DISKUSI SAJAK-SAJAK F. RAHARDI

10/01/2011 at 16:06 (berita)

TAK BETAH DENGAN DUNIA
PUITIKNYA YANG NYAMAN

Jakarta – Meskipun tidak dipedulikan oleh sebagian masyarakat, puisi tetap lahir dan tumbuh subur dalam rahim para penyair Indonesia. Sementara hampir semua mata saat ini tertuju ke perang Teluk, masih ada orang yang mempunyai perhatian akan nasib perkembangan puisi.

Medan Sastra, sekumpulan penyair yang mau memperhatikan nasib puisi, pekan lalu mengadakan diskusi mengenai puisi-puisi F. Rahardi yang memperlihatkan kecenderungan berbeda dengan puisi pada umumnya di Indonesia. Dalam diskusi yang diselenggarakan di Studio Oncor itu, tampil Kurnia JR yang membawakan sebuah makalah. Selain itu hadir pula penyair Nirwan Dewanto, Afrizal Maina dan Radar Panca Dahana.

“Kelainan” puisi-puisi Rahardi, terutama dimulai sejak ia menyatakan “Proklamasi Puisinya” tahun 1985 dalam buku kumpulan puisi yang berjudul “Catatan Harian Sang Koruptor”.

“Saya penyair Indonesia, dengan ini menyatakan kemerdekaan puisi saya. Mulai sekarang puisi bukan lagi seni agung yang terkurung di puncak gunung. Bagi saya puisi hanyalah alat permainan”. Itulah sebagian proklamasi yang dicetuskan oleh Floribertus Rahardi.

Jauh sebelumnya, tahun 1973 penyair Sutardji Calzoum Bachri melahirkan kredo puisi. Dalam kredonya ia mengatakan, “Kata-kata bukanlah alat mengantarkan pikiran. Dia bukanlah seperti pipa yang menyalurkan air. Kata-kata adalah pengertian itu sendiri. Dia bebas”.

Sapardi Djoko Damono, penyair yang juga pengajar sastra di Universitas Indonesia mengatakan, ada satu kesamaan antara sikap Rahardi dan Sutardji. Kesamaan itu ialah, katanya dalam percakapan dengan “Pembaruan”, bahwa mereka berusaha mendobrak kemapanan puisi Indonesia. Menurut Sapardi, hal itu juga dilakukan oleh penyair Remy Silado pada saat yang hampir bersamaan dengan kredo puisi Sutardji. Saat itu Remy melahirkan apa yang disebut dengan puisi-puisi mbeling.

Namun Sapardi melihat bahwa baik Sutardji maupun Remy, memiliki konsep yang lebih matang dibandingkan dengan Rahardi. “Kedua penyair itu sebelum melakukan pendobrakan, terlebih dulu melakukan studi yang mendalam terhadap puisi-puisi yang mereka anggap mapan,” tutur penyair yang mengaku selalu mengikuti perkembangan puisi-puisi Rahardi. Karena itulah ia menilai andil kedua penyair itu dalam perkembangan puisi Indonesia sangat besar.

Sementara itu ia melihat Rahardi kurang banyak melakukan studi sebagaimana dilakukan oleh kedua penyair itu. “Lha, bagaimana bisa mendobrak dengan baik, kalau kita tidak benar-benar menguasai apa yang akan kita dobrak,” katanya. Namun ia mengakui bahwa penyair yang melejit dengan kumpulan puisi Soempah WTS-nya mempunyai ketajaman yang baik di dalam mengamati sekaligus mengangkat masalah yang dilihatnya sehari-hari.

Di mata Sapardi, penyair kelahiran Ambarawa 41 tahun lalu itu sangat jeli dalam mengangkat tema-tema yang jarang disinggung oleh para penyair lain. Sikap seperti itu, lanjutnya, memerlukan keberanian sekaligus ketajaman berpikir.

Oleh karena itulah ia melihat bahwa permainan puisi Rahardi adalah permainan yang serius. Atau menurut Afrizal Maina, puisi-puisi Rahardi sebagaimana puisi lainnya di Indonesia, tetap menyiratkan ketegangan, seperti juga dalam kumpulan sajak Yudhistira M Massardi yang berjudul “Sikat Gigi”.

Kegetiran

Menurut Afrizal, ketegangan (atau kegetiran) itu dalam puisi Yudhis menjadi cair, sedangkan Rahardi membuatnya jadi sinisme, misalnya dalam kumpulan puisi “Soempah WTS” (1984) dan “Catatan Harian Seorang Koruptor” (1986). “Karena itu orang bisa tertawa ketika puisi-puisinya dibacakan, padahal sebetulnya ia menyampaikan kegetiran,” ujar Afrizal. Sementara itu, sambungnya, dalam buku kumpulan puisi “Tuyul” (1990), Rahardi menggunakan gaya prosa.

Pada kesempatan itu Afrizal sempat mempertanyakan, apakah puisi Rahardi masih mempunyai makna. “Atau pertanyan seperti itu tidak relevan disampaikan?” tanyanya.

Mengenai hal itu Sapardi berpendapat pentingnya membedakan pengertian permainan dalam puisi Rahardi dengan pengertian yang biasa didengar dalam kehidupan sehari-hari. Permainan puisi penyair tersebut, menurut Sapardi, hanya upaya untuk mencari cara penyampaian yang lebih mengena.

Menyinggung hal itu, Rahardi yang hadir dalam diskusi mengatakan bahwa hendaknya tidak terlalu dimasalahkan sisi apapun yang disoroti oleh penyair. “Yang penting bagaimana si penyair menggeluti hal tersebut dengan kesungguhan,” katanya.

Untuk itu ia mengaku kadang-kadang tidak tidur semalaman untuk mengerjakan puisi. Padahal hal itu jarang dilakukannya dalam menggeluti dunia wartawan di majalah pertanian Trubus.

Hal ini sesuai dengan pemikiran Kurnia JR yang mengatakan bahwa perubahan sikap Rahardi terjadi karena ia rupanya tidak betah dengan dunia puitiknya yang nyaman. Lantas Kurnia menunjukkan periode awal puisi Rahardi yang masih memperlihatkan kesunyian, lintasan waktu yang tak bisa dicekal, debu, angin, jalanan, kota-kota dan kerinduan alam. “Kita masih diajak untuk mengheningkan diri ketika membacanya dan menikmati sebentuk suasana yang diaksentuasikan dengan cara yang khas,” katanya.

Kurnia mengambil contoh sajak yang berjudul “Jalan Radio”, Di atas bangunan cokelat/kawat-kawat antena meruncing/dan tertancap di langit/sesobek cinta berbunga/antara aku dan surya itu/tak ada jarak/bagai baju dan seterika/lengket di meja/dan bayang-bayangku/bayang-bayang tipis itu/terkapar di aspal.

Selanjutnya Kurnia mengemukakan, dengan proklamasi puisi yang dibuatnya, Rahardi seakan-akan memperoleh landasan bagi konsep puisinya yang ingin sangat leluasa mengucapkan apapun, dengan gaya bagaimanapun. Dua kumpulannya, tambah Kurnia, yaitu “Soempah WTS” dan “Catatan Harian Sang Koruptor” barangkali membuat kita jengkel atau terpaksa tersenyum karena nakalnya. “Tapi juga dalam “Tuyul”, kita menyaksikan, betapa Rahardi ternyata tidak bisa benar-benar lepas dari gaya pribadinya yang nyata dalam periode awalnya; yang menyuarakan ungkapan hatinya yang cenderung liris,” paparnya.

Silsilah Garong

Selain ketiga sajak tersebut, Rahardi juga membuat kumpulan puisi yang berjudul “Silsilah Garong” Sajak-sajak 1969-1979″ (1990). Menurut Kurnia, pola persajakan pada “Silsilah Garong” dapat dikatakan berbeda sekali dengan “Soempah WTS” dan “Catatan Harian Sang Koruptor”. Itulah momen pergeseran konsep puitiknya,” tandasnya. Sementara dalam “Tuyul”, ia menemukan situasi tarik-menarik antara pola awal dan pola kedua yang diproklamasikannya itu.

Kurnia berpendapat, periode pertama Rahardi memang sebuah dunia yang peka pada cuaca dan tenang, lantas Kurnia mengambil contoh puisi “Suatu Hari di Bulan Januari” yang dinilainya menggambarkan dunia yang naif dan sederhana. “Seratus ton kapas yang putih dan ringan/dihalau angin dari pohonnya/dan diterbangkannya ke langit/berbondong-bondong”. Melihat gaya seperti itu, pembicara mensejajarkan Rahardi bersama Dodong, Djiwapradja, almarhum Hartojo Andangdjaja dan Wing Kardjo.

Selain itu Kurnia mengatakan, tahun 1970-an beberapa sajak Rahardi sudah mulai mempunyai pola yang berubah dibandingkan dengan periode awalnya. Ia menunjuk salah satu sajak yang dinilainya cukup ekstrem yaitu “Sajak dari Tegal”.

Dalam sajak ini, tuturnya, sang penyair lebih bebas memilih kata-kata serta menyusunnya sebagai suatu struktur yang juga bebas. “Ungkapan-ungkapan bajingan, pastur, tuhan, pantat dan seterusnya dipersandingkan tanpa sungkan-sungkan. Ini searah dengan kredo milik Sutardji,” ungkapnya. Namun pada akhir dekade 1970-an, sajak “Sehabis Nonton Jam Duabelas” kembali ke pola semula yang menggambarkan suasana dengan gaya konservatif.

Tahun 1984 Rahardi sempat menjadi berita lantaran niatnya membacakan sajak-sajaknya dengan mengikutsertakan sejumlah WTS, yang dilarang pihak Dewan Kesenian Jakarta. Setelah itu pihak yang berwajib melarangnya membacakan kumpulan puisi Catatan Harian Sang Koruptor.

Sebetulnya pribadi Rahardi juga cukup unik, paling tidak jika dilihat dari perjalanan hidupnya. Setelah keluar dari kelas II SMA Persiapan Negeri Ambarawa, ia mulai menjadi guru SD di Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Tahun 1969 ia mulai menulis sajak dan pada saat bersamaan lulus ujian persamaan SPG (Sekolah Pendidikan Guru) di Kabupaten yang sama.

Setahun kemudian ia menjadi Kepala Sekolah di SD Peron II Dukuh Manggung, Limbangan. Namun rupanya ia lebih tertarik pada dunia puisi sehingga memutuskan keluar dari pegawai negeri dan pergi ke Jakarta sampai akhirnya ia menjadi wartawan majalah Trubus. Baginya memang bukan soal bekerja apapun. Yang penting semua itu dikerjakan dengan serius sebagaimana ia menggarap puisi-puisinya. (Pembaruan/Syah Sabur)

Sumber : Harian Suara Pembaruan, 4 Februari 1991

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: