Sastra Belum Menjanjikan Apa-apa

04/10/2011 at 12:19 (berita)

Apakah sebuah karya puisi itu bercorak romantis, bercanda atau malahan bisa menegangkan jiwa pembacanya, ia akan tetap sah bila kita menggumulinya dengan serius dan penuh tanggungjawab.

Hal di atas dikemukakan oleh F. Rahardi, dalam acara temu sastra guna membahas karya-karya puisinya, yang berlangsung pekan lalu dan diprakarsai oleh Medan Sastra (Afrizal Malna) serta Studio Oncor pimpinan Ray Sahetapy.

Meskipun F. Rahardi menganggap puisi sekadar sebagai alat permainan (Proklamasi Puisi F. Rahardi, 1985), namun sebenarnya ia menawarkan makna, gagasan, serta konsep-konsep tertentu dalam karya puisinya. Demikian penegasan Kurnia JR, yang malam itu tampil sebagai pembicara tunggal untuk membahas kehadiran serta peranan Proklamasi Puisi F. Rahardi dalam sastra Indonesia. Selain itu Kurnia juga memberikan beberapa ulasan, terhadap beberapa kumpulan puisi karya pengarang yang sama, baik itu Soempah WTS (1983), Catatan Harian Sang Koruptor (1985), Silsilah Garong : Sajak-sajak 1969-1979 (1990), sampai yang terangkum dalam kumpulan sajak Tuyul (1990).

Selain apa yang diungkapkan lewat puisi maupun cerpen-cerpennya, sosok F. Rahardi sendiri sebenarnya merupakan fenomena yang cukup menarik untuk dibicarakan. Simak saja, sementara banyak temannya mengenal ia sebagai penyair, tiba-tiba saja namanya terpampang sebagai wakil pemimpin redaksi sebuah majalah pertanian. Pada kesempatan lain, wajahnya juga beberapa kali muncul di layar televisi, untuk memberikan petunjuk praktis tentang tata cara mencangkok, atau memperkenalkan tanaman-tanaman lainnya.

Akhir-akhir ini waktu yang saya konsentrasikan untuk sastra hanya sekitar duapuluh persen, karena sastra belum menjanjikan apa-apa,” katanya.

Pada sisi lain ia memuji Sutardji Calzoum Bachri, Afrizal Malna maupun Rendra, yang dinilainya berani dan siap miskin, dengan lebih mengutamakan dunia sastra, dibanding dengan apa yang ia lakukan selama ini.

Menurut Kurnia, pada mulanya puisi-puisi F. Rahardi memang masih mengajak pembacanya untuk hening. Seperti halnya Dodong Djiwapradja, Hartoyo Andangdjaja, Wing Kardjo maupun Abdul Hadi WM, dimana banyak mengungkap kesunyian, lintasan waktu, debu, angin, jalanan, kota-kota serta kerinduannya.

Namun F. Rahardi nampaknya tidak betah dengan dunia puitiknya yang nyaman itu. Sajak-sajaknya yang ditulis ketika ia masih belia, menyimpan renungan seorang innocent yang bersahaja. Pola semacam ini yang kemudian ia tinggalkan, dan dalam Catatan Harian Seorang Koruptor, ia mencanangkan Proklamasi Puisi. Di dalamnya ia mulai menyatakan kemerdekaan arah puisi-puisinya.

Menantang Kemapanan

Sebagai seorang yang akrab dengan budaya Jawa, F. Rahardi sudah lama mengenal apa yang disebut parikan, plesetan, lirik-lirik gendhing dolanan dan lain-lain. Di sana kata-kata dipermainkan, logika dijungkir-balikkan, basa-basi dikebiri dan sopan-santun dikubur di alun-alun. Tinggallah kemudian suasana santai, akrab dan sangat bersahabat. Begitu komentar Kurnia.

Pada gilirannya ia kemudian mengangkat puisi-puisinya dalam tradisi Jawa itu. Mencoba bermain-main dengan kata, logika, norma-norma, sekaligus juga bermain-main dengan konsep-konsep yang sudah mapan, termasuk konsep estetik.

F. Rahardi memang tidak sendirian, dalam menantang ‘kemapanan’ perpuisian kita. Dalam beberapa karya puisinya ia bahkan bisa dikatakan lebih ‘jorok’. Misalnya, salah satu puisinya yang dibuat tahun 1989, mengisahkan tentang perjalanan kelamin kambing jantan, sejak dari rumah pemotongan hewan di Cakung sampai warung sop dan sate kambing.

Namun secara umum, kita tidak perlu membungkam tawa terhadap puisi-puisi F. Rahardi tersebut, jika kita menganggap ungkapan-ungkapannya memang menggelikan,  baik itu cuma sekedar senyum, tertawa ngakak atau bahkan cuma cekikikan dalam hati saja. Selebihnya mungkin saja sajak-sajaknya justru menjengkelkan, beberapa karyanya bahkan ada yang cukup memuakkan. (John Y. Sinyal)

Sumber : Mutiara Minggu V – Januari 1991

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: