KISAH BERAGAM PROBLEMA MANUSIA

03/05/2011 at 16:03 (berita)

Kentrung Itelile F. Rahardi
Oleh : Hermawan Aksan

Ki dalang Pawiro Bajul tiba-tiba disergap rasa takut. Ia tak tahu sebab dan asal-usul rasa takut itu. Selama ini ia merasa telah menjadi orang baik-baik. Ia juga tak pernah keliru dalam mendalang.

Kian hari rasa takutnya terus bertambah. Akibatnya, suaranya jadi parau. Tangan dan kakinya juga sering kesemutan. Ini tentu aib besar bagi seorang dalang. Padahal ada tawaran mendalang yang tak bisa ia tolak.

Pas saatnya mendalang, rasa takut itu datang lagi. Ki Dalang berusaha melawannya dengan mengerahkan seluruh ilmunya. Tapi rasa takut itu makin ganas. Dia memutuskan turun panggung. Seluruh wewenang ia serahkan kepada pimpinan penabuh gamelan yang juga bisa berfungsi sebagai dalang. Ki Dalang pulang dan tidur.

Namun rasa takut itu kini semakin dekat. Lalu pintu rumahnya digedor. Si punya hajat diiringi beberapa orang datang dengan kemarahan memuncak sambil menghunus badik, karena menyangka Ki Dalang hendak mencemarkan namanya. Mereka mengepung Ki Dalang.

Ki Dalang tertawa, karena akhirnya ia menemukan sumber ketakutannya selama ini.

***

Bebas, aneh, dan berani.

Itulah kesan yang muncul setelah membaca cerpen “Takut” dan cerpen-cerpen lain dalam buku Kentrung Itelile karya F. Rahardi. Imajinasinya seakan-akan bebas mengembara. Begitu pula cara berpikirnya tidak terikat kepada hal-hal tabu, sehingga beberapa cerpennya terkesan aneh dan kocak.

Dengan alur lurus yang cepat, meski tak utuh sebagai sebuah cerpen konvensional. “Takut” menarik karena menampilkan suatu hal yang dianggap irasional melalui  jawaban yang terkesan rasional.

Secara umum, cerpen-cerpen dalam Kentrung, terutama lebih dari separuh bagian awal, memang tak mau terikat pada pola-pola konvensional. Ia bebas, lincah, lepas, dan kadang terkesan “semau gue”, tanpa aturan.

Tema-tema yang ditampilkan Rahardi cukup beragam. Ia bercerita komplit dari rakyat jelata hingga kehidupan pejabat tinggi. Meski terkesan kasar, toh banyak temanya yang terasa lembut dan penuh nilai-nilai manusiawi. Problem-problem yang diangkat pada hakikatnya adalah problem manusia dan dunia.

Ada misteri yang coba ditutupi atau disamarkan pada cerpen “Kentrung Itelile” dan “Sesuatu Itu”. Ada banyak perhatian kepada lingkungan hidup seperti pada cerpen “Sastro Gantol” dan “Bertarung dengan Banteng”. Ada sindiran-sindiran halus dan kasar terhadap liku-liku  birokrasi pada “Yang Terhormat Surat”, “Negeri RI”, “Rencana”, atau “Mogok”. Ada pula tema tentang dunia rakyat kecil pada, “Sahabatku Supriyanto”, dan “Dia Tidak Mati”. Dinamika rumah tangga pun tak lepas dari pengamatan Rahardi, misalnya dalam “Undangan” dan “Asbak”. Khusus “236 Two Mi Nem (Toeminem)”, cerpen ini dengan berani membandingkan Bunda Maria yang  suci dengan seorang pelacur yang hina.

Mirip dengan “Takut”, cerpen “Eyang Kian Santang” menarik karena mencoba mengalirkan kepercayaan terhadap ramalan dukun dengan pemikiran rasional. Oleh dukun penasihat spiritualnya, seorang pejabat diramalkan bakal dipecat, ditahan, diadili, dan dipenjarakan. Anaknya juga akan terjerumus menjadi gadis panggilan, sedangkan istrinya akan meninggal dunia. Walau didesak, dukun tak bisa menjelaskan alasan semua ramalan itu.

Dukun menyarankan agar pejabat itu mengundurkan diri. Namun saran itu ditolak. Pejabat itu tak mau meninggalkan jabatan yang telah memberinya kemakmuran – meski dengan banyak cara yang tak halal. Toh ia sangat cemas. Ia berusaha mencari kemungkinan penyebab ramalan dukun : perangkap dari lawan politiknya, fitbag, permainannya sudah tercium atasan, sekretarisnya yang membocorkan atau dukunnya telah disuap.

Pada akhirnya pejabat itu kembali ke dukun.  Walau terus didesak untuk memberitahu penyebab ramalannya, dukun bersikeras tak mau menjelaskan. Maka, ditembaklah dukun itu. Dan justru karena perbuatan itulah kemudian ramalan itu menjadi terbukti.

***

Cerita-cerita dalam Kentrung Itelile mengalir lancar. Semua cerpen beralur lurus. Hampir tidak ada yang menggunakan kilas balik (flashback). Narasi dan percakapan berjalan seimbang, walaupun dalam setiap cerpen perimbangan itu tidak sama. Beberapa cerpen mengandalkan alur ceritanya pada percakapan, misalnya “Kentrung Itelile”, dan “Sesuatu Itu”. Sebaliknya ada juga yang bertumpu pada narasi, misalnya “236 Two Mi Nem”, “Dia Tidak Mati”, dan “Takut”. Bahkan ada juga yang sama sekali tanpa percakapan yakni “Burung dan Kucing”. Meskipun demikian banyaknya narasi dalam cerpen-cerpen tertentu bukan berarti tidak menarik, sebab cara berceritanya yang lancar, kalimat-kalimatnya yang lincah, dan seakan-akan ditulis tanpa beban.

Narasi dan percakapan juga saling mendukung dalam membangun cerita. Hampir semua cerpen diawali dengan narasi yang cukup panjang. Tentunya bakal membosankan, jika Rahardi tak pandai menyusun cerita, atau jika narasi yang panjang itu tak dibutuhkan.

Pada cerpen “Batu”, di bagian awal Rahardi bercerita tentang batu : “Batu itu keras. Tuhan sengaja membikinnya begitu agar tukang batu ikut kecipratan rejeki. Sudah lama aku menaruh hati pada benda padat ini. Batu itu! Kalau ditumpuk-tumpuk dan diukir-ukir dia akan menjelma jadi candi yang bagus dan awet”. Dan seterusnya. Namun tokoh utama terganggu karena setiap malam tiang listrik dipukul keras-keras dengan batu. Ia protes. Tetapi di malam-malam selanjutnya, batu juga dilemparkan ke pagar halamannya, masuk halaman, bahkan memecahkan genteng. Akhirnya ketahuan bahwa semua tindakan itu dilakukan orang karena ia tidak mendukung Lurah. Terbukti ketika istrinya meneriakkan “hidup Pak Lurah”, maka lemparan-lemparan batu berhenti. Besoknya, semua kerusakan diganti oleh Pak Lurah.

Alur cerita umumnya terkesan berlangsung cepat. Adegan yang satu dengan cepat berganti adegan berikutnya. Saat hari ini secara cepat berganti dengan hari, minggu, bulan, atau tahun berikutnya. Dalam “Kentrung Itelile”, alur dengan cepat berubah dari saat masih remaja, menikah, hamil, punya bayi, hingga anak itu sudah punya pacar.

Cerpen-cerpen karya Rahardi dalam kumpulan ini, yang berjumlah 22, umumnya menggunakan sudut pandang orang pertama (aku), kecuali cerpen-cerpen “236 Two Mi Nem”, “Takut”, “Sastro Gantol”, dan “Bertarung dengan Banteng”.

***

Pada umumnya Rahardi menghadirkan perwatakan tokoh-tokohnya lewat narasi. Namun perwatakan dihadirkan pula lewat percakapan, pembatinan, tindakan dan sikap. Watak tokoh secara umum sudah dihadirkan langsung pada alinea awal.

Rahardi banyak menghadirkan karakter pejabat yang korup dan rakyat jelata yang pasrah. Dalam “Rencana”, “Sastro Gantol”, dan “Batu”, digambarkan watak tokoh Pak Lurah yang satu sama lain tak banyak berbeda : halal tidak halal pokoknya menang, suka main sabun dalam menghitung suara, senang menekan rakyat dengan maksud agar kelihatan berhasil oleh atasan, dan seterusnya.

Akan halnya latar, cerpen-cerpen Rahardi banyak berlangsung di pedesaan. Namun tidak pernah dijelaskan nama-nama desa tempat terjadinya cerita. Hal ini justru menunjukkan bahwa latar tempat cerita bisa terjadi di mana saja di pedesaan. Nama tempat baru disebutkan jika kejadian berlangsung di kota. Misalnya Ambarawa dan Jakarta. Nama desa disebut jika memang perlu disebut. Dalam “Sahabatku Supriyanto”, nama Semantun disebut tampaknya justru untuk memberikan tekanan tentang keterpencilan desa tersebut.

Toh latar tempat dan waktu bagian-bagian cerita kadang-kadang dianggap tak penting benar. Dalam cerpen-cerpen “Kentrung Itelile”, “Sesuatu Itu”, dan “Yang Terhormat Surat”, misalnya, latar tempat dan waktu seakan-akan sengaja dibikin tak jelas dan meloncat-loncat.

Tentu saja membicarakan beberapa aspek dari sekian banyak cerpen bakal menghasilkan penilaian yang kurang mendalam

Namun bisa dikatakan, cerpen-cerpen dalam buku ini tampil menawarkan gaya yang khas Rahardi yang mungkin bisa digambarkan dengan satu kata : seenaknya. Meski begitu, terasa sapek-aspek estetis alur, perwatakan, dan latar karya-karya Rahardi ini mampu mendukung tema. Paling tidak, terasa pada cerpen-cerpen di separuh bagian akhir. Karena itu kumpulan cerpen ini sesuai baik untuk dibaca sebagai hiburan maupun bahan kajian karya sastra. Memang kelebihan Rahardi adalah ia bisa menulis dalam media serius seperti Horison, tapi juga media santai semisal Humor dan Femina.

***

Floribertus Rahardi, lahir di Ambarawa, Jawa Tengah, 10 Juni 1950, lebih banyak dikenal sebagai penyair. Ia terkenal sebagai manusia singkong, karenanya bersumber pada sikap orang-orang desa yang polos tapi kukuh. Dalam bidang kepenyairan ia telah menghasilkan empat kumpulan saja, yakni Soempah WTS, Catatan Harian Sang Koruptor, Silsilah Garong, dan Tuyul. Sedangkan dalam bidang cerpen, ia baru menghasilkan satu buku ini saja.

Walaupun baru satu, buku ini boleh disejajarkan dengan karya cerpenis-cerpenis papan atas Indonesia. ***
Sumber : Pikiran Rakyat, 9 Mei 1993.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: