Penyair Sarkastis dari Lereng Gunung

10/08/2011 at 10:30 (berita)

Apakah puisi sulit dimengerti? Puisi F. Rahardi berikut ini, mestinya mudah dimengerti siapapun yang pernah belajar membaca.

Definisi Tuyul

(Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yang disusun oleh
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan diterbitkan oleh
Balai Pustaka Jakarta 1988 – (Entri terakhir huruf T-halaman 978)

Tuyul (Konon berdasarkan cerita masyarakat yang ada)
makhluk halus berupa bocah berkepala gundul yang oleh
orang yang memeliharanya dapat diperintah untuk mencuri uang dan sebagainya.

Meski begitu, biasanya masih ada juga alasan untuk menjadi bingung : apakah “puisi” itu bisa disebut puisi?
Untuk itu, kita baca bait pertama “Proklamasi Puisi” F. Rahardi, yang termuat
di Catatan Harian Sang Koruptor.

Saya penyair Indonesia
Dengan ini menyatakan kemerdekaan puisi saya
Mulai sekarang puisi bukan lagi seni agung
yang terkurung di puncak gunung
Bagi saya puisi hanyalah alat permainan.

Kredo semacam itu, memang bukan barang baru. Remy Sylado, lewat esei-esei pengantar Puisi Mbeling di tahun 70-an, sudah lama mempopulerkan sikap antikemapanan estetika dalam berkesusastraan. Pengaruh pemikiran ini jelas dalam Kata Pengantar buku Tuyul, kumpulan sajak F. Rahardi kiwari, yang sangat kurang ajar itu. Katanya, antara lain.

Pengantar sebuah buku kumpulan sajak, biasanya dibuat oleh penyair yang dianggap lebih senior, sastrawan kenamaan atau kritikus yang berwibawa. Kalau perlu, pengantar itu dibuat oleh pejabat pemerintah yang mengatakan sajak-sajak itu cukup penting untuk pembangunan mental bangsa dan sebagainya. Tradisi gombal demikian, sebenarnya sangat memalukan. Sebab, kata pengantar itu sendiri sebenarnya tidak diperlukan oleh sebuah kumpulan sajak.

Pada 1984 di Taman Ismail Marzuki, rencana pembacaan puisi-puisinya dari kumpulan Soempah WTS bikin geger; karena ia bermaksud mengajak para pelacur beneran, untuk membacakan “sumpah” seperti ini :

satu
kami
bangsa
tempe
bersurga
satu
surga
dunia

dua
kami
bangsa
tahu
bergincu
batu
berbantal
pantat

tiga
kami
bangsa
tokek
bertarget
satu
menggaet
tuhan
jadi
langganan 

(Soempah WTS, 1983)

Rencana menghadirkan para pelacur murahan itu (dari Kramat Tunggak, Bongkaran, dan Boker) ditentang Dewan Kesenian Jakarta. Ketuanya waktu itu, Toety Herati Nurhadi, menganggapnya sebagai eksploitasi.

Namun dengan segenap kembelingannya; F. Rahardi toh bisa hadir sebagai penyair, yang tidak hanya terkenal karena sensasional. Dari kumpulan sajaknya Silsilah Garong, yang menyangkut masa penciptaan 10 tahun, dari 1969 sampai 1979, akan kita temukan satu pergulatan yang intens dengan penderitaan orang banyak. Dan bagi Rahardi, penderitaan itu tidak lagi menjadi ratapan. Penderitaan itu telah diatasi, dengan cara mengejeknya sendiri.

HO-HO

Bunyi tawaku biasa saja : HO-HO
lalu langit pun sepi dan
bunga-bunga seperti bom
meledak dan angin pun
sepoi-sepoi basa
sejuk dan nyaman
hanya perutkulah yang tetap gatal
dan mulutku pun tetap terpingkal-pingkal
HO-HO begitu

Lewat kumpulan Tuyul; F. Rahardi memperlihatkan dirinya sebagai tukang ejek nomer satu. Penderitaan, yang secara eksplisit nemplok di lapisan masyarakat nan melata, tak bisa menghindarkan F. Rahardi dari kecenderungan melakukan protes sosial. Tapi cara Rahardi protes tidaklah heroik dan flamboyan seperti Rendra. Cara protes Rahardi boleh dibilang khas gaya kampung : sarkastis. Bacalah misalnya Sepuluh Pertanyaan untuk ibu-ibu di Waduk Kedungombo atau Penjelasan Menteri Penerangan tentang Tuyul dan juga Penjelasan Sopir Mikrolet Gandaria Kampung Melayu tentang Tuyul ini :

sopir mikrolet itu terjun lalu lari menemui
pak polisi
di tangannya tergenggam beberapa lembar
uang ribuah
diancuk!
kata sopir mikrolet itu sambil kembali
memasukkan SIM
ke dalam dompetnya
tuyul diancuk!

Karena puisi bagi Rahardi dikerjakan dengan semangat bermain, tak aneh jika terasa sekali iklim kebebasan di dalamnya termasuk kebebasan untuk menjadi tidak “indah”, kebebasan untuk menggunakan kata-kata, yang oleh dunia “beradab” disebut jorok. Dan, yang paling penting, semua itu tetap menjadi ekspresi yang tajam, matang, dan dewasa. Sehingga, puisinya yang paling lugu sekali pun tampil dengan meyakinkan. Tentu harus disebutkan, bahwa kebebasan dan main-main itu besar pengaruhnya pada warna humor puisi-puisi Rahardi. Humor dengan semangat mengejek kepalsuan di sekitar kita.

Siapakah F. Rahardi? Ternyata riwayat hidupnya pun ajaib. Bayangkan saja, umurnya belum 20 tahun ketika ia jadi Kepala SD Ngesrep Balong di Perkebunan Teh Medini di Lereng Gunung Ungaran, Jawa Tengah. Beraninya itu lho! Kenapa ia bisa jadi guru, ini juga lucu. Sebetulnya ia drop-out dari kelas II SMA pada 1967. Setelah bekerja sebagai buruh kasar di desanya, seperti mencangkul, memetik kelapa, menyabit rumput, dan mencari kayu bakar, ia termasuk di antara lulusan-lulusan SMP yang direkrut jadi guru, karena pada paska G30S PKI itu banyak guru dinonaktifkan.

Penyair yang dilahirkan di Ambarawa tahun 1950 itu sudah lulus ujian persamaan SGB maupun SPG, namun apa mau dikata, surat-surat pentingnya hilang di Lapangan Banteng, Jakarta, pada 1974, saat dibawa temannya. Entah bagaimana jalan hidup Rahardi selanjutnya, yang jelas ia melepaskan statusnya sebagai pegawai negeri, dan kini menjabat sebagai Wakil Pemimpin Redaksi majalah Trubus – bukan majalah sastra, melainkan pertanian. Maka tidaklah aneh, jika selain buku-buku puisi, ia juga melahirkan karya semacam Bercocoktanam dalam Pot dan Beternak Kodok. Ajaib! * SGA

Sumber : Majalah Jakarta-jakarta, 28 September 1991

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: