SOSOK SENIMAN

15/10/2010 at 13:34 (berita)

F. Rahardi
Tidak Takut Penjara

Pada era 70-an Remy Sylado pernah memproklamirkan kelahiran puisi-puisi mbeling di Indonesia. Dan salah satu penyair yang hingga kini masih menulis dengan gaya mbeling itu adalah F. Rahardi. Sajak-sajaknya yang sudah dibukukan adalah Soempah WTS (1983), Catatan Harian Sang Koruptor (1985), Silsilah Garong (1990), dan Tuyul (1990).

Tahun 1983, ketika ia akan membacakan Soempah WTS bersama pelacur-pelacur Jakarta, di Taman Ismail Marzuki, Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) – Toeti Heraty – melarangnya. “Karena ketua DKJ-nya cewek, maka ia melarangnya. Coba kalau cowok, pasti seneng melihat para pelacur membaca sajak,” kata Rahardi.

Tiga tahun kemudian, ia kena ‘cekal’ lagi. Catatan Harian Sang Koruptor, ketika akan dibacakan di tempat yang sama, tidak direstui oleh pihak yang berwajib. Sejak itu, ia hampir tidak pernah tampil secara tunggal membacakan sajak-sajaknya. Penyair berbadan kecil ini, juga jarang terlihat kumpul-kumpul dengan para sastrawan lainnya.

F. Rahardi dilahirkan di Ambarawa, Jawa Tengah, 10 Juni 1950. Pendidikan formalnya hanya sampai kelas II SMA. Hidup di desa pada masa sulit, ia pun pernah bekerja apa saja. Sebagai buruh kasar : mencangkul, memetik kelapa, menyabit rumput, dan mencari kayu bakar.

Pasca G 30 S PKI, ketika pemerintah banyak merekrut tamatan SMP menjadi guru SD, Rahardi termasuk salah satunya. Setelah mengajar beberapa tahun, pada 1969 ia berhasil mengikuti ujian persamaan SPG. Setelah resmi menjadi guru, ia beberapa kali dimutasikan di beberapa desa di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.

Tahun 1974 ia berhenti menjadi guru dan merantau ke Jakarta. Dua tahun kemudian bekerja sebagai wartawan di majalah Trubus. “Waktu itu tenaga redaksi Trubus masih dua orang. Kami, mengetik, mengurus foro, bikin lay out, dan administrasi,” katanya mengenang. Kini, konon, tenaga redaksinya sudah lebih dari 20 orang; dan bertiras lebih dari 50 ribu eksemplar. Sudah barang tentu, Rahardi sudah tidak berkutat dengan urusan-urusan seperti itu lagi. Kini, jabatannya adalah Wakil Pemimpin Redaksi. Tetapi, ‘anak desa’ ini, masih tetap bersahaja. Media menemui di kantornya, Jl. Gunung Sahari III/7, Jakarta Pusat. Berikut petikan obrolannya.

***

Suara Anda dalam dunia kesusasteraan jarang terdengar. Kenapa?
Saya tetap berkesenian. Berkesenian ‘kan tidak harus membaca sajak. Tugas utama seorang penyair adalah menulis sajak. Bukan membacakannya. Bahwa dengan membacakannya ada nilai plus, itu tak bisa dipungkiri. Banyak penyair sudah tidak menulis sajak, tetapi karena dia gencar membacakan sajak-sajak lamanya, orang menganggap masih eksis sebagai penyair.

Kalau sekarang saya belum bisa membacakannya, itu karena kendala macem-macem. Saya harus memperhitungkan banyak hal. Karena, saya orang yang pernah dilarang, maka untuk tampil lagi banyak kendala yang harus diatasi. Ini bukan karena takut dipenjara. Dan memang seharusnya orang jangan takut penjara, tetapi takut berbuat salah. Toh Rendra semakin besar setelah dipenjara, karena dia memang tidak salah. Wong lagi baca sajak, lalu ditangkap. Apa itu salah.
Benar nggak takut dipenjara …?
Lha, wong sekarang, pemerintah lebih terbuka kok. Pejabat pemerintah kalau sewenang-wenang bisa di PTUN-kan.
Berkumpul dengan sesama seniman, agaknya juga jarang?
Karena tidak pernah dikasih tahu. Kalau dikasih tahu, saya pasti datang. Mungkin teman-teman lupa, atau mungkin juga menyangkut pembagian rezeki.
Tentang sajak yang dilarang Ketua DKJ, karena bicara pelacur?

Sajak itu bukan mengeksploitir pelacur, tetapi justru mengangkat martabat mereka. Orang-orang kan kasihan dengan pelacur, tetapi maunya pelacur itu dihapus. Siapa yang bisa menghapus pelacur? Di negara maju pun tidak. Nah, sekarang, kalau mereka hanya dikejar-kejar, digaruk, dirazia, mau saja membaca sajak dilarang, itu kan nggak bener. Mestinya, kalau mereka itu betul-betul kasihan sama pelacur, yang laki-laki datang ke rumah pelacuran dan kasih duit itu pelacur. Kalau tidak, ya jangan bilang kasihan.

Baik. Tetapi soal pelarangan kesenian setelah seniman ramai-ramai mengadu ke DPR dan ke Pak Sudomo – bukankah sudah selesai. Artinya, Anda kan tidak perlu trauma?

Mungkin teratasi. Mungkin saya dibandingkan Rendra atau siapalah, dalam hal pelarangan, dianggap tidak begitu penting. Mungkin kalau saya maju tidak terlalu diperhatikan. Tetapi kesulitan yang muncul sekarang adalah soal uang. Sebab, berkesenian, terlebih lagi di negara berkembang, itu tetap membutuhkan biaya yang tidak murah. Terlebih lagi sastra, kesenian yang perlu banyak biaya, tanpa bisa menghasilkan uang. Beda dengan seni populer yang bisa menghasilkan banyak uang.

Simpati Anda dengan orang-orang kecil itu, agaknya karena Anda berasal dari sana?
Itu pasti. Kalau Rendra ngomong kemiskinan, itu kemiskinan dari kacamata priyayi. Karena, dia itu anak priyayi. Kalau Rendra glamor dan mendapat julukan ‘Burung Merak’ itu wajar, karena dia hidup dalam lingkungan priyayi. Lalu, kalau Guruh berkesenian seperti itu, ya, karena dia anak presiden dan hidup di lingkungan istana. Itu semua bukan berarti buruk. Tidak! Penting juga untuk Indonesia. Ini bukan melecehkan. Sebab, menurut psikologi alam bawah sadar manusia itu sebenarnya dipengaruhi oleh sesuatu yang menjadi obsesi pada waktu ia balita.

Jadi mengapa sajak saya dinilai oleh beberapa kalangan itu berhasil, karena saya menyuarakan sesuatu yang akrab dengan saya. Yakni lingkungan miskin dan pedesaan. Saya berasal dari sana. Kalau saya tiba-tiba ngomong soal kabaret atau konglomerat, saya tidak mengerti. Kalau dipaksakan, berarti saya tidak jujur.

Untuk golongan bawah, apa mereka merasa terwakili?
Dari pengalaman membaca sajak beberapa kali, buktinya sajak saya punya kontak dengan pembaca. Artinya, apa yang saya tulis betul. Jadi, perlu dimasyarakatkan. Tetapi, saya kan tidak perlu merengek-rengek ke DKJ atau menyalahkan keadaan.

Selain orang bawah, Anda ‘kan sudah lama hidup di kota, kini secara ekonomi lebih baik?
Tetapi, nyatanya saya tidak bisa menulis di luar itu. Bahkan, kadang-kadang, dalam kehidupan sehari-hari itu agak aneh. Misalnya, suatu ketika saya masuk ke pasar swalayan atau ke restoran yang besar, saya itu kagok betul.
Tetapi, Anda bicara korupsi, apa tahu persis masalah itu?

Lho, korupsi itu kan tidak hanya di Pertamina yang gede-gede oleh Haji Thaher saja : yang sekarang sedang disidangkan. Korupsi yang saya bilang itu dalam konteks orang-orang kecil yang ada di kelurahan, RW dan RT. Dan korupsi di kalangan bawah ini, juga tak kalah gilanya. (Djadjat Sudradjat)
Sumber : Koran Harian Media Indonesia, Tanggal 23 Februari 1993

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: