TONGGAK-TONGGAK SASTRA INDONESIA

11/10/2010 at 14:55 (artikel)

KOMPAS – Minggu, 13 Feb 2000

Oleh F Rahardi

BAGI  masyarakat  awam, tonggak-tonggak sastra Indonesia adalah
“angkatan” Pujangga Baru, ’45, dan ’66, sebab itulah yang diajarkan
di  sekolah.  Setelah  Angkatan ’66, pernah ada yang ingin melansir
Angkatan    ’80.   Kemudian   ada   pula   yang   sangat   bernafsu
memproklamirkan  Angkatan  2000.  Tetapi,  kalangan  sastra sendiri
tidak   terlalu  memusingkan  perihal  tersebut.  Mereka  cenderung
melihat  tonggak  sastra berdasarkan munculnya figur kuat. Misalnya
dalam  dunia  kepenyairan  tonggak itu ditandai dengan Amir Hamzah,
Chairil   Anwar   dan   Sutardji  Calzoum  Bachri.  Ada  juga  yang
mensyaratkan,  tonggak  itu harus disertai lahirnya genre baru yang
berbeda   sama   sekali  dengan  genre  sebelumnya  untuk  menjawab
tantangan zamannya.

Anggapan  bahwa  tonggak sastra identik dengan angkatan berawal
dari  HB  Jassin.  Sebagai  kritikus,  dialah yang menandai tonggak
sastra  Indonesia  dengan  sebutan  “angkatan”  melalui  tiga bunga
rampai yang disusunnya, Pujangga Baru, Gema Tanah Air, dan Angkatan
’66.

Terhadap  sebutan  angkatan  Pujangga  Baru  dan  ’45, kalangan
sastra  Indonesia tidak pernah berkeberatan sebab pada dua angkatan
tersebut  memang  ada  figur  yang  menonjol dan sekaligus juga ada
genre  penulisan  yang  berbeda  dengan  genre  sebelumnya. Tetapi,
ketika  Jassin  melansir  lahirnya Angkatan ’66 dengan tokoh antara
lain  Rendra,  Goenawan  Mohamad  dan  Taufiq Ismail, maka kalangan
sastra  ada  yang berkeberatan. Salah satu yang paling berkeberatan
Ajip  Rosidi  yang  kemudian menyusun bunga rampai Laut Biru Langit
Biru.

Keberatan  pertama  terhadap Angkatan ’66 adalah karena sebutan
ini  terlalu  kentara  membonceng bidang politik. Selain itu, tokoh
Angkatan  ‘ 66 masih menggunakan pola penulisan yang jejaknya mudah
dirunut  ke  genre Angkatan ’45 maupun Pujangga Baru. Ketika Dukamu
Abadi  terbit  misalnya,  Goenawan Mohamad segera mengulas kumpulan
sajak  pertama  Sapardi  Djoko Damono ini di Majalah Horison dengan
judul Dukamu Abadi, Nyanyi Sunyi Kedua.

Nyanyi  Sunyi  adalah kumpulan sajak Amir Hamzah, salah seorang
tokoh  Pujangga Baru. Ini merupakan semacam pengakuan dari Goenawan
bahwa  betapa  kuat  pun  penyair  ini,  sebenarnya masih merupakan
kelanjutan  dari  Amir  Hamzah.  Para tokoh Angkatan ’66 yang cukup
kuat  seperti  Rendra,  Goenawan  Mohamad  dan Taufiq Ismail memang
merupakan   penyair  papan  atas.  Tetapi,  mereka  dianggap  belum
melakukan pembaruan dalam sastra Indonesia.

***

PEMBARUAN  dalam  sastra  Indonesia  baru  tampak  ketika  Iwan
Simatupang  menulis  novel  triloginya:  Merahnya Merah, Kering dan
Ziarah.  Dalam  penulisan  lakon, pembaruan dilakukan Arifin C Noer
melalui  Sumur Tanpa Dasar, Kapai-kapai, Orkes Madun dan lain-lain.
Pembaruan  penulisan puisi dilakukan Sutardji Calzoum Bachri dengan
Kredo  Puisinya.  Di  dunia  teater  mencuat Rendra melalui Bengkel
Teaternya  yang  mementaskan  Bib  Bop,  Rambate  Rata dan mencapai
masterpiece-nya  pada  Oedipus  Sang  Raja serta Oedipus Berpulang.
Tonggak cerpenis Indonesia adalah Danarto dengan Rintrik, Armagedon
dan lain-lain.

Bila  mau  adil,  itulah tonggak-tonggak pembaruan dalam sastra
Indonesia setelah Angkatan ’45. Memang, lahirnya genre dalam cabang
seni  apa  pun, tidak pernah berlangsung tunggal. Selalu ada saling
keterkaitan  antara satu figur dengan figur lainnya, antara tonggak
besar dengan tonggak kecil-kecil.

Remy  Silado misalnya, adalah pemicu pembaruan dalam perpuisian
Indonesia.  Melalui  rubrik  Puisi  Mbeling-nya  di  majalah Aktuil
Bandung,  diberontaknyalah  genre  perpuisian Sapardi/Goenawan yang
merupakan  standar  baku  para  penyair  muda pada kurun waktu itu.
Tetapi,  puncak  pembaruan  justru dicapai Sutardji dalam penulisan
cerpen,  “kejutan”  yang  dibuat  Danarto  segera disusul oleh Budi
Darma, Kuntowijoyo dan penulis-penulis yang lebih muda.

Sayangnya,  Danarto  sendiri  tidak  terlalu  konsisten  dengan
pembaruan  yang  telah dibuatnya. Cerpen-cerpen selanjutnya, bahkan
juga  novel  pertamanya Asmaraloka, tidak semengejutkan Rintrik dan
Armagedon.  Sementara  variasi  pembaruan  yang dilakukan cerpenis-
cerpenis muda masih belum mendapatkan kiblat jelas.

Sejak  kehadiran  Iwan  Simatupang,  sampai  sekarang belum ada
novelis   Indonesia   yang  mampu  melanjutkan  rintisan  pembaruan
tersebut.   Ayu   Utami   dengan  Saman-nya  masih  perlu  ditunggu
kelanjutannya.  Sementara Putu Wijaya yang sangat produktif sebagai
novelis  masih  berada  di bawah standar kebaruan yang telah dibuat
Iwan Simatupang.

Dibanding  penulisan  puisi  dan  cerpen,  penulisan  novel  di
Indonesia  memang  ketinggalan.  Figur yang paling menonjol seperti
Pramudya  Ananta  Toer  misalnya,  sebenarnya  tidak  bisa  disebut
sebagai  tonggak dalam arti melahirkan sebuah genre baru. Bahwa dia
produktif  dan  menarik  perhatian internasional, tidak serta-merta
menjamin  karyanya  menjadi tonggak pembaruan dalam penulisan novel
di  Indonesia,  apalagi  dunia.  Bahkan  banyak kalangan menganggap
novel-novel  sejarah  Pram,  baik  trilogi Bumi Manusia, Anak Semua
Bangsa  dan  Rumah  Kaca; maupun Arus Balik serta Arok Dedes, masih
berada  di  bawah  standar  Keluarga Gerilya yang pernah ditulisnya
pada tahun 1950-an.

Akan  tetapi,  tonggak-tonggak dalam sejarah sastra tidak harus
berpedoman  pada  lahirnya  sebuah  genre. Pramudya, meskipun tidak
melakukan pembaruan apa-apa, tetapi ia sebuah tonggak raksasa dalam
sastra Indonesia. Kebesaran Pram sangat terkait dengan aktivitasnya
di  bidang politik yang mengakibatkan penahanan dan pelarangan atas
karya-karyanya.  Dalam  sisi  berbeda,  hal  ini  juga terjadi pada
Mochtar Lubis dan Goenawan Mohamad.

Sayang  sekali,  materi  yang digarap Pram dalam novel-novelnya
bukanlah  sesuatu  yang  dialami atau yang menjadi obsesi besarnya.
Endapan pengalaman selama dalam tahanan di pulau Buru, Nyanyi Sunyi
Seorang  Bisu,  memang  sebuah masterpiece, tetapi itu bukan novel.
Berbeda  misalnya dengan Gulag, Archipelago-nya Solzhesitsyin, yang
bisa  menjadi  berarti  karena  merupakan  luapan  penderitaan yang
diserapnya  ketika  menjalani  tahanan Pemerintah Uni Soviet. Green
Hills  of  Africa dan The Old Man and The Sea adalah cerita tentang
berburu  binatang  buas  dan  memancing  yang benar-benar merupakan
dunia Hemingway.

Barangkali  itulah  titik  lemah  sastra  Indonesia  di  pentas
internasional.  Dunia  kepenyairan di Indonesia jauh lebih diminati
calon  sastrawan  dibanding penulisan novel. Padahal standar sastra
dunia   cenderung   berpatokan  pada  novel.  Salah  satu  penyebab
kelemahan   novelis   Indonesia  adalah  sastrawan  yang  merupakan
pembaharu  biasanya bernapas pendek atau tidak produktif. Sementara
mereka   yang   produktif  dan  bernapas  panjang  kebetulan  tidak
melahirkan pembaruan melalui karya mereka.

Sutan  Takdir  Alisyahbana misalnya, termasuk figur yang sangat
produktif  dan  bernapas panjang, juga berumur panjang. Tetapi, dia
tidak   melakukan   pembaruan   melalui  karyanya.  Pembaruan  yang
dilakukannya  justru  dalam  konsep  berpikir melalui esei-eseinya.
Iwan Simatupang yang melakukan pembaruan tidak produktif dan keburu
meninggal dalam usia muda. Sementara Pramudya yang sangat menjulang
di  pentas  internasional  tidak  meneriakkan  perjuangannya secara
langsung dalam novel-novelnya.
***

SELAIN  ditentukan  oleh  kritikus  yang  kuat, tonggak-tonggak
sastra  juga  ditentukan  oleh  media  cetak.  Genre  Pujangga Baru
ditopang  penerbit Balai Pustaka dan majalah Pujangga Baru. Tetapi,
penerbit  yang  kuat  belum  tentu  mampu mendukung lahirnya sebuah
pembaruan. Bisa jadi yang dilahirkannya hanyalah mazab atau aliran.
Koran  Pelopor  di  Yogyakarta  dengan  lembar budayanya Sabana dan
Persada  Study  Club  yang  diasuh  Umbu  Landu  Paranggi, hanyalah
melahirkan  mazab penulis Yogya. Majalah Horison pada periode tahun
1960 dan 1970-an bisa melahirkan pembaruan sebab diasuh figur-figur
kuat yang relatif beragam dan penuh toleransi.

Yang  agak lain adalah cerpen-cerpen Kompas pada tahun 1990-an.
Harian  ini  menampilkan  cerpenis-cerpenis  papan  atas Indonesia,
termasuk  para  pembarunya seperti Danarto, Budi Darma, Kuntowijoyo
dan  lain-lain.  Tetapi, sifat koran berbeda dengan majalah sastra.
Setinggi  apa  pun  idealisme  seorang redaktur budaya, koran tetap
merupakan   sebuah   barang   dagangan  hingga  cerpen-cerpen  yang
ditampilkan  koran  lalu  menciptakan  mazab  tersendiri. Cerpenis-
cerpenis kuat tadi tampak berusaha tunduk pada kemauan pasar hingga
meskipun   jejak  pembaruannya  masih  sangat  nyata,  tetapi  yang
dihasilkannya  sudah  lebih  merupakan  barang pesanan yang dikemas
sesuai  dengan  kriteria pembaca Kompas. Seberapa jauh sastra koran
demikian  akan  melahirkan  sebuah  genre yang akan menjadi tonggak
sejarah, masih perlu ditunggu lebih lanjut.

Pembaruan, biasanya dilahirkan melalui benturan konsep berpikir.
Pujangga  Baru  adalah  generasi  sastrawan yang mulai tidak setuju
dengan  hal-hal  yang  bersifat  tradisional.  Novel-novel Azab dan
Sengsara,  Salah Asuhan, Siti Nurbaya dan lain-lain adalah gambaran
benturan  antara pola pikir modern (Barat) dan adat kebiasaan lokal
(Timur).  Secara konseptual hal ini tertuang dalam esei-esei Takdir
yang  dikumpulkan  dalam  Polemik  Kebudayaan. Chairil Anwar, Asrul
Sani dan Rivai Apin yang menerbitkan Tiga Menguak Takdir sebenarnya
merupakan “tangan panjang” dari Sutan Takdir yang “dikuaknya”. Bila
Takdir lebih memberontak melalui esei, Chairil melalui sajaknya.

Mereka yang menulis pada tahun 1960 dan 1970-an dipicu benturan
pikiran  antara  dua  kelompok  besar  dengan  konsep berpikir yang
berbeda.  Para  sastrawan  Lekra  cenderung memanfaatkan seni untuk
propaganda  politik sementara para penandatangan Manifes Kebudayaan
mengacu   ke   kaidah-kaidah   berkesenian  yang  lebih  universal.
Pertarungan  “ideologi”  ini  mulai  mengendur  pada  tahun 1980-an
ketika   masyarakat  Indonesia  terseret  ke  arus  urbanisasi  dan
globalisasi  secara  total.  Pada kurun waktu tersebut tidak banyak
lahir  karya-karya  hebat  yang bisa menjadi tonggak sejarah karena
nyaris  tidak  ada  pertentangan  konsep  berpikir  yang mencuat ke
permukaan.  Cengkeraman  politik dan daya pukau sektor ekonomi pada
tahun-tahun  itu  demikian  kuatnya  hingga figur-figur yang secara
alamiah  potensial melakukan pembaruan, terseret untuk menjadi alat
politik   (birokrat),  pengusaha,  wartawan,  praktisi  hukum,  dan
lain-lain.

***

YANG  menjadi  tanda  tanya  besar  adalah  mengapa  pada tahun
1990-an,  tahun-tahun  terakhir  pemerintahan  Orde Baru yang penuh
pergolakan, tidak lahir karya-karya hebat?

Mungkin  memang tidak akan pernah. Penyebabnya, gejolak sosial,
politik  dan ekonomi sekarang-sekarang ini tidak disertai perbedaan
konsep berpikir yang jelas. Masalah Barat-Timur sudah tidak menjadi
persoalan.  Semua juga setuju demokrasi dan hak asasi manusia (HAM)
perlu  ditegakkan bersama. Memperjuangkannya pun akan lebih efektif
melalui  jalur  gerakan massa atau jaringan kerja LSM, bukan dengan
sastra.  Dikotomi  tradisi  dan  modern  juga  sudah  bukan menjadi
persoalan  serius.  Yang  justru  dominan adalah isu-isu rasial dan
sektarian.  Ini  bukan hanya monopoli Indonesia. Di Amerika pun hal
ini masih menjadi isu yang sangat peka.

Isu dominan tersebut bisa saja menjebak karena tidak pernah ada
agama modern yang mengajarkan kekerasan dan kekejaman. Jadi gejolak
sosial  yang  terjadi  hanyalah  bersifat fisik material. Tidak ada
perbedaan  ideologi  yang  prinsipil.  Ras atau etnis yang tertutup
juga   tidak  bisa  hidup  makmur  karena  pasti  dikucilkan  dunia
internasional.

Bagi   Indonesia,   mungkin   perlu   ada  redifinisi  mengenai
nasionalisme.   Konsep  keagamaan  berikut  aplikasinya  pun  perlu
dipertanyakan  ulang.  Mengapa  ajaran  menuju  kebaikan  moral ini
justru  mudah sekali dimanfaatkan untuk legitimasi tindak kekerasan
dan   kekejaman?   Di  sinilah  para  sastrawan  berpeluang  saling
berbenturan pikiran guna mengasah kecerdasan.***

* F. Rahardi, penyair, petani.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: