PRAM DAN POLEMIK NOBEL KAPITALIS

16/12/2010 at 13:26 (artikel)

Kompas 4 Februari 2007

Oleh F. Rahardi

Pramoedya Ananta Toer (1925 – 2006), adalah ikon sastra Indonesia, yang pengaruhnya melebar ke ranah politik. Bukan hanya politik Indonesia melainkan juga politik kapitalisme global. Hingga sampai akhir hayatnya, dia hanya sekedar tercatat sebagai “kandidat” penerima Nobel Sastra.

Ada dua sebab, mengapa Pram tidak berhasil meraih Nobel Sastra. Pertama, karya-karya mutakhir Pram terlalu mencair. Triloginya Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa dan Rumah Kaca; kemudian novel tebalnya Arus Balik sampai ke Arok Dedes, menjadi seperti novel pop. Pembandingnya, karya-karya Pram terdahulu seperti Perburuan (novel 1950), Keluarga Gerilya (novel 1950),  Bukan Pasar Malam (novel 1951), dan Cerita dari Blora (kumpulan cerpen 1952). Bahkan dengan “catatan” Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, novel-novel mutakhir ini kalah intens.

Karya-karya lama Pram, sebenarnya juga diterjemahkan ke berbagai bahasa. Hingga tetap bisa menjadi bahan pertimbangan para anggota Akademi Swedia. Karenanya, saya menduga ada faktor politik, yang mengakibatkan nama Pram selama ini hanya berhenti sebagai kandidat Nobel Sastra. Pram sebagai pimpinan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), adalah bagian dari Partai Komunis Indonesia (PKI), yang juga bagian dari Kumunisme Global. Komunis adalah lawan dari Kapitalis.

Para pewaris Alfred Nobel dan anggota Akedemi Swedia, jelas akan lebih condong ke paham kapitalis. Hingga di alam bawah sadar mereka, sasterawan seperti Pram, akan kurang dihargai dibanding sasterawan dari negeri kapitalis. Atau, sasterawan dari negeri komunis, namun berpredikat pembangkang. Misalnya peraih Nobel Sastra Boris Pasternak (1958), Mikhail Sholokov (1965), Alexander Solzhenitsyn (1970) dan Gao Xingjian (2000).

Kasus Neruda

Pablo Neruda (1904-1973), adalah penyair Chili, peraih Nobel Sastra 1971. Sebenarnya, pada tahun 1964, Neruda sudah dinominasikan Akedemi Swedia. Dia gagal karena ada kampanye penolakan, dari The Conggress for Cultural Freedom. Lembaga yang didanai Central Intelligence Agency (CIA) ini, menentang Neruda karena dianggap terlibat dalam pembunuhan Leo Trotsky. Pembangkang Uni Soviet ini terbunuh di Meksiko tahun 1940, ketika Neruda menjadi Konsul Jenderal di sana.

Neruda memang jelas berhaluan kiri. Tahun 1945 ia menjabat Senator mewakili Partai Komunis Chili. Tahun 1953, dia juga menerima penghargaan Stalin Peace Prize. Ketika tahun 1953 itu Stalin meninggal, Neruda menulis sebuah ode untuk petinggi Uni Soviet ini. Dengan latar belakang demikian, Nobel sastra jelas bukan hanya sekadar penghargaan kultural, melainkan juga pemihakan secara politis. Neruda, kemudian memang teraniaya oleh Presiden González dan Diktator Augusto Pinochet.
Beda dengan Neruda, penyair perempuan Chili Gabriela Mistral (1889 – 1957) meraih Nobel Sastra  dengan sangat mulus. Selain bukan Komunis, Gabriela juga tidak aktiv dalam politik praktis. Meskipun dia juga berprofesi sebagai diplomat seperti halnya Neruda, namun aktivitasnya hanya di sekitar gerakan femininisme. Hingga Gabriela, praktis bisa lebih dekat dengan AS dan negara-negara Eropa. Inilah faktor yang memuluskannya meraih Nobel Sastra 1945.

Seandainya Pram lahir di RRC, Vietnam, Kuba atau Korea Utara, nasibnya akan beda. Dia akan melawan pemerintah yang Komunis. Promosi negara-negara kapitalis untuk menominasikan Pram, pasti akan lebih gencar. Para sasterawan kiri kita yang terusir ke Eropa pasca G 30 S, pernah mengadu ke PEN (International Association of Poets, Playwrights, Editors, Essayists, and Novelists), soal pembantaian dan penangkapan oleh Rezim Orde Baru. Pengaduan ini kurang diperhatikan, dibanding dengan laporan kaum pembangkang di negeri Komunis.

Dendam Dalam Negeri

Di dalam negeri, Pram teraniaya bukan hanya oleh Rezim Orde Baru. Dia juga menerima “karma” dari rekan-rekan sejawatnya, para sasterawan sendiri. Syahdan, pada paruh pertama tahun 1960an, Pram sangat berkuasa. Sebagai Ketua Lekra dan Pemimpin Redaksi Harian Bintang Timur, dengan lembar kebudayaan Lentera, Pram biasa menghajar lawan-lawan politiknya, terutama para penandatangan Manifes Kebudayaan, yang dilecehkan dengan sebutan “Manikebu”.

Ketika itu, tak ada koran atau majalah yang berani memuat karya para “Manikebuis” ini. Hingga mereka harus menulis dengan menggunakan nama samaran. Di antara para penandatangan Manifes, Goenawan Mohamad (GM), paling menderita terkena dampak teror Pram cs. Namun dendam yang tertuju ke arah Pram, justru datang dari para sasterawan, yang ketika itu belum berbunyi atau jauh dari hiruk-pikuk politik. Hingga mereka sebenarnya kurang terkena dampak teror dari Pram.

GM sendiri sebagai Wartawan Tempo, sempat ke Pulau Buru menengok Pram dengan penuh empati. Ketika Pram meninggal beberapa waktu lalu, Catatan Pinggir GM di Majalah Tempo juga sangat obyektif. Tak tampak sama sekali adanya dendam pribadi, terlebih dendam politik. Beda dengan beberapa sasterawan, yang sampai saat ini pun, ingatannya masih tertuju ke masa pra G. 30 S, ketika Pram masih sangat berkuasa. Dendam politik ini, tampaknya akan sulit untuk dihapus begitu saja oleh berlalunya waktu.

Sikap para sasterawan yang pernah berseteru dengan Pram, sebenarnya tipikal mewakili sikap pemerintah Indonesia. Meskipun Orde Baru telah tumbang, pemerintah B.J. Habibie, Gus Dur, Mega dan SBY, tidak pernah mencabut larangan beredar buku-buku Pram. Padahal “dosa” politik Pram, sudah ditebusnya dengan menderita di tahanan Pulau Buru tanpa pernah diadili. Pencabutan larangan ini penting, sebab karya-karya Pram, Sitor Sitomorang, Agam Wispi dll. selama ini tidak pernah tercantum dalam antologi resmi dan buku-buku sekolah.

Rehabilitasi

Sekarang ini mulai ada niat untuk merehabilitasi nama mantan presiden Soeharto dan Bung Karno. PDIP menolak kalau rehabilitasi H.M. Soeharto dikaitkan dengan rehabilitasi nama Bung Karno. Rehabilitasi dua nama ini, tampak hanya untuk kepentingan politik jangka pendek. Pemerintahan sekarang, perlu memperkuat posisi untuk menghadapi Pemilu 2009 nanti. Tapi tidak pernah terpikir oleh pemerintah, untuk merehabilitasi sasterawan besar yang namanya pernah terkait dengan Lekra.

Pemerintah, baik Habibie, Gus Dur, Mega maupun SBY, sebenarnya mau-mau saja merehabilitasi nama Pram cs. Sebab di mata internasional, tindakan ini akan sangat menguntungkan. Tetapi yang akan ribut, justru para sasterawan kita sendiri. Mereka yang merasa pernah “teraniaya” oleh Pram, pasti sewot besar. Mereka akan mengemukakan dalih “bahaya laten komunisme, atheisme, radikalisme kaum kiri” dan lain-lain. Mantan lawan politik yang akan sangat mendukung upaya rehabilitasi ini, paling banter hanya GM seorang.

Selama ini, anak-anak sekolah kita diisolasi dari karya sasterawan Lekra. Tetapi para remaja serta mahasiswa kita justru membaca Karl Marx, Tan Malaka dan menjadikan Che Guevara sebagai pahlawan bersama. Dendam politik terhadap Pram, Lekra dan PKI, tampaknya justru telah menciptakan kelompok pendukung yang lumayan kuat. Anak-anak muda, aktivis buruh serta anggota Partai Rakyat Demokratik (PRD), adalah fans Pram yang fanatik. Sementara karya-karya ikon sastra kita ini tetap “dinajiskan”.

F. Rahardi, Penyair, Wartawan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: