APA YANG KAU PERJUANGKAN PAHLAWAN

30/11/2010 at 16:23 (artikel)

KOMPAS – Senin, 10 Nov 1997

Oleh F.  Rahardi

DI awal tahun 1949, suasana pedalaman Pulau Jawa bagian selatan sungguh tidak nyaman. Hujan turun hampir tiap hari. Tanah lempung jadi sangat becek. Jalan setapak antardesa kadang harus naik turun melintasi bukit dan jurang. Belantara hutan tropis kala itu masih sangat lebat. Di mana-mana nyamuk dan pacet siap menempel di kulit dan mengisap darah siapa saja. “Tiwul” dengan lauk seadanya adalah menu yang sangat berharga.
Telepon selular, faksimili, lebih-lebih internet adalah sesuatu yang tidak
terbayangkan. Komunikasi jarak jauh hanya bisa lewat kurir yang harus
berjalan kaki berhari-hari.

Dalam suasana seperti itulah sesosok laki-laki kurus diusung dengan tandu dari satu desa ke desa lain. Dia masih muda. Baru 37 tahun tetapi tubuhnya sangat rapuh karena gerogotan penyakit paru-paru. Tak ada obat. Lebih-lebih dokter pribadi. Selembar mantel kumal membungkus tubuhnya hingga terlindungi dari terpaan angin dingin. Udara yang lembab dan basah, perjalanan yang melelahkan, semua itu makin memperparah penyakitnya. Tetapi dia harus terus bergerak. Dari satu desa ke desa lain. Dari Daerah Istimewa Yogyakarta, Karesidenan Surakarta, Madiun, Kediri, lalu kembali lagi. Laki-laki kurus dan sakit itu bernama Soedirman. Dialah Panglima Besar Angkatan Perang Republik Indonesia.

Soedirman adalah sosok pahlawan paling komplet yang pernah dimiliki Indonesia. Dia berjuang. Perjuangannya adalah sesuatu yang sangat besar dan penting: Mempertahankan Kemerdekaan. Dia berjuang dengan cara berperang. Unsur heroisme sangat kental di sana. Semangatnya luar biasa. Janjinya sederhana namun tegas. “Saya Soedirman, Panglima Besar Angkatan Perang Republik Indonesia, siap berjuang sampai menang.” Dia mempertaruhkan segala-galanya. Kesehatan tubuhnya, juga nyawanya. Dia mati pada usia 38 tahun. Salah satu syarat penting bagi seorang pahlawan, yakni harus mati, telah dipenuhinya.

Perjuangan Soedirman adalah perjuangan yang menembus dimensi ruang
dan waktu. Secara fisik dia tidak berarti apa-apa bagi pasukan Belanda. Dia tidak berada di garis depan berselempang peluru dan granat. Dia hanya duduk di sebuah tandu lalu diusung dari satu desa ke desa lain. Satu-satunya senjata hanyalah sebilah keris tua yang terselip di pinggang. Namun semangatnya telah menggerakkan Overste Soeharto untuk memimpin Serangan Oemoem Satoe Maret ke Yogyakarta yang ketika itu diduduki Belanda. Meski dia telah mati, semangat juangnya terus berlanjut tatkala pasukan TNI menumpas berbagai gerakan separatis. Perang gerilya, taktik perjuangannya kemudian ditulis oleh salah seorang anak buahnya yaitu Abdul Haris Nasution. Buku itu sampai saat ini menjadi bacaan wajib bagi para calon perwira di Akademi
Militer penting di seluruh dunia.

Soedirman juga pahlawan yang beruntung. Coba, seandainya perjuangan mempertahankan kemerdekaan itu gagal. Cap yang akan didapatkannya dari pemerintah kolonial Belanda adalah “gembong GPK”. Untung perjuangan itu berhasil hingga secara formal pemerintah RI menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional. Bahkan 47 tahun setelah meninggal, dia masih mendapatkan kehormatan berupa kenaikan pangkat sebagai Jenderal Besar Bintang Lima. Kepahlawanan Soedirman sungguh bersih. Tak ada kontroversi atau cacat lain. Rakyat banyak mengakuinya. Para pemuda masa kini membuat “gerak jalan napak tilas” rute perjalanan gerilyanya. Para tentara dengan tulus selalu menyebutnya sebagai Bapak TNI.

***

MENJADI “pahlawan” masih tetap menarik minat banyak orang sampai
saat ini. Memperjuangkan sesuatu untuk kepentingan masyarakat masih
terus dilakukan oleh para “calon” pahlawan. Sesuatu itu bisa bernama
keadilan, demokrasi, HAM, kebebasan berpendapat, penanggulangan
kemiskinan, dan lain-lain. Perjuangan para “pendekar” itu bisa sangat
total dan tanpa pamrih. Banyak di antara mereka yang sampai
mengorbankan hidupnya. Marsinah, Fuad Muhammad Syafruddin (Udin),
adalah dua di antara sekian banyak nama pejuang yang telah mengorbankan hidupnya demi sesuatu yang mereka yakini sebagai keadilan dan kebenaran.

Pahlawan harus memperjuangkan sesuatu untuk orang lain, bukan untuk dirinya sendiri. Ketegaran dan keberanian Marsinah yang menyebabkan nyawanya terenggut, bukan untuk dirinya sendiri. Dia memperjuangkan teman-temannya para buruh yang terkena PHK. Udin berusaha untuk menulis sesuatu yang dirasakannya benar. Sesuatu itu menyangkut kepentingan orang banyak, bukan kepentingan pribadinya. Ini yang membedakannya dengan perjuangan-perjuangan semu untuk keperluan pribadi. Dewasa ini banyak pejuang keadilan, pejuang lingkungan, HAM, dan lain-lain yang sebenarnya semu. Perjuangan itu belum menunjukkan hasil namun dirinya sudah telanjur menjadi terkenal dan secara finansial mendapatkan keuntungan.

Ironi demikian paling kentara tatkala seseorang berusaha berjuang
menanggulangi masalah kemiskinan. Sementara masyarakat yang
diperjuangkannya tetap bergelimang kemiskinan, dirinya juga keluarganya telah mendapatkan “berkah” kekayaan dari hasil perjuangannya itu. Dewasa ini masyarakat yang kritis dengan mudah dapat membedakan, mana pahlawan sejati dan mana pula “pahlawan” pembela wong cilik yang semu. Meskipun kadang-kadang masyarakat, juga media massa Indonesia terkecoh juga. Seseorang yang sebenarnya “pahlawan semu” karena satu dan lain hal telah telanjur diorbitkan menjadi pahlawan sejati. Dalam kondisi semacam ini, sejarahlah yang akan menentukannya. Sebab, salah satu syarat untuk menjadi pahlawan sejati adalah, perjuangannya harus bisa menembus ruang dan waktu.

Kadang-kadang seseorang berjuang dengan sangat gigih dan semangat
tinggi, namun sama sekali tidak begitu tahu, apa sebenarnya yang sedang diperjuangkannya. Yang penting dia berani berbicara dan menyalahkan penguasa. Puncak kekuasaan di sebuah negara adalah presiden. Itulah sebabnya yang paling mudah dilakukan agar dapat disebut sebagai pahlawan adalah mencerca dan mencaci maki presiden. Namun untuk apa dia mencaci maki presiden tidaklah begitu jelas. Apakah juga untuk menjadi presiden? Untuk membela kaum miskin? Untuk menegakkan hukum dan keadilan? Atau untuk apa? Padahal, seseorang baru bisa berjuang dengan baik dan benar apabila mengetahui dengan jelas apa yang sebenarnya yang tengah diperjuangkannya.

Di sinilah sebenarnya peran media massa menjadi sangat dominan.
Seseorang yang sebenarnya hanya sekadar hadir dan ngomong dari satu
diskusi ke diskusi, dari satu seminar ke seminar, sudah diorbitkan
menjadi “pahlawan” pembela keadilan. Sementara yang benar-benar
berjuang membela keadilan dengan perbuatan konkret tak pernah
terberitakan. Hal ini bisa dimaklumi sebab media massa pada akhirnya
juga sebuah institusi bisnis. Mereka akan mengemukakan sesuatu sejauh
bisa mendatangkan keuntungan finansial bagi diri lembaga itu sendiri.
Melawan presiden adalah hal yang spektakuler dan layak jual.
Sementara, diam-diam menegakkan keadilan, diam-diam berbuat untuk
rakyat miskin adalah sesuatu yang tidak layak berita. Sesuatu yang
tidak akan meningkatkan tiras atau rating jam tayang.

***

DEWASA ini secara rutin pemerintah melalui Menteri Sosial memberikan gelar pahlawan kepada mereka yang dinilai layak untuk menerimanya. Pemberian gelar pahlawan dalam berbagai kategori itu dilakukan setelah melalui serangkaian proses panjang. Kadang-kadang, pemberian gelar semacam ini mengundang kontroversi. Layakkah dia menerimanya? Apa sebenarnya yang telah diperjuangkannya? Mengapa dia menerima sementara yang lain tidak? Dan sebagainya. Bahkan, gelar yang sudah sekian lama diberikan pun, kadang juga digugat. R A  Kartini, pada tahun 1964 diberi gelar Pahlawan Nasional. Hari kelahirannya tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini. Masyarakat pun menerimanya. Namun beberapa tahun silam pernah muncul pendapat kontroversial yang meragukan kepahlawanan Kartini.

Pernah pula ada pertanyaan tentang kriteria seseorang layak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Lebih-lebih setelah seorang tokoh yang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan kemudian diduga pernah
melakukan tindakan korupsi. Bisakah jenazahnya digali dan dipindahkan
ke pemakaman umum? Sebab apabila tidak, maka akan semakin banyak tokoh
yang sebenarnya lebih pantas dimakamkan di sana, memilih untuk
dimakamkan di pemakaman umum. Tokoh tersebut enggan dimakamkan di
Taman Makam Pahlawan, yang juga menjadi makam seseorang yang diduga
sebagai koruptor.

Sebutan pahlawan, akhir-akhir ini juga diberikan oleh media massa,
bukan melulu kepada seseorang yang berjuang untuk orang lain tanpa
pamrih. Misalnya para olahragawan. Layakkah mereka mendapat sebutan
“pahlawan” meskipun masih dalam tanda kutip? Seorang pemain bulu
tangkis misalnya. Dia memilih cabang olahraga ini bukan dengan
pertimbangan untuk memperjuangkan sesuatu bagi kepentingan orang
banyak tanpa pamrih. Pertimbangan mereka adalah pertimbangan praktis.
Bulu tangkis adalah cabang olahraga yang sangat populer di Indonesia.
Main bulu tangkis, lebih-lebih kalau menjadi juara, pasti dapat mengubah nasib. Pasti dapat mendatangkan keuntungan finansial. Memang mereka telah mengorbankan waktu, juga tenaga untuk berlatih. Namun, tetap ada perbedaan yang amat nyata antara Susi Susanti dengan Marsinah misalnya.

Pahlawan, apa yang kau perjuangkan? Soedirman jelas berjuang untuk
mempertahankan kemerdekaan. Kartini berjuang untuk persamaan hak
antara perempuan dan laki-laki di negeri ini, jauh sebelum istilah
“gender” menjadi sangat populer. Marsinah dan Udin, mungkin dianggap
terlalu kecil dan amat sangat sektoral perjuangannya. Tetapi justru di
situlah letak kebesaran mereka berdua. Marsinah hanyalah seorang buruh
di sebuah pabrik arloji di satu kota kecil di Jawa Timur. Namun dia
berani mengorbankan nyawanya untuk kepentingan teman-temannya. Bahkan sebenarnya, yang diperjuangkannya adalah sesuatu yang sangat universal dan abadi. Perjuangan Marsinah yang kecil itu mampu menembus ruang dan waktu. Dia telah berbuat jauh lebih besar dari Ketua Serikat Buruh
(SPSI) di negeri ini. Demikian pula Udin. Dia hanyalah wartawan di sebuah koran kecil di Yogyakarta. Namun dia berani berjuang menegakkan
kebenaran melalui tulisannya. Keberanian semacam ini bahkan tidak
dimiliki oleh para wartawan di koran-koran besar di Ibu Kota. Sayang,
baik Marsinah maupun Udin berhadapan dengan arogansi kekuasaan yang di
negeri ini masih teramat sulit untuk dihindari.

Perjuangan Marsinah dan Udin jelas sangat konkret. Mereka juga berjuang untuk sesuatu yang sangat strategis. Kebenaran dan keadilan. Dan mereka telah mengorbankan milik mereka yang paling berharga yakni nyawa. Namun mereka tidak seberuntung Kartini atau Soedirman. Kekuasaan formal di negeri ini pasti sulit untuk menganugerahkan gelar pahlawan kepada mereka berdua. Dan itu memang menjadi tidak terlalu penting. Perjuangan mereka berdua adalah perjuangan semua penegak keadilan dan kebenaran di mana saja dan kapan saja. Dan itu akan terus berlanjut tanpa atau dengan pengakuan formal.

* F.  Rahardi, penyair, tinggal di Jakarta.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: