<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Blog Sastra F. Rahardi</title>
	<atom:link href="http://frahardi.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://frahardi.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Jan 2012 05:38:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='frahardi.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/5dd5928c1cd73af5614998ebd4b3b309?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Blog Sastra F. Rahardi</title>
		<link>http://frahardi.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://frahardi.wordpress.com/osd.xml" title="Blog Sastra F. Rahardi" />
	<atom:link rel='hub' href='http://frahardi.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>MENUNGGU SETAN</title>
		<link>http://frahardi.wordpress.com/2012/01/30/menunggu-setan/</link>
		<comments>http://frahardi.wordpress.com/2012/01/30/menunggu-setan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Jan 2012 05:38:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>frahardi</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://frahardi.wordpress.com/?p=1555</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen F. Rahardi Sudah beberapa minggu ini, Mbah Dodo tampak duduk-duduk di bawah pohon trembesi di pinggir jalan desa. Awalnya, orang-orang mengira, Mbah Dodo hanya sekadar ngadem mencari angin. Lama-lama orang mulai bertanya-tanya, apa yang sedang ditunggunya? &#8220;Aku sedang menunggu setan!&#8221; Jawab Mbah Dodo setiap kali orang bertanya kepadanya. Biasanya orang-orang tidak berani bertanya lebih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=frahardi.wordpress.com&amp;blog=10752653&amp;post=1555&amp;subd=frahardi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Cerpen F. Rahardi</strong></p>
<p><em>Sudah beberapa minggu ini, Mbah Dodo tampak duduk-duduk di bawah pohon trembesi di pinggir jalan desa. Awalnya, orang-orang mengira, Mbah Dodo hanya sekadar ngadem mencari angin. Lama-lama orang mulai bertanya-tanya, apa yang sedang ditunggunya?</em></p>
<p>&#8220;Aku sedang menunggu setan!&#8221; Jawab Mbah Dodo setiap kali orang bertanya kepadanya. Biasanya orang-orang tidak berani bertanya lebih lanjut. Beberapa orang mengira Mbah Dodo sudah agak berubah ingatan. &#8220;Mungkin ia sedih lalu stres karena kata orang, cucunya yang jadi TKI di Arab sedang kena perkara.&#8221; Yang lain menimpali. &#8220;Bukan!  Beberapa musim tanam ini padi Mbah Dodo puso karena diterjang banjir. Itulah sebabnya ia pusing, lalu seperti sekarang ini.&#8221; Mbah Dodo tidak terlalu merisaukan pergunjingan orang-orang itu. Tiap sore ia tetap duduk-duduk di bawah pohon trembesi di pinggir jalan desa.</p>
<p>&#8220;Mbah, setan apakah yang Mbah tunggu di sini tiap sore?&#8221; Tanya Tiwi, salah seorang cucunya.<br />
&#8220;Ya setan penunggu pohon ini.&#8221; Jawab Mbah Dodo mantap.<br />
&#8220;Kok sudah lama belum juga datang Mbah setannya?&#8221;<br />
&#8220;Sekarang ini kan sudah datang. Ya kamu itu setannya!&#8221;</p>
<p>Tiwi takut melanjutkan pertanyaan. Kalau kakeknya marah, ia tidak akan menerima uang jajan. Kepada orang-orang yang bertanya dengan santun dan serius, Mbah Dodo juga menjawabnya dengan santun dan serius pula.<br />
&#8220;Begini ya Mas Andre, saya ini memang sedang menunggu setan, penghuni pohon trembesi ini. Sekarang memang belum datang, tetapi percayalah Mas Andre, setan-setan itu pasti segera datang.&#8221; Andre kaget.<br />
&#8220;Setan-setan Mbah? Jadi setannya tidak hanya satu?&#8221;<br />
&#8220;Benar Mas Andre, setannya banyak.&#8221;<br />
&#8220;Berapa Mbah?&#8221;<br />
&#8220;Ya tidak tahu. Mungkin empat, atau delapan, atau tujuh. Bisa juga sebelas.&#8221;<br />
&#8220;Setannya menakutkan ya Mbah?&#8221;<br />
&#8220;Ya menakutkan. Namanya juga setan. Tetapi setan juga cerdas. Agar manusia tidak takut, mereka akan tampil sebaik mungkin. Ada yang memakai jas, ada yang mengenakan batik, jarang sekali yang berkaus oblong seperti Mbah ini.&#8221;<br />
&#8220;Apa aku boleh menemani Mbah duduk-duduk di sini menunggu setan?&#8221;<br />
&#8220;Ya boleh saja to Mas Andre, duduk-duduk di sini kan gratis.&#8221;</p>
<p>Sejak itulah tiap sore Andre ikut duduk-duduk di bawah pohon trembesi, menemani Mbah Dodo. Kemudian Joko juga ikut, lalu Martin menyusul, dan dalam waktu dekat belasan orang rutin menemani Mbah Dodo duduk-duduk menunggu setan. Tiap sore, sepetak lahan kosong di bawah pohon trembesi itu jadi ramai. Orang-orang yang lewat di jalan desa sering bertanya-tanya dalam hati. &#8220;Itu orang berkumpul di bawah pohon trembesi, ada apa ya?&#8221; Ketika sudah banyak orang yang berkumpul di bawah pohon trembesi itu, Mbah Dodo mulai sering absen, dan lama-lama jarang sekali datang. Orang-orang tidak mempedulikannya. Sebab duduk-duduk di bawah pohon trembesi ini memang menyenangkan, dengan atau tanpa Mbah Dodo.</p>
<p>Pada suatu sore, orang-orang yang berkumpul di bawah pohon trembesi itu kaget. Tahu-tahu di batang pohon yang berdiameter lebih satu meter itu, telah terpasang gambar separo badan dari seorang laki-laki mengenakan jas, dasi, dan peci, dengan gambar partai politik, dan ajakan untuk mencontreng nama orang itu. &#8220;Mbah, Mbah Dodo, sekarang setannya sudah datang Mbah! Ayo Mbah, lihat sendiri kalau tidak percaya.&#8221; Mbah Dodo lalu mengikuti anak-anak itu menuju pohon trembesi di pinggir jalan desa. Mbah Dodo sangat terkesan demi melihat kegagahan dan ketampanan orang yang gambarnya terpasang di batang pohon itu.</p>
<p>&#8220;Itu kan gambar caleg, kok kalian bilang setan! Kalau yang punya gambar tahu, kamu akan dilaporkan ke polisi, lalu ditangkap dan dipenjara!&#8221;<br />
&#8220;Yang bilang menunggu setan kan Mbah Dodo sendiri? Ya ini setannya kan teman-teman?&#8221;<br />
&#8220;Betul!&#8221;<br />
&#8220;Ya, benar, setannya sudah datang sekarang!&#8221;<br />
&#8220;Iya, sekarang pohon kita ada setannya!&#8221;</p>
<p>Esoknya, orang-orang melihat ada satu gambar lagi tertempel disana. Esoknya tambah satu lagi, hingga beberapa hari kemudian seluruh batang pohon itu penuh ditempeli gambar orang. Ketika tidak ada lagi tempat tersisa pada batang trembesi itu, pohon lain yang lebih kecil juga ditempeli gambar. Ketika sudah tidak ada lagi batang pohon yang bisa ditempeli, tiang-tiang bambu dipancangkan, lalu diatasnya dibentangkan gambar-gambar orang itu. Seluruh desa jadi semarak. Di mana-mana ada gambar, ada umbul-umbul, ada spanduk. Sekarang Mbah Dodo sama sekali tidak pernah tampak duduk-duduk di bawah pohon trembesi itu.</p>
<p>&#8220;Mbah, sekarang kok tidak pernah duduk-duduk di sana lagi Mbah?&#8221; Mbah Dodo tidak menjawab, dan hanya tersenyum.<br />
&#8220;Sekarang setannya banyak sekali ya Mbah?&#8221;<br />
&#8220;Mau ikut nyontreng setan yang mana Mbah?&#8221;<br />
&#8220;Hus, kalian ini jangan ngomong sembarangan. Mereka itu kan para calon wakil rakyat. Mereka itu orang-orang pilihan. Merekalah yang akan menyampaikan keluh-kesah kalian ke pemerintah.&#8221;<br />
&#8220;Wuuuu!!!&#8221;<br />
&#8220;Ya sudah. Kalau kalian mau mbalelo, nanti akan ditangkap polisi.&#8221;<br />
&#8220;Wuuuu!!!&#8221;</p>
<p>Polisi memang benar-benar datang, tetapi yang ditangkap justru Mbah Dodo. Ia dibawa ke kantor polisi, dimintai keterangan, kemudian harus menginap disana beberapa hari. Tuduhan yang dikemukakan polisi adalah, Mbah Dodo telah menghasut masyarakat untuk tidak ikut memilih. Ia juga dituduh telah menghina para caleg dengan menyebut mereka sebagai setan. Banyak saksi yang memberatkannya.<br />
&#8220;Benar Pak, sudah lama Si Embah itu mengatakan bahwa para caleg itu setan semua! Sumpah mati saya mendengar sendiri pernyataan Mbah Dodo itu Pak Polisi.&#8221; Selain ada yang memberatkan, ada pula saksi orang yang meringankannya.<br />
&#8220;Mbah Dodo itu hanya duduk-duduk di bawah pohon, dan sama sekali tidak merusak gambar-gambar itu. Lalu apa salah dia?&#8221;</p>
<p>Polisi kemudian memang membebaskan Mbah Dodo, karena tidak cukup bukti untuk mengajukannya ke pengadilan. Dia dijemput oleh anak-anaknya, menantunya, cucu-cucunya, juga sebagian besar orang-orang yang pernah menemaninya duduk-duduk di bawah pohon trembesi itu. Mereka pulang lewat jalan desa, dan pohon trembesi itu masih tetap tegak dan banyak sekali ditempeli gambar-gambar. Sekarang di sana juga ada gerobak bakso yang mangkal. &#8220;Mbah, sekarang enak lo Mbah duduk-duduk di sana sambil makan bakso!&#8221; Mbah Dodo menjawab. &#8220;Tetapi jangan sampai larut malam ya? Aku takut setan yang sesungguhnya benar-benar datang!&#8221;</p>
<p><em>Cimanggis, 2009</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/frahardi.wordpress.com/1555/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/frahardi.wordpress.com/1555/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/frahardi.wordpress.com/1555/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/frahardi.wordpress.com/1555/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/frahardi.wordpress.com/1555/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/frahardi.wordpress.com/1555/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/frahardi.wordpress.com/1555/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/frahardi.wordpress.com/1555/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/frahardi.wordpress.com/1555/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/frahardi.wordpress.com/1555/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/frahardi.wordpress.com/1555/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/frahardi.wordpress.com/1555/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/frahardi.wordpress.com/1555/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/frahardi.wordpress.com/1555/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=frahardi.wordpress.com&amp;blog=10752653&amp;post=1555&amp;subd=frahardi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://frahardi.wordpress.com/2012/01/30/menunggu-setan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>0.000000 0.000000</georss:point>
		<geo:lat>0.000000</geo:lat>
		<geo:long>0.000000</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b5a330ff34775183bc064807ea4a0de5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">frahardi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SEKAWANAN MONYET</title>
		<link>http://frahardi.wordpress.com/2012/01/30/sekawanan-monyet/</link>
		<comments>http://frahardi.wordpress.com/2012/01/30/sekawanan-monyet/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Jan 2012 05:33:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>frahardi</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://frahardi.wordpress.com/?p=1552</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen F. Rahardi Gereja itu terletak di kaki bukit, dan monyet-monyet selalu datang mengganggu setiap musim kemarau tiba. Kadang hanya satu dua ekor, tetapi bisa pula sampai puluhan ekor besar kecil menyerbu bersama. Beberapa induk monyet tampak membawa anaknya yang masih merah menempel di dada. Mereka mencari-cari makanan, masuk ke dalam gereja. Tetapi gereja di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=frahardi.wordpress.com&amp;blog=10752653&amp;post=1552&amp;subd=frahardi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Cerpen F. Rahardi</strong></p>
<p><strong></strong>Gereja itu terletak di kaki bukit, dan monyet-monyet selalu datang mengganggu setiap musim kemarau tiba. Kadang hanya satu dua ekor, tetapi bisa pula sampai puluhan ekor besar kecil menyerbu bersama. Beberapa induk monyet tampak membawa anaknya yang masih merah menempel di dada. Mereka mencari-cari makanan, masuk ke dalam gereja. Tetapi gereja di pelosok kampung seperti ini, tentu tidak ada makanan.</p>
<p>Umat sudah lama merasa terganggu oleh kehadiran monyet-monyet itu. Mereka usul kepada pastor, agar satwa itu diracun. Pastor tidak setuju. &#8220;Monyet juga ciptaan Allah, yang wajib kita lindungi. Biar sajalah mereka datang. Kalau ada yang punya singkong atau makanan sisa, bawalah kemari agar monyet-monyet itu tidak kelaparan.&#8221; Beberapa orang setuju. Setiapkali datang ke gereja  dari bawah sana, mereka membawa apa saja untuk diberikan kepada monyet.</p>
<p>Suatu ketika, tidak ada satu pun umat yang membawa makanan. Monyet-monyet itu lapar. Ketika Hosti diberkati dan akan dibagikan, monyet-monyet itu menyerbu masuk. Hosti habis dijarah. Anggurnya juga diobok-obok dan tumpah. Peristiwa ini dianggap sebagai penghinaan besar kawanan monyet kepada Allah. Tuntutan umat agar kawanan monyet itu dilenyapkan makin kuat. Tetapi pastor menjawab. &#8220;Kalau kita lupa membawakan makanan, mereka akan merampas hosti, karena mereka lapar. Bukan karena ingin menghina Allah.&#8221;</p>
<p># # #</p>
<p>Di stasi itu, Missa hanya bisa diselenggarakan paling banyak sebulan sekali, dan pasti bukan pas hari Sabtu atau Minggu. Juga tidak mungkin pada hari Senin dan Jumat. Sebab stasi itu hanya bisa dicapai dengan berjalan kaki selama satu hari penuh. Hingga kalau pastor berangkat dari paroki hari Senin, maka misa diadakan hari Selasa. Rabunya pastor kembali ke kota. Kalau berangkatnya Rabu, maka misanya Kamis dan Jum&#8217;atnya pastor pulang. Biasanya pastor datang bersama koster, frater, kategis atau siapa saja yang sempat menemani.</p>
<p>Pada suatu hari ketika pastor datang, kawanan monyet yang mengganggu itu tidak kelihatan lagi. &#8220;Apakah mereka pindah ke tempat lain?&#8221; Pastor itu bertanya kepada tetua umat di stasi itu. Umat itu menggeleng. &#8220;Mereka mati semua Pastor. Seharian kami mengumpulkan bangkainya dan menguburkannya. Apakah mereka terkena flu monyet ya Pastor?&#8221; Pastor itu menggeleng. &#8220;Memang monyet bisa terserang flu, tetapi tidak ada flu monyet. Kalau mereka mati semua berarti ada wabah penyakit lain.&#8221;<br />
&#8220;Tapi anjing, kucing, ayam dan entog juga banyak yang  ikut mati Pastor! Bahkan lima ekor kambing Pak Markus, juga ikut mati.&#8221;<br />
&#8220;Barangkali wabah penyakit ini memang telah menyerang semua binatang di kampung ini.&#8221;<br />
&#8220;Benar Pastor, tupai dan ular juga ada yang ikut mati.&#8221;<br />
&#8220;Baiklah, setelah misa nanti, kita adakan rapat dengan bapak-bapak di sini.&#8221;<br />
&#8220;Ibu-ibunya juga perlu Pastor. Sebab Bu Bertha dan Bu Sisil, yakin bahwa binatang-binatang ini mati diracun.&#8221;<br />
&#8220;Bagus, ajaklah ibu-ibu yang mau ikut. Tetapi jangan terlalu lama, sebab kita juga masih akan membicarakan rencana perbaikan bak tampungan air yang katanya ada yang bocor.&#8221;</p>
<p># # #</p>
<p>Pertemuan sore itu berjalan alot. Sebab tidak ada satu pun umat yang mengaku telah meracun monyet-monyet itu. Beberapa orang bapak dengan sangat yakin mengatakan, bahwa Allah telah mengirim penyakit misterius sebagai peringatan bagi manusia yang telah banyak berdosa. Tetapi Bu Bertha protes. &#8220;Pastor, saya sengaja membedah perut beberapa monyet sebelum dikuburkan. Isi perut itu nasi dan singkong dan saya tebarkan ke kerumanan ayam. Ayam-ayam yang memakannya langsung kejang-kejang dan mati.&#8221;</p>
<p>Pastor memutuskan bahwa rapat harus segera diakhiri. Tetapi dia akan segera mencari bibit jambu biji, kersen, salam, lamtoro, sengon dan lain-lain yang buah serta pucuk daunnya disukai monyet. Pastor menduga tidak semua monyet mati. &#8220;Kalau bukit di belakang gereja itu dihijaukan, pada musim kemarau monyet tidak akan turun lagi. Sebab di atas sana makanan cukup.&#8221; Pastor lalu meminta seluruh umat bergotong-royong membuat lubang tanam di seluruh bukit itu. &#8220;Harus sudah selesai sebelum musim hujan ya? Nanti kalau hujan datang bibitnya bisa diambil dan langsung ditanam.&#8221;</p>
<p>Dugaan Bu Bertha dan Bu Sisil ternyata benar. Malam itu ada lima orang bapak yang datang mengaku dosa, bahwa merekalah yang telah meracun monyet-monyet itu. &#8220;Tetapi kami tidak pernah menduga bahwa banyak binatang peliharaan kami yang ikut mati Pastor. Jadi kami berlima siap dihukum dengan doa apa saja.&#8221; Lima orang laki-laki itu kepalanya menunduk dan wajahnya tampak sedih. &#8220;Dendanya bukan doa, tetapi Anda berlima harus membuat lubang lebih banyak dari bapak-bapak lainnya. Kira-kira berapa lubang yang harus digali ya?&#8221;</p>
<p># # #</p>
<p>Lima orang itu pulang dan berharap rahasia mereka tidak disampaikan pastor ke umat lainnya. Mereka lewat jalanan yang berdebu. Kemarau tahun ini memang sangat kering dan panas. Sebenarnya bukit itu tidak terlalu besar. Panjangnya memang sampai 2 km. lebih, dengan lebar 500 m. Tetapi tingginya kurang dari 100 m, dan seluruh permukaannya penuh dengan gundukan batu. Di sana yang tumbuh hanya rumput dan gerumbulan. Pada musim kemarau seperti ini seringkali bukit itu selalu terbakar.</p>
<p>Padahal kata orang-orang tua, bukit itu dulunya berhutan lebat. Banyak pohon buah-buahan yang disukai monyet. Lalu setiap hari orang-orang menebang pohon-pohon itu dan membawanya pulang sebagai kayu bakar. Lama kelamaan bukit itu menjadi gundul sama sekali. Dulu, katanya monyet-monyet juga banyak, tetapi tidak pernah mengganggu. Katanya, tanah tempat bangunan gereja sekarang ini, dulunya penuh dengan pohon dadap yang bunganya disukai monyet.</p>
<p>Sekembali pastor, orang-orang heran. Mengapa ada lima orang yang pagi-pagi sekali sudah naik ke lereng bukit, sambil membawa cangkul, sekop dan linggis. Mereka berlima menggali lubang demi lubang, sampai matahari terbenam. Beberapa orang juga mencoba turun ke balik bukit, lalu menyusuri pinggiran hutan. Mereka mencari-cari, apakah benar masih ada beberapa ekor monyet yang masih tersisa. Sebab ketika kawanan monyet itu sama sekali sudah tidak datang ke gereja, misa justru menjadi sangat sepi. # # #</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/frahardi.wordpress.com/1552/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/frahardi.wordpress.com/1552/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/frahardi.wordpress.com/1552/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/frahardi.wordpress.com/1552/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/frahardi.wordpress.com/1552/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/frahardi.wordpress.com/1552/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/frahardi.wordpress.com/1552/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/frahardi.wordpress.com/1552/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/frahardi.wordpress.com/1552/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/frahardi.wordpress.com/1552/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/frahardi.wordpress.com/1552/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/frahardi.wordpress.com/1552/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/frahardi.wordpress.com/1552/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/frahardi.wordpress.com/1552/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=frahardi.wordpress.com&amp;blog=10752653&amp;post=1552&amp;subd=frahardi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://frahardi.wordpress.com/2012/01/30/sekawanan-monyet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>0.000000 0.000000</georss:point>
		<geo:lat>0.000000</geo:lat>
		<geo:long>0.000000</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b5a330ff34775183bc064807ea4a0de5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">frahardi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>DUA SAJAK TENTANG BULAN</title>
		<link>http://frahardi.wordpress.com/2011/12/28/dua-sajak-tentang-bulan/</link>
		<comments>http://frahardi.wordpress.com/2011/12/28/dua-sajak-tentang-bulan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Dec 2011 09:00:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>frahardi</dc:creator>
				<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://frahardi.wordpress.com/?p=1544</guid>
		<description><![CDATA[Sore hari : bagai uang logam ratusan bersinar-sinar di tangan kutimang dan kutawar hargamu; dewi malam yang molek kucumbu kau di ambang pintu hampir pagi : bangkai kunang-kunang lengket di situ lonte tua yang pucat semalam suntuk tak laku dijual jangan gusar kuintip kau dari jendela wc. Jakarta, 4 &#8211; 9 &#8211; 74<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=frahardi.wordpress.com&amp;blog=10752653&amp;post=1544&amp;subd=frahardi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong></strong>Sore hari :</p>
<p>bagai uang logam ratusan<br />
bersinar-sinar di tangan<br />
kutimang dan kutawar<br />
hargamu; dewi malam yang molek<br />
kucumbu kau di ambang pintu</p>
<p>hampir pagi :</p>
<p>bangkai kunang-kunang lengket di situ<br />
lonte tua yang pucat<br />
semalam suntuk tak laku dijual<br />
jangan gusar<br />
kuintip kau dari jendela wc.</p>
<p>Jakarta, 4 &#8211; 9 &#8211; 74</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/frahardi.wordpress.com/1544/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/frahardi.wordpress.com/1544/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/frahardi.wordpress.com/1544/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/frahardi.wordpress.com/1544/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/frahardi.wordpress.com/1544/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/frahardi.wordpress.com/1544/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/frahardi.wordpress.com/1544/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/frahardi.wordpress.com/1544/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/frahardi.wordpress.com/1544/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/frahardi.wordpress.com/1544/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/frahardi.wordpress.com/1544/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/frahardi.wordpress.com/1544/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/frahardi.wordpress.com/1544/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/frahardi.wordpress.com/1544/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=frahardi.wordpress.com&amp;blog=10752653&amp;post=1544&amp;subd=frahardi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://frahardi.wordpress.com/2011/12/28/dua-sajak-tentang-bulan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>0.000000 0.000000</georss:point>
		<geo:lat>0.000000</geo:lat>
		<geo:long>0.000000</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b5a330ff34775183bc064807ea4a0de5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">frahardi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>JEMBATAN GANTUNG</title>
		<link>http://frahardi.wordpress.com/2011/12/28/jembatan-gantung/</link>
		<comments>http://frahardi.wordpress.com/2011/12/28/jembatan-gantung/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Dec 2011 08:58:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>frahardi</dc:creator>
				<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://frahardi.wordpress.com/?p=1542</guid>
		<description><![CDATA[Di atas ciliwung aku terkejut jadi benar kulitku tidak secoklat arus di bawah itu lebih tua lebih hitam akupun bersimpangan dengan laki-laki dan perempuan mereka diam dan aku juga terus berjalan wah jadi kalau begitu kulitku lebih kotor  dari lumpur yang coklat di bawah itu lebih jahat dari kawat yang merusak logam kawat-kawat jembatan ini. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=frahardi.wordpress.com&amp;blog=10752653&amp;post=1542&amp;subd=frahardi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong></strong>Di atas ciliwung aku terkejut<br />
jadi benar kulitku tidak secoklat<br />
arus di bawah itu<br />
lebih tua<br />
lebih hitam<br />
akupun bersimpangan dengan<br />
laki-laki dan perempuan<br />
mereka diam<br />
dan aku juga terus berjalan<br />
wah<br />
jadi kalau begitu<br />
kulitku lebih kotor  dari<br />
lumpur yang coklat di bawah itu<br />
lebih jahat dari kawat<br />
yang merusak logam<br />
kawat-kawat jembatan ini.</p>
<p>Jakarta, 6 &#8211; 9 &#8211; 74</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/frahardi.wordpress.com/1542/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/frahardi.wordpress.com/1542/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/frahardi.wordpress.com/1542/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/frahardi.wordpress.com/1542/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/frahardi.wordpress.com/1542/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/frahardi.wordpress.com/1542/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/frahardi.wordpress.com/1542/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/frahardi.wordpress.com/1542/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/frahardi.wordpress.com/1542/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/frahardi.wordpress.com/1542/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/frahardi.wordpress.com/1542/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/frahardi.wordpress.com/1542/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/frahardi.wordpress.com/1542/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/frahardi.wordpress.com/1542/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=frahardi.wordpress.com&amp;blog=10752653&amp;post=1542&amp;subd=frahardi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://frahardi.wordpress.com/2011/12/28/jembatan-gantung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>0.000000 0.000000</georss:point>
		<geo:lat>0.000000</geo:lat>
		<geo:long>0.000000</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b5a330ff34775183bc064807ea4a0de5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">frahardi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SENANDUNG BUAT PAK JENGGOT</title>
		<link>http://frahardi.wordpress.com/2011/12/28/senandung-buat-pak-jenggot/</link>
		<comments>http://frahardi.wordpress.com/2011/12/28/senandung-buat-pak-jenggot/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Dec 2011 08:55:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>frahardi</dc:creator>
				<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://frahardi.wordpress.com/?p=1540</guid>
		<description><![CDATA[senandung-senandungan jumlahnya empat baris dia ini asal usulnya dari perut yang lembap dan becek karena enggan diganti kotoran-kotoran dan asam-asaman dia coba mrambat-mrambat mulanya naik ke dada nyenggol-nyenggol jantung dan paru didesak kesana didesak kemari dan diapun nekat mbolos menyusupi krongkongan dan jebol dimulut brol do re mi fa sol wah sungguh sayang begitu keluar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=frahardi.wordpress.com&amp;blog=10752653&amp;post=1540&amp;subd=frahardi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong></strong>senandung-senandungan<br />
jumlahnya empat baris<br />
dia ini<br />
asal usulnya dari perut<br />
yang lembap dan becek<br />
karena enggan diganti kotoran-kotoran<br />
dan asam-asaman<br />
dia coba mrambat-mrambat<br />
mulanya naik ke dada<br />
nyenggol-nyenggol jantung dan paru<br />
didesak kesana<br />
didesak kemari<br />
dan diapun nekat mbolos<br />
menyusupi krongkongan<br />
dan jebol dimulut<br />
brol<br />
do re mi fa sol</p>
<p>wah<br />
sungguh sayang<br />
begitu keluar mulut<br />
baris satu senandung-senandungan ini<br />
diterjang angin<br />
menumbuk rumah-rumah<br />
menumbuk pohonan<br />
menumbuk macam-macam<br />
dan hilang</p>
<p>sungguh sayang<br />
tak ada yang sempat mendengar<br />
senandung-senandungan baris satu ini<br />
pak jenggot<br />
kau juga tak mendengarnya barangkali<br />
padahal mustahil<br />
aku mengulang-ulangnya lagi</p>
<p>baris kedua nyusul cepat-cepat<br />
meletup-letup di mulut<br />
mengalir di bibir<br />
baris dua ini tumpah dengan derasnya<br />
membasahi kaos dan baju<br />
hanya sayang<br />
laki-laki jenggot yang payungan<br />
dan lewat di jalan itu<br />
tak dapat mendengarnya juga<br />
dia terus saja jalan<br />
membungkuk-bungkuk<br />
celananya dicincing<br />
sandalnya dicangking<br />
apakah kau tuli<br />
hai pak jenggot<br />
enggankah kau<br />
telingamu diganggu senandung-senandungan ini<br />
malaikat jabalkat<br />
tobat<br />
jebul senandung-senandungan ini<br />
kalau sama hujan<br />
ya ampun<br />
Tuhan<br />
baris dua ini pecah dan cair<br />
hanyut di selokan-selokan<br />
dan hilang<br />
sungguh sayang aku tak sempat mencatat<br />
dan mengirimnya buat kau pak jenggot<br />
maaf</p>
<p>baris tiga juga nyusul<br />
bagai sinyal kapal<br />
keras dan lantang<br />
perutku tegang<br />
dadaku mengembang<br />
mulutku kerja keras<br />
maksudku :<br />
e, barangkali dapat mengatasi hujan<br />
dan sampai di telingamu<br />
pak jenggot<br />
semoga<br />
tapi, ya Tuhan<br />
iblis laknat geger kiamat<br />
sebelum tiba di telingamu<br />
baris ketiga ini hangus disantap petir<br />
terbakar dan luka-luka<br />
terkapar di tanah<br />
malapetaka lagi<br />
pak jenggot<br />
cobalah<br />
teliti dan tafsirkanlah sendiri<br />
makna baris tiga ini<br />
walau telah rusak<br />
hangus dan luka-luka</p>
<p>ternyata baris empat juga<br />
tidak krasan di perut<br />
campur cacing-cacing<br />
campur tai<br />
campur bakteri dan aam-asaman<br />
campur kentut<br />
campur kencing<br />
campur sperma<br />
darah haid<br />
janin<br />
calon bayi<br />
bakalan orang<br />
habis sudah kesabarannya<br />
baris empat ini berontak kuat-kuat<br />
tapi malang baginya<br />
sudah dua hari ini hujan<br />
renyai jatuh-jatuh di daun<br />
daun-daun pisang yang bobrok<br />
diterjang-terjang angin<br />
angin keras<br />
keras sekali dan laki-laki jenggot itu<br />
noleh padaku<br />
dan senyumnya<br />
wah senyumnya<br />
dan matanya yang juling<br />
matanya<br />
di bawah payung itu<br />
jenggotnya</p>
<p>jenggot putih rintik-rintik<br />
hujan renyai rintik-rintik<br />
leherku tersumbat sekarang<br />
rahangku mengatup kuat-kuat<br />
waduh-waduh<br />
kasihan sekali baris empat</p>
<p>senandung-senandungan ini<br />
tawanan konyol dan sia-sia<br />
melonjak ke dada<br />
mendesak-desak rusuk dan punggung<br />
terbanting di pinggang<br />
menumbuk ginjal<br />
mental naik lagi<br />
tergencet usus-usus<br />
terpetet<br />
maaf<br />
baris empat senandung-senandungan ini<br />
terpaksa tak dapat kau dengar<br />
pak jenggot<br />
aku tidak mampu lagi<br />
cape<br />
mulutku sudah tak kuat<br />
dan leherku seperti disumbat<br />
tapi kau jangan buru-buru marah<br />
atau tertawa<br />
mau kan?</p>
<p>besok pagi-pagi sekali<br />
waktu bangun fajar<br />
telitilah sendiri<br />
dia akan merdeka juga akhirnya<br />
campur bakteri<br />
campur kencing dan kotoran-kotoran<br />
lendir dan darah<br />
telitilah<br />
baris empat senandung-senandungan ini<br />
baris akhir yang kramat<br />
akan keluar juga kesudahannya<br />
campur kotoran-kotoran<br />
telitilah<br />
pak jenggot<br />
telitilah.</p>
<p>22 Maret 1974</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/frahardi.wordpress.com/1540/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/frahardi.wordpress.com/1540/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/frahardi.wordpress.com/1540/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/frahardi.wordpress.com/1540/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/frahardi.wordpress.com/1540/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/frahardi.wordpress.com/1540/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/frahardi.wordpress.com/1540/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/frahardi.wordpress.com/1540/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/frahardi.wordpress.com/1540/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/frahardi.wordpress.com/1540/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/frahardi.wordpress.com/1540/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/frahardi.wordpress.com/1540/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/frahardi.wordpress.com/1540/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/frahardi.wordpress.com/1540/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=frahardi.wordpress.com&amp;blog=10752653&amp;post=1540&amp;subd=frahardi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://frahardi.wordpress.com/2011/12/28/senandung-buat-pak-jenggot/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>0.000000 0.000000</georss:point>
		<geo:lat>0.000000</geo:lat>
		<geo:long>0.000000</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b5a330ff34775183bc064807ea4a0de5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">frahardi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>&#8220;Guci Wasiat&#8221;</title>
		<link>http://frahardi.wordpress.com/2011/12/23/guci-wasiat/</link>
		<comments>http://frahardi.wordpress.com/2011/12/23/guci-wasiat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Dec 2011 06:07:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>frahardi</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://frahardi.wordpress.com/?p=1536</guid>
		<description><![CDATA[Istriku sakit. Istri satu-satunya. Masih sangat muda dan belum punya anak. Istri yang sangat kumanjakan dan kucintai dengan sepenuh hati. Aku bingung. Susah. Sedih. Tidak tahu apa yang harus kuperbuat. Memanggil dokter pasti sudah aku lakukan. Dokter juga datang, memeriksa, menulis resep, dan obatnya pun sudah kubeli di Apotik. Seketika. Dan istrikupun seketika itu juga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=frahardi.wordpress.com&amp;blog=10752653&amp;post=1536&amp;subd=frahardi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong></strong>Istriku sakit. Istri satu-satunya. Masih sangat muda dan belum punya anak. Istri yang sangat kumanjakan dan kucintai dengan sepenuh hati. Aku bingung. Susah. Sedih. Tidak tahu apa yang harus kuperbuat. Memanggil dokter pasti sudah aku lakukan. Dokter juga datang, memeriksa, menulis resep, dan obatnya pun sudah kubeli di Apotik. Seketika. Dan istrikupun seketika itu juga telah memakan obatnya. Selain juga telah mendapatkan suntikan. Aku ingin sekali dia dapat cepat sembuh. Dapat menanak nasi. Membuat teh dan kopi. Berbelanja. Pendeknya melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. Sebab terus terang saja aku memang tidak kuat untuk menggaji seorang pembantu. Kutunggu, satu hari : belum sembuh, baru bekerja pasti obatnya. Dua hari : juga tak ada perubahan, ah Tiga hari : Kok malah tambah payah. Apa dokternya salah menulis resep? Empat hari : Tak mau makan bahkan minumpun susah sekali. Aku putus asa! Kubawa istriku ke rumah sakit. Diopname!</p>
<p>Aku bukan orang yang kolot. Aku percaya pada dokter. Sekolahnya saja katanya tujuh tahun bahkan lebih, jadi pasti pandailah yang namanya dokter itu. Aku ini juga berpendidikan. Paling tidak aku masih ingat bahwa yang menyebabkan orang menjadi sakit itu hanya ada beberapa saja. Karena virus, baksil, bakteri atau jamur serta cacing. Juga karena kekurangan atau kelebihan makanan, keracunan, atau karena rusaknya salah satu di antara sekian banyak organ tubuh. Hanya itu. Sebab-sebab lain, misalnya karena setan, ditenung, atau tetek bengek yang lain aku sama sekali tidak percaya. Ini bukan salahku. Sebab memang sejak kecil aku  dididik untuk tidak mempercayai hal-hal yang tidak rasional. Dengan bekal pikiran seperti inilah aku berharap dan berkeyakinan bahwa dalam waktu yang relatif singkat istriku bakal sembuh. Aku sama sekali tak pernah membayangkan atau mempunyai kekhawatiran, bagaimana kalau istriku sampai mati? Mustahil, pikirku. Aku tetap mantap dan yakin. Tapi dua bulan kemudian istriku mati. Aku menangis.</p>
<p>Batinku terpukul. Menurut keterangan dokter, penyebab kematian istriku adalah tidak berfungsinya saluran yang mengalirkan darah menuju ke arah ginjal, serta dari ginjal ke kantung kencing. Aku percaya saja. Tapi aku sedih. Aku tidak tahu bagaimana istriku dikuburkan, disembahyangkan dan sebagainya. Pastur juga datang. Orang tuaku, mertuaku, saudara-saudaraku semua ikut berkabung. Hampir semuanya tidak menyangka bahwa istriku bakal berumur pendek. Dan jadilah aku seorang duda. Tinggal sendirian di rumah. Karena tidak tega, terpaksa ibuku dan adikku yang masih duduk di kelas empat SD itu menemaniku. Benar juga. Aku bisa agak terhibur dengan adanya ibu serta adikku itu. Pikiranku mulai tenang. Dapat bekerja kembali. Tapi rencana untuk kawin atau mencari istri lagi sama sekali belum ada. Aku masih saja belum dapat melupakan mendiang istriku. Tiap minggu aku datang ke makamnya. Sebulan, kemudian dua bulan berlalu dengan tenang. Alangkah sepinya. Dua tahun lamanya kami berumah tangga tapi belum dikaruniai anak seorangpun. Tiga bulanpun lewat dengan cepat sekali dan akupun jatuh sakit panas. Sering mengigau dan tak mau makan. Dokter datang, memeriksa, memberi obat, nasehat-nasehat lalu minta uang dan pergi. Pastur juga datang mengajukan pertanyaan-pertanyaan, memberi nasehat tapi tidak lalu pergi. Pastur itu lama sekali menungguiku. Pertanyaan beliau ini aneh. Nasehatnyapun juga ajaib. Dalam sakit aku tak habis pikir dan tersenyum geli di dalam batin. Aku tidak disuruhnya berdoa atau ingat kepada Tuhan seperti biasanya, tapi disuruh mengubah arah tidurku. Tidak boleh mengarah ke utara tapi harus ke arah barat. Kok lucu, pikirku. Tapi aku juga menurut. Toh seorang pastur tidak mungkin memberi nasehat dengan ngawur. Ingat, untuk dapat menjadi pastur sekolahnya juga lama sampai bertahun-tahun. Pastur itu akhirnya pulang tapi berpesan kalau segera mau datang lagi. Dan benar juga. Sorenya, Beliau datang dengan dua orang pembantunya yang membawa peralatan yang ruwet banyak sekali dan kabelnya pun melilit-lilit banyak nian. Aku tambah heran untuk apa itu? Tapi karena memang sangat ngantuk akupun lalu tertidur pelan-pelan.</p>
<p>Aku bangun lalu bertengkar dengan Pastur itu. Soalnya aku tidak setuju kalau aku diobati dengan cara-cara yang aneh. Aku harus tidur dengan menelentang. Tidak boleh tengkurap atau miring. Harus tetap mengarah ke barat. Dan yang paling tidak masuk akal ialah ditaruhnya sebuah Guci Wasiat di atas perutku. Guci tersebut diikat dan dihubungkan debgan kabel-kabel ke arah sebuah accu.<br />
&#8220;Kenapa aku disetrum?&#8221; tanyaku dengan gemas setengah sadar setengah tidak.<br />
&#8220;Bukan disetrum,&#8221; jawab ibuku dengan penuh belas kasihan.<br />
&#8220;Kau diobati oleh Romo&#8221;.<br />
&#8220;Bagaimana rasanya sekarang?&#8221; Tanya Pastur itu yang terus saja sibuk dengan alat-alatnya.<br />
&#8220;Tidak terasa apa-apa&#8221;. Jawabku karena memang tidak merasakan apa-apa.<br />
&#8220;Masih sakit?&#8221;<br />
&#8220;Masih&#8221; Pastur itu lalu diam. Aku teringat mendiang istriku.</p>
<p>Wajahnya yang pucat. Tapi matanya tetap bersinar. Juga pada saat-saat terakhirnya. Aku takut mati. Ini wajar. Tapi aku rindu sekali pada mendiang istriku. Empat malam lamanya Guci Wasiat  itu ditaruhnya di atas perutku. Pembantu Pastur itulah yang mengurus segala-galanya. Hari kelima aku protes.<br />
&#8220;Aku tidak mau kalau diobati dengan cara begini&#8221;. Tapi ibuku mendekat lalu melotot.<br />
&#8220;Kau tidak percaya lagi pada Pastur? Kau mulai ragu-ragu pada Tuhan?&#8221;<br />
&#8220;Pastur bukan Tuhan!&#8221; aku berteriak keras-keras. Ibu menangis.<br />
&#8220;Mas, tidak apa-apa. Biar lekas sembuh&#8221;. Pembantu Pastur itu dengan sabar memberi nasehat. Aku mengamuk.</p>
<p>Guci itu kuangkat lalu kubanting. Alat-alatnya ada yang pecah. Dipan kusuruh memindahkan mengarah ke utara seperti semula. Pembantu Pastur itu kuusir dan dengan sangat aku mohon pada Pastur agar tidak lagi datang sebelum aku sembuh. Ibuku tambah keras tangisannya. Dan para tetanggapun kaget dan berlarian ke rumahku demi mendengar tangisan ibuku yang melolong-lolong itu. Beberapa orang mencoba memegangi tanganku tapi kulemparkan.</p>
<p>&#8220;Aku masih normal! Bajingan! Aku memang sakit tapi tidak sinting. Tahu?&#8221; Tanpa kulihat asal-usulnya tahu-tahu Pastur sudah datang. Pertama-tama yang dipegangnya adalah dahiku. Aku tersinggung.<br />
&#8220;Maaf Romo, aku tidak gila&#8221;.<br />
&#8220;Tapi kau sakit!&#8221;<br />
&#8220;Aku tidak mau kalau disetrum&#8221;.<br />
&#8220;Kau diobati&#8221;.<br />
&#8220;Suruh Dokter kemari. Aku ingin Dokter&#8221;.<br />
&#8220;Dokter tidak bisa mengobati sakitmu&#8221;.<br />
&#8220;Bisa&#8221;.</p>
<p>Nasibku kurang baik memang. Istriku baru saja meninggal. Aku jatuh sakit. Belum juga sembuh aku telah dicap &#8220;tidak normal&#8221;. Mau protes, protes pada siapa. Hubunganku dengan Gereja retak. Pastur itu menganggapku telah menolak bantuannya dengan kasar dan tidak sopan. Aku lalu buru-buru minta maaf. Tapi terlambat Permintaan maafku hanya dianggap basa-basi oleh para pembantu Pastur. Beliau sendiri sebenarnya tidak apa-apa, tapi para pembantunyalah yang ngotot. Tapi aku sembuh. Tidak segera, tapi dua bulan kemudian. Belum juga kuat aku berangkat bekerja sudah datang surat pemberhentian dengan hormat karena aku telah dianggap &#8220;tidak normal&#8221; oleh Yayasan tempatku bekerja. Aku protes lagi. Kupanggil seorang psikiater untuk kumintai keterangannya. Ternyata aku memang tetap masih normal. 100 % waras! Tapi kenapa aku dipecat? Entahlah. Tapi lega hatiku. Aku yakin. Sembuhku bukannya karena &#8220;Guci Wasiat&#8221;, tapi karena dokter. Yang konon sekolahnya sampai bertahun-tahun. Aku lega! Lega. ***</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/frahardi.wordpress.com/1536/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/frahardi.wordpress.com/1536/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/frahardi.wordpress.com/1536/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/frahardi.wordpress.com/1536/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/frahardi.wordpress.com/1536/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/frahardi.wordpress.com/1536/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/frahardi.wordpress.com/1536/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/frahardi.wordpress.com/1536/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/frahardi.wordpress.com/1536/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/frahardi.wordpress.com/1536/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/frahardi.wordpress.com/1536/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/frahardi.wordpress.com/1536/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/frahardi.wordpress.com/1536/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/frahardi.wordpress.com/1536/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=frahardi.wordpress.com&amp;blog=10752653&amp;post=1536&amp;subd=frahardi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://frahardi.wordpress.com/2011/12/23/guci-wasiat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		<georss:point>0.000000 0.000000</georss:point>
		<geo:lat>0.000000</geo:lat>
		<geo:long>0.000000</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b5a330ff34775183bc064807ea4a0de5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">frahardi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Rencana</title>
		<link>http://frahardi.wordpress.com/2011/12/23/rencana/</link>
		<comments>http://frahardi.wordpress.com/2011/12/23/rencana/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Dec 2011 06:03:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>frahardi</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://frahardi.wordpress.com/?p=1534</guid>
		<description><![CDATA[Inilah saatnya yang paling tepat untuk mulai. Aku sudah siap. Keadaanku fisik maupun mental benar-benar &#8220;siip&#8221;. Fisik maksudnya badanku. Saat ini badanku sangat sehat untuk melakukan apapun, sebab sedang berada dalam kondisi puncak. Selamanya memang belum pernah aku mengidap penyakit-penyakit yang gawat; paling hanya masuk angin. Selain badanku yang sehat, secara material hidupku kecukupan. Yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=frahardi.wordpress.com&amp;blog=10752653&amp;post=1534&amp;subd=frahardi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong></strong>Inilah saatnya yang paling tepat untuk mulai. Aku sudah siap. Keadaanku fisik maupun mental benar-benar &#8220;siip&#8221;. Fisik maksudnya badanku. Saat ini badanku sangat sehat untuk melakukan apapun, sebab sedang berada dalam kondisi puncak. Selamanya memang belum pernah aku mengidap penyakit-penyakit yang gawat; paling hanya masuk angin. Selain badanku yang sehat, secara material hidupku kecukupan. Yang namanya kenikmatan hidup semua pernah kukecap. Hal ini tidaklah mengherankan. Aku punya tanah yang luas sekali dan subur warisan dari moyangku yang telah almarhum. Tanah inilah yang merupakan sumber penghidupanku selama ini. Aku punya rumah, perabotan komplit lengkap dengan seorang istri yang cantik dan penurut, anakku sudah empat, lelaki dua wanita dua, kurasa cukup. Ini tadi soal materi, lalu mengenai moral, aku punya latar belakang yang kuat. Kakekku Lurah. Pendidikan : akulah satu-satunya orang yang mengantongi ijazah SMA di kampung ini. Tapi yang paling penting, aku mendapat dukungan paling banyak dari warga desa untuk ikut mencalonkan diri sebagai &#8220;Lurah&#8221;.</p>
<p>Karena dari semula aku sudah benar-benar siap, maka tak ada kesulitan yang kuhadapi. Santai saja! Saat ini aku telah memegang jabatan Carik. Resminya akulah sekarang penguasa tertinggi di desa semenjak Lurah tua itu meninggal. Hansip, Kebayan, Modin, Bekel, pendeknya semua tokoh masyarakat tunduk padaku. Camat, Komandan Koramil dan Kepolisian sudah berhasil kurangkul untuk menjadi &#8220;Belongku&#8221;. Dan masih ada satu lagi yang membuatku benar-benar mantap seratus persen lahir dan batin, yakni wangsit. Beberapa hari yang lalu aku telah mendapatkan wangsit di bawah sebatang pohon besar yang keramat. Isi wangsit tersebut : Akulah yang bakal menduduki singgasana Lurah di desa ini sepeninggal Lurah tua yang sakit-sakitan itu. Untuk memahami orisinil atau tidaknya wangsit tersebut aku telah berkonsultasi dengan cerdik pandai dalam bidang perwangsitan yang lazimnya disebut dukun. Dan semua dukun yang kuhubungi selalu mengatakan bahwa wangsit yang kuterima itu asli adanya. Dan supaya keadaanku menjadi mantap maka dukun-dukun yang kudatangi itu selalu memberi bermacam-macam jimat yang ampuh yang senantiasa harus kubawa kemana-mana. Ini penting. Bukannya klenik atau tahayul. Soalnya rival-rivalku semua pasti membawa-bawa jimat juga. Dan aku yakin merekapun pasti mengaku-ngaku mendapatkan wangsit juga. Tapi jelas wangsit mereka itu wangsit palsu. Secara rasional hal ini memang susah untuk dapat diterima akal sehat. Tapi di sini masalahnya lain. Jangan hanya pakai akal kalau mau sukses. Pakailah apa saja, halal atau tidak halal pokoknya menang.</p>
<p>Aku tidak perlu ikut turun ke lapangan untuk kampanye. Orang-orang sudah cukup banyak. Mereka lebih tahu mana yang harus disikat, mana yang mesti dijotos dan mana pula yang bisa dirayu agar memilihku dalam pemungutan suara ini. Karena aku adalah Carik, maka yang kumaksud dengan orang-orangku adalah Hansip, Kebayan, Bekel, dan lain-lain pembantuku. Merekalah yang kuserahi tugas untuk berkampanye. Tentunya dengan dukungan Pak Camat, Komandan Koramil dan Kepolisian. Aku tinggal ongkang-ongkang saja di rumah, 80 % kemenangan sudah di tangan. Tinggal menyusun rencana selanjutnya. Tenang! Santai!.</p>
<p>Yang pertama-tama harus kukerjakan nanti setelah aku benar-benar terpilih menjadi Lurah adalah membereskan saingan-sainganku. Sebagai manusia normal mereka pasti kecewa dengan kekalahan mereka, Jalan pikiran orang yang kalah di manapun dan kapan pun pasti sama. Pemungutan suara tidak sah, main sabun dalam menghitung, main guna-guna, layak didukung ABRI kok, dan sebagainya dan sebagainya. Untuk itu semua, aku juga sudah lama siap. Kan ada pepatah : diam itu emas! Nah mau apalagi? Aku sudah sah menjadi Lurah dengan Pemilihan yang resmi dan diakui oleh pemerintah, tinggal menunggu tanggal pelantikan dan : Zerro.</p>
<p>Tapi khusus untuk orang-orang frustasi tadi aku tidak boleh hanya diam saja. Mereka bisa kalap dan nekat. Kalau sudah begini berbahaya. Aku harus cepat bertindak. Mereka harus segera kusingkirkan. Tidak perlu dibunuh, sebab itu namanya biadab. Cukuplah sudah kalau dikucilkan dari pergaulan masyarakat. Tapi ada juga yang karena sangat berbahaya malah justru harus kurangkul.</p>
<p>Contohnya Si Dulhat. Selisih suara kami pasti tidak akan banyak, sebab pendukungnya dan pendukungku hampir seimbang. Kan gawat? Dasar orangnya licik dan pintar bikin isyu Kalau ia kusingkirkan, awak yang payah. Makanya dia harus segera kurangkul nanti sehabis pemilihan. Dia harus kuangkat menjadi Carik mengganti kedudukanku sekarang ini. Hal ini mendatangkan keuntungan ganda. Pertama dia mudah kuawasi, kedua bisa kupakai sebagai perisai. Sebab dengan kedudukannya sebagai Carik maka praktis para pendukungnya tidak akan berani menggangguku lagi,</p>
<p>Mengganggu saya berarti mengganggu dia juga! Selain itu kalau dia sudah jadi Carik frustrasinya pasti berkurang. Sedapat mungkin janji tetap harus kutepati. Terutama janji selama kampanye untuk jadi Lurah ini. Orang-orangku sudah terlanjur mengobral janji yang kadang-kadang terlalu fantastik. Tak apa. Rakyat tidak banyak tuntutannya. Langkah pertama Mesjid dan gedung sekolah yang sudah mau ambruk itu harus cepat-cepat dipugar. Lalu tempat mandi umum, jembatan, jalan-jalan, sudah! Mudah saja. Toh untuk ini semua nanti tak sepersenpun bakal keluar dari kantungku? Semua ya dari mereka juga nantinya. Tapi mereka puas. Dan aku dapat tidur dengan tenang dan untuk meminterkan mereka? Atau membuat mereka dapat hidup dengan lebih layak? Yah itu juga! Tapi Lurah kan bisanya cuma membimbing dan mengarahkan kerjanya, bukannya menyulap.</p>
<p>Meskipun sudah menjadi Lurah, nantinya aku juga tetap manusia biasa yang lemah. Yang punya rencana-rencana khusus untuk kepentingan pribadi. Kurasa ini sehat saja. Aku pingin punya rumah yang mendingan besarnya. Soalnya kalau ada rapat atau pertemuan-pertemuan yang lain rumah ini terlalu sempit. Juga perabotannya kalau dapat harus diganti semua nantinya. Memalukan sekali kalau aku sudah betul-betul jadi Lurah lalu ada tamu Pak Camat atau Pak Bupati dan beliau-beliau itu harus duduk di kursi yang macam begini. Lalu aku juga harus memikirkan bagaimana nanti kalau aku sudah dipanggil untuk kembali ke haribaanNya, apakah tanah warisan ini akan cukup kalau harus dipotong-potong untuk hidup anak-cucuku? Lalu, nanti diiris-iris lagi oleh ahli waris anak-cucuku! Ngeres sekali jadinya. Apa keturunanku mesti ikut juga ditransmigrasikan? Ya Tuhan! Maka nanti kalau aku sudah terpilih jadi Lurah hal ini harus kupikirkan. Ini penting.</p>
<p>Istriku memang cantik dan memenuhi syarat untuk keperluan tidur bersama. Tapi apakah dia akan tetap cantik dan memenuhi syarat setelah nanti anak-anaknya sama besar dengan ayah dan ibunya? Kapan-kapan tentunya pingin juga sekali-kali merasakan santapan orisinil dan segar. Dan selain itu masih ada pula segudang rencana-rencana yang lain yang sudah 80 % di tangan. Tapi? Apakah yang 20 %, yang meskipun kecil tapi kemungkinan toh  tetap ada itu tidak ikut kumasukkan dalam daftar rencana panjang ini? Bagaimana kalau aku kalah? Bagaimana kalau Si Dulhat yang jadi Lurah? Padahal pasti banyak biaya yang kukeluarkan untuk memikat massa agar mau memilihku. Bagaimana ya? Tapi berhubung kemungkinan untuk kalah itu hanyalah 20 %, maka baiklah kubulatkan saja sekalian. Sebab mendingan bikin rencana-rencana seperti tadi itu. Habis mengasyikkan sih soalnya! ***</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/frahardi.wordpress.com/1534/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/frahardi.wordpress.com/1534/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/frahardi.wordpress.com/1534/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/frahardi.wordpress.com/1534/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/frahardi.wordpress.com/1534/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/frahardi.wordpress.com/1534/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/frahardi.wordpress.com/1534/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/frahardi.wordpress.com/1534/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/frahardi.wordpress.com/1534/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/frahardi.wordpress.com/1534/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/frahardi.wordpress.com/1534/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/frahardi.wordpress.com/1534/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/frahardi.wordpress.com/1534/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/frahardi.wordpress.com/1534/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=frahardi.wordpress.com&amp;blog=10752653&amp;post=1534&amp;subd=frahardi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://frahardi.wordpress.com/2011/12/23/rencana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>0.000000 0.000000</georss:point>
		<geo:lat>0.000000</geo:lat>
		<geo:long>0.000000</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b5a330ff34775183bc064807ea4a0de5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">frahardi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BULAN YANG TERAKHIR</title>
		<link>http://frahardi.wordpress.com/2011/11/18/bulan-yang-terakhir/</link>
		<comments>http://frahardi.wordpress.com/2011/11/18/bulan-yang-terakhir/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Nov 2011 03:54:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>frahardi</dc:creator>
				<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://frahardi.wordpress.com/?p=1529</guid>
		<description><![CDATA[dua bulan yang lalu debu telah dihapus bersih jalan-jalan sudah becek lagi dan tinggalah kuntum-kuntum aneka di kebun samping gerimis setia menyiraminya rona hijau buru-buru disiapkan buat kartu-kartu natal yang hampir beredar di halaman anggrek bermekaran di dinding, kalender usang tinggal hari-hari kenangan serentak meja dihias lilin dinyalakan serentak wajah baru dikemas bulan yang terakhir [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=frahardi.wordpress.com&amp;blog=10752653&amp;post=1529&amp;subd=frahardi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong></strong>dua bulan yang lalu<br />
debu telah dihapus bersih<br />
jalan-jalan sudah becek lagi<br />
dan tinggalah kuntum-kuntum aneka<br />
di kebun samping<br />
gerimis setia menyiraminya</p>
<p>rona hijau buru-buru disiapkan<br />
buat kartu-kartu natal yang hampir beredar<br />
di halaman anggrek bermekaran</p>
<p>di dinding,<br />
kalender usang tinggal hari-hari kenangan<br />
serentak meja dihias lilin dinyalakan<br />
serentak wajah baru dikemas<br />
bulan yang terakhir<br />
telah habis.</p>
<p>10 Januari 1969</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/frahardi.wordpress.com/1529/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/frahardi.wordpress.com/1529/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/frahardi.wordpress.com/1529/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/frahardi.wordpress.com/1529/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/frahardi.wordpress.com/1529/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/frahardi.wordpress.com/1529/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/frahardi.wordpress.com/1529/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/frahardi.wordpress.com/1529/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/frahardi.wordpress.com/1529/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/frahardi.wordpress.com/1529/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/frahardi.wordpress.com/1529/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/frahardi.wordpress.com/1529/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/frahardi.wordpress.com/1529/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/frahardi.wordpress.com/1529/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=frahardi.wordpress.com&amp;blog=10752653&amp;post=1529&amp;subd=frahardi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://frahardi.wordpress.com/2011/11/18/bulan-yang-terakhir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>0.000000 0.000000</georss:point>
		<geo:lat>0.000000</geo:lat>
		<geo:long>0.000000</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b5a330ff34775183bc064807ea4a0de5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">frahardi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BURUNG ENGKAU</title>
		<link>http://frahardi.wordpress.com/2011/11/18/burung-engkau/</link>
		<comments>http://frahardi.wordpress.com/2011/11/18/burung-engkau/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Nov 2011 03:52:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>frahardi</dc:creator>
				<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://frahardi.wordpress.com/?p=1527</guid>
		<description><![CDATA[burung engkau yang tegang dan bertengger bagai hakim sedang bludrek kutembak kau dengan panah asmara yang panas dan membara bagai bedil agar kita betul-betul merdeka seratus persen dan sejahtera dunia akhirat burung engkau yang hantu keras dan kaku kutembak kau pakai batu. 1977<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=frahardi.wordpress.com&amp;blog=10752653&amp;post=1527&amp;subd=frahardi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong></strong>burung engkau yang tegang dan bertengger<br />
bagai hakim sedang bludrek<br />
kutembak kau dengan panah asmara yang<br />
panas dan membara bagai bedil agar<br />
kita betul-betul merdeka seratus persen<br />
dan sejahtera dunia akhirat</p>
<p>burung engkau<br />
yang hantu<br />
keras dan kaku<br />
kutembak kau pakai batu.</p>
<p>1977</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/frahardi.wordpress.com/1527/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/frahardi.wordpress.com/1527/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/frahardi.wordpress.com/1527/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/frahardi.wordpress.com/1527/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/frahardi.wordpress.com/1527/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/frahardi.wordpress.com/1527/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/frahardi.wordpress.com/1527/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/frahardi.wordpress.com/1527/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/frahardi.wordpress.com/1527/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/frahardi.wordpress.com/1527/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/frahardi.wordpress.com/1527/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/frahardi.wordpress.com/1527/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/frahardi.wordpress.com/1527/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/frahardi.wordpress.com/1527/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=frahardi.wordpress.com&amp;blog=10752653&amp;post=1527&amp;subd=frahardi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://frahardi.wordpress.com/2011/11/18/burung-engkau/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>0.000000 0.000000</georss:point>
		<geo:lat>0.000000</geo:lat>
		<geo:long>0.000000</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b5a330ff34775183bc064807ea4a0de5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">frahardi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BERANAK BECAK</title>
		<link>http://frahardi.wordpress.com/2011/11/18/beranak-becak/</link>
		<comments>http://frahardi.wordpress.com/2011/11/18/beranak-becak/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Nov 2011 03:50:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>frahardi</dc:creator>
				<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://frahardi.wordpress.com/?p=1525</guid>
		<description><![CDATA[syahdan, di suatu kemarin yang akan datang di dekat sebuah tinju yang batu bapaku, babuku hamilku yang bengkak beranak becak kugenjot, kudorong, kujerumuskan dia ke tuhan ke dalam gang-gang yang jarang terpegang. 1978<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=frahardi.wordpress.com&amp;blog=10752653&amp;post=1525&amp;subd=frahardi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong></strong>syahdan,<br />
di suatu kemarin yang akan datang<br />
di dekat sebuah tinju yang batu<br />
bapaku, babuku<br />
hamilku yang bengkak beranak<br />
becak<br />
kugenjot, kudorong, kujerumuskan<br />
dia ke tuhan<br />
ke dalam gang-gang yang<br />
jarang terpegang.</p>
<p>1978</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/frahardi.wordpress.com/1525/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/frahardi.wordpress.com/1525/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/frahardi.wordpress.com/1525/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/frahardi.wordpress.com/1525/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/frahardi.wordpress.com/1525/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/frahardi.wordpress.com/1525/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/frahardi.wordpress.com/1525/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/frahardi.wordpress.com/1525/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/frahardi.wordpress.com/1525/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/frahardi.wordpress.com/1525/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/frahardi.wordpress.com/1525/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/frahardi.wordpress.com/1525/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/frahardi.wordpress.com/1525/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/frahardi.wordpress.com/1525/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=frahardi.wordpress.com&amp;blog=10752653&amp;post=1525&amp;subd=frahardi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://frahardi.wordpress.com/2011/11/18/beranak-becak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>0.000000 0.000000</georss:point>
		<geo:lat>0.000000</geo:lat>
		<geo:long>0.000000</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b5a330ff34775183bc064807ea4a0de5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">frahardi</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
