpasangan dengan perempuan atau laki-laki yang bukan pasangan siuami istri, maka lahan baru ini dimanfaatkan pula oleh mereka yang berprofesi sebagai pekerja seks komersiil baik laki-laki maupun perempuan. Pembiaran masyarakat atas praktek pelacuran terselubung ini, di sisi lain tentu bertentangan dengan norma umum masyarakat Indonesia yang berlatar belakang religius, namun di sisi lain dari segi ekonomi, perputaran uang dari kondisi ini sangat besar. Secara kasar dapat kita hitung, setiap pengunjung yang masuk dikenai retribusi sebesar Rp.4000,- kemudian jasa parkir, kemudian dari hasil perdagangan. Tercatat pada malam 1 suro tahun 2008 tepatnya 28 Desember 2008 pengunjung mencapai 10.000 orang, bisa dibayangkan seberapa besar perputaran uamng yang terjadi. Kini fenomena yang terjadi di sekitar dan sekeliling lokasi makam, berdiri warung-warung, bangunan bambu semi permanen yang menyediakan kamar untuk peziarah yang akan melakukan ritual seksual, karena seiring ramainya pengunjung, untuk melakukan ritual seksual tidak lagi di tempat terbuka, tetapi di kamar-kamar ala kadarnya yang telah disediakan para pemilik warung maupun warga sekitar.

Para pemilik warung pun rata-rata menyediakan wanita pekerja seks komersiil setiap saat, hal ini diakui salah seorang pengunjung yang berhasil kami dapat keterangannya, “itu dulu mas, klo pada “itu” di bawah pohon sana, sekarang cukup datang ke warung sudah banyak kamar”.

“kalu dulu pasangan harus cari sekarang pasangan tinggal milih disini juga banyak”, lanjutnya sambil menenggak segelas minuman keras di meja. Motif ekonomi semakin menguatkan mitos ritual seksual di tempat ini, bahkan kini air sendang yang telah kering di pasang pompa air untuk mengisi kembali airnya, mitos ini terjaga tidak lagi karena nilai-nilai filosofisnya, mitos ini kini terjaga dan menjadi legitimasi atas motif ekonomi. Tesis Roland Barthes atas mitos tampaknya benar, mitos adalah penanda dari suatu perilaku, penanda suatu peristiwa, mitos tidaklah gaib, mitos adalah sebuah simbol dari perilaku manusia, perilaku manusia atas motif.

Oleh : Ikhwan Sapta Nugraha Reportase bersama : Achmad Rasul (alm.), Eka Mustika, Khrisna Hanantyo Aji. (akan dimuat di majalah Keadilan 2009)


Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.