MEMAHAMI PERMAINAN F. RAHARDI

08/06/2011 at 15:24 (berita)

Oleh : Beni Setia

Floribertus Rahardi, bekas kepala sekolah (SD) di perbatasan Kabupaten Kendal dan Temanggung, yang kemudian menggelandang di Jakarta untuk memenuhi panggilan kesenimanannya ini, saat ini barangkali merupakan simbol dari segala yang kontroversial. F. Rahardi menunjukkan sesuatu yang kontroversial. Kehidupan normal dan posisi nyaman yang ditinggalkan – dan lalu semua ijazah dan tetek-bengek surat-menyuratnya digondol maling di Lapangan Banteng. Lalu, sikap kesenimanan yang melontarkan tipe dan modus puisi yang lain dari yang lain, sehingga buku kumpulan sajak Soempah WTS disinyalir sebagai sesuatu yang ditulis oleh guru biologi. Lebih jauhnya, manifestasi pembacaan sajaknya jadi dinilai memanfaatkan dan mengekploitasi WTS, sehingga sensasi baca sajaknya kena veto DKJ. Lebih jauhnya, bahkan kumpulan sajaknya, yang merupakan kumpulan empat lusin sajak, Catatan Harian Sang Koruptor, yang menyedot dana berlebihan untuk sekedar menerbitkan buku dibanding rata-rata penyair yang hanya berani membiayai 1/6-nya, juga dilindas sehingga gagal dipublikasikan secara lisan dalam pembacaan yang seharusnya dilakukan tanggal 21 Januari 1986. Masalahnya, kenapa harus dilarang?

Tulisan ini tidak bermaksud menggugat, tapi mencoba mengapungkan keunikan sajak-sajak F. Rahardi dari kumpulan sajak Soempah WTS (Puisi Indonesia, Jakarta, 1983 — yang selanjutnya disingkat SW) dan dari kumpulan sajak Catatan Harian Sang Koruptor (Pustaka Sastra, Jakarta, 1985 — yang selanjutnya disingkat CHSK), dengan bertitik-tolak pada kredo yang disampaikan dengan judul PROKLAMASI PUISI, bertiti mangsa Jakarta, hari Selasa 1985, di halaman V dari kumpulan sajak CHSK, pernyataan yang suka atau tak suka mengingatkan kita pada Rendra dengan tembang Jawa untuk melabi kemiripan dengan balada Lorca, dengan sastra-sastra yang ‘Njawani dari Darmanto Yt. Masalahnya apakah pilihan itu satu analogi yang membenarkan, atau sesuatu tenaga kreatif yang dimanfaatkan? F. Rahardi menulis : “Dalam tradisi Jawa, sudah lama ada parikan,/ plesetan, lirik gending-gending dolanan dan lain-lain./ Di sana, kata-kata dipermainkan, logika dijungkirbalikkan,/ basa-basi dikebiri dan sopan-santun dikubur di alun-alun./ Tinggallah kemudian suasana santai, akrab dan sangat bersahabat.” Saya pikir, suasana santai, akrab dan sangat bersahabat itu bukan tujuan dari penulisan sajak-sajaknya, tapi titik tolak. Sajak-sajaknya bermula dari kesantaian, keakraban dan kesangatbersahabatan. Dari kerumunan, dari orang-orang yang tahu persis akan adanya sesuatu, akan hadirnya hal yang menarik dan mengganggu, dan lalu melontarkan pendapat-pendapat yang bersipat komentar, memancing reaksi dari deformasi yang bersifat melucukan dan mensiniskan. Semua orang telah tahu, dan ketika seseorang menggosok dengan isyarat yang mengingatkan semua orang akan hal itu, maka semua orang langsung mengerti dan merespon penampakan isyarat itu. Bukan tema dan apanya komunikasi — maksud saya itu adalah puisi, tapi untuk netralnya saya sebut komunikasi saja — yang penting, tapi bagaimana ujud komunikasi itu terbentuk dan menusukkan sensasi menghibur, baik ujudnya pelucuan, pengsinisan, pengkarikaturan, atau penghinaan. Di titik ini, estetika sajak F. Rahardi jadi unik dan aneh. Bukan apanya tapi bagaimananya, bagaimana yang mengasosiasikan apa dan sekaligus bisa berdiri sendiri dan menghibur orang banyak.

Estetika, kalau berhak disebut estetika, macam demikian ini menuntut imajinasi dan terkadang memuara pada surealisme. Gambaran tak normal yang menyerempet kenormalan, lingkar dekoratif yang menohok-nohok apa tema. Lahirlah lirik macam, “mula-mula/tuhan/menyemprot langit/dengan cat merahnya” (PAGI, CHSK:6) atau, “sebutir kurma/diimpor dari kalifornia/sekompi hostes diselundupkan ke/hilton hotel/kau terkentut-kentut/perutmu kembung/kebanyakan/es” (SAJAK KURMA, SW:16). Seluruh citra dan simbol itu tak berarti apa-apa, tak mengisyaratkan kronologik dan runtutan linear apa-apa. Seluruhnya dimengerti sebagai keseluruhan yang mengingatkan pada keseluruhan. Baru dari keseluruhan itu kita menangkap apa-apa kira-kira pengertian dan peristiwa yang disodorkan penyair. Hal ini mengingatkan kita pada type seni lukis abstrak figuratif, satu tampilan yang telah mengalami deformasi atau penyederhanaan ciri, tapi masih menunjuk pada obyek asal yang mengilhaminya, dan karenanya pemahaman akan apa yang hadir dan dihadirkan dalam lukisan itu adalah upaya untuk menemukan obyek asal, yang mengilhami proses melukis itu. Kehadiran karya seni macam demikian menuntut kesiapan dari apresiator, kesiapan menebak apa yang direpresentasikan dan persiapan pengetahuan (referensi) tentang apa yang dihadirkan dengan deformasi dan abstraksi itu. Apresiasi adalah pertanyaan singkat, “apa yang anda lukis dan atau puisikan, apa tujuan anda melukis dan memuisikan itu?” Kenyataan demikian, dimana karya merupakan sebuah asosiasi misteri yang butuh dipastikan, menyebabkan karya-karya sajak F. Rahardi jadi berkesan tak memiliki kedalaman. Disimak, mengingatkan akan sesuatu, dan selesai. Akibatnya, orang-orang bertanya-tanya akan tujuan estetik puisinya. Bukankah sajak selalu berhubungan dengan kedalaman yang memaksa orang terus-terusan menebak dan memaknainya?

Kalau boleh mengambil istilah seni pertunjukan, sajak-sajak F. Rahardi lebih menunjukkan kecekatan happening. Sesuatu terjadi, menggebrak, dan selesai. Keindahan dan keunggulan terletak pada bagaimana orang-orang terpanggil, berkerumun, dan terhibur atau merasa tertipu karena telah dipukau oleh sesuatu yang sia-sia. Makna adalah hal lain, karena yang pokok adalah minat, ketertarikan dan keterpesonaan. Waktu dan perhatian yang diberikan adalah tujuan. Dan karena sifatnya yang demikian, maka sajak-sajak F. Rahardi itu sesungguhnya lebih bermakna sebagai sesuatu yang menggejala sekali di pusat simakan perhatian, dan lalu selesai dan tak bisa diulang lagi. Lebih bersifat performance, lebih menuntut peristiwa, dan bukan hadiran dokumentasi. Ketersekatan sajak-sajak F. Rahardi, yang membuat seorang teman marah karena tak menemukan apa-apa, terletak pada kenyataan itu. Sifat happening yang menuntut keserentakan yang tak diulang, dan bukan sesuatu yang diulang-ulang sambil menghadapi meja tulis, lampu baca, jajanan pasar, dan ensiklopedia idiom-idiom puisi internasional — kalau ada. Sifat yang lebih lisan daripada tulisan ini menyebabkan ungkapan sajak sangat komunikatif, langsung mengingatkan. Sifat asosiatifnya menunjuk pada : satu, segera menunjukkan apa yang akan dimaksud; dua, sikaligus menyeleweng dan menjenakakan, menghina, dan menggarisbawahi sehingga terasa sangat kuatnya hal dan struktur yang memasalah itu. Dan karenanya, sekali lagi, sajak-sajak F. Rahardi senantiasa mengandaikan orang-orang yang siap dan punya kepekaan untuk dirangsang, dan ini diperoleh dengan mengumpulkan orang-orang yang sepengetahuan dan sepengalamanan. Pada satu segi, sajak F. Rahardi lebih elit dan eksklusif, menuntut orang yang identik dengan dirinya, agar rangsangan-rangsangan asosiatifnya melahirkan kesepakatan akan hal yang dijadikan titik tolak kreativitas. Dan sekaligus, sama-sama terhibur, terharu, atau marah oleh sodoran-sodoran manifestatif ungkapan sajak. Penglarangan pembacaan sajak — yang harus kita baca sebagai manifestasi happening yang membangunkan lingkaran intim orang yang TST, yang identik dengan tak puas menurut pihak resmi — seharusnya diartikan sebagai pencegatan terbentuknya group seminat, interest group yang akan melakukan negasi pada group yang diidentikan sebagai aku lirik dari sajak-sajak dalam CHSK. Lalu siapa oknum itu? Lalu kenapa ada yang gedhe rasa yang merasa?

Di titik ini, pelarangan CHSK telah menyebabkan sifat happening dari CHSK itu sendiri terlaksana. Ada negasi yang membelah kelompok anu dan kelompok anu, masalahnya identifikasi yang dilarang itu kini malah terjadi dengan diam-diam. Orang berhak menunjuk, meski orang berhak menolak. Yang lebih jauh, apakah situasi dan kondisi memang telah parah sehingga seorang F. Rahardi mensinyalir keadaan dengan memanifestasikan hadirnya seorang punakawan, yang melontarkan rahasia umum kepada satria utama sambil menggarisbawahi itu, untuk mengingatkan orang banyak bahwa hal yang salah itu telah diketahui setiap orang, dan tak perlu terlalu nelangsa — ketawalah dengan plesedan-plesedan sang penyair. Kenyataan ini, kenyataan bahwa sajak-sajak F. Rahardi bicara tentang manifulasi dan perzinahan, alias korupsi dalam pengertian corupt, kemaksiatan; mengingatkan kita pada kesadaran dan impian hidup puritan. Impian akan Sorga, hidup yang lebih baik dari di Dunia — dengan melupakan kemaksiatan yang dilakukan — menunjukkan hakekat jiwa puritan Katolik dari F. Rahardi. Lihat sajak Catatan X (CHSK : 41). Lebih tepatnya, lihat sajak Soempah WTS (SW : 29) yang memanfaatkan teks baku Sumpah Pemuda. Sebuah sinisme yang diilhami oleh peristiwa Yesus dan Maria Madgalena — lalu bandingkan dengan sajak Tentang Yesus (CHSK : 76), yang mengungkapkan kegagalan memahami cinta dalam nuansa non-nafsu dan melulu kasih; dan lalu bandingkan dengan kepapaan manusiawi dalam sajak Di Gereja (CHSK : 49). Ada semacam dakwah pada F. Rahardi. Dan dakwahnya bukan dakwah mimbar, menghimbau dengan menggariskan tabu dan menjanjikan anugrah. Tidak begitu lagi! F. Rahardi bertolak dari kesadaran bahwa semua orang tahu dan mual, dan memperhebat ketahuan dan kemualan orang-orang itu dengan mempertegas garis buruk dengan sinisme dan cemooh. Yang diharap adalah negasi, kebencian, dan sekaligus niat untuk tidak terlibat dan lalu menjauhi.

Barangkali disana bahayanya sajak-sajak F. Rahardi. Memperhebat keburukan untuk merangsang respon antipati. Ajakan untuk ke arah kebaikan dengan memperhebat keburukan. Nilai bukan yang disodorkan tapi yang disimpulkan. Dan sesuatu yang disimpulkan dari dan atau oleh kelompok yang muak akan situasi dan kondisi, yang TST, bisa bermakna persekongkolan jahat. Masalahnya mengapa terjadi semacam persekongkolan jahat? Jawabnya, situasi dan kondisi. Lebih tepatnya, karena ada orang yang berani mengapungkan situasi dan kondisi itu. Dan dalam beberapa segi, sajak-sajak F. Rahardi memenuhi kriteria puisi pamplet atau pamplet puisi Rendra. Bedanya? Rendra berbicara sebagai satria, sebagai intelektual yang menganalisis dan mengapungkan borok-borok. Sedangkan F. Rahardi lebih merupakan seorang punakawan, Bagong dalam tradisi wayang Jawa, yang merupakan bagian orang kebanyakan. Tahu situasi dan kondisi, bicara dalam konteks dengan bahasa kontekstual (tepatnya, kata/kalimat deiktik menurut tradisi analitik bahasa), yang hanya orang-orang terlibat yang tahu. Rendra mungkin menghimbau, sedang F. Rahardi malah menegaskan dan menyapa dengan kerdipan meski mungkin yang keluar adalah cerocosan tentang hiu, tentang pantat dan sendok dan garpu. Rendra mengandaikan orang tak tahu dan menuntut kesadaran dan penyadaran. F. Rahardi terkadang bersifat ilahi dan lebih sering personal. Dan sajak F. Rahardi yang berbicara tentang ketakberdayaan dan sekaligus kritik pada kekuasaan yang paling pas dan bagus adalah sajak Menurut Sastro (SW : 20). Pas juga dengan apa yang diungkapkan oleh RIA HD (Dari Kepala Sekolah, Gelandangan Sampai Penyair, PR MINGGU, 2/2. 1986, hal. 6-11), “… jika ada kejadian yang menjengkelkan dan dia tak berdaya apa-apa untuk berbuat sesuatu, akhirnya terciptalah puisi yang tidak teratur kelihatannya, karena disesuaikan dengan informasi sajaknya yang memang tidak teratur”. Ada kejengkelan, ada ketidakberdayaan, dan karenanya bagaimana mengubah hal itu sambil bisa menghibur diri. Bandingkan juga dengan wawancara F. Rahardi dengan Ray Fernandez (Rahardi : Bukan Akal-akalan, SK MINGGU, 19/1, 1986, hal. 11), bahwa “Waktu menulis sajak, saya tergelincir dari kehidupan saya sendiri. Dua bekas pacar saya tergelincir ke lembah hitam. Mereka menjadi pelacur. Bekas tetangga saya ada yang bekerja sebagai germo. … Waktu berada di Jakarta, saudara-saudara saya, teman saya dan orang yang dekat dengan saya, melakukan korupsi. Kenyataan inilah yang melahirkan sajak-sajak saya.”

Sajak-sajak F. Rahardi bermula dari pengandaian, bahwa setiap orang tahu dan karenanya membentuk gerombolan, kebersamaan TST. Di titik ini, estetika atau bagaimananya dari sajak dan tema atau apanya sajak bukan hal yang pokok dan penting. Itu sesuatu yang kemudian disadari sebagai rahasia umum, sebagai yang setiap orang ketahui. Dan saat sajak ditulis, F. Rahardi tidak merumuskan situasi dan kondisi yang disadari kelompok, dan lalu sebagai penyair mengatakan itu pada orang lain. Penyair bukan juru bahasa, penyair bukan pujangga yang mewedar nilai luhur dengan menunjuk satu kasus yang diabstraksi dan diuniversalkan. Tidak! Karena yang penting adalah rahasia umum, ketahuan dan kesadaran kelompok. Lantas apakah sajak-sajaknya jadi eksklusif tak dipahami oleh orang-orang luar kelompok? Jawabnya sukar dipastikan. Pada satu sisi, sajaknya atau F. Rahardi hanya menyajakkan — sebagai tehnik berkomunikasi yang menghibur — rahasia umum atau rahasia kelompok, dan karenanya bersifat gelap bagi yang tak tahu. Pada segi lain, F. Rahardi tidak berbicara tentang hal yang eksklusif, tapi bicara tentang hal yang umum. Kalau pun berkesan itu maka pertanyaannya, untuk memahami apa yang disajakkan dan apa tujuan menyajakkannya, adalah memahami situasi dan kondisi dan kelompok kebersamaan itu. Seperti satu tontonan yang memanfaatkan potensi kesekitaran — dalam teater rakyat macam Lenong –, maka menyadari apa yang ada diseputar akan menyebabkan kita tahu apa yang dijadikan titik tolak. Malangnya, titik tolak tak penting karena yang dicari adalah effek hiburan dari penghadiran yang memanfaatkan hal-hal di sekitar. Kalau mau memakai analogi pantun, sajak F. Rahardi dibangun oleh sampiran (yang menghadirkan dengan segala pukaunya) dan isi (yang dihadirkan dan dijadikan titik tolak). Isi disimpulkan dari situasi dan kondisi, lalu diisyaratkan oleh sampiran — dan semua orang diharapkan tahu akan isi itu lewat isyarat sampiran yang melagak-lagak memberikan daya pukau dan hiburan. Ada kecenderungan bicara simbolik pada F. Rahardi. Ambil umpama ini “Kura-kura dalam perahu” yang menunjukkan kebohongan, kepilonan. Ungkapan “kura-kura dalam perahu itu sendiri” menunjuk pada satu keadaan yang dipertontonkan seseorang, dan orang lain yang tahu akan kepilonan itu akan berteriak “Kura-kura dalam perahu” untuk mengritik dan sekaligus mengingatkan kelompoknya agar tak berhubungan. Titik ekstrim dari kenyataan ini, isi makin ditenggelamkan pada kesadaran dan penyadaran TST, dan sampiran makin dijadikan dan dipertontonkan segi pukau dan hiburannya. Akibatnya, yang tahu yang bisa menikmati sodokan estetika (sampiran, segi bagaimana sajak yang melepaskan diri dari totalitas dan berimprovissi menghimbau dalam tampilan happening). Ini! Makna dan atau pesan nilai sajak tak dipentingkan, tapi dijadikan titik tolak untuk bermain; mengingatkan dalam segi kritiknya dan menghibur diri dalam segi terhadirkannya. Pertanyaannya : Apakah F. Rahardi menulis secara spontan?

Pengandaian sampiran bermain dengan titik tolak isi yang rahasia umum itu mengakibatkan dua hal; pertama, sajak tak boleh bermain dari hal yang terlalu subyektif dan harus dari hal yang diketahui dan dirasakan kelompok atau orang kebanyakan, bila tidak maka ia akan membisu — beberapa kegagalan dari sajak F. Rahardi justru karena ini, lihat saja sajak Bandung II (SW : 8), sedangkan rata-rata sajak-sajak dari CHSK membisu karena bertolak tidak dari keintiman bersama tapi dari seseorang yang memanfaatkan keintiman, akibatnya yang lain bukan jadi partisan aktif, hanya penonton yang dirangsang dan diarahkan. Kedua, bagaimana membentuk sentuhan-sentuhan imajinatif (dengan daya cemooh, daya humor yang berlatar sinis atau karikatural) dari sampiran, sehingga sampiran itu memukau dan tinggal memukau sebagai sesuatu yang utuh. Artinya, sampiran itu tidak hanya rangsangan asosiatif yang segera lenyap dan tak bermakna karena isi analogiknya diketahui, tapi tetap tinggal kekal sebagai sesuatu yang utuh dan bermakna. Daya puitik simbolik tetap tinggal dan tak jatuh pada degradasi saran asosiatik. Dan kalau membandingkan SW dengan CHSK, maka kita akan menemukan, kenyataan SW yang lebih berhasil dan baik dari CHSK. Lebih tepatnya, banyak sajak-sajak yang berhasil di SW dibandingkan dengan di CHSK. Keberhasilan itu karena, sebagaimana telah disinggung, keintiman yang menyebabkan setiap orang berpartisipasi aktif dan tidak mempasifkan yang lain dengan seorang yang memanipulasi keadaan dengan imajinasi yang berlebihan yang diharap mendatangkan negasi — kritik pada CHSK, apakah aku lirik koruptor yang diandaikan dan dikembangkan F. Rahardi memang benar, setidaknya secara karikatural? Lebih jauhnya, karena sampiran yang bertolak dari isi tidak terlalu terkait dan terbelenggu isi, dan berdiri sendiri secara total sambil mengisyaratkan akan makna yang ingin disampaikannya. Ambil sajak-sajak Menurut Sastro, Silsilah Kangkung, Sajak Transmigran II, Sajak Semangka; juga sajak yang mengesankan Surealisme macam sajak-sajak Konser Kampung, Thermobabi, misalnya.

Lepas dari hakekat seni ekperimental yang sekarang mungkin berbunyi trial and error, maka sajak-sajak atau estetika intim mengandaikan konteks dengan bahasa kontekstual (kata atau kalimat deiktik) yang mendadak bisa jadi universal pada SW lebih memberikan harapan dan kemungkinan dikembangkan dibandingkan sajak-sajak CHSK yang terlalu memihak dan menggambarkan. Pada CHSK permainan dan keriuhan bermain kelompok nyaris hilang, karena adanya penyair yang memanipulasi keadaan untuk bangkitnya respon antipati tertentu. Dan hal terakhir ini tidak lagi bersifat bermain-main, sudah diluar konteks kesenian. ***

13/2-1986
Pusat Dokumentasi Sastra HB. Jassin

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: