MENGAPA PEMBACAAN ITU DILARANG?

08/06/2011 at 15:28 (berita)

Pembacaan sajak dilarang. Ini bukan yang pertama, dan pasti bukan pula yang terakhir. Ini tidak hanya dapat terjadi di negeri ini, tapi mungkin saja terjadi di mana-mana.

Rabu malam, 22 Januari 1986, di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, sedianya F. Rahardi akan membacakan sajak-sajak buah karyanya. Hari Selasa, jadi cuma sehari sebelumnya, baru diberitahukan bahwa rencana itu mesti dibatalkan. Dapat kita bayangkan, betapa repotnya panitia penyelenggara oleh pelarangan itu.

Peristiwa semacam itu bukan hanya merepotkan. Ia juga amat sangat disayangkan. Sebagian terbesar dari kita semestinya mengatakan, walau cuma di dalam hati, “Alangkah sayang, pembacaan itu mesti dilarang!” Bila disimak dari judul sajak utama yang akan dibaca malam ini, “Catatan Harian Sang Koruptor”, kita dengan mudah dapat menduga siapa yang justru sebaliknya dapat berkata, “Syukur alhamdulillah, pembacaan sajak itu akhirnya dilarang juga!”, para koruptor.

Yang pertama-tama kecewa tentu saja adalah F. Rahardi sendiri. Sajak bagi penyair adalah seluruh dirinya, pengejawantahan makna seluruh eksistensinya.

Yang tak kurang menyayangkan peristiwa ini adalah mereka yang harus menjatuhkan larangan tersebut. Mereka pasti melaksanakannya dengan sangat terpaksa. Mereka pasti yang pertama-tama menyadari betapa tidak populernya tindakan mereka itu.

Tapi bukan hanya mereka. Semestinya seluruh masyarakat harus menyesalkan bahwa semua ini terjadi begitu. Bukan cuma panitia penyelenggara atau mereka yang telah keburu membeli karcis. Sebab bila sampai pembacaan saja telah dianggap begitu berbahaya sehingga harus dilarang, maka itu tidak lain berarti betapa rawannya kehidupan sosial kita ini sesungghnya. Bukankah tubuh yang sehat tak memerlukan banyak larangan? Hanya yang sakit berat yang memerlukan diet yang ketat.

Bagi masyarakat yang dewasa, apa yang telah terjadi haruslah diterima sebagai yang telah terjadi. Berhenti terlalu lama meratapinya saja, tak akan menolong banyak. Namun bila memang benar bahwa semua pihak memang menyayangkan mengapa yang telah terjadi itu harus terjadi juga, maka peristiwa itu tak boleh dibiarkan lalu begitu saja, seolah-olah tak ada apa-apa yang terjadi.

Peristiwa ini harus mengajak kita bertanya, bagaimana agar ia tidak terulang kembali. Agar kita tidak perlu menangis lagi, cuma karena terantuk pada batu yang sama yang telah pernah menjatuhkan kita di waktu yang lalu.

Kita tidak akan mengulang kesalahan yang sama hanya apabila jelas bagi kita semua apa dan dimana kesalahan kita itu. Dan kejelasan itu hanya dapat kita peroleh, apabila ada keterbukaan semua pihak.

Dari pihak penguasa keamananlah, pertama-tama kita harapkan keterbukaan itu. Supaya jelaslah mengapa pembacaan sajak itu harus dilarang. Supaya jangan masyarakat hanya dibiarkan menduga-duga. Supaya jangan sebab dugaan-dugaan yang salah itu, lalu tertanam kesimpulan-kesimpulan yang salah pula.

Pertama, akan amat berfaedah apabila seluruh masyarakat kita itu mengetahui bagaimana sebenarnya kemantapan keamanan di dalam kehidupan sosial kita. Ini kita anggap penting. Sebab pada satu pihak, kita mendengar pernyataan pemerintah bahwa situasi keamanan kita sudah cukup mantap dan baik. Tapi pada pihak lain, dengan peristiwa itu, masyarakat juga dibuat bertanya, apabila keadaan keamanan memang mantap dan baik, mengapa suatu pembacaan sajak mesti dilarang. Bila ini mesti terjadi di Rusia yang komunis, kita mafhum. Bila ini mesti terjadi disalah sebuah negara Amerika Latin yang otoriter, kita juga maklum. Tapi bila ini terjadi di negara Pancasila kita ini, kita harus bertanya apa sebabnya.

Kita berpendapat, bahwa seluruh masyarakat berhak untuk mengetahui, agar dengan demikian dapat ikut bertanggungjawab secara penuh bahu membahu dengan para petugas keamanan, menjaga dan memelihara keamanan negeri ini.

Kedua, masyarakat juga perlu menghetahui dengan persis, mengapa justru sajak-sajak F. Rahardi yang dilarang untuk dibacakan di depan publik. Sudah pasti, bukan oleh karena judulnya. Sebab bukankah pemerintah sendiri begitu bertekad bulat untuk memberantas korupsi? Sungguh tidak masuk akal sehat, bila pemerintah begitu bertekad untuk memberantas korupsi, maka pemerintah pula yang melarang pembacaan sajak yang barangkali justru akan membangkitkan partisipasi rakyat yang lebih besar di dalam memberantasnya. Pasti ada sebab lain. Pasti ada hal-hal yang dianggap terlalu peka dari pembacaan sajak itu yang dianggap akan mungkin mengeruhkan suasana dan mengganggu keamanan.

Tapi sekali lagi, masyarakat – termasuk di dalamnya para penyair – dapat diajak untuk menghindarkan diri dari hal-hal yang peka itu, apabila mereka tahu apa persisnya hal-hal yang dianggap peka itu. Sebab memang adalah keyakinan kita, bahwa setiap anggota masyarakat – termasuk para penyair – tidak hanya mempunyai tanggungjawab terhadap hati nuraninya sendiri-sendiri, tetapi juga terhadap ketenteraman hidup seluruh masyarakat. Bahwa keamanan bukan cuma hak dan tanggungjawab para petugas keamanan, tetapi hak dan tanggungjawab seluruh rakyat. ***

Sumber : Harian Sinar Harapan, 27 Januari 1986

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: