Puisi Afrizal Malna Bermanfaat Bagi “Orang Sakit”

24/05/2011 at 16:28 (berita)

Jakarta, NERACA

Banyak sorotan dari sesama seniman terhadap karya Afrizal Malna. Oleh Sutardji Calzoum Bachri, puiri Afrizal dinilai sebagai puisi gelap. Namun F. Rahardi menilai puisi-puisi Afrizal merupakan gambaran ketakutannya pada kematian dan bermanfaat bagi “orang sakit”.

Menurut penulis buku Migrasi para Kampret ini, kematian yang ditakuti Afrizal bukan saja kematian diri namun juga kematian orang lain. “Afrizal baru terlepas dari ketakutannya itu kalau dia menulis sajak,” kata Rahardi kepada Neraca belum lama ini di TIM.

“Rupanya dorongan kuat bagi Afrizal untuk menulis puisi bukan keceriaan atau sifat heroik namun ketakutan pada kematian.” Dari ketakutannya itu,hasil puisinya jelas muram karena hanya kematianlah yang bisa merangsang dia dan itu bukan salahnya dia.

Terus terang, kata Rahardi, kalau saya membaca buku Afrizal, nggak tahan. “Nggak tahan karena resonansinya tinggi. Puisi-puisinya saya nilai nggak memadai untuk orang awam. Namun karena saya ingin menulis karyanya, akan saya baca.”

Puisi Afrizal beresonansi tinggi seperti musik metal. Tapi apa musik metal jelek, kan tidak juga. Seluruh suasana puitiknya muram karena dia baru terangsang menulis sajak kalau suasana batin muram. Sajak-sajak Afrizal bermanfaat bagi orang-orang “sakit kejiwaan” yang menjalani hidup keras di kota dan setelah membaca, dia baru merasa bisa terbebas.

Orang-orang awam, karyanya tidak bisa dinikmati.
“Tapi itu bukan berarti bahwa puisinya gelap. Karya-karya Rendra pun hanya bisa dinikmati oleh sebagian orang. Sajak Rinto bisa diterima hampir seluruh rakyat Indonesia. Namun itu pun bukan berarti bahwa karya Afrizal tidak baik.

Hanya saja, sajak-sajak Afrizal diperuntukkan bagi tingkatan orang yang telah mengalami gangguan kejiwaan. Dari gangguan kejiwaan ringan yakni neorasis hingga yang penyakit kejiwaan yang berat.

Jadi, Afrizal termasuk “orang sakit?”
“Kalau dia tidak menulis sajak, dia sakit. Dia perlu ke psikolog, perlu berobat. Bukan gila, namun seandainya anak itu tidak menulis sajak dengan baik seperti ini, dia pasti sakit karena tidak ada pelepasannya.”

Dia tidak setuju dengan penilaian Sutardji yang menilai puisi Afrizal sebagai puisi gelap. “Tidak gelap. Jelas kok. Yang mengatakan puisi Afrizal dahsyat seperti kerkataan HB Jassin atau yang mengatakan puisi Afrizal sebagai puisi gelap, mungkin orang itu tidak membaca, hanya membaca satu dua karyanya. Begitu pun dengan Sutardji, dia tidak baca.” Puisinya nggak gelap, kok. Dia berbicara tentang rumput, misalnya. Itu jelas. Tapi dia menghadirkannya dengan suasana muram. Bahasanya banyak tidak dimengerti, namun bukan berarti itu puisi gelap. “Orang tidak harus mengerti kata-katanya. Kalau saya mendengarkan musik metal dengan syair berbahasa Inggris saya mengerti itu berisik.”

Puisi-puisi gelap, kata Rahardi macam puisi Gunawan Mohammad atau Sapardi Joko Damono yang sukses mengikuti lirik puisi gelap Amir Hamzah.

“Puisi-puisi gelap memang banyak diikuti orang namun tak ada yang mampu. Mereka menulis ngalor-ngidul nggak karuan juntrungannya dan nggak ada suasana puisinya karena hanya berupa tempelan-tempelan.”

Di Indonesia sekarang, belum ada penyair puisi gelap yang se-mahzab dengan Gunawan atau Sapardi.

Puisi Afrizal tidak gelap. “Dia adalah potret dari republik ini yang membangun negeri namun menimbulkan ekses. Menimbulkan suasana sakit. Dari suasana sakit ini, karena Afrizal seorang penyair, maka dia menulis sajak yang menceminkan suasana sakit pula.

Secara ideal, dengan hadirnya puisi Afrizal, khasanah sastra kita diperkaya. Dia menambah dunia lain yang baru dalam sastra kita. Jangan dituntut macam-macam karena dalam suasana yang telah sakit dia menulis sajak seperti itu.

Karya-karyanya positif, karena dia merambah sesuatu yang sebelumnya belum dirambah orang lain. Namun karena dia bukan pedagang yang baik seperti Sutardji, maka diapun tidak bisa memasarkan temuannya itu dengan baik.

“Sajak itu kan, hanya komoditi saja,” demikian penyair yang sedang menyelesaikan sebuah esse “menggugat Tuhan” ini mengakhiri. (rat)

Sumber : Neraca, 2 Mei 1994

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: