Menembak Banteng

09/11/2011 at 11:37 (cerpen)

Cerpen F. Rahardi

Bulan September. Suhu udara kota Jakata di siang hari sangat panas. Cuaca berdebu. Gemuruh. Asap knalpot berhamburan di mana-mana. Namun suasana di ruang kerja Jenderal Purnawirawan Basudewo tak terpengaruh udara pengap kota Jakarta. Ruangan itu bersih, sepi dan sejuk. Berada di ketinggian gedung berlantai 23 di Jalan Jenderal Sudirman, suasana kantor itu sangat nyaman. Musik instrumentalia, AC sentral, lukisan Basuki Abdulah, beringin hidroponik dan lantai beralaskan karpet yang empuk dan lembut. Telepon berdering.

Jenderal Purnawirawan Basudewo kaget. Dia menerima order untuk menembak banteng dari menteri negara urusan satwa liar. Menurut menteri itu, populasi banteng di Taman Nasional Ujung Kulon sudah terlalu banyak. Banteng-banteng itu sudah terlalu memusingkan para petugas taman nasional. Banteng-banteng itu telah secara langsung mengganggu eksistensi badak bercula satu. Satwa nasional ini tidak boleh diusik para banteng.

“Jadi you serius Broer? Banteng itu boleh ditembak?” tanya Jenderal Basudewo meyakinkan.

Di seberang sana menteri itu menjawab, juga dengan sangat meyakinkan. “Kami tahu Pak, Bapak kan hobinya menembak dan aktif di organisasi menembak. Itulah sebabnya kami tawarkan ke Bapak untuk berburu banteng.”

“Berapa banyak yang you mau tembak?”
“Ya, yang besar-besar, terutama yang jantan. Mungkin sampai seratusan, yang penting populasi kembali seimbang dengan daya dukung taman nasional.

Jadi Bapak berkenan untuk ikut berburu?”
“Lho, kalau you serius, saya senang sekali. Wong hobi saya memang menembak kok. You tahu Broer? Tiap bulan saya ke Bengkulu menembak babi hutan? Ini banteng. Saya senang sekali. Lalu kapan?”

“Ini akan diatur dengan kepala taman nasional. Nanti kami akan mengabari Bapak lagi”.

***

Bulan September masih berdebu. Kadang-kadang hujan turun namun belum cukup deras dan belum cukup sering. Para pemburu itu terkumpul ada sekitar dua puluh orang. Ada anak konglomerat, bintang film, jenderal aktif dan ada pula penembak profesional dari organisasi menembak di seantero negeri. Semua didaftar. Semua harus mentaati tata tertib menembak banteng. Strategi disusun. Siasat dibuat. Kebijaksanaan demi kebijaksanaan dikemukakan. “Ingat”, kata kepala taman nasional itu. “Banteng yang boleh ditembak adalah banteng-banteng tua, terutama yang jantan. Dan jumlahnya sudah dibatasi hanya 100 ekor. Ini sudah merupakan suatu pengurangan populasi yang drastis hingga diharapkan banteng-banteng itu akan dapat kembali dikendalikan.”

Penembak-penembak itu lalu bersiap. Ada yang menyiapkan dua senapan. Ada yang membawa 20 krat bir. Ada yang mencarter helikopter. “Saya suka pusing kalau terlalu lama naik perahu. Padahal ke Taman Nasional Ujung Kulon harus naik perahu, lama lagi. Mending mahal sedikit pakai heli. Kalau jalan laut tujuh jam, pakai heli paling cuma sejam, nggak nyampe malah”.

Pemburu-pemburu itu siap dengan perbekalan mereka. Paling tidak selama satu minggu mereka akan bersafari menembak banteng.

Bulan September. Padang penggembalaan Cidaon berdebu. Di tempat terbuka itulah, biasanya banteng-banteng merumput dan bersantai. Pos pengintaian yang berdiri di pinggir padang rumput itu mulai miring lantaran berkali-kali diseruduk para banteng. Banteng-banteng itu memang mulai beringas. Populasinya berkembang pesat di luar perkiraan para petugas taman nasional. Akibatnya pohon-pohon di sekitar padang penggembalaan itu banyak yang rusak, bertumbangan dan terinjak-injak kaki banteng. Seorang petugas taman nasional pernah terpaksa diangkut ke Labuan karena luka-luka ditendang banteng.

“Ini memang harus dihentikan. Banteng adalah aset nasional yang tidak boleh punah. Namun populasinya juga tidak boleh terlalu besar sebab akan membahayakan badak. Jadi alternatifnya ya dipindah ke tempat lain atau ditembak,” kata kepala taman nasional.

***

Bulan September. Sore hari. Matahari dengan anggun masuk di cakrawala dekat Tanjung Layar. Pemandangan di padang penggembalaan berangsur redup. Pelan-pelan kawanan banteng itu merumput sambil terus berjalan dari ujung utara ke ujung selatan hamparan rumput ini. Seekor banteng jantan tua yang tanduknya runcing dan melengkung, memimpin kawanan banteng ini. Dia berwibawa. Dia tampak sangat disegani banteng-banteng betina dan banteng-banteng jantan yang lebih muda. Semua tampak hormat pada banteng tua itu. Sore itu udara mulai turun suhunya. Para banteng tetap tenang dan tetap makan rumput. Ada pula yang sudah mulai kembali masuk ke dalam hutan. Beberapa ekor merak hijau mengais-ngais bekas kotoran banteng dan memakan rayap. Banteng jantan paling tua itu melangkah anggun. Pandang matanya ditebarkan ke seluruh penjuru. Dia memang harus bertanggung jawab penuh terhadap keselamatan seluruh warga banteng yang dipimpinnya. Suasana tetap sepi. Hanya suara dengus napas banteng. Derap kaki banteng. Suara rumput yang dicabut dari tanah yang keras lalu dikunyah. Kadang-kadang diselingi suara gemuruh kepak sayap enggang jauh di atas sana.

Namun kesunyian itu tiba-tiba berhenti. Bunyi letusan bedil terdengar beberapa kali. Merak yang mengais-ngais rayap itu lari. Para banteng itu bubar. Ada yang terjatuh dan berdarah. Ada yang berdarah tapi terus berlari. Para banteng itu panik dan berhamburan masuk hutan.

Syahdan, banteng jantan tua itu juga tertembak. Dia berdarah namun tidak roboh. Dia juga tidak berlari. Dia menunggu sampai seluruh banteng yang dipimpinnya berlarian masuk hutan. Dia melihat beberapa banteng jantan yang lebih muda dari dirinya terluka dan ada yang sudah mati.

Tak lama kemudian sebuah tembakan terdengar lagi. Peluru bedil itu mengenai tubuhnya. Dia goyah. Namun dia masih berusaha bertahan lalu setelah seluruh warga banteng itu bubar, dia pun ikut berlari masuk hutan. Dia berusaha mengikuti jejak banteng-banteng lain. Tapi mereka telah menghilang entah kemana.

Banteng jantan tua itu terus berlari. Dia terus mengucurkan darah. Makin lama larinya makin pelan. Seluruh tubuhnya lemas dan sakit. Udara makin gelap. Banteng jantan tua itu lalu roboh di dekat sebuah mata air.

Bulan September. Di pesanggrahan Pulau Peucang malam tampak terang benderang. Suara disel pembangkit listrik terdengar jelas sekali di kesunyian alam. Ada beberapa ekor rusa bergerombol di halaman pesanggrahan. Malam itu, di ruang tengah pesanggrahan, Jenderal Purnawirawan Basudewo mencium bau daging panggang. Dia hirup seteguk bir sambil menonton sebuah acara kuis di televisi. Di sekitarnya, para pemburu bergelak tawa menikmati malam yang nyaman. Malam yang menyenangkan. ***.

Jakarta, September 1993.
Sumber : Kompas Minggu, 26 September 1993

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: