SAJAK PERKAWINAN

26/04/2011 at 14:55 (puisi)

SAJAK PERKAWINAN

Sepasang calon pengantin melemparkan
undangan ke langit
Tuhan, datanglah di hari perkawinan kami
nanti
dan bawalah kado yang berarti

Langit penuh bintang berkelap-kelip
Tuhan menyibakkan awan yang bergulungan
lalu menjatuhkan sekarung cinta di atas
rentangan kabel
tegangan tinggi
karung itu pecah dan isinya menghambur
terhanyut angin
Boeing 747 menabraknya lalu menyeretnya
kemana-mana
seekor katak mencaploknya lalu bunting
dan bertelur di kolam air mancur

enam ekor merpati yang lagi santai di atap
toko besi
mematuk-matuknya, menelannya lalu
memberakkannya
ke kain sprei dan sarung bantal yang terentang
di tali jemuran
udara berdebu, lalulintas mabuk minuman
keras
matahari terjeblos di kios Pasar Inpres
dan pesta disiagakan dengan sangat tergesa-gesa

Syahdan,
calon pengantin tadi menunggu,
dan menunggu dan terus  menunggu
Tuhan, berilah kami cinta sekarang
juga
cinta takkan bikin perut jadi kenyang,
kata Tuhan
Tuhan, berilah kami nasi, pinta calon pengantin
lagi
nasi takkan membuat kalian bahagia,
kata Tuhan
kalau begitu berilah kami kebahagiaan,
ya Tuhan
kebahagiaan takkan membuat kalian jadi
dewasa
jadi, kami mesti minta apa ya Tuhan?
kami mesti minta apa?
jangan suka minta-minta,
kata Tuhan sambil permisi
tak lama kemudian, Tuhan berkenan
mengguyurkan spermanya
membasahi ladang jagung,
membasahi kebun singkong
menumbuhkan tunas dan bunga-bunga
menghidupkan ulat dan kutu dan penyakit
mengantar kue-kue dan permen karet
dan calon pengantin berebutan mencari rumah
kontrakan

Langit masih berkelap-kelip penuh bintang
awan kembali berpelukan, udara kusut-masai
petir dan hujan bergumul di pelaminan
embun menetes dari mata pengantin perempuan

Syahdan,
sekeping cinta yang terpental di halaman
pasar swalayan
ditendang tukang parkir dan jatuh di meja
prasmanan
tamu-tamu gemuruh berebutan
mengambilnya sepiring penuh,
melahapnya sampai kenyang lalu
pulang

Sepasang pengantin,
melemparkan matanya ke langit-langit
tak ada bintang berkelap-kelip
tak ada awan diseret angin
tak ada kelepak merpati,
tak ada bunyi mesin jet Boeing 747
tak ada suara katak tak ada suara TIVI
kamar sudah 100 persen sepi
tumpukan kado sudah habis dibongkar
pengantin heran
tak ada satu pun yang dari Tuhan
kami memang mesti mencarinya sendiri, kini
kata pengantin itu dalam hati
sambil berseri-seri.

Jakarta, 1987

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: