YANG TERHORMAT SURAT

22/12/2010 at 12:07 (cerpen)

Kalau memang kami ini asli, artinya seumur hidup betul-betul mengabdi, dan sekalipun belum pernah terlibat, maka segeralah kumpulkan potret, lalu tulis namamu dengan memakai huruf cetak dan  jangan lupa, kau tak boleh gondrong atau memakai baju yang kedodoran. Bukankah kau ini bermaksud untuk mendaftarkan sesuatu dan ingin betul diterima sebagai apa saja? Awas! Selain segala macam persyaratan yang memang sudah menjadi kelayakan itu, kamu juga masih harus menyediakan tekad agar semuanya bisa berjalan dengan lancar dan licin. Jangan kelewat sayang untuk membuang kalau kau memang mengharapkan untuk cepat-cepat mendapat.

“Mengerti?”
“Ya pak”.
“Sekarang serahkan semua”.
“Kalau begitu baiknya ditunda saja sampai semua bisa kau kumpulkan dan kau bawa. Tidak kelewat berat kan?”
“Tidak pak”.
“Yah, paling-paling kan cuma berapa gram. Dikantungi juga nggak kentara. O ya, You pernah kerja?”
“Pernah”.
“Dimana?”
“Di sebuah PT”.
“Bagus. Pokoknya kalau semua sudah lengkap, tak ada kesulitan yang tak bisa diselesaikan. Paham?”
“Ya pak”.

Aku berjingkrak dan jingkrakanku itu bisa diartikan sebagai tanda sukacita yang mustahil untuk dilukiskan dengan mempergunakan kata-kata. Aku bersorak tanda gembira dan sorakanku ini bisa disebut sebagai tanda kegembiraan yang meluap hingga tak mungkin lagi untuk dilukiskan dengan tertawa atau menarik-narik bibir ke samping supaya tersenyum. Tapi ketika aku bersorak untuk ketiga kalinya, ada seorang penyair yang meninjuku. Dia marah besar karena aku dianggapnya tidak mempercayai kata-kata untuk melukiskan suasana.

“Kalau kau sebentar-sebentar bersorak, sebentar-sebentar nangis, sebentar-sebentar berak, sebentar-sebentar kentut, maka dunia akan ribut, tak pernah tenteram. Pergunakanlah kata-kata, karena itulah satu-satunya yang paling sip”.
“Tapi ini soal surat. Aku harus melengkapinya dalam waktu yang singkat”.
“Tapi kau kan memang tidak terlibat?”
“Itu jelas”.
“Cukup. Kau pasti diterima untuk melamar apa saja”.

Aku lalu meniarap. Pulpenku aku ambil dan semua perasaanku ketika itu kutumpahkan dalam surat. Kutulis pada kedua orang tuaku bahwa kegembiraanku sedang meluap. Aku bakalan diterima sebagai apa saja setelah segala macam surat yang memang sudah menjadi kelayakan sebagai syarat itu, bisa segera kudapatkan. Untuk mendapatkannya tidak cukup dengan kenyataan bahwa aku memang betul asli berkelakuan baik dan tidak pernah terlibat. Untuk itulah maka aku mengharap dengan sangat lagi hormat agar kedua orang tuaku sudi mengirimkan barang lima puluh ribu sebagai syarat untuk membereskan yang terhormat surat. Beberapa bulan kemudian wesel itu datang dengan catatan kerbau telah dijual dan semoga yang terhormat surat segera didapat agar segala macam lamaran bisa dikabulkan.

Aku berjingkrak lagi tapi segera ditempeleng oleh si penyair. Katanya cukuplah kalau aku bilang wesel telah datang! Sudah. Lalu kalau memang mau menyatakan sukacita, itu tidak perlu dengan berjingkrak segala macam, tapi cukuplah dilukiskan dengan kata-kata. Misalnya saja dengan : Yo kutraktir bakso. Karena ia kuat tinjunya, maka akupun menyerah. Setelah wesel kuambil, yang pertama kuurus bukannya yang terhormat surat, tapi si penyair yang hebat. Dia kugandeng ke sebuah warung cina yang lumayan bersih serta lumayan tinggi memasang tarif. Kami makan dengan lahap dan dalam waktu yang singkat duit yang sedianya untuk mengurus yang terhormat surat telah sedikit bobol pertahanannya. Tapi karena penyair itu tajam intuisinya, maka aku yakin apa saja yang dikatakan tetap mengandung kebenaran juga adanya.
Aku lalu kembali meniarap. Kali ini bukannya untuk menulis surat kepada yang terhormat seperti biasanya, karena aku memang tinggal di sebuah rumah yang tak cukup longgar untuk ditaruhi meja, tapi demi yang terhormat syahwat. Tentu. Aku memang tidak meniarap sendirian, sebab nun di bawahku situ ada seorang makhluk Tuhan yang akan memberikan kepuasan sambil sekaligus merampas beberapa ribuan. Selain yang nun di bawahku situ ada pula si penyair yang juga dengan rela telah mengorbankan dirinya untuk menemaniku meniarap nun di kamar sebelah sana. Tentu. Bahwa beberapa ribuan yang akan dikorbankannya dari kantungku jua asal-muasalnya. Semua ini terjadi karena untuk melukiskan kegembiraan tidak perlu dengan berjingkrakan seperti kata si penyair itu, tapi cukuplah dengan kata-kata sederhana : Yo, kita ke sana berdua!

Wesel yang kuterima untuk mendapatkan yang terhormat surat, persis jumlahnya seperti apa yang telah kusebutkan dalam suratku kepada yang terhormat kedua orang tuaku. Dia mengirim tepat limapuluh ribu. Karena jumlah itu lumayan banyak dan lebih dari cukup untuk mengurus yang terhormat surat, maka akupun berulangkali melukiskan kegembiraanku yang meluap cukup dengan kata-kata kepada si penyair, tepat seperti yang dianjurkannya. Dan akibatnya, uang itu telah amblas sebelum aku berhasil mendapatkan yang terhormat surat.

“Jadi surat penduduk saja kamu belum punya? Tanya si penyair”.
“Belum”.
“Waduh. Padahal paling tidak lima ribu untuk mengurusnya.
“Ijasah?”
“Juga belum kuambil”.
“Celaka. Padahal kan paling lambat besok pagi?”
“Iya”.
“Ah, kamu ini bagaimana? Surat terlibat sudah punya?”
“Surat tidak terlibat!”
“Oh ya. Surat tidak terlibat. Wah, padahal itu paling sulit didapat. Apa kau memang betul tidak terlibat?”
“Terlibat apa?”
“Lo, yang diminta sana surat tidak terlibat apa?”

Supaya semua menjadi lebih jelas, aku segera meloncat meninggalkan si penyair itu. Sekarang sedihku bertimbun dan semangatku serasa terbang entah ke jurusan mana. Aku buru-buru menemui pejabat yang bertanggungjawab mengenai yang terhormat surat. Aku harus tahu apakah kiranya bisa diusahakan dengan kilat.

“Bisa saja dik. Bahkan tidak hanya kilat. Kilat khusus pun bisa.
Tapi adik kan tahu, perangkonya pasti lain”.
“Lalu semua berapa pak?”
“Yah, itu ada kalkulator untuk menghitung. Tapi adik maunya selesai kapan?”
“Kalau bisa besok”.
“Wah itu sulit”.
“Tapi ini penting. Sangat mendesak”.
“Yah tapi kalau besok pagi itu namanya bukan lagi kilat khusus.
Itu harus diantar sendiri”.
“Baiklah pak. Nanti sore aku akan ke rumah untuk mengantarnya”.

Supaya yang terhormat surat itu bisa cepat lengkap maka akupun segera memutar yang namanya otak. Meniarap lagi untuk menulis surat kapada yang terhormat kedua orangtua, jelas sudah tidak mungkin. Melukiskan kesulitan dan kesedihan dalam bentuk kata-kata misalnya, “Pinjamilah dulu duit”, kepada si penyair, jelas lebih tidak mungkin lagi. Maka satu-satunya jalan ialah melukiskan segala macam kesulitan kepada si Bapak Tukang Loak. Arloji, sepatu, celana jean, gitar dan masih banyak lagi yang lain ikut serta meniarap di hadapan Bapak si Tukang Loak dalam rangka membantuku melukiskan segala macam kesulitan. Betul juga. Usahaku ini berhasil.
Aku menerima beberapa lembar ribuan yang segera kuantarkan sendiri kapada Bapak yang bertanggungjawab. Dia manggut-manggut dan berjanji bahwa besok pagi yang terhormat surat tidak terlibat itu sudah bisa kudapat. Aku pulang sambil bersiul-siul, tapi sesampai di rumah siulanku itu berubah menjadi semacam ratapan sekedar untuk menyesali kepergian beberapa milikku. Karena ketika itu aku hanya sendirian saja, maka sulit untuk melukiskan kesedihanku dengan kata-kata. Aku hanya merenung sambil mengharap semoga besok betul-betul siap yang terhormat surat. Tapi harapanku ternyata tak menjelma menjadi kenyataan.

Pagi itu Bapak yang bertanggungjawab untuk memberi yang terhormat surat tidak ada di tempat. Aku menunggu, tapi beliau tak kunjung tiba. Aku putus asa, lalu menghubungi siapa saja yang bisa kuhubungi.

“Hallo pak”.
“Hallo”.
“Bapak yang disitu itu kemana ya?”
“Ke luar kota”.
“Pulangnya?”
“Kalau tidak besok ya lusa”.
“O”.
“Ada perlu?”
“Ya”. “Tunggu saja sampai beliau tiba”.

Singkat tetapi padat. Itulah yang namanya penyair. Ketika aku datang dan menyampaikan kekesalan hatiku, cukup dengan kata-kata dia nyengir : Sudahlah. Nggak usah kerja. Buat apa susah-susah kerja. Lihatlah. Aku ini begini-begini saja, tapi tidak juga mati-mati. Tenanglah! Tapi aku tetap tidak dapat tenang, lebih-lebih ketika yang terhormat surat itu telah kudapat dan aku segera menghadap pada pejabat untuk menyerahkannya tapi dia dengan singkat menjawab : terlambat. ***
Sumber : Buku Kentrung Itelile, Penerbit Puspa Swara Tahun 1993

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: