EKSPERIMEN F. RAHARDI

10/01/2011 at 16:10 (berita)

Kurnia JR

 

Dengan sajak-sajak periode awalnya, penyair ini menuliskan kesunyian, lintasan waktu yang tak bisa dicekal, debu, angin, jalanan, kota-kota, dan kerinduannya. Sajak-sajak itu terkumpul dalam judul Silsilah Garong : Sajak-sajak 1969-1979 (1990). Kita masih diajak untuk mengheningkan diri ketika membacanya, dan menikmati sebentuk suasana yang diaksentuasikan dengan cara yang khas. Salah satunya, sajak “Jalan Radio” : Di atas bangunan cokelat/kawat-kawat antena meruncing/dan tertancap di langit/sesobek cita berbunga/antara aku dan surya itu/tak ada jarak/bagai baju dan seterika/lengket di meja/dan bayang-bayangku/bayang-bayang tipis itu/terbakar di aspal.

F. Rahardi, sang penyair, rupanya tak betah dengan dunia puitiknya yang nyaman itu. Sajak-sajak awal yang ditulisnya ketika ia masih belia, yang menyimpan berkas-berkas renungan seorang innocent yang bersahaja, kemudian ia tinggalkan polanya. Dan bagaimanapun, tentu saja sah apa yang ia pilih dan lakukan. Pada tahun 1985, dalam Catatan Harian Sang Koruptor, ia canangkan “Proklamasi Puisi” :

Saya penyair Indonesia.
Dengan ini menyatakan kemerdekaan puisi saya.
Mulai sekarang puisi bukan lagi seni agung yang terkurung di puncak gunung.
Bagi saya puisi hanyalah alat permainan.

Dalam tradisi Jawa, sudah lama ada parikan, plesedan,
lirik gending-gending dolanan dan lain-lain
Disana, kata-kata dipermainkan, logika dijungkirbalikkan, basa-basi dikebiri dan sopan-santun dikubur di alun-alun.
Tinggallah kemudian suasana santai, akrab dan sangat bersahabat.

Jiwa tradisi Jawa itu saya angkat dalam puisi-puisi saya.
Menulis puisi bagi saya adalah bermain dengan kata-kata, bermain dengan logika, bermain dengan norma-norma, dan bermain dengan konsep-konsep yang sudah mapan, termasuk konsep estetika.

Puncaknya, saya pun bisa bermain-main dengan Tuhan dalam puisi saya.
Dan Tuhan yang semula nampak sakral, besar, berkuasa dan sangat jauh; sekarang jadi santai, akrab, sangat bersahabat dan dekat sekali di hati.

Jakarta, hari Selasa 1985

Dengan proklamasinya itu, ia pun seakan-akan memperoleh landasan bagi konsep puisinya yang ingin sangat leluasa mengucapkan apa pun, dengan gaya bagaimanapun. Dua kumpulannya, Soempah WTS dan Catatan Harian Sang Koruptor barangkali sempat membikin kita jengkel atau terpaksa senyum karena nakalnya. Tapi juga, dalam Tuyul : Kumpulan Sajak 1985-1989 kita saksikan, betapa Rahardi ternyata tak bisa benar-benar lepas dari gaya pribadinya — yang nyata dalam periode awalnya — yang menyuarakan ungkapan hatinya yang cenderung liris.

Tetapi, ada baiknya disebutkan dulu bahwa Floribertus Rahardi (lahir : 10 Juni 1950) telah menerbitkan 4 kumpulan puisi : Soempah WTS (1983), Catatan Harian Sang Koruptor (1985), Silsilah Garong : Sajak-sajak 1969-1979 (1990), dan Tuyul : Kumpulan Sajak 1985-1989 (1990). Pola persajakan pada Silsilah Garong dapat dikatakan berbeda sekali dengan Soempah WTS dan Catatan Harian Sang Koruptor. Itulah momen pergeseran konsep puitiknya. Dan kita mungkin dapat membaginya sebagai 2 periode kepenyairannya. Sedangkan dalam Tuyul kita temukan situasi tarik-menarik antara pola awal dan pola kedua yang diproklamasikannya itu.

Periode pertama Rahardi memang sebuah dunia yang peka pada cuaca dan tenang. Di situ, “seratus ton kapas yang putih dan ringan/dihalau angin dari pohonnya/dan diterbangkannya ke langit/berbondong-bondong”. Sebuah dunia naif dan sederhana, yang diungkapkannya dalam sajak “Suatu Hari di Bulan Januari”. Dalam masa ini Rahardi tampak selaras dengan, antara lain, Dodong Djiwapraja, Hartojo Andanidjaja, serta Wing Kardjo. Pada sekitar 1960-an dan 1970-an itu puisi kita cenderung menciptakan sebuah dunia tenang, koservatif, dan sangat mengutamakan suasana. Ungkapan-ungkapan mereka sederhana, tapi menyarankan kesan yang khas impresif. Dalam “Sajak Anak-anak Kati” yang ditulis pada tahun 1973, Goenawan Mohamad menulis, “tiga anak menari/tentang tiga burung gereja/kemudian senyap/disebabkan senja/tiga lilin kuncup/pada marmer meja/tiga tik-tik hujan bertabur/seperti tak sengaja/’Bapak jangan menangis'”.

Tapi tiba-tiba pada tahun 1973 Sutardji Calzoum Bachri mencetuskan Kredo Puisi, yang menyatakan bahwa “Kata-kata bukanlah alat mengantarkan pengertian. Dia bukanlah seperti pipa yang menyalurkan air. Kata-kata adalah pengertian itu sendiri. Dia bebas. Kalau diumpamakan dengan kursi, kata adalah kursi itu sendiri, dan bukan alat untuk duduk. Kalau diumpamakan dengan pisau, dia adalah pisau itu sendiri, dan bukan alat untuk memotong dan menikam”. Jadi, dalam dasawarsa tersebut puisi kita bukan hanya dunia tenang dan berkecenderungan konservatif pada medianya (bahasa), tapi juga ada dimensi yang menantang sikap mapan. Dimensi yang tidak puas dan menyodorkan nilai baru.

Dalam 1970-an Rahardi belum mengumumkan apa-apa sebagai konsep puitik pilihannya sendiri. Tapi beberapa sajaknya mulai berubah pola dari yang awal. Satu contoh yang cukup ekstrem adalah “Sajak dari Tegal”. Dalam sajak ini Rahardi lebih bebas memilih kata-kata serta menyusunnya sebagai suatu struktur yang juga bebas. Ungkapan-ungkapan bajingan, pastur, tuhan, pantat, dan seterusnya, dipersandingkan tanpa sungkan-sungkan. Tampak padanya kecenderungan yang searah dengan apa yang dicanangkan Kredo Sutardji. Penutup sajak tersebut begini, “Jam satu bajingan jam dua/pastur; jam tiga sunyi jam/empat/naik kapal/jam empat diberondong jam lima/ingat pada tuhan, berak, kencing,/mencuci pantat dan/tidur”. Namun, pada akhir dekade 1970-an, sajak “Sehabis Nonton Jam Duabelas” kembali ke pola semula yang menggambarkan suasana dengan gaya konservatif.

Pada dekade 1980-an nama F. Rahardi mulai kedengaran sensasional. Ia menerbitkan Soempah WTS dan Catatan Harian Sang Koruptor. Pada tahun 1984 ia sempat jadi berita di koran lantaran niatnya mengikutsertakan WTS dalam pembacaan sajak-sajaknya di TIM, dan niat itu tak terlaksana. Pihak Dewan Kesenian Jakarta berkeberatan atas rencana itu. Kumpulan yang kedua itu pun batal dibacakan di depan publik, karena dilarang pihak yang berwajib.

Dalam 2 kumpulan tersebut sajak-sajaknya memperlihatkan sikap mencipta yang sangat leluasa, cenderung tanpa batas. Kata-kata ia tebarkan dengan begitu saja di bawah judul sajak. Misalnya ini :

SOEMPAH WTS

satu
kami
bangsa
tempe
bersurga
satu
surga
dunia

dua
kami
bangsa
tahu
bergincu
batu
berbantal
pantat

tiga
kami
bangsa
tokek
bertarget
satu
menggaet
tuhan
jadi
langganan
1983

Ia telah melakukan pilihan sikapnya, bahwa “sekarang puisi bukan lagi seni agung yang terkurung di puncak gunung …. puisi hanyalah alat permainan”.

Dalam sajak “Tentang Yesus” (Catatan Harian Sang Koruptor) diajukan pertanyaan, “mungkinkah yesus homoseks?/injil itu mengangkang memamerkan/wajah
mulusnya/huruf-hurufnya tegang dan kaku/merangsangku untuk/mengunyahnya/melumatnya/lalu menyemprotkan ampasnya/ke langit-langit kamar” dan seterusnya. Rahardi menikmati permainan kata-kata yang menyebut-nyebut tuhan, cerita kondom, menyindir koruptor serta birokrat secara pedas, atau memaparkan imajinasi porno dalam gereja.

Menghadapi pola-pola sajaknya itu, agaknya kita pun bagai diisyaratkan supaya membuka diri untuk menikmati apa yang ditawarkannya dengan sikap longgar. Entah kita bersepakat dengannya ataupun tidak. Rahardi sendiri tampaknya belum akan berhenti mencipta./ Kita boleh mengira-ngira, mungkin ada temuannya yang lain lagi suatu ketika. Siapa tahu.

Sebab, dalam sajak yang ditulis pada tahun 1987 — 2 tahun setelah proklamasi “kebebasannya” — ia menyusun larik-larik yang cenderung liris dan boleh dibilang tertib. Sajak itu berjudul “Angin di sebuah Desa” (dalam Tuyul). Inilah sebagiannya : “angin itu berlari lurus/menyentuh daun kelapa/menyentuh daun waru/menyentuh tiang bendera di halaman kelurahan/dan menampar jendela mushola/hingga berderak-derak bunyinya/angin itu dingin dan menggigilkan apa saja/angin itu terus mengaduk-aduk perut desa/sampai mual dan mau muntah”.

***

Tulisan ini disampaikan dalam diskusi puisi F. Rahardi, yang diselenggarakan Medan Sastra, 20 Januari 1991,di Jakarta.
Dimuat di Harian Media Indonesia, 25 Mei 1991

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: