ASRAMA ANJING

18/11/2010 at 16:44 (cerpen)

Apakah yang paling baik kita lakukan selagi kita dalam keadan begini? Apakah tidak dilarang yang berwajib andaikata kita ini mencoba melihat-lihat pemandangan? Lihatlah ke utara! Barangkali kita dapat segera memastikan apakah benar di sana terdapat banyak anjing. Aku ini kenapa sih selalu saja ragu-ragu, apakah memang sudah diatur oleh yang berwajib atau yang maha kuasa itulah sesungguhnya yang telah menentukan segala-galanya. Maaf mas, apakah kamu juga sering hidup menderita?

Ada pohon-pohon akasia, kalau matamu masih tajam maka tak ada salahnya meneliti lapisan gunung itu, warnanya kebiru-biruan bukan? Atas nasehat bijaksana dari yang berwajib akhirnya segala macam urusan dapat beres begitu saja. Tapi sudah barang tentu aku masih saja terus diusut, mana kartu pendudukmu, apakah kamu terlibat, aku memang selalu susah, bisakah minta bantuan? Dan lain sebagainya, kupikir hal ini memang biasa, sekedar basa-basi begitu.

Dari mula-mula memang sudah kuduga bahwa aku bakal mendapatkan berbagai macam pertanyaan tentu ada sangkut-pautnya dengan anjing. Aku pun kemudian sadarlah, dan mulai saat itu terbersit niatku untuk mulai hidup sederhana, siapa tahu tiba-tiba ada seseorang yang bermurah hati mengulurkan bantuan, dan benar; tepat di muka pintu aku telah disambut oleh seorang petugas, denyut jantungku pun kemudian agak tergesa-gesa. Apakah yang bakal terjadi atas diriku sesungguhnya? Tidak berbahayakah?

Rata-rata memang begitu. Kali ini pun aku disambut oleh seorang petugas dan dengan teliti mulailah seluruh diriku diperiksa. Aku duduk pada kursi, diapun duduk pada kursi. Dia gagah dan matanya bersinar-sinar, aku tidak gagah dan mataku pun hampir padam. Dan berbibir bagus, aku berbibir biru dan kering. Suara dia lantang dan merdu suaraku tidak begitu tetapi aku tetap berusaha untuk menjadikan diriku lebih sopan dari yang sudah-sudah.
“Aku petugas!” Begitulah dia memulai.
“Ya aku tahu,” begitu jawabku segera.
“Kau berani masuk kemari adakah perlu?”
“Ya, aku perlu”.
“Sudahkah kau berhubungan dengan pihak yang berwajib?”
“Ya aku sudah”.
“Adakah kamu membawa bukti surat-menyurat?”
“Ya aku membawa!”

Dan aku pun segera mengeluarkan bungkusan surat-menyurat dengan maksud supaya yang bertugas menjadi maklum adanya. Tapi ternyata bahwa yang terjadi kemudian tidak seperti yang kuduga. Petugas itu melototkan matanya dan bibirnya yang bagus pun keder.

“Cukup-cukup. Aku tahu kau orangnya baik, tapi harus diuji lebih jauh lagi nanti, sekarang tidurlah barang sejenak. Segala sesuatu yang berhubungan dengan makan, tidur, mandi dan lain-lain dapat kau tanyakan pada petugas yang bersangkutan”. Dan inilah malam pertama aku berada di asrama anjing. Memang betul terdapat ratusan di sini. Bermacam-macam anjing dari berbagai negeri berkumpul di sini untuk dididik supaya cerdik. Para petugas yang bertanggungjawab terhadap pendidikan ini kebanyakan berasal dari jauh. Mereka adalah tentara-tentara yang habis masa dinasnya tapi mempunyai keahlian khusus mengenai anjing. Aku tidak dapat tidur malam ini. Hatiku digoda oleh banyak persoalan yang gawat, cobalah bayangkan : Aku berada di atas ketinggian lebih dari seribu meter di atas permukaan laut. Kota yang terdekat adalah kota kecil, dengan penduduk yang masih sangat jauh terbelakang. Sedang seluruh kompleks asrama ini terletak di atas dataran yang terasing di sebuah lembah. Aku dapat memastikan bahwa di hutan-hutan itulah nyamuk dapat berkembangbiak dengan baik. Aku pun kemudian bersujud dan berdoa dengan khusyuk.

Ada kalanya kita ini mempunyai perasaan bimbang kelewat-lewat. Sebagai contoh diriku saat ini. Di tempat yang sesunyi ini dengan ratusan ekor anjing dan beberapa orang petugas maka masih saja tak pernah kudengar suara. Apakah anjing-anjing yang dikirim kemari ini semuanya bisu? Betapa heningnya. Ada lampu listrik bersinar kuning lemah sekali dan kabut yang turun dari utara membawa perasaan rindu kepada angin.
“Kita harus biasa di sini,” kata seorang petugas. “Hal-hal yang kecil dan sepele tak usah terlalu dipersoalkan. Percayalah kepada yang berwajib. Anda dingin?”

Aku menggelengkan kepala dua kali. Sudah cukup! Aku sudah cukup lama hidup dengan sederhana jauh di bawah kewajaran. Sedang petugas itu? Dia bekas tentara. Dia ahli tentang anjing. Dan pengalamannya bergaul dengan khalayak ramai pun sudah banyak. Inilah yang paling sulit. Aku harus bersabar selama berhari-hari menahan diriku untuk tidak berfoya-foya dengan apa pun. Hari keempat aku baru mulai diuji lagi. Ibarat tikus di depan kucing maka aku pun berusaha untuk sangat berhat-hati dalam menjawab tiap pertanyaan dari petugas.
“Apakah kau pernah disunat?” begitulah pertanyaan nomor satu.
“Tentu,” jawabku.
“Adakah kau bisa akrab dengan anjing?”
“Jelas dong!”
“Nah sekarang masuklah ke kandang, di sana kau dapat melatih dirimu agar nanti tidak begitu kaku-kaku”.
“O, maaf! Jadi beginikah tugasku kelak?”

Aku merasa kesepian betul. Dimanakah sebenarnya sumber yang menyebabkan diriku menjadi kesepian ini? Apakah lantaran aku belum  biasa dengan keadaan yang begini? Pada suatu sore pun mulailah aku berjalan-jalan. Aku mulai melihat para petugas menunaikan kewajibannya di atas rumput, lapangan yang molek dengan taman bunga di pinggirnya dan pohon-pohon cemara. Asrama anjing adalah daerah mimpi, begitu kata seorang temanku dulu. Aku selalu masih khawatir mengenai nasibku. Aku senantiasa bimbang dan ragu-ragu menghadapi sesuatu. Aku pun terduduk di rumput.

Di sebelah utara gunung, di sebelah selatan rumah-rumah, di sebelah timur kandang dan di sebelah barat gugusan pohon-pohon memantulkan cahaya yang bening dengan sempurna. Aku menengok ke atas, tapi masih biasa saja. Aku mencium tanah, tapi rumput-rumput mengenai pipiku dan gatal, ah bagaimana ya caranya? Aku sudah kehabisan akal. Kupikir memang benar bahwa saat inilah baru aku mengalami penderitaan yang penting. Ini tidak main-main. Aku harus segera mengurusnya pada pihak yang berwajib. Sebab kalau sampai berlarut-larut akulah yang bakal menderita kerugian batin. Tapi ketika aku mulai berdiri badanku pun diserang penyakit encok yang berat. Hawa yang dingin biasanya memang kejam, aku pernah membaca di koran tentang anak-anak anjing yang kaku.
“Betulkah semua?” tanyaku pada petugas yang kuning bajunya.
“Jadi kamu memang belum yakin ya?” jawab dia.
“O, kalau begitu ya sudahlah!” Dan sejak saat itu pun mulailah aku bertugas di asrama anjing. Sekarang aku gagah sekali, seperti petugas-petugas yang lain tapi kepalaku harus sering dibersihkan. Kalau sampai terlambat dapat berbahaya bagi keselamatan umum. Segala sesuatunya harus dipertimbangkan dari segi kepentingan umum, begitulah ceramah seorang petugas pada suatu hari. Aku mendapat tugas untuk mengasuh dan merawat lima ekor anjing yang gemuk-gemuk dan aku pun tidak merasa terlalu berat. Hanya aku masih sering merasa bimbang dan ragu-ragu tiap malam. Lebih-lebih setelah lewat pukul sepuluh, tapi berhubung aku telah menjadi petugas maka aku pun hanya diam saja.

Akan diberi nama jugakah anjing-anjing ini supaya mudah memanggilnya dan cepat menjadi cerdik. Tadi pagi mereka telah kuberi makan sekedarnya dan sesudah itu kulatih sebentar lalu kusuruh beristirahat.

Aku pun sekarang mengerti apa yang sebaiknya kulakukan pada hari-hari tertentu. Aku pernah berwawancara dengan seorang petugas yang lain sambil tersenyum dan makan kacang di bawah pohon.
“Siapakah sesungguhnya yang berwajib itu?” tanyaku pada dia.
“Kita kan sama-sama petugas, berapa tahunkah usiamu?” tanya dia.
“Aku sudah lupa karena terlalu lama tidak menghitung, maaf.”
“Kau teledor, seharusnya kau ingat-ingat karena itu pentinng adanya”.
“Aku selalu saja bimbang dan ragu-ragu dalam segala hal, apa sebabnya?”
“Itulah rahasia yang berwajib. Kapan-kapan kalau ada tempo tanyakanlah”.
“Aku selalu ketakutan, wahai apakah gerangan sebabnya, aku menderita”.
“O, itu biasa saja. Tidak berbahaya, tenanglah, nanti sembuh sendiri”.

Maka pada suatu hari pun aku merasa gembira sekali. Seekor anjing betina yang kuasuh telah melahirkan sepuluh ekor anak anjing kecil-kecil dan bagus. Hal inipun segera kulaporkan kepada yang berwajib demi keselamatan semua. Awas, kalau sampai terlambat dua hari saja akan menjadi sangat berbahaya bagi keselamatan semua. Akupun kemudian diberi surat-surat untuk keperluan itu, dan surat-surat itu pun kemudian kusimpan dengan teliti untuk keperluan dokumentasi. Itu penting bukan?

Sesudah selama bertahun-tahun bertugas di asrama anjing, dan segala tugas telah kutunaikan dengan seksama maka pada suatu hari pun aku ditunjuk oleh khalayak ramai untuk menjadi yang berwajib. Apa boleh buat, aku tidak boleh bimbang dan ragu-ragu, maka dengan gesit kewajiban itu pun kusambut. Dan aku pun sekarang resmi menjadi yang berwajib, tapi aku masih saja bimbang dan ragu-ragu. Apakah gerangan yang paling baik kita lakukan pada saat-saat begini di asrama anjing? ***
Sumber : Buku Kentrung Itelile, Penerbit Puspa Swara Tahun 1993

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: