ULASAN KEMUKUS


CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
Ritual Gunung Kemukus
Stanley Adi Prasetyo – Jakarta  

    

*) Antara Harapan, Kemiskinan, dan Eksploitasi  

Adakah hal seaneh seperti yang terjadi setiap Kamis Pahing malam Jumat Pon di Gunung Kemukus? Di kawasan bukit yang terletak di Sragen, Jawa Tengah, ini ada ratusan bahkan ribuan orang mencari keberuntungan dengan cara aneh, yaitu berhubungan seks dengan orang yang bukan pasangannya secara sukarela. Suasana di kawasan ini pada saat-saat itu lebih mirip pasar malam. Kawasan yang pada hari-hari biasa umumnya temaram tiba-tiba menjadi benderang. Ada banyak warung jajanan, ada penjual pernik-pernik, penjual rokok dan kacang rebus hingga orang yang menyewakan bilik atau tikar secara jam-jaman untuk kepentingan short time.  

    

Awalnya legenda  

Apa hubungan antara keberuntungan dan syahwat? Awalnya adalah sebuah legenda tentang Oedipus Jawa pada zaman keruntuhan Majapahit akibat menguatnya kerajaan Islam di Jawa Tengah. Ia seorang pemuda ganteng bernama Pangeran Samodro, putra Raja Brawijaya, penguasa Majapahit. Ia terlibat dalam cinta terlarang dengan ibu tirinya yang juga selir Brawijaya, Nyai Ontrowulan. Meski sudah agak tua, Nyai Ontrowulan masih terlihat sangat menawan. Mereka berdua memutuskan untuk pergi ke Demak Bintoro guna menikah. Namun, sesampai di tempat tujuan ada banyak duda kaya dan prajurit Demak yang jatuh hati kepada Nyai Ontrowulan. Mereka berupaya menggagalkan pernikahan keduanya. Pangeran Samodro dan ibu tiri beserta para pengawalnya lantas memutuskan untuk lari ke selatan. Saat berada di Gunung Kemukus, Pangeran Samodro dan Nyai Ontrowulan tak bisa lagi menahan hasrat seksual mereka. Di bawah pohon nagasari, mereka melakukan hubungan seks layaknya suami-istri.  

Dasar sial, pasukan Demak Bintoro berhasil menyusul. Keduanya dibunuh pada saat sedang berhubungan seks belum sampai pada puncaknya. Si pangeran dan ibu tirinya lantas dikubur dalam satu lubang. Konon, dalam lubang tempat terbunuhnya mereka itulah muncul sebuah sumber air jernih yang kini disebut sebagai Sendang Ontrowulan. Air sendang ini dipercaya memiliki multikhasiat dan bisa bikin orang awet muda. Dalam legenda juga dikisahkan munculnya asap, disusul suara di atas makam Samodro dan Ontrowulan yang baru dikuburkan, ”Wahai manusia, barang siapa mau datang ke tempat ini dan bisa menyelesaikan hubungan seks layaknya suami-istri kami yang belum selesai ini tujuh kali, maka segala permintaan kalian akan dikabulkan oleh Dewa Bathara yang Maha Agung.”  

Novel ini mengambil Gunung Kemukus sebagai setting cerita. Ada banyak tokoh dalam cerita ini. Ada Meilan, seorang wartawan keturunan China yang menggerutu saat mendapat penugasan untuk meliput Gunung Kemukus. Ada Sarmin, si pedagang bakso yang kalah wibawa dengan istrinya yang bermimpi kehidupannya bisa kembali seperti zaman sebelum ia nikah dan jualan baksonya kembali laris manis. Ada Badrun, juragan tembakau; ada Romo Drajad, seorang hombreng yang punya pengaruh kuat dan berpendapat bahwa fenomena Kemukus adalah sebuah revolusi kultural. 

Ada juga tokoh Wati, istri Sarmin, yang terobsesi bisa kawin dengan si pak guru, Mas Bagus. Ada perempuan kelas menengah paruh baya Sri Wahyuni alias Yuyun yang mengikuti dorongan suaminya untuk ngalap berkah ke Kemukus. Ada Parti, seorang perempuan pelacur yang siap memangsa siapa saja lelaki yang baru pertama kali mencoba datang ngalap berkah.  

Ada beberapa karakter tokoh antagonis yang kuat dalam novel ini, tetapi karakter yang paling kuat ada pada diri Wati. Istri Sarmin ini digambarkan sebagai perempuan yang menilai suaminya sebagai lembek, goblok, tak pandai menipu dalam menjalankan dagangan baksonya. Ia terpaksa menikah dengan Sarmin hanya lantaran niatnya untuk menjebak Mas Bagus dengan mengajaknya berhubungan seks dan kemudian mengaku hamil ketahuan oleh orangtuanya. Ia selalu ragu-ragu antara ingin bercerai dan rasa takut bercerai dalam keadaan miskin.  

Cara bertutur dalam novel ini betul-betul lancar. Gaya bahasa juga mengalir. Pada beberapa bagian, di mana si tokoh menjadi orang pertama, seperti halnya saat tokoh Wati ngedumel pada dirinya sendiri (hal 51-60), kita sepertinya diingatkan pada gaya Linus G Suryadi dalam Pengakuan Pariyem. Bedanya, Pariyem adalah seorang perempuan yang pasrah, nrimo, dan menikmati sekaligus memuja Den Bagus-nya. Kalau Wati adalah perempuan yang terobsesi bisa menikah dengan Mas Bagus, tetapi tak pernah kesampaian.  

Pengetahuan pengarang yang lengkap mengenai sejumlah permasalahan sosial ikut membungkus buku ini dengan berbagai informasi, antara lain mengenai kehidupan warok dan per-gemblak-annya di Ponorogo dan mengenai penyair Wiji Thukul dan Romo Mangunwijaya. Juga cerita tentang hiruk-pikuk pembangunan Waduk Kedung Ombo. Keberpihakan pengarang pada wong cilik tampak jelas dalam novel itu. Demikian pula dengan pemberontakan terhadap kemapanan, yang tampaknya ditampilkan pengarang melalui tokoh Romo Drajad (hal 124-129).  

  

Gambaran irasionalitas bangsa  

Apa kaitan ritual Kemukus dengan kehidupan sehari-hari kita? Barangkali setelah membaca novel ini, kita memang perlu mencari jawabannya. Apalagi, cerita tentang pasangan Samodro dan Ontrowulan di Gunung Kemukus itu terjadi pada abad XIV. Artinya, umur legenda kini mencapai lebih dari 600 tahun.  

Namun, fenomena Gunung Kemukus kalau kita lihat bukannya kian menyurut. Bahkan, pada malam 1 Suro 2007 jumlah orang yang datang ke Gunung Kemukus dilaporkan mencapai angka 10.000 orang. Pada malam 1 Suro 28 Desember 2008, angka ini dilaporkan jauh membengkak.  

Di Kemukus upaya pencarian berkah, tirakat, penyucian diri perselingkuhan, pembersihan diri, kepuasan seksual, dan prostitusi telah campur aduk dengan kepentingan bisnis. Mulai dari bisnis ritual, bisnis esek-esek, hingga bisnis wisata yang mendatangkan masukan bagi kas pemerintah daerah.  

Sebagai gambaran, setiap pengunjung Gunung Kemukus dikenai biaya retribusi sebesar Rp 4.000. Itu belum termasuk tarif parkir untuk kendaraan. Artinya, pada saat malam 1 Suro, di mana dilakukan acara membuka kelambu makam Pangeran Samodro, Pemerintah Kabupaten Sragen minimal akan mengantongi pemasukan pendapatan asli daerah sebesar 10.000 x Rp 4.000 atau sebesar Rp 40 juta. Itu hanya semalam.  

Di Indonesia, fenomena orang mencari peruntungan juga bukan monopoli masyarakat kecil yang miskin dan nyaris putus asa. Fenomena Kemukus adalah bagian dari irasionalitas bangsa Indonesia yang sebagian masih meyakini bahwa ”laku” dan ”teknik menjalani kehidupan” jauh lebih penting daripada ilmu pengetahuan, manajemen, dan membangun sistem sosial yang lebih adil.  

Pada faktanya kita masih kerap menjumpai ada banyak pejabat yang melakukan tetirah ke makam, pergi konsultasi atau mencari jimat ke dukun untuk mendapatkan atau mempertahankan kedudukan.  

Untuk kalangan masyarakat bawah, ritual semacam Kemukus merupakan sarana hiburan sekaligus gambaran dari sebuah budaya perlawanan. Melalui ritual inilah nilai kebebasan untuk menikmati seks juga bisa mereka kecap, bukan hanya hak kaum laki-laki bangsawan saja.  

Di Kemukus ini pula sebetulnya kaum perempuan bisa menemukan aktualisasi nilai-nilai jender di mana perempuan punya hak yang sama dengan lelaki, terutama untuk mendapatkan ”pasangan tidur” yang diminati.  

— Stanley Adi Prasetyo Anggota Komisioner Komnas HAM, Pemerhati Masalah Sosial Kemasyarakatan dan Penikmat Sastra — 


 

 
Ritual Gunung Kemukus
Published Wednesday, May 13, 2009
Fisafat , Sastra , anthropology , wisata 8 Comments
  

Novel “Ritual Gunung Kemukus,” kental dengan bau seks. Tapi kesan yang tertangkap tidaklah sevulgar buku Moamar Emka, “Jakarta Under Cover.” Buku terakhir ini lebih banyak mengeksploitasi seks sebagai bacaan dangkal, hanya mengumbar syahwat semata. Buku pertama mengupasnya dari tinjauan antropologis. Ditulis dengan gaya dialog, dikupas habis dengan sudut pandang wartawan. Kebetulan penulis novel ini memang wartawan yang penyair, F. Rahardi. Cover novel digarap oleh Si Ong, menambah kesan mistis dan sunyi.  

Novel ini mampu menghadirkan sisi unik dari ritual orang Jawa mencari srono untuk kaya, dengan ziarah di makam Pangeran Samodra dan Nyai Ontrowulan di Gunung Kemukus. Ritual diakhiri dengan berhubungan seks di tempat terbuka dengan pasangan yang didapat di tempat tersebut. Dan itu harus dilakukan selama 7 kali setiap malam Jumat Pon. Untuk menggenapi 7 kali ritual itu diperlukan waktu hampir 8 bulan. Dalam kalender Jawa perputaran bulan terjadi setiap 35 hari. Di mana jumlah hari kalender Masehi yang tujuh hari itu, bertemu dengan jumlah hari Jawa yang hanya terdiri dari lima hari: legi, pahing, pon, wage, kliwon.  

Membaca novel ini, serasa menambah miris tentang perilaku masyarakat Jawa yang kebingungan mencari pegangan atas segala derita kemiskinan yang mendera, serta keingingan untuk kaya secara instan. Ritual di atas Gunung Kemukus, seakan menggenapi kebingungan atas praktik keagamaan yang diyakini. Di atas makam Pangeran Samodra dan Nyai Ontrowulan, orang sibuk membawa sesaji kembang tujuh rupa, tapi tetap berdoa, berdzikir, bahkan sholat, dan ditutup dengan berhubungan seksual dengan pasangan lawan jenis yang didapat di sana. Lebih kacau lagi, Pemda Sragen menulis legenda tentang Pangeran Samodra sebagai pembawa syiar Islam. Tapi kok mempraktekan perbuatan mesum? Padahal legenda yang berkembang di masyarakat meyakini bahwa Pangeran Samodra dan Nyai Ontrowulan adalah pasangan antara ibu tiri dengan anak tiri Brawijaya VI yang menjalin asmara, melakukan hubungan intim di atas bukit itu, dan dibunuh sebelum selesai melampiaskan hasrat seksual. Keduanya dikubur dalam satu lihat lahat. Dari lobang kubur lalu keluar asap, kukus, dan terdengar kutukan, “barang siapa mampu menyelesaikan hubungan intim di sini, akan terkabul keinginannya.” Entah siapa yang memulai menebarkan legenda itu, nyatanya, kini ritual Gunung Kemukus telah menjadi bisnis seks yang mendatangkan pendapatan baik bagi Pemda maupun masyarakat sekitar.  

Cerita dalam novel mengalir dengan gaya dialog apa adanya, dengan beberapa istilah Jawa yang kental. Cerita dibuka dengan ditugaskanya, Meilan, wartawai majalah Fidela, untuk membuat tulisan berseri seputar praktik ritual. Dari sana mengalirlah cerita potret para pelaku ritual, dari penuturan tokoh utama, Mas Sarmin. Dari mulut Sarminlah, mengalir muncul tokoh-tokoh lain: Wati, istrinya yang selalu mengomel karena capek hidup miskin dan meminta Sarmin untuk pergi ke Gunung Kemukus. Sarmin kemudian ketemu Bu Yuyun, pasangan ritualnya, pedangan beras dari Ponorogo. Bu Yuyun adalah wanita cantik, berkulit putih, kaya, dan Sarmin tak pernah menyangka bakal mendapat pasangan seperti itu.  

Ada juga tokoh Romo Drajad yang eksentrik, yang menyatakan bahwa ritual Gunung Kemukus justru mengakui eksistensi perempuan untuk punya hak dalam menentukan pasangan seksual. Selama ini, privilege itu hanya dimiliki kaum priyayi, laki-laki, dan kaya. Wanita hanya menerima nasib, tapi tidak di Gunung Kemukus.  

Cerita Sarmin mengalir deras, disampaikan di atas gerbong kereta Argo Lawu jurusan Solo Balapan – Gambir, kepada Meilan yang mengoreknya sebagai imbalan telah menyelamatkan Sarmin karena uangnya telah ludes menunggu Ibu Yuyun di Gunung Kemukus yang tak kunjung datang. Padahal itu adalah kunjungan ketujuh, atau kunjungan terakhir untuk menggenapi ritual itu. Artinya Sarmin telah gagal menjalani ritual itu, dan harus mengulanya dari awal lagi sebanyak tujuh kali dengan pasangan yang berbeda. Maukah Sarmin mengulangi kebodohannya? Adakah pelajaran yang ia peroleh dari hasil mencari srono itu?  

— Review oleh Hartono —  

nug Thursday, May 14, 2009 at 9:25 pm ..
selintas gaya penuturannya mengingatkan dengan Roman “Sang Priyayi” nya Umar Kayam. Aneh juga kalau di akhir cerita (meski ritual ngga selesai) baik karmin dan bu yuyun pada akhirnya justru merasa bahwa hubungan dengan pasangannya masing2 (suami & istri) menjadi lebih baik, sepertinya itu neh pelajarannya — atau justru sindiran karena banyak dari kita yg cenderung mengejar harta padahal ada “harta” lain yg lebih bernilai ..keluarga..?  

Reply 2 kanjeng dipo Wednesday, May 27, 2009 at 6:44 pm
Gunung Kemukus. orang hanya akan tertarik atau malah mecaci perilaku nyleneh seks bebas yang dibungks ritual. tapi kalau kita memahami sejarah kita akan tahu kalau sebenarnya apa yang mereka lakukan sudah ada sejak jaman Singosari. Raja Kertanegara setiap tahun konon melakukan ritual semacam itu. juga Caligula kaisar Roma melakukan ritual pesta seks untuk melanggengkan kekuasaanya.  

Reply 3 tribuana murti Monday, July 13, 2009 at 10:44 am
siap membantu memandu ke kemukus  

Reply 4 ciyu♥pyon Monday, July 13, 2009 at 1:24 pm
waks tmpat setan cmua ttu… ko gug dtu2p ea, hran dech!!! punya banyak sjrah, bdya, ma bragam cara Ritual heuh


 

Novel “Ritual Gunung Kemukus”
Tradisi Melawan Ketidakadilan

Oleh Dwin Gideon 

Jakarta – Di balik kisah peziarah yang memercayai bahwa Gunung Kemukus adalah tempat ritual seks demi kekayaan, F Rahardi dalam novelnya, melihat sisi lainnya, yaitu protes peziarah yang umumnya pekerja keras. Menggugat ketidakadilan di negeri ini, berontak dari “takdir” kemiskinan.  

Ritual seks di Gunung Kemukus diangkat penulis F Rahardi dalam novel berjudul Ritual Gunung Kemukus: Sebuah Novel. Kisahnya dimulai dari kemunculan Meilan yang berprofesi sebagai wartawati majalah Fidela di Jakarta.  

Dia meliput Gunung Kemukus, meskipun dia biasanya meliput kegiatan fashion di luar negeri. Tentu saja, Meilan kaget dengan tugas tersebut, karena selain tak mengetahui masalah yang diistilahkannya sebagai perklenikan, dia juga tak memahami budaya di Gunung Kemukus. Namun, justru latar belakang wartawan seperti inilah yang diinginkan pemimpin redaksinya untuk dia menulis masalah tersebut.  

Meilan mewawancarai banyak pihak untuk tulisannya, mulai dari peziarah, museum Radya Pustaka, ahli antropologi di UNS, hingga Romo Drajat, tokoh spiritual kejawen yang banyak tahu tentang Gunung Kemukus. Namun, dia merasa belum memperoleh liputan seimbang, sebab belum bertemu peziarah yang gagal.  

Singkat cerita, Meilan bertemu peziarah yang gagal berkencan dengan pasangannya. Namanya Sarmin, pedagang bakso keliling asal Gunung Kidul, Yogyakarta, yang mengadu nasib di Jakarta. Sarmin kehabisan uang pada kedatangannya yang terakhir di Gunung Kemukus. Oleh Meilan, dia diajak pulang ke Jakarta dengan Kereta Api Argo Lawu. Di sepanjang perjalanan dalam kereta api inilah Sarmin diwawancarai Meilan mengenai praktik penziarahannya.  

Secara keseluruhan, novel ini hendak menggambarkan ritual penziarahan yang mayoritas diikuti kelompok masyarakat marginal dan miskin sebagai gugatan ketidakadilan. “Yang menjadi pokok soal bukan upaya mencari kekayaan melalui cara yang kontroversial, melainkan telah terjadi ketidakadilan distribusi pendapatan,” kata F Rahardi dalam diskusi novel yang diselenggarakan di Toko Buku Gramedia Matraman, Jakarta, Sabtu (29/11).  

Rahardi menilai ketidakadilan ini dapat dilihat pada keadaan masyarakat pekerja berat yang justru memperoleh pendapatan paling kecil, sementara bangsawan yang tinggal di sekitar kekuasaan bisa memperoleh pendapatan melimpah tanpa bekerja keras. Maka, fenomena di Gunung Kemukus pun bukan sekadar dimaknai ritual seks untuk mencari kekayaan, namun juga simbol perlawanan rakyat kecil yang termarginalkan. “Legenda” Kemukus Gunung Kemukus adalah lokasi penziarahan di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.  

Yang disebut gunung itu sebenarnya hanyalah gundukan kecil bernama Kemukus. Letaknya di sisi barat jalan raya Surakarta Purwodadi, di tepi Waduk Kedungombo. Para peziarah memercayai Gunung Kemukus sebagai tempat keramat berdasarkan legenda yang berkembang secara lisan.  

Tersebutlah Pangeran Samodro dan Nyai Ontrowulan, yang merupakan anak dan selir Prabu Hudhara (Brawijaya VII, 1498-1518), raja terakhir Majapahit. Setelah runtuhnya Majapahit, keduanya berpindah ke Demak Bintoro di Jawa Tengah. Anak dan ibu tiri dari Majapahit ini lalu terlibat skandal asmara, terusir dari Demak, dan pihak yang tidak menyukainya terus mengejar pasangan ini.  

Di Gunung Kemukus, Pangeran Samodro dan Nyai Ontrowulan terkejar, dibunuh, lalu dimakamkan di satu liang lahat. Menurut legenda, ketika pasukan pengejar datang, mereka berdua sedang melakukan hubungan seks di alam terbuka. Karena itu, setelah tewasnya pasangan ini, beredar kabar, “Barang siapa bisa melanjutkan hubungan seks yang terputus ini, segala keinginannya akan terkabul!”  

Dari legenda ini, Gunung Kemukus berkembang menjadi lokasi penziarahan kontroversial, karena adanya ritual seks sebagai upaya meraih sukses untuk mencari kekayaan. Apabila ritual delapan bulan ini terlaksana dengan baik, si peziarah akan bisa meraih kekayaan materi. Karenanya, mereka yang datang ke Gunung Kemukus umumnya pedagang dan pengusaha kecil.  

Copyright © Sinar Harapan 2008 


 

Ritual Gunung Kemukus” di Gramedia Matraman
  

Mitos sepertinya menjadi satu sisi yang mengiringi realitas kehidupan masyarakat kita, entah dipercayai ataupun cukup berhenti pada posisi mitos belaka. Sabtu kemarin sempet mengikuti Bedah Buku sebuah Novel berlatar Mitos (atau kenyataan sejarah?) dari penerbit medioker berjudul “Ritual Gunung Kemukus’ di Fuction Hall Gramedia Matraman lantai 2 Jakarta pusat. Dengan pembicara : Ahmad Sobary, Happy Salma dan F. Rahardi sebagai penulis, diskusi lumayan menarik diikuti. Tentu saja bercerita tentang mitos yang berkembang seputaran tempat wisata di sekitaran kampung halamanku di Sragen.  

Ritual “srono” atau upaya meminta peningkatan kesejahteraan (kekayaan) dalam usaha mereka di Tempat Wisata Gunung kemukus ini sangat menarik diceritakan. Cerita tentang Pangeran (tokoh yang diziarahi) sendiri memang banyak sekali versi yang berkembang di masyarakat. Cerita tentang Pangeran Samudra yang berkembang di masyarakat sendiri kurang lebih begini:  

Pangeran Samudra sebagai anak Girindrawardhana atau Raja Brawijaya VI, dan Nyai Ontrowulan sebagai salah satu selir sang raja saling jatuh cinta. Sedangkan Prabu Brawijaya sendiri telah Moksa seiring dengan bubarnya majapahit. Mereke ke Demak untuk menikah, tetapi karena kecantikan Nyai ontrowulan, banyak petinggi Demak yang Jatuh cinta padanya dan mengejar-ngejar dia dan menggagalkan pernikahan mereka. Mereka lari ke selatan untuk menyelamatkan diri.  

Di sebuah daerah hasrat keduanya tidak bisa ditahan lagi, sehingga mereka melakukanya di alam terbuka. Ketika itulah pasukan demak datang dan hubungan mereka terhenti. dan mereka dibunuh. Mereka dikubur dalam lubang yang sama. Tempat mereka Terbunuh mengalir air yang jernih dan dinamai Sendang Ontrowulan. Dan Di makam mereka ada kukus (asap) dan adaa suara menggelegar; “wahai Manusia, barangsiapa mau datang ke tempat ini dan bisa menyelesaikan hubungan suami istri kami yang belum selesai, sebanyak tujuh kali, maka segala permintaan kalian, akan dikabulkan oleh Dewa Bathara yang Maha Agung.  

Berbeda dengan versi yang berkembang di masyarakat, Pemerintah lewat Pemda Sragen mengubah cerita dengan tujuan memperbaiki citra kawasan wisata; Cerita yang berkisah tentang seorang tokoh penyebar agama Islam di sekitar daerah bukit ini (kelak dinamakan Kemukus). Pangeran Samudra meninggal dalam dakwah kemudian dikubur di atas bukit di bawah pohon nagasari. Ibu tiri pangeran yang bernama Nyai Ontrowulan sangat bersedih atas kematianya sehingga menyusul ke daerah ini hingga meninggal. Nyai Ontrowulan dikubur di sebelah kuburan anak tirinya ini.  

Sebagaimana di Novel ini, aku juga tak tahu pasti alasan pemerintah punya versi lain dengan versi berkembang turun-temurun di masyarakat. Sudut pandang Pemerintah daerah jelas sangat ambigu sebagai upaya membersihkan kesan negatif tempat ini dengan tujuan pragmatis, meningkatkan jumlah pengunjung dan pemasukan PAD. Sejak kapan cerita ini diyakini oleh masyarakat dan Sejak kapan pastinya tradisi ziarah dan wisata ini berlangsung, aku kurang bisa memastikan. Sejak aku kecil dan masih hidup di sekitar Gunung Kemukus sampai proyek Waduk Kedung Ombo yang memisahkan area ini dengan kampungku sekarang. Mungkin bagi yang belum mendengar tentang tempat ini pasti tidak percaya masih ada kepercayaan di masyarakat tentang ritual “berbau prostitusi” ini. Memohon diberi kemudahan dalam berusaha di Gunung Kemukus melalui perantara Pangeran Samudro da Nyai Ontrowulan secara nalar ketauhidan (sudut pandang agama) jelas sebuah kesyirikan tingkat tinggi.  

Mitos tujuh kali melakukan hubungan suami istri dengan pasangan yang sama namun bukan dengan istri atau suami kita sepertinya kok memang sebuah pemikiran “yang tak masuk akal. Tetapi terlepas dari semua itu, inilah kenyataan dan ironi di masyarakat kita. Wujud perlawanan ketidakadilan? Satu bagian di Novel “Ritual Gunung Kemukus’ juga menyitir tentang adanya bentuk perlawanan dari ketidakadilan yang dialami masyarakat miskin.  

Dalam novel yang diwakili oleh tokoh Sarmin seorang Penjual Bakso yang terlilit beban ekonomi. Atas desakan istri juga dia menjalani “srono” ini untuk meminta usahanya laris. Pada akhirnya tokoh ini tersadar dengan sebuah realitas manusiawi usaha yang berhasil harus dengan jalan dan usaha yang benar, bukan dengan tujuh kali ke Gunung Kemukus menjalani “ritual melenceng” dengan istri orang lain. Tokoh ini digambarkan berjuang untuk keluar dari ketidakadilan.  

Jika seorang penguasa dengan bebasnya melalukan segalanya tanpa rasa bersalah, tak ada yang salah dengan usahanya demi eksistensi hidup anak istrinya. Sampai pada titik ini aku kurang sepakat dengan alasan perlawanan ketidakadilan. Ketidakadilan bisa jadi tantangan kehidupan untuk kita belajar menuju keadilan. Meskipun begitu kita tak sepenuhnya bisa menghakimi orang yang percaya akan ritual mencari pesugihan ini.  

Pemaksaan kebenaran kepada sesama adalah wujud ketidakdilan juga kata M. Sobary menanggapi hal ini. Yang menjadi kunci adalah kepercayaan di dalam diri kita masing-masing. Kita harus menanamkan fundamentalisme ketauhidan dalam diri kita sendiri. Kepercayaan spiritual seseorang datang dari proses yang tak akan bisa dipahami orang lain. Melakukan ritual ini di Gunung kemukus adalah untuk yang percaya dan kita tak bisa memaksa untuk tidak percaya.  

Bedah Buku dan launching Buku ” Ritual Gunung Kemukus” di Gramedia Matraman sabtu kemarin sepertinya memberikan satu kenyataan yang sebelumnya jauh dari sudut pandang kita.  

Labels: Budaya, Review 


 

Ritual Seks di Gunung Kemukus Dalam Cerita
Selasa, 25-11-2008 12:17:59
oleh: Panjikristo
Kanal: Gaya Hidup  

“Kalau kamu mau sukses dan kaya secara instan, datanglah ke Gunung Kemukus. Kalau kamu ke Gunung Kawi, salah satu anak, keponakan, cucu, atau cucu keponakan, akan terlahir idiot. Kalau kamu memelihara tuyul, dan tuyul itu tertangkap, lalu salah satu tangannya dipaku, maka tanganmulah yang akan luka ditembus paku.  

Kalau kamu datang ke Jimbung, dan memelihara bulus, maka kulitmu akan belang-belang putih yang terus meluas. Ketika belang itu menyatu, maka kamu akan mati dan menjadi bulus. Kalau kamu jadi babi ngepet, dan tertangkap, akan langsung dibunuh orang.  

Paling aman memang ke Kemukus. Tidak ada resiko, tidak ada tumbal… Demikian sebuah nasihat orang tua kepada seseorang yang ingin sukses tanpa resiko, bahkan bisa dibilang mudah dan nikmat. Lho koq nikmat? Ya, karena kita hanya diminta berziarah ke makam pangeran Samudro dan mandi di sendang Ontrowulan, lalu melakukan hubungan seks dengan seorang yang bukan muhrimmu di alam terbuka. Baik laki-laki maupun perempuan. Dan hanya diperlukan 7 kali kehadiran di sana. Tidak percaya? Buktikan saja.  

Kemukus di sini adalah bukan sejenis nama tumbuh-tumbuhan atau sebutan untuk sebuah komet yang kerap kali disebut bintang kemukus, tapi nama sebuah gunung – sebenarnya hanya sebuah gundukan tanah – yang bernama Kemukus, yang selalu penuh sesak didatangi oleh orang yang datang ke sana untuk melakukan suatu ritual dalam upaya mencari kekayaan. Ada dua alasan mereka ke sana, Yang pertama tentu tentu saja tak lepas dari rezeki. Sedang yang kedua, nah ini yang menarik, karena berkaitan erat dengan birahi. Sehingga seringkali Gunung Kemukus pun dicap masyarakat luas sebagai tempat peziarahan paling mesum di Indonesia.  

Gunung Kemukus seringkali disebut sebagai kawasan wisata seks karena di situlah orang bisa sesuka hati mengkonsumsi seks bebas dengan alasan untuk melakukan ritual ziarahnya, karena itulah syarat jika mereka ingin kaya dan berhasil Operasi pelarangan perbuatan mesum di sekitar makam Pangeran Samodro pun digelar setiap malam Jumat Pon (saat dimana ritual itu dilaksanakan) seringkali dilakukan Pemkab namun herannya tempat ini tidak pernah ditutup sama sekali. Operasi itu terkesan hanya setengah hati, karena sumbangannya terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD), tergolong besar.  

Ritual Gunung Kemukus, sebuah novel adalah novel kedua dari F. Rahardi setelah novel perdananya yang cukup kontroversial. Lembata. Novel ini diinspirasikan ritual nyata yang terjadi di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, yang masih dilakukan oleh banyak orang hingga saat ini. Berikut cuplikannya :  

* * *

Meilan adalah seorang reporter yang ditugaskan bosnya di Redaksi Majalah Fidela. Ia tak habis pikir sekaligus kesal karena tiba-tiba mendapat tugas untuk meliput Ritual di Gunung Kemukus. Mendengar namanya pun baru kali ini. “Aku ini kan biasa jalan ke luar negeri, dan liputanku pasti fashion. Mengapa Redpel Bimo tiba-tiba bilang ke Yani, akan nyuruh aku liputan perklenikan, di Jawa lagi. Dia kan tahu aku ini Cina, tidak bisa ngomong Jawa sama sekali, apalagi tahu kulturnya…” 

Apa jawaban Redpel. Bimo? “Yang nulis harus orang yang sebelumnya sama sekali tidak tahu Gunung Kemukus, tidak bisa ngomong Jawa, dan pasti juga tidak tahu kultur Jawa, dengan tujuan agar tulisannya benar-benar mewakili mayoritas masyarakat pembaca, sekaligus pengguna jasa penerbangan.”  

Apa yang dilakukan Meilan selanjutnya? Bagaimana ia sampai ke sana? Apa yang ditemui di sana? Ternyata novel ini bisa sebagai buku pedoman wisata ke gunung Kemukus, karena dalam buku ini diuraikan rute perjalanan, jarak tempuh, lokasi, biaya dan hal-hal lain yang berkaitan dengan tempat tersebut hingga penggambaran (deskripsi) tempat tersebut. Siapapun akan sampai di sana jika membaca dan mengikuti petunjuknya dalam novel ini.  

Tidak sulit bagi Meilan untuk mencapai tempat tersebut. Apa yang ia lakukan? Berbaur dengan para peziarah dan menginap di lokasi untuk mendapatkan informasi sebanyak mungkin.  

“Saya sudah empat kali ini datang, Bu. Berarti masih harus datang tiga kali lagi. Pertama datang, kebetulan ketemu ibu-ibu juragan selèpan dari Bantul. Tetapi dia barusan SMS, kalau mau datang besuk saja, bukan hari ini. Ibu tahu bukan, kalau untuk bisa ngalap berkah dari Pangeran, pasangan seperti kami ini, harus datang sampai tujuh lapan? Selapan itu 35 hari Bu, kalau salah satu dari kami absen tidak bisa datang, harus diulang dari awal lagi. Bisa dengan pasangan semula, bisa pula ganti pasangan. Tetapi saya jangan dipotret, jangan ditulis. Sebab istri saya tidak tahu hal ini. Kalau tahu ia akan ngamuk Bu. Juga anak-anak. Kalau pasangan saya itu, namanya Mbak Rini, dia kemari atas ijin suaminya. Malah setengahnya, suaminya yang mendorongnya pergi.”  

Di saat Meilan hampir putus asa karena data yang diperolehnya belum sesuai dengan keinginannya, ia menjumpai seorang pria yang sedang sedih. Sarmin, yang berprofesi sebagai tukang bakso.  

“Saya kehabisan uang Ibu. Saya sudah datang ke Kemukus Jumat Pon yang lalu. Seharusnya, ini Jumat Pon terakhir. Tetapi pasangan saya tidak datang Bu. Saya menunggunya selama seminggu, tetapi tidak datang juga dan uang saya habis. Apakah benar Ibu akan menolong saya?”  

Meilan merasa, bahwa justru Sarminlah yang akan menolongnya. Bukan dia.  

* * * 

“Mengapa pasangan Pak Sarmin, siapa namanya? Ibu Yuyun ya? Mengapa ia tidak datang? Tidak tahu ya? Padahal ini sudah yang ketujuh bukan? Ke delapan? O, ya. Yang pertama Pak Sarmin keliru mendapat pasangan wanita yang PSK ya? O, begitu. Lalu baru yang kedua bisa ketemu Bu Yuyun. Dari mana ia? Ponorogo ya? O, pedagang beras. Pak Sarmin pernah ke sana? Ya, ya, sebelumnya pernah kontak telepon, kalau Jumat Pon minggu lalu ini akan datang. Pak Sarmin juga sudah menelepon HPnya melalui wartel. Tetapi tidak diangkat ya. O, tidak bunyi ya? Tetapi apa Pak Sarmin yakin bahwa kalau bisa ketemu Bu Yuyun sampai tujuh kali, biasanya di mana menginapnya? Di dekat sendang ya? Apakah kalau benar bisa ketemu sampai tujuh kali dagangan Pak Sarmin akan laris? Tidak yakin? Mengapa?” 

 

Bagaimana kelanjutan kisahnya? Siapakah Sarmin sebenarnya? Siapakah Yuyun?  

“Sebenarnya saya malu sekali menceritakan hal ini Ibu. Tetapi saya percaya kepada Ibu. Ya, dengan Yuyun, dia punya suami Ibu, suaminya petani biasa, anaknya empat. Katanya, dagangnya mundur, karena suaminya judi. Saya tidak terlalu tahu ibu. Saya memang pernah menyusul ke Ponorogo, kemudian kami berangkat bersama ke Kemukus, menginap dulu di Wonogiri. Tetapi waktu itu saya tidak ke rumahnya. Saya hanya ke pasar, tempatnya jualan. Jadi saya tidak tahu rumahnya, tidak tahu anak-anak dan suaminya. Tetapi saya percaya yang dikatakannya benar. Saya tidak tahu mengapa ia tidak datang. Dia memang masih lebih baik dari saya Ibu. Dia pakai kalung, pakai seweng, pakai gelang, punya HP, arlojinya juga bagus. Yang membayar penginapan, yang membayar makan juga dia. ”  

* * * 

 “Ini bukan sandiwara kan Mas? Mas siapa sampeyan? Mas Badrun? Sebab saya benar-benar kapok, dan tidak ingin pengalaman Jumat Pon yang lalu terulang lagi. Bu Yuyun ini benar dari Ponorogo kan? Boleh saya lihat KTPnya? Ya dulu itu saya juga ditunjuki KTPnya, KTP Donorejo. Ternyata dia perempuan bayaran. Habis duit saya jadinya. Untung aku hanya membayar Rp 30.000. Kalau tidak, aku tidak bisa pulang. Ya maaf lo Bu Yuyun, sebab pengalaman Jumat Pon yang lalu memang tidak baik. Lo, jadi sampeyan ini bukan pasangannya to? Tadinya saya mengira sampeyan berdua ini pasangan. O, jadi Mas Badrun sudah lima kali ini, dan Bu Yuyun baru sekali? Saya sudah dua kali ini, tetapi yang kemarin tertipu.” 

 

Apa yang dikatakan Romo Drajad sebagai salah seorang narasumbernya? “Itu semua tidak adil!” Kata Romo Drajad dalam hampir semua wawancaranya.  

“Mengapa hanya bangsawan dan orang kaya yang boleh menikmati seks bebas? Dan mengapa hanya laki-lakinya? Mengapa perempuannya tidak boleh? Maka digagaslah sebuah ritual seks antara pasangan yang bukan suami isteri, di alam bebas. Di sini laki-laki dan perempuan setara. Yang laki-laki boleh memilih pasangannya, perempuannya juga bebas memilih pasangan masing-masing. Hubungan seks di tempat terbuka secara massal, adalah hal yang sangat unik di dunia ini. Agar acara kurangajar ini memperoleh legitimasi, maka dikaranglah legenda Pangeran Samodro dan Nyai Ontrowulan.”  

“Ritual seks, sebenarnya bukan hal yang istimewa pada jaman neolitikum, Ibu. Ya di Afrika, di Eropa, di Amerika Tengah dan Latin, juga di Jawa ini, ritual seks sangat terkait dengan dewa atau dewi kesuburan. Itu semua milik rakyat. Kemudian ada budaya metropolis. Ketika itulah strata dibuat, aturan main dibakukan, dan penguasa serta orang kaya, menjadi punya hak-hak khusus, yang dibedakan dengan hak rakyat jelata. Di Timur Tengah lalu ada perbudakan, yang kemudian dilanjutkan di Amerika. Di India sana ada kasta. Untung di sini tidak ada. Tetapi hak-hak rakyat tetap dirampas. Hingga muncullan protes gaya Jawa. Mahabharata dan Ramayana versi Jawa, ada punakawan, yang pada versi aslinya di India sana tidak ada.”  

* * * 

Bagaimana akhir dari kisah tersebut diatas? Mengapa Yuyun tidak datang lagi? Siapakah Wati? Mengapa Wati merelakan Sarmin berburu rezeki di Gunung Kemukus? Siapakah Kartien? Apa benar dia seorang pekerja seks? Siapakah Romo Drajat? Benarkah ia mencintai Mas Katno? Siapakah Mas Badrun? Apakah Sarmin berhasil menjadi kaya? Apakah Revolusi Kultural itu? Sebenarnya apa saja sih yang dilakukan di Gunung Kemukus itu? Ritualnya seperti apa? Sanggupkah Meilan memenuhi harapan redpelnya? 

 

Bagi yang penasaran, tidak ada jalan lain lagi selain membaca dari sumbernya langsung, “Ritual Gunung Kemukus, Sebuah Novel” yang diterbitkan oleh penerbit Lamalera, November 2008. Selamat membaca!  

   


 

Antara Harapan, Kemiskinan, dan Eksploitasi
Sumber: Kompas, Febuari 2009
Judul: Ritual Gunung Kemukus
Penulis: F. Rahardi
Penerbit: Lamalera
Terbit: November 2008
Tebal: viii + 234 hlm 

Adakah hal seaneh seperti yang terjadi setiap Kamis Pahing malam Jumat Pon di Gunung Kemukus? Di kawasan bukit yang terletak di Sragen, Jawa Tengah, ini ada ratusan bahkan ribuan orang mencari keberuntungan dengan cara aneh, yaitu berhubungan seks dengan orang yang bukan pasangannya secara sukarela. Suasana di kawasan ini pada saat-saat itu lebih mirip pasar malam. Kawasan yang pada hari-hari biasa umumnya temaram tiba-tiba menjadi benderang. Ada banyak warung jajanan, ada penjual pernik-pernik, penjual rokok dan kacang rebus hingga orang yang menyewakan bilik atau tikar secara jam-jaman untuk kepentingan short time.

Awalnya legenda Apa hubungan antara keberuntungan dan syahwat? Awalnya adalah sebuah legenda tentang Oedipus Jawa pada zaman keruntuhan Majapahit akibat menguatnya kerajaan Islam di Jawa Tengah. Ia seorang pemuda ganteng bernama Pangeran Samodro, putra Raja Brawijaya, penguasa Majapahit. Ia terlibat dalam cinta terlarang dengan ibu tirinya yang juga selir Brawijaya, Nyai Ontrowulan. Meski sudah agak tua, Nyai Ontrowulan masih terlihat sangat menawan. Mereka berdua memutuskan untuk pergi ke Demak Bintoro guna menikah.

Namun, sesampai di tempat tujuan ada banyak duda kaya dan prajurit Demak yang jatuh hati kepada Nyai Ontrowulan. Mereka berupaya menggagalkan pernikahan keduanya. Pangeran Samodro dan ibu tiri beserta para pengawalnya lantas memutuskan untuk lari ke selatan. Saat berada di Gunung Kemukus, Pangeran Samodro dan Nyai Ontrowulan tak bisa lagi menahan hasrat seksual mereka. Di bawah pohon nagasari, mereka melakukan hubungan seks layaknya suami-istri.

Dasar sial, pasukan Demak Bintoro berhasil menyusul. Keduanya dibunuh pada saat sedang berhubungan seks belum sampai pada puncaknya. Si pangeran dan ibu tirinya lantas dikubur dalam satu lubang. Konon, dalam lubang tempat terbunuhnya mereka itulah muncul sebuah sumber air jernih yang kini disebut sebagai Sendang Ontrowulan. Air sendang ini dipercaya memiliki multikhasiat dan bisa bikin orang awet muda.

Dalam legenda juga dikisahkan munculnya asap, disusul suara di atas makam Samodro dan Ontrowulan yang baru dikuburkan, ”Wahai manusia, barang siapa mau datang ke tempat ini dan bisa menyelesaikan hubungan seks layaknya suami-istri kami yang belum selesai ini tujuh kali, maka segala permintaan kalian akan dikabulkan oleh Dewa Bathara yang Maha Agung.”

Novel ini mengambil Gunung Kemukus sebagai setting cerita. Ada banyak tokoh dalam cerita ini. Ada Meilan, seorang wartawan keturunan China yang menggerutu saat mendapat penugasan untuk meliput Gunung Kemukus. Ada Sarmin, si pedagang bakso yang kalah wibawa dengan istrinya yang bermimpi kehidupannya bisa kembali seperti zaman sebelum ia nikah dan jualan baksonya kembali laris manis. Ada Badrun, juragan tembakau; ada Romo Drajad, seorang hombreng yang punya pengaruh kuat dan berpendapat bahwa fenomena Kemukus adalah sebuah revolusi kultural. Ada juga tokoh Wati, istri Sarmin, yang terobsesi bisa kawin dengan si pak guru, Mas Bagus. Ada perempuan kelas menengah paruh baya Sri Wahyuni alias Yuyun yang mengikuti dorongan suaminya untuk ngalap berkah ke Kemukus. Ada Parti, seorang perempuan pelacur yang siap memangsa siapa saja lelaki yang baru pertama kali mencoba datang ngalap berkah.

Ada beberapa karakter tokoh antagonis yang kuat dalam novel ini, tetapi karakter yang paling kuat ada pada diri Wati. Istri Sarmin ini digambarkan sebagai perempuan yang menilai suaminya sebagai lembek, goblok, tak pandai menipu dalam menjalankan dagangan baksonya. Ia terpaksa menikah dengan Sarmin hanya lantaran niatnya untuk menjebak Mas Bagus dengan mengajaknya berhubungan seks dan kemudian mengaku hamil ketahuan oleh orangtuanya. Ia selalu ragu-ragu antara ingin bercerai dan rasa takut bercerai dalam keadaan miskin.

Cara bertutur dalam novel ini betul-betul lancar. Gaya bahasa juga mengalir. Pada beberapa bagian, di mana si tokoh menjadi orang pertama, seperti halnya saat tokoh Wati ngedumel pada dirinya sendiri (hal 51-60), kita sepertinya diingatkan pada gaya Linus G Suryadi dalam Pengakuan Pariyem. Bedanya, Pariyem adalah seorang perempuan yang pasrah, nrimo, dan menikmati sekaligus memuja Den Bagus-nya. Kalau Wati adalah perempuan yang terobsesi bisa menikah dengan Mas Bagus, tetapi tak pernah kesampaian.

Pengetahuan pengarang yang lengkap mengenai sejumlah permasalahan sosial ikut membungkus buku ini dengan berbagai informasi, antara lain mengenai kehidupan warok dan per-gemblak-annya di Ponorogo dan mengenai penyair Wiji Thukul dan Romo Mangunwijaya. Juga cerita tentang hiruk-pikuk pembangunan Waduk Kedung Ombo. Keberpihakan pengarang pada wong cilik tampak jelas dalam novel itu. Demikian pula dengan pemberontakan terhadap kemapanan, yang tampaknya ditampilkan pengarang melalui tokoh Romo Drajad (hal 124-129).

Gambaran irasionalitas bangsa

Apa kaitan ritual Kemukus dengan kehidupan sehari-hari kita? Barangkali setelah membaca novel ini, kita memang perlu mencari jawabannya. Apalagi, cerita tentang pasangan Samodro dan Ontrowulan di Gunung Kemukus itu terjadi pada abad XIV. Artinya, umur legenda kini mencapai lebih dari 600 tahun.

Namun, fenomena Gunung Kemukus kalau kita lihat bukannya kian menyurut. Bahkan, pada malam 1 Suro 2007 jumlah orang yang datang ke Gunung Kemukus dilaporkan mencapai angka 10.000 orang. Pada malam 1 Suro 28 Desember 2008, angka ini dilaporkan jauh membengkak. Di Kemukus upaya pencarian berkah, tirakat, penyucian diri perselingkuhan, pembersihan diri, kepuasan seksual, dan prostitusi telah campur aduk dengan kepentingan bisnis. Mulai dari bisnis ritual, bisnis esek-esek, hingga bisnis wisata yang mendatangkan masukan bagi kas pemerintah daerah. Sebagai gambaran, setiap pengunjung Gunung Kemukus dikenai biaya retribusi sebesar Rp 4.000. Itu belum termasuk tarif parkir untuk kendaraan. Artinya, pada saat malam 1 Suro, di mana dilakukan acara membuka kelambu makam Pangeran Samodro, Pemerintah Kabupaten Sragen minimal akan mengantongi pemasukan pendapatan asli daerah sebesar 10.000 x Rp 4.000 atau sebesar Rp 40 juta. Itu hanya semalam.

Di Indonesia, fenomena orang mencari peruntungan juga bukan monopoli masyarakat kecil yang miskin dan nyaris putus asa. Fenomena Kemukus adalah bagian dari irasionalitas bangsa Indonesia yang sebagian masih meyakini bahwa ”laku” dan ”teknik menjalani kehidupan” jauh lebih penting daripada ilmu pengetahuan, manajemen, dan membangun sistem sosial yang lebih adil. Pada faktanya kita masih kerap menjumpai ada banyak pejabat yang melakukan tetirah ke makam, pergi konsultasi atau mencari jimat ke dukun untuk mendapatkan atau mempertahankan kedudukan.

Untuk kalangan masyarakat bawah, ritual semacam Kemukus merupakan sarana hiburan sekaligus gambaran dari sebuah budaya perlawanan. Melalui ritual inilah nilai kebebasan untuk menikmati seks juga bisa mereka kecap, bukan hanya hak kaum laki-laki bangsawan saja. Di Kemukus ini pula sebetulnya kaum perempuan bisa menemukan aktualisasi nilai-nilai jender di mana perempuan punya hak yang sama dengan lelaki, terutama untuk mendapatkan ”pasangan tidur” yang diminati.

—Stanley Adi Prasetyo Anggota Komisioner Komnas HAM, Pemerhati Masalah Sosial Kemasyarakatan dan Penikmat Sastra

March 27th, 2009 | Tags: lamalera, novel | Category: Novel Dewasa | Leave a comment Ritual Gunung Kemukus Toko Buku Gramedia Matraman bekerjasama dengan Penerbit Lamalera dan Distributor Buku Kita mengadakan Peluncuran dan Bedah Buku “Ritual Gunung Kemukus”. Bedah buku akan dihadiri oleh Happy Salma (Artis dan Penulis Novel), Mohammad Sobary (Sastrawan dan Budayawan), Maria Hartiningsih (Wartawan Senior KOMPAS / Pemerhati Gender), dan F. Rahardi (Penulis Buku). Acara ini akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 29 November 2008 pukul 15.00 WIB bertempat di Function Room Lt.2 TB Gramedia Matraman. Untuk pendaftaran dapat dilakukan di Customer Service Gramedia Matraman, telepon 021-8581763.


 

Ritual Gunung Kemukus
This entry was posted on Sunday, November 23rd, 2008 at 11:06 am and is filed under Events. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Ritual Hubungan Seksual di Makam Pangeran Demak ; Mitos yang Diselewengkan 5 Bagus +5 genjas Rabu, 14 Okt ’09 18:04

Ritual memohon berkah maupun mencari “pesugihan” melalui arwah leluhur sering dilakukan sebagian masyarakat jawa dengan cara bersemedi di makam para leluhur, tetapi di Gunung Kemukus ritual mencari berkah dilaksanakan dengan cara yang unik yaitu melakukan hubungan seksual di luar nikah dengan pasangan orang lain (selingkuh).

Meilan adalah tokoh fiksi dalam novel ritual gunung kemukus, seorang wartawati dari majalah traveling terkemuka di jakarta yang selama satu minggu melakukan reportase di Gunung Kemukus, sebuah tempat yang terletak di pinggir waduk Kedungombo itu diberi nama demikian, gunung adalah istilah, penanda bahwa tempat tersebut memiliki geografis yang cukup tinggi dan kemukus yang berarti kabut yang terlihat seperti asap (kukus), “disebut kemukus karena dahulu bila pagi hari bukit ini diselimuti kabut yang seperti asap putih mas” tutur seorang warga kepada reporter Keadilan. Dalam novel “Ritual Gunung Kemukus”, tokoh utama Meilan terkejut melihat bagaimana ritual memohon berkah dalam prosesi ziarah, suatu budaya yang lahir dari hasil akulturasi antara kebudayaan Hindu dan Islam, dilakukan dengan ritual yang tidak lazim, yaitu melakukan hubungan suami istri diluar pernikahan, bahkan dalam tahap tertentu hubungan seksual ini dilakukan secara massal di tempat yang dikeramatkan. Tokoh Meilan memang tokoh rekaan, novel ritual gunung kemukus juga merupakan novel fiksi. Tetapi ritual yang dilihat Meilan memang benar adanya, di makam keramat seorang pemuka dari Demak tersebut ada ritual unik yang harus dilakukan sebagai syarat bila ingin memohon berkah dan peruntungan.

Bila pada suatu waktu anda berkunjung ke Gunung Kemukus, anda akan melihat puluhan bahkan ratusan warung dan lapak yang menjual makanan dan minuman ringan juga menyediakan jasa penginapan ala kadarnya untuk menunjang ritual unik tersebut, “ya kami warga sekitar sini mas yang membuka warung dan kamar untuk para peziarah, yang mau ritual itu”, ungkap salah seorang pemilik warung di kawasan Gunung Kemukus. Pada malam tertentu bahkan dapat ditemui banyak wanita pekerja seks komersial (PSK) dari berbagai daerah yang turut meramaikan suasana warung di sekitar kawasan tersebut, hal ini diakui pula oleh pemilik warung bahwa para PSK juga datang untuk memanfaatkan ritual “Ngalab Berkah” di Gunung Kemukus.

Ritual unik di tempat ini ternyata juga mengundang para wanita pekerja seks komersial untuk ikut mencari berkah, mencari sedikit penghasilan tambahan. Ritual “Ngalab Berkah” ala Gunung Kemukus Gunung kemukus sebenarnya lebih tepat disebut sebuah bukit yang tingginya sekitar 250 meter dari permukaan laut, yang terletak di Desa Pendem, Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, sekitar 25 km dari Kota Solo. Bukit ini berada di pinggir Waduk Kedung Ombo, untuk mencapai ke lokasi tersebut kita harus melewati jembatan yang hanya bisa dilewati pada musim kemarau saja karena bila musim penghujan, jembatan akan tergenang air waduk sehingga tidak bisa dipergunakan untuk menyeberang, untuk itu pada musim penghujan pengunjung mempergunakan jasa penyeberangan perahu atau dengan sampan yang memang di sediakan warga sekitar selama musim penghujan untuk menyeberang ke lokasi tersebut.

Gunung kemukus sesungguhnya adalah komplek pemakaman seorang keturunan ningrat jawa dan penyiar agama islam, dimana keturunan raja atau bangsawan jawa biasa disemayamkan di tempat yang memiliki geografis yang tinggi. Hal ini adalah buah dari sistem feodal yang meyakini raja adalah utusan Tuhan dan perlu ditempatkan lebih tinggi daripada rakyatnya, hal ini juga sebagai simbol bahwa semakin tinggi makamnya maka semakin ia didekatkan dengan Tuhan yang Maha Esa.

Komplek pemakaman Gunung Kemukus ini dipercaya penduduk sekitar sebagai makam pasangan pangeran Samudro dan nyai Ontrowulan. Pangeran Samudro adalah seorang keturunan majapahit yang merupakan putra tertua dari istri resmi Prabu Brawijaya VII dan nyai Ontrowulan adalah selir dari Prabu Brawijaya VII. Dalam komplek makam ini juga terdapat mata air yang disebut “sendang Ontrowulan”, tempat ini dipercaya sebagai lokasi terbunuhnya pasangan ini.

Seperi layaknya komplek pemakaman keturunan raja jawa pada umumnya, komplek makam ini juga sering dikunjungi para peziarah yang datang dengan berbagai motif dan tujuan, ada yang sekedar napak tilas, ada yang memang berziarah, dan ada juga yang khusus datang ke tempat ini untuk mohon berkah, berdoa, dan mengadu terhadap segala permasalahan dengan melakukan ritual tertentu, seperti ritual semedi yang sering dilakukan masyarakat jawa di tempat-tempat yang dianggap keramat seperti makam leluhur. Sebagian masyarakat jawa percaya bahwa arwah leluhur dapat menjadi medium yang cukup ampuh sebagai penyampai pesan kepada Tuhan. Ritual tersebut dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh jalan keluar dari segala permasalahan dan memperoleh kelancaran serta kemudahan dalam menjalankan hidup, bahkan tak jarang yang melakukan ritual khusus untuk pesugihan yaitu agar menjadi kaya.

Di Gunung kemukus dalam mencari berkah maupun pesugihan atau masyarakat setempat mengistilahkan ritual “Ngalab Berkah” tidak dengan cara semedi, tetapi dengan cara yang bisa dibilang nyeleneh dan unik yaitu dengan adanya ritual seks, dimana menurut mayarakat, ritual seks itu harus dilakukan pada hari Kamis Paing (malam Jumat Pon), selama tujuh kali berturut-turut, dengan pasangan tetap yang bukan suami isteri (pasangan selingkuh), di alam terbuka. Sebelumnya, peziarah harus mandi di Sendang Ontrowulan, lalu berziarah ke makam Pangeran Samodro dan Nyai Ontrowulan di puncak bukit.

Kalau seluruh ritual yang akan memakan waktu delapan bulan ini terlaksana dengan baik, maka si peziarah akan bisa meraih sukses berupa kekayaan materi. Reporter Keadilan berhasil menemui seorang lelaki yang mengaku sering menjadi perantara para wanita yang ingin melakukan ritual seks, ia yang tidak bisa kami sebutkan namanya mengatakan bahwa ia dapat membukakan jalan kepada kesuksesan, “benar mas, saya sering melayani perempuan yang mau Ngalab Berkah, tapi ini murni lho mas, saya sebelum menjadi perantara harus melakukan beberapa syarat terlebih dahulu”, katanya menegaskan.

 “banyak yang berhasil lho mas, setelah melakukan ritual seksual ini, banyak yang usahanya sukses, banyak dari jawa barat mas” lanjutnya kemudian. Lelaki tersebut juga mengatakan bahwa yang sering datang ke Gunung Kemukus untuk ritual “Ngalab Berkah” kebanyakan pedagang kecil yang usahanya tidak begitu sukses. Ia juga bercerita bahwa tata cara ritual seks ini bermacam versi juga, seperti yang ia dengar secara turun temurun dari orang tuanya dahulu bahwa agar lebih sempurna dan ampuh ritual seksual dilakukan secara bersama-sama atau massal di bawah pohon beringin keramat yang terletak di belakang bangunan makam Pangeran Samudro.

Ritual seksual ini dilakukan bukan tanpa alasan, mitos mengenai ritual seksual berasal dari legenda yang berkembang secara lisan turun temurun yang berkaitan dengan Pangeran Samudro. Ada beberapa versi mengenai legenda ini namun yang menjadi legitimasi atas ritual seksual adalah versi dari masyarakat dan peziarah yaitu bahwa bahwa Pangeran Samodro dan Nyai Ontrowulan adalah anak, dan selir Prabu Hudhara (Brawijaya VII, 1498-1518), raja terakhir Majapahit (Mojokerto, Jawa Timur). Setelah runtuhnya Majapahit, mereka berdua ikut berpindah ke Demak Bintoro di Jawa Tengah. Anak dan ibu tiri dari Majapahit ini, kemudian terlibat dalam afair asmara, terusir dari Demak, dan pihak yang tidak menyukainya, terus mengejar pasangan ini. Di Gunung Kemukus, Pangeran Samodro dan Nyai Ontrowulan terkejar, dibunuh, lalu dimakamkan di satu liang lahat. Konon, ketika pasukan pengejar datang, mereka berdua sedang melakukan hubungan seks di alam terbuka. Kemudian dari atas makam mereka berdua muncullah asap (kukus), hingga bukit kecil ini disebut Kemukus. Di tempat terbununhnya pasangan ini juga timbul mataair yang sekarang disebut sebagai Sendang Ontrowulan. Sesaat setelah tewasnya pasangan ini, terdengar suara:

“Barangsiapa bisa melanjutkan hubungan seks yang terputus ini, segala keinginannya akan terkabulkan!”

Pemujaan terhadap seksualitas dalam ritual seks di Gunung Kemukus mengingatkan kita akan pemujaan seksualitas masyarakat Jawa pra-Islam, di Jawa, banyak peninggalan kebudayaan Hindu mengungkapkan pemujaan terhadap simbol-simbol seksual seperti lingga dan yoni yang merupkan simbol kesuburan.

 Menurut konsep tradisional Jawa, seksualitas merupakan bagian dari keperkasaan dan kekuasaan, sehingga ada anggapan bahwa hubungan seksual dan alat kelamin merupakan simbol pusaka yang dikeramatkan. Misalnya dalam kisah-kisah kuno dalam serat Centini banyak diceritakan hubungan seksual antara raja, penyiar agama, atau calon raja dengan seorang perempuan yang terjadi tanpa formalitas namun tidak ada yang berkeberatan terhadap hal itu. Di Candi Sukuh dan Cetho misalnya, ada pahatan alat kelamin laki-laki dan alat kelamin perempuan yang keduanya dianggap sebagai pusaka dan mempunyai kekuatan magis. Demikian pula menurut Purwadi M.Hum bahwa seorang raja yang memiliki potensi seksual yang besar, maka dipercaya kerajaannya akan menjadi makmur. Makin banyak anak keturunan raja itu, semakin makmur pula rakyatnya. Walaupun kebenarannya perlu disangsikan, namun anggapan tersebut nampaknya masih berlangsung hingga kini terbukti masih seringnya kita dengar istilah “banyak anak banyak rezeki” Yang menarik apabila dibedah lagi melalui mitos unik ini, tidak hanya lelaki yang bisa melampiaskan hasrat seksualnya, namun perempuan juga bisa mencari pasangan di luar nikahnya secara bebas dengan tujuan mencari berkah. Pembalikan hirearki atas kuasa seksual patriarki dalam sistem feodal masyarakat jawa secara tersirat terjadi dalam ritual seksual di Gunung Kemukus. Melalui selubung mitos ini perempuan dapat menemukan aktualisasi nilai-nilai persamaan gender dalam hal seksualitas. Legitimasi mitos atas motif ekonomi Seiring perkembangan jaman tepatnya sekitar era tahun 80-an kawasan gunung Kemukus mulai ramai didatangi pengunjung, hal ini seperti disampaikan oleh juru kunci makam Pangeran Samudro, ia mengatakan, “lokasi makam ini baru mulai rame tahun 80-an, entah bagaimana pokoknya seingat saya periode itu mulai banyak dikunjungi peziarah maupun pencari berkah”.

Cerita mengenai mitos ritual seksual tampaknya menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat luas. Hal ini tetntu berdampak ekonomis bagi masyarakat sekitar lokasi makam tersebut, dimana masyarakat sekitar mulai dapat menjajakan makanan, minuman ringan, maupun alat-alat kelengkapan untuk ziarah seperti kembang tuju rupa, telur ayam kampung, dan lain sebagainya.

Ritual seksual juga kemudian mengundang para pekerja seks komersiil maupun lelaki iseng untuk ikut menjajakan tubunya, karena syarat ritual seksual adalah berpasangan dengan perempuan atau laki-laki yang bukan pasangan siuami istri, maka lahan baru ini dimanfaatkan pula oleh mereka yang berprofesi sebagai pekerja seks komersiil baik laki-laki maupun perempuan. Pembiaran masyarakat atas praktek pelacuran terselubung ini, di sisi lain tentu bertentangan dengan norma umum masyarakat Indonesia yang berlatar belakang religius, namun di sisi lain dari segi ekonomi, perputaran uang dari kondisi ini sangat besar. Secara kasar dapat kita hitung, setiap pengunjung yang masuk dikenai retribusi sebesar Rp.4000,- kemudian jasa parkir, kemudian dari hasil perdagangan. Tercatat pada malam 1 suro tahun 2008 tepatnya 28 Desember 2008 pengunjung mencapai 10.000 orang, bisa dibayangkan seberapa besar perputaran uamng yang terjadi. Kini fenomena yang terjadi di sekitar dan sekeliling lokasi makam, berdiri warung-warung, bangunan bambu semi permanen yang menyediakan kamar untuk peziarah yang akan melakukan ritual seksual, karena seiring ramainya pengunjung, untuk melakukan ritual seksual tidak lagi di tempat terbuka, tetapi di kamar-kamar ala kadarnya yang telah disediakan para pemilik warung maupun warga sekitar.

Para pemilik warung pun rata-rata menyediakan wanita pekerja seks komersiil setiap saat, hal ini diakui salah seorang pengunjung yang berhasil kami dapat keterangannya, “itu dulu mas, klo pada “itu” di bawah pohon sana, sekarang cukup datang ke warung sudah banyak kamar”.

“kalu dulu pasangan harus cari sekarang pasangan tinggal milih disini juga banyak”, lanjutnya sambil menenggak segelas minuman keras di meja. Motif ekonomi semakin menguatkan mitos ritual seksual di tempat ini, bahkan kini air sendang yang telah kering di pasang pompa air untuk mengisi kembali airnya, mitos ini terjaga tidak lagi karena nilai-nilai filosofisnya, mitos ini kini terjaga dan menjadi legitimasi atas motif ekonomi. Tesis Roland Barthes atas mitos tampaknya benar, mitos adalah penanda dari suatu perilaku, penanda suatu peristiwa, mitos tidaklah gaib, mitos adalah sebuah simbol dari perilaku manusia, perilaku manusia atas motif.

Oleh : Ikhwan Sapta Nugraha Reportase bersama : Achmad Rasul (alm.), Eka Mustika, Khrisna Hanantyo Aji. (akan dimuat di majalah Keadilan 2009)


3 Komentar

  1. kelik said,

    kalau terjadi penyimpangan semacam ini,kenapa pemda sragen tak menutup tempat yang bikin rusak akal sehat,akidah dan agama.Seharusnya itu perlu diluruskan,karena kasihan yang dimakamkan,kalau memang dia syeh atau apapun,kan kasihan yang dimakamkan itu.Wassalam

  2. panjibudi said,

    boleh juga dicoba nih… ada yg mau jadi “partner” gak ya?

  3. maryonolandung@yahoo.com said,

    Tradisi unik namun berlawanan dengan syariat islam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 81 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: