Pendapat Para Sastrawan Indonesia Tentang Korupsi “Mereka Tidak Peka Atau Menggubrisnya Lagi …”

24/05/2011 at 16:37 (berita)

Jakarta – Dalam karya-karyanya, sastrawan sudah sering memperingatkan adanya kasus korupsi yang terjadi di Indonesia. Tapi, peringatan itu tak pernah digubris. Sehingga korupsi makin menggerogoti sebagian jiwa masyarakat. Setelah surat kabar luar negeri menyiarkan kasus yang memalukan ini, barulah masalah itu ditangani.

Demikian pernyataan Mochtar Lubis dan Ramadhan KH yang dihubungi hari Sabtu (5/12) di Jakarta. Kedua sastrawan terkenal yang sangat memperhatikan masalah korupsi di negeri ini, berusaha menanggapi kembalinya uang komisi ilegal almarhum Achmad Tahir dalam keputusan yang dibacakan oleh Hakim Pengadilan Tinggi (High Court) Singapura Lai Kew Chai hari Kamis (3/12). Pertamina berhak atas deposito sebesar 78 juta dolar AS yang tersimpan dalam 17 account DM (Deutsche Mark).

Apa yang diungkapkan tentang korupsi di tubuh Pertamina, sudah bertahun-tahun lalu dipublikasikan di Harian Indonesia Raya. “Memang amat disayangkan, setelah kasus ini disiarkan media luar negeri, baru kita mempersoalkannya. Saya seringkali memperingatkan hal ini,” kata Mochtar Lubis dengan vokal.

Sebenarnya, kata Mochtar Lubis lebih lanjut, apa yang diungkapkan tentang kasus korupsi yang menyangkut Achmad Tahir itu, baru sebagian kecil saja dari korupsi yang terjadi. “Bukan hanya dia yang melakukan korupsi. Tapi kalau mau diperiksa di departemen-departeman, kenyataan semacam ini banyak dijumpai,” kata pengarang “Senja di Jakarta” ini bersemangat.

Mochtar Lubis selanjutnya menyatakan, yang sangat disayangkan, kasus korupsi yang sangat memalukan itu justru diputuskan oleh Hakim Tinggi di Singapura. “Kalau kasus korupsi yang memalukan ini terjadi di Jepang, sudah bisa dipastikan pelakunya akan melakukan bunuh diri dengan harakiri. Apalagi saya baca di koran dua atau tiga triliun uang negara telah menjadi sasaran korupsi,” lanjut Mochtar Lubis.
Tidak Peka

Menurut Mochtar Lubis, sastrawan dengan berbagai karyanya, sudah berulangkali mengingatkan kasus-kasus korupsi yang terjadi di Indonesia. “Tapi, kalau sebagian masyarakat tidak peka, tentu tidak akan menghiraukan kasus-kasus korupsi yang ada di depannya,” sambung pengarang buku “Kuli Kontrak” ini.

Dengan blak-blakan Mochtar Lubis mengatakan, kasus korupsi terjadi tidak hanya terjadi pada Achmad Tahir saja. “Cobalah periksa departemen-departemen, apa benar-benar bersih dan tak ada korupsinya. Untuk mengatasi korupsi ini, memang harus diketahui bagaimana timbulnya, siapa pelakunya dan dimana itu terjadi,” kata Mochtar Lubis.

Sedangkan Ramadhan KH mengatakan masalah korupsi ini bukan perkara sepele. “Ada yang mengatakan komisi tiga persen itu legal. Apa ini bisa dibenarkan?” tanya sastrawan yang baru saja meluncurkan novelnya “Ladang Perminus” (1990).

Tapi dalam kenyataannya, kata Ramadhan KH, komisi yang sering diterima itu tak hanya tiga persen, tapi bisa saja sepuluh dan tiga puluh persen. “Para sastrawan kita sudah banyak sekali mengungkapkannya dalam karya sastra. Tapi, saya tak tahu apakah mereka tidak peka atau memang tidak menggubrisnya,” lanjut Ramadhan KH.

Ramadhan KH juga mengungkapkan sebelum kasus Achmad Tahir diluncurkan di Singapura, sebenarnya “Ladang Perminus” sudah terbit. “Apa yang saya ungkapkan dalam “Ladang Perminus” itu otentik, karena bersumber dari kenyataan,” tegas Ramadhan KH.

Pengarang “Royan Revolusi” dan “Keluarga Permana” ini selanjutnya mengatakan, kalau di mana-mana terjadi kasus korupsi, pungli, komisi dan sebagainya, bagaimana mungkin bisa ditemui kebenaran. “Justru di sinilah keterlibatan sastrawan dalam menyorot kasus-kasus yang menggerogoti kebenaran itu. Betapapun juga, korupsi itu harus diberantas,” tandas Ramadhan KH.

Keperdulian Sastrawan

Sebenarnya, sastrawan dengan kepekaannya sudah mencium kebobrokan moral yang terjadi di sebagian masyarakat. Itu tergambar dalam karya-karya mereka yang berupa sajak, artikel kebudayaan, cerpen dan novel. Di antara nama-nama mereka yang “rajin” mengungkapkan masalah korupsi ini ialah Mochtar Lubis, Ramadhan KH, Rendra, Sutardji Calzoum Bachri, Hamsad Rangkuti, F. Rahardi dan Satyagraha Hoerip.

“Saya tertarik dengan novel Ramadhan KH “Ladang Perminus” yang menceritakan kebobrokan yang terjadi di tubuh Peramina. Novel itu begitu otentik,” kata HB Jassin suatu hari di rumahnya.

Penyair F. Rahardi sengaja menerbitkan kumpulan sajak dengan judul “Catatan Harian Sang Koruptor” (1985) yang merupakan keperduliannya pada realitas yang terjadi sekitarnya.

Dalam sajaknya “Tentang Rakyat”, F. Rahardi menulis baris-baris sajak seperti berikut :

dan rakyat
menciptakan kesempatan
buat
pejabat korup
agar bebas
melepas cawat
dan mengumbar syahwat

Dalam karya sastra kontekstualisme, lingkungan hidup masyarakat berpengaruh pada karya-karya yang diciptakan sastrawan. “Setidaknya inilah yag memicu perdebatan tentang sastra kontekstualisme yang dimeriahkan oleh Arief Budiman dan juga Ariel Heryanto. Pengarang memiliki ‘keperluan’ pada realitas sosia yang terjadi di zamannya.

Dalam mengungkapkan masalah korupsi yang terjadi di sekitarnya, sastrawan memakai berbagai gaya. Ada yang menceritakan dengan gamblang (prosais) dalam karya berupa novel dan cerpen. Tapi, ada pula yang menggunakan metafor-metafor tertentu, yang tujuannya tak lain adalah mengajak pembaca berkontemplasi.

Penyair Sutardji Calzoum Bachri dalam Horison edisi Maret 1991 menulis sajak yang berjudul “David Copperfield, Realitis 90”. Di antara baris-baris sajak itu :

aku heran nonton pesulap
mampu mengkristalkan air
mata kita
jadi etalase indah
di berbagai plaza

aku kagum pesulap
yang bikin rimba
jadi emas
membuat hutan
jadi pasir

Dengan ketajaman intuisinya, sastrawan melihat berbagai kebobrokan dalam masyarakat dengan cukup terang dan jelas. Apalagi jika berbagai kebobrokan itu benar-benar terpampang di depan matanya. Memang, pada akhirnya kita harus mempertanyakan, benarkah masyarakat kita sudah tidak peka pada kasus korupsi? Atau, masalahnya, karena karya sastra tidak mengundang minat masyarakat kita? (Ray Rizal)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: