“Guci Wasiat”

23/12/2011 at 13:07 (cerpen)

Istriku sakit. Istri satu-satunya. Masih sangat muda dan belum punya anak. Istri yang sangat kumanjakan dan kucintai dengan sepenuh hati. Aku bingung. Susah. Sedih. Tidak tahu apa yang harus kuperbuat. Memanggil dokter pasti sudah aku lakukan. Dokter juga datang, memeriksa, menulis resep, dan obatnya pun sudah kubeli di Apotik. Seketika. Dan istrikupun seketika itu juga telah memakan obatnya. Selain juga telah mendapatkan suntikan. Aku ingin sekali dia dapat cepat sembuh. Dapat menanak nasi. Membuat teh dan kopi. Berbelanja. Pendeknya melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. Sebab terus terang saja aku memang tidak kuat untuk menggaji seorang pembantu. Kutunggu, satu hari : belum sembuh, baru bekerja pasti obatnya. Dua hari : juga tak ada perubahan, ah Tiga hari : Kok malah tambah payah. Apa dokternya salah menulis resep? Empat hari : Tak mau makan bahkan minumpun susah sekali. Aku putus asa! Kubawa istriku ke rumah sakit. Diopname!

Aku bukan orang yang kolot. Aku percaya pada dokter. Sekolahnya saja katanya tujuh tahun bahkan lebih, jadi pasti pandailah yang namanya dokter itu. Aku ini juga berpendidikan. Paling tidak aku masih ingat bahwa yang menyebabkan orang menjadi sakit itu hanya ada beberapa saja. Karena virus, baksil, bakteri atau jamur serta cacing. Juga karena kekurangan atau kelebihan makanan, keracunan, atau karena rusaknya salah satu di antara sekian banyak organ tubuh. Hanya itu. Sebab-sebab lain, misalnya karena setan, ditenung, atau tetek bengek yang lain aku sama sekali tidak percaya. Ini bukan salahku. Sebab memang sejak kecil aku  dididik untuk tidak mempercayai hal-hal yang tidak rasional. Dengan bekal pikiran seperti inilah aku berharap dan berkeyakinan bahwa dalam waktu yang relatif singkat istriku bakal sembuh. Aku sama sekali tak pernah membayangkan atau mempunyai kekhawatiran, bagaimana kalau istriku sampai mati? Mustahil, pikirku. Aku tetap mantap dan yakin. Tapi dua bulan kemudian istriku mati. Aku menangis.

Batinku terpukul. Menurut keterangan dokter, penyebab kematian istriku adalah tidak berfungsinya saluran yang mengalirkan darah menuju ke arah ginjal, serta dari ginjal ke kantung kencing. Aku percaya saja. Tapi aku sedih. Aku tidak tahu bagaimana istriku dikuburkan, disembahyangkan dan sebagainya. Pastur juga datang. Orang tuaku, mertuaku, saudara-saudaraku semua ikut berkabung. Hampir semuanya tidak menyangka bahwa istriku bakal berumur pendek. Dan jadilah aku seorang duda. Tinggal sendirian di rumah. Karena tidak tega, terpaksa ibuku dan adikku yang masih duduk di kelas empat SD itu menemaniku. Benar juga. Aku bisa agak terhibur dengan adanya ibu serta adikku itu. Pikiranku mulai tenang. Dapat bekerja kembali. Tapi rencana untuk kawin atau mencari istri lagi sama sekali belum ada. Aku masih saja belum dapat melupakan mendiang istriku. Tiap minggu aku datang ke makamnya. Sebulan, kemudian dua bulan berlalu dengan tenang. Alangkah sepinya. Dua tahun lamanya kami berumah tangga tapi belum dikaruniai anak seorangpun. Tiga bulanpun lewat dengan cepat sekali dan akupun jatuh sakit panas. Sering mengigau dan tak mau makan. Dokter datang, memeriksa, memberi obat, nasehat-nasehat lalu minta uang dan pergi. Pastur juga datang mengajukan pertanyaan-pertanyaan, memberi nasehat tapi tidak lalu pergi. Pastur itu lama sekali menungguiku. Pertanyaan beliau ini aneh. Nasehatnyapun juga ajaib. Dalam sakit aku tak habis pikir dan tersenyum geli di dalam batin. Aku tidak disuruhnya berdoa atau ingat kepada Tuhan seperti biasanya, tapi disuruh mengubah arah tidurku. Tidak boleh mengarah ke utara tapi harus ke arah barat. Kok lucu, pikirku. Tapi aku juga menurut. Toh seorang pastur tidak mungkin memberi nasehat dengan ngawur. Ingat, untuk dapat menjadi pastur sekolahnya juga lama sampai bertahun-tahun. Pastur itu akhirnya pulang tapi berpesan kalau segera mau datang lagi. Dan benar juga. Sorenya, Beliau datang dengan dua orang pembantunya yang membawa peralatan yang ruwet banyak sekali dan kabelnya pun melilit-lilit banyak nian. Aku tambah heran untuk apa itu? Tapi karena memang sangat ngantuk akupun lalu tertidur pelan-pelan.

Aku bangun lalu bertengkar dengan Pastur itu. Soalnya aku tidak setuju kalau aku diobati dengan cara-cara yang aneh. Aku harus tidur dengan menelentang. Tidak boleh tengkurap atau miring. Harus tetap mengarah ke barat. Dan yang paling tidak masuk akal ialah ditaruhnya sebuah Guci Wasiat di atas perutku. Guci tersebut diikat dan dihubungkan debgan kabel-kabel ke arah sebuah accu.
“Kenapa aku disetrum?” tanyaku dengan gemas setengah sadar setengah tidak.
“Bukan disetrum,” jawab ibuku dengan penuh belas kasihan.
“Kau diobati oleh Romo”.
“Bagaimana rasanya sekarang?” Tanya Pastur itu yang terus saja sibuk dengan alat-alatnya.
“Tidak terasa apa-apa”. Jawabku karena memang tidak merasakan apa-apa.
“Masih sakit?”
“Masih” Pastur itu lalu diam. Aku teringat mendiang istriku.

Wajahnya yang pucat. Tapi matanya tetap bersinar. Juga pada saat-saat terakhirnya. Aku takut mati. Ini wajar. Tapi aku rindu sekali pada mendiang istriku. Empat malam lamanya Guci Wasiat  itu ditaruhnya di atas perutku. Pembantu Pastur itulah yang mengurus segala-galanya. Hari kelima aku protes.
“Aku tidak mau kalau diobati dengan cara begini”. Tapi ibuku mendekat lalu melotot.
“Kau tidak percaya lagi pada Pastur? Kau mulai ragu-ragu pada Tuhan?”
“Pastur bukan Tuhan!” aku berteriak keras-keras. Ibu menangis.
“Mas, tidak apa-apa. Biar lekas sembuh”. Pembantu Pastur itu dengan sabar memberi nasehat. Aku mengamuk.

Guci itu kuangkat lalu kubanting. Alat-alatnya ada yang pecah. Dipan kusuruh memindahkan mengarah ke utara seperti semula. Pembantu Pastur itu kuusir dan dengan sangat aku mohon pada Pastur agar tidak lagi datang sebelum aku sembuh. Ibuku tambah keras tangisannya. Dan para tetanggapun kaget dan berlarian ke rumahku demi mendengar tangisan ibuku yang melolong-lolong itu. Beberapa orang mencoba memegangi tanganku tapi kulemparkan.

“Aku masih normal! Bajingan! Aku memang sakit tapi tidak sinting. Tahu?” Tanpa kulihat asal-usulnya tahu-tahu Pastur sudah datang. Pertama-tama yang dipegangnya adalah dahiku. Aku tersinggung.
“Maaf Romo, aku tidak gila”.
“Tapi kau sakit!”
“Aku tidak mau kalau disetrum”.
“Kau diobati”.
“Suruh Dokter kemari. Aku ingin Dokter”.
“Dokter tidak bisa mengobati sakitmu”.
“Bisa”.

Nasibku kurang baik memang. Istriku baru saja meninggal. Aku jatuh sakit. Belum juga sembuh aku telah dicap “tidak normal”. Mau protes, protes pada siapa. Hubunganku dengan Gereja retak. Pastur itu menganggapku telah menolak bantuannya dengan kasar dan tidak sopan. Aku lalu buru-buru minta maaf. Tapi terlambat Permintaan maafku hanya dianggap basa-basi oleh para pembantu Pastur. Beliau sendiri sebenarnya tidak apa-apa, tapi para pembantunyalah yang ngotot. Tapi aku sembuh. Tidak segera, tapi dua bulan kemudian. Belum juga kuat aku berangkat bekerja sudah datang surat pemberhentian dengan hormat karena aku telah dianggap “tidak normal” oleh Yayasan tempatku bekerja. Aku protes lagi. Kupanggil seorang psikiater untuk kumintai keterangannya. Ternyata aku memang tetap masih normal. 100 % waras! Tapi kenapa aku dipecat? Entahlah. Tapi lega hatiku. Aku yakin. Sembuhku bukannya karena “Guci Wasiat”, tapi karena dokter. Yang konon sekolahnya sampai bertahun-tahun. Aku lega! Lega. ***

Iklan

1 Komentar

  1. muslimshares said,

    nice blog gan
    kalo berkenan mampir ke blog ane yuk sekalian tukeran link.

    salam,
    muslimshares
    http://muslimshares.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: