KRITIK SOSIAL CARA F. RAHARDI

03/05/2011 at 16:07 (berita)

Tuyul, F. Rahardi (Pustaka Sastra, Jakarta 1990, 120 halaman)

Protes sosial hanyalah salah satu alternatif dari reaksi sosial penyair yag tak bisa disumbat. Penyair Indonesia yang paling khusus dengan pilihan ini antara lain adalah WS Rendra dan F. Rahardi. Tapi, Rendra dan Rahardi tetap punya ciri yang bisa dibedakan. Bahwa Rendra dalam sajak-sajak “protes”nya, bagaimanapun tetap peduli dengan busana tatanan konvensional puisi, Rahardi tampaknya lebih liar, oleh karenanya puisi-puisinya kadang tak tampak sebagai puisi.

Sebagai contoh puisi Rahardi yang berjudul Definisi terbitan Pustaka Sastra Jakarta. Rahardi hanya mengutip dengan lengkap definisi yang terdapat dalam kamus umum bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka. Hanya tipografinya yang diupayakan sehingga ‘mirip’ puisi. Akan tetapi, keluguan macam ini – yang kebanyakan menandai kekhasan sajak-sajaknya – tetap memiliki makna untuk mengkarikaturkan fakta.

Pada Rendra, protes sosialnya tetap dikendalikan oleh “ritme emosi”, yang melantun, sehingga enak dinikmati. Rahardi lebih bebas, oleh karenanya leluasa mengekspresikan ironi-ironi dan ejekan-ejekannya yang lahir dari kegelisahan penyair menatap ketimpangan dan keganjilan tatalaku masyarakatnya. Sehingga, bahkan puisi-puisi Rahardi terasa lebih mengacu pada sebuah realitas.

Beberapa kumpulan puisi Rahardi sebelumnya, seperti Soempah WTS (1983), Catatan Harian Sang Koruptor (1985), dan Silsilah Garong (1990); semua berangkat dari warna dasar yang sama dengan kumpulan puisi terakhirnya. Yakni, kritik sosial yang mengangkat ironi-ironi dari sisi bopeng tatalaku masyarakat yang ditatapnya.

Dalam Tuyul, Rahardi mengangkat isyu-isyu aktual sepanjang masa penciptaannya (1985-1989), seperti masalah AIDS, wereng, tuyul, bayi tabung, kedungombo, dan sebagainya. Dan Rahardi selalu mengambil sudut pandang yang sama, yaitu ironi-ironi karikatural dari sisi kehidupan yang kadang ditandai konflik perbedaan sosial.

Dalam puisi pembuka berjudul Matahari, Wereng dan Sol Sepatu, Rahardi langsung melontarkan ejekan karikaturalnya. “Matahari menggeliat-geliat memancarkan/keringat/langit melengkung bagai kubah mesjid/wereng bersembunyi dengan rapi di balik jas/dan dasi/sol sepatu berjingkat-jingkat menghindari/lumpur/di pematang sawah” lalu, “Pegawai negeri eselon satu melaju dengan/safari abu-abu/prajurit angkatan bersenjata berderap/memanggul tanda pangkat/wartawan-wartawan yang bebas dan/bertanggungjawab/melotot menyambar amplop/sarjana-sarjana pertanian berebut melamar/pekerjaan/dan seniman-seniman senior serius/memperdebatkan/angin, maut, Tuhan, filsafat kehidupan dan/order bernilai jutaan” (hal. 1). Tampaknya, dengan lugu penyair ingin menyindir sebuah fenomena yang benar-benar terjadi, dan itu dikemas dalam sebuah “karikatur” yang menyentil. Sebagaimana kekuatan seorang “karikaturis”, Rahardi memang pandai mengemukakan fenomena nyata yang – biasanya – aktual, dalam sindiran yang menggelikan.

 

Kritik

 Pada bagian lain, penyair ini juga melemparkan kritik yang cukup berani, kendati hanya memaparkan sebuah fenomena dari peristiwa nyata secara lugu.

Ambil contoh puisinya yang berjudul, Penjelasan Sopir Mikrolet Gandaria Kampung Melayu tentang Tuyul. Sopir mikrolet yang berasal dari Jawa Timur itu mengekspresikan kejengkelannya ketika menghadapi perlakuan oknum polisi yang mengada-ada untuk menilang dan berbuntut pungli. Sementara, sopir itu harus bersedih memikirkan setoran yang tak kunjung cukup, kebutuhan hidup yang bertimbun-timbun, dan harga dirinya yang terasa diinjak-injak. Maka ia hanya bisa menggerundel “diancuk”/kata sopir mikrolet itu sambil kembali/memasukkan SIM/ke dalam dompetnya/tuyul diancuk!/katanya lagi sambil menginjak gas sampai/mentok” (hal. 85-86).

Buku kumpulan sajak terakhirnya itu, pada akhirnya memang memberikan kesan bahwa penyair ini semakin kokoh dengan kekhasan ‘sosok kepenyairannya’. Yaitu protes sosial yang karikatural. Sementara belakangan ini, karya sastra yang peduli dengan kenyataan sosial makin langka, kehadiran buku Rahardi menjadi amat berarti. *** (Darmanto Misbie)

 Sumber : Kompas MG, 30 – 12 – 90

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: