Pembacaan Puisi “Soempah WTS”

04/10/2011 at 12:12 (berita)

Tak Ada Huru Hara, Cuma Hura Hura

Acara pembacaan puisi “Soempah WTS” karya F. Rahardi yang sebelumnya sempat diributkan karena tak boleh tampilnya WTS di atas panggung, berjalan dengan tenang. Sang penyair malam itu, terpaksa tampil dengan bantuan anak-anak Teater Adinda bersama Lili dan Vivi Bunawilega sebagai pengganti “mahluk terlarang” itu. Tak ada huru hara. Hanya hura-hura.

Padahal, panggung Teater Tertutup Taman Ismail Marzuki Jakarta, Senen malam lalu, dihias biasa-biasa saja. Beberapa tikar tergelar memanjang dan sebuah meja dengan taplak plastik dan teplok menyala. Kadang redup, kadang terang berbaur cahaya lampu-lampu sorot. Suasana begitu yang dibina.

Dan, satu persatu sajak kemudian dihidangkan. Jika diibaratkan koki para partisipan pembaca puisi juga penyairnya, tak memiliki resep yang maha sedap dalam menyuguhkan intonasi kata. Misalnya, semuanya serba sederhana. Sederhana.

Tapi, penonton yang memenuhi kursi-kursi yang tersedia di ruangan itu, tetap betah adanya. Tak ada yang ngacir, keluar. Meski wanita-wanita penghibur yang mungkin, mereka nanti tak bakalan muncul. Ada kesan kecewa, nampaknya. Namun segera sirna.

Stamina Humor

Apalagi kata-kata dalam sajak F. Rahardi ini kaya dengan stamina humor-humornya. Apa saja selalu berakhir pada humor. Misalnya. “Soempah WTS”nya sendiri yang dibaca dengan cara koor dengan F. Rahardi yang mengawali.

Satu. Kami bangsa tempe / bersorga satu / sorga dunia. Dua. Kami bangsa tahu / bergincu batu / berbantal pantat. Tiga. Kami bangsa tokek / bertarget satu / menggaet tuhan jadi langganan.

Bayangkan. Tak urung, pengunjung pun menimpali dengan tepuk tangan dan tawa. Bahkan, bukan itu saja, sajak-sajak yang lain yang diambil di luar buku “Soempah WTS” sempat mengundang senyum. Satu contoh. “Sajak Lelaki dan Perempuan” yang dibaca oleh Lili dan Vivi.

Nampaknya, kekuatan F. Rahardi memang terbatas sampai di sini. Hanya membikin orang tergelitik dengan daya asosiasi kata yang, kalau tidak lucu ya, agak saru.

Tak heran, mungkin karena begitu, obsesi dunia pelacuran banyak disajakkan. Entah yang ada kaitannya dengan tema-tema sosial, atau yang sengaja menyebut bagian dari tubuh-tubuh orang yang mengundang daya rangsang syahwat itu.

Selain itu, dari sajak-sajak yang ditampilkan banyak mengetengahkan dunia tumbuh-tumbuhan, dan binatang. Mungkin ini yang menyegarkan, membawa kita ke suasana yang lain. Sebab tentu diduga, dengan kemampuan berkata-kata yang dimiliki F. Rahardi tiba-tiba ingin menghadirkan “sesuatu yang lucu” dari dunia tumbuh-tumbuhan dan binatang. Ada nenek kangkung, kakek kangkung, dan sebagainya yang bermakna simbol-simbol.

Acara pembacaan puisi dan diskusi ini mungkin akan tambah menarik, jika, misalnya, tak segera dihentikan oleh Hamid Jabbar sebagai moderator, yang punya alasan tertentu. “Barangkali, kita jadi tambah tahu : Perjalanan sang penyair itu dalam mencari pelacur yang kemudian kena sensor itu. (Arief Joko Wicaksono)

Sumber : Sinar Harapan, Jum’at 3 Agustus 1984.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: