PUISI YANG NARATIF, PROSA YANG PUITIS

13/04/2011 at 12:53 (artikel)

KOMPAS – Minggu, 02 Apr 2006

Sastra
Oleh F Rahardi

Membaca penggalan novel dan puisi berikut ini, kalangan awam akan sulit membedakan mana puisi dan mana prosa. Tren sastra Indonesia mutakhir, puisi cenderung naratif, prosa makin puitis.

Aku pulang malam sekali. Istriku terbangun, membukakan pintu.
Ia tersenyum. “Tak apa, kalau tak ada siang di sini,” katanya.
Aku segera meletakkan tas. Aku lihat matanya,
sebuah pemandangan baru mendapatkan sinar.
“Bisakah besok kamu jadi ibu rumah tangga,” katanya.

Aku tak tahu lagi apakah masih ada dosa.
Seks terlalu indah. Barangkali karena itu Tuhan cemburu
sehingga Ia menyuruh Musa merajam orang-orang yang berzinah?
Tetapi perempuan selalu disesah dengan lebih bergairah.
Ke manakah pria yang bersetubuh dengan wanita yang dibawa orang-orang Farisi untuk dilempari batu di luar gerbang Yerusalem?
Aku mencintai kamu. Aku mencintai kamu.
Aku tidak ingin kamu dihukum.
Tetapi kamu sungguh cantik, seperti dinyanyikan Kidung Raja Salomo.

Membaca kutipan pertama, asosiasi pembaca awam lebih tertuju ke prosa. Bisa penggalan cerpen, bisa potongan novel. Sebaliknya, kutipan berikutnya lebih layak disebut puisi. Padahal kutipan pertama adalah puisi (Afrizal Malna, Usaha Menjadi Ibu Rumah Tangga 1997).
Kutipan kedua adalah Novel (Ayu Utami, Saman 1998). Afrizal dan Ayu kemudian diikuti oleh generasi penyair, cerpenis, dan novelis yang lebih muda.

Kecenderungan purba

Selalu ada kecenderungan prosa menjadi puitis, sementara puisi mencair menjadi bernarasi. Kecenderungan inilah yang melahirkan epik (epos) dan prosa lirik. Karya sastra besar seperti Mahabharata menggunakan bentuk epos. Meskipun saduran paling awal, yang dilakukan para pujangga Jawa terhadap karya ini, justru mengambil bentuk prosa (parwa). Baru kemudian, karya ini disadur dalam bentuk puisi (kakawin).

Prosa memang sudah dibedakan dengan puisi sejak era sastra purba. Prosa digunakan untuk menuliskan kisah raja, dongeng binatang cerita kepahlawanan. Puisi difungsikan sebagai doa dan mantra. Puisi purba adalah alat komunikasi untuk menyampaikan perasaan kolektif kepada satu individu. Komunitas itu bisa berupa suku atau kumpulan keluarga.
Individunya bisa Tuhan, dewa, atau roh nenek moyang.

Puisi modern kebalikan dari puisi purba. Ia merupakan sarana menyampaikan perasaan individu (penyair) kepada komunitas yang lebih luas, terutama publik sastra. Puisi purba maupun modern sama-sama bersifat individual. Dalam arti, puisi purba individual sesuai individu Tuhan, dewa atau roh yang dituju oleh doa atau mantra tersebut. Misalnya, mantra untuk dewa hujan, doa bagi roh penunggu gunung. Puisi modern juga bersifat individual, tergantung dari individu penyairnya.

Baik prosa maupun puisi purba bersifat kolektif dan anonim.
Perubahan prosa menjadi puitis dan puisi menjadi naratif juga berlangsung secara kolektif, baik lisan maupun tertulis, melalui proses puluhan bahkan ratusan tahun. Hingga dari proses prosa yang puitis dan puisi yang bernarasi itu, terciptalah epos dan prosa lirik. Proses demikian, dalam sastra Indonesia mutakhir berlangsung secara individual dengan rentang waktu sangat pendek.

Khitah puisi

Puisi adalah medium untuk mengungkap perasaan, bukan pikiran, dan tidak mungkin disampaikan melalui prosa. Perasaan takut, berharap, pasrah, bersyukur dari masyarakat purba hanya bisa terungkap lewat puisi berupa doa dan mantra. Bukan prosa. Dalam kehidupan modern, perasaan penyair juga hanya bisa disampaikan melalui medium puisi.
Bukan cerita pendek, novel, roman, maupun tulisan nonfiksi (artikel, opini, kolom, dan esai).

Itulah sebabnya secara konvensional, puisi yang dianggap baik adalah yang tidak terlalu dibebani pesan atau pikiran si penyair.
Perasaan galau dan kesepian Chairil Anwar dalam Senja di Pelabuhan Kecil, Untuk Sri Ajati sangat kuat dan masih bisa dirasakan oleh publik sastra sekarang. Kekuatan itu muncul justru karena puisi tadi tidak terlalu dibebani pesan dan pikiran si penyair, yang biasanya sangat kontekstual.

Barangkali itulah yang disebut sebagai “khitah puisi”. Rintisan genre puisi modern Indonesia yang dipelopori Amir Hamzah dan Chairil Anwar telah melahirkan penyair-penyair hebat, misalnya Sitor Situmorang, Ramadhan KH, Soebagio Sastro Wardojo, Rendra, Goenawan Mohamad, dan Sapardi Djoko Damono. Tetapi, khitah puisi yang dikembalikan Chairil Anwar akhirnya juga sampai pada titik buntu. Puisi menjadi naratif tetapi dangkal.

Puncak dari pendangkalan puisi terjadi pada awal tahun 1970-an.
Para epigon Goenawan dan Sapardi telah terjebak dalam genre “puisi gelap”.
Puisi yang asal panjang dan asal sulit dipahami. Pengakuan Pariyem-nya Linus Suryadi AG malah sekalian menjadi prosa lirik.
Kebuntuan inilah yang pernah melahirkan peristiwa “Pengadilan Puisi” untuk mengembalikan puisi pada khitahnya. Lahirlah genre “puisimbeling” yang dimotori Remy Silado dan mengkristal dalam sosok Sutardji Calzoum Bachri.

Kunang-kunang Kayam

Upaya Sutardji mengembalikan puisi pada khitahnya cukup berhasil. Lahirlah sosok penyair kuat seperti Afrizal Malna dan Joko Pinurbo. Puisi mereka memang naratif, tetapi rasa puitiknya masih terjaga dengan baik. Generasi penyair naratif selanjutnya, kualitas puisinya banyak yang mirip dengan genre puisi gelap tahun 1970-an. Para pengikut Afrizal dan Jokpin ini mengira bahwa puisi yang baik adalah yang bernarasi dan temanya aneh-aneh.

Bersamaan dengan itu, dalam khazanah prosa lahirlah genre Ayu Utami. Prosa yang puitis secara sporadis sebenarnya pernah muncul jauh sebelumnya, misalnya pada Seribu Kunang-kunang dari Manhattan (Umar Khayam). Cerpen ini tidak ada plotnya, setting-nya tunggal, dan tokohnya juga tidak penting. Tetapi kekuatannya luar biasa, justru karena Khayam mampu menangkap suasana kesia-siaan manusia di tengah modernitas New York yang hiruk-pikuk.

Generasi berikutnya ada Beni Setia. Suasana cerpen Beni yang puitis telah mengalahkan tokoh, plot, dan setting-nya. Sayang, setelah menyepi di Madiun, dia seperti berhenti menulis. Puitisasi
prosa inilah yang oleh Ayu Utami dicoba dieksploitasi habis- habisan dalam Saman. Meskipun dalam Larung, upaya Ayu kurang berhasil. Seperti biasa, tren ini kemudian diikuti ramai-ramai oleh cerpenis dan novelis yang lebih muda. Puncaknya adalah booming teenlit dan chicklit awal tahun 2000-an yang sekarang sudah mulai mereda.

Eksploitasi linguistik berupa puitisasi prosa, sesuatu yang sehat. Risikonya, kekuatan karakter tokoh terabaikan. Ini ibarat pelukis Amri Yahya yang melulu mengeksploitasi tekstur dalam
lukisannya. Garis, bidang, dan warna sebagai komponen pokok seni lukis konvensional telah diabaikannya. Generasi perupa yang lebih muda kemudian melakukan eksplorasi lebih jauh berupa seni grafis dan instalasi. Sastra instalasi tentu sulit direalisasi sebaik dalam seni rupa.
F Rahardi,
Penyair dan Wartawan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: