DI ATAS BUKIT ITU PAK TANI BERAK, BERSETUBUH, BERNYANYI-NYANYI DAN MENANAM KOL

18/10/2010 at 13:59 (puisi)

Ya, di atas bukit itulah napasnya
menyemburkan kabut, asap rokok
dan angin yang menggoyangkan
daun-daun akasia
langit selalu dingin
matahari senantiasa ngantuk
udara memang penuh dengan
warna-warna hijau dan biru

Ya, disitulah di sebuah parit yang
sangat jernih airnya, Pak Tani itu
biasa berak setiap pagi lalu cebok
di pancuran bambu di dekat situ

“Berak itu memang penting
bersetubuh juga perlu
mencintai istri kadang-kadang juga
banyak faedahnya”.

Ya, di atas bukit itulah sejak
umur belasan tahun dulu, Pak Tani itu
membangun kebanggaan,
rumah, kain sarung, gambar Presiden
dan Wakil Presiden,
kalender bintang-bintang film hongkong
wayang kulit Gatotkaca
dan sebuah cermin bundar
dan sebuah radio transistor 2 band

Ya, di atas bukit-bukit itulan
selalu berkumandang nyanyian rumput-rumput
suara embun dan lagu batu-batu
“Menyanyi itu perlu
menanam kol juga penting
mengibarkan bendera setengah tiang
adalah kewajiban
kita memang harus patuh pada perintah Pak Lurah
dan petuah mbah dukun”.

Ya, di atas bukit itulah Pak Tani
harus melek matanya semalam suntuk
di pos kamling
Pak Lurah dan kambing-kambingnya
memang harus dijaga keselamatannya
Bu Lurah dengan anting-antingnya
memang harus terus nyenyak tidurnya
tak boleh ada nyamuk
tak boleh angin menggonggong
atau membenturkan dirinya di atap rumah
Pak Lurah

Ya, keamanan memang harus
dijaga dengan ketat di bukit itu
“Mau tidak mau berak memang
harus dilakukan tiap pagi
bersetubuh minimal seminggu dua kali
menyanyi boleh kapan saja dimana saja
tetapi menanam kol harus sesuai dengan musim
sesuai dengan petunjuk
sesuai dengan adat kebiasaan”.

Ya, di atas bukit itu adat kebiasaan
sudah berpuluh kali bahkan beratus kali
diturunkan dari kakek ke cucu
dari ayah ke anak, dari kakak ke adik
dan dari nenek ke keponakan.

Adat istiadat adalah jalan setapak
di atas bukit. Rumput menebal
Tahi sapi berceceran di sana-sini
dan Pak Tani harus selalu lewat di jalan itu
menenteng cangkul, memanggul keranjang
dan menyanyikan lagu-lagu wajib.

Ya, di atas bukit itulah Pak Tani
itu kadang-kadang berhenti
kadang-kadang berjalan
kadang-kadang duduk, kadang-kadang telentang

Ya, di atas bukit itulah Pak Tani mungkin ya
mungkin tidak dan kadang-kadang barangkali.

1990
***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: