Rencana

23/12/2011 at 13:03 (cerpen)

Inilah saatnya yang paling tepat untuk mulai. Aku sudah siap. Keadaanku fisik maupun mental benar-benar “siip”. Fisik maksudnya badanku. Saat ini badanku sangat sehat untuk melakukan apapun, sebab sedang berada dalam kondisi puncak. Selamanya memang belum pernah aku mengidap penyakit-penyakit yang gawat; paling hanya masuk angin. Selain badanku yang sehat, secara material hidupku kecukupan. Yang namanya kenikmatan hidup semua pernah kukecap. Hal ini tidaklah mengherankan. Aku punya tanah yang luas sekali dan subur warisan dari moyangku yang telah almarhum. Tanah inilah yang merupakan sumber penghidupanku selama ini. Aku punya rumah, perabotan komplit lengkap dengan seorang istri yang cantik dan penurut, anakku sudah empat, lelaki dua wanita dua, kurasa cukup. Ini tadi soal materi, lalu mengenai moral, aku punya latar belakang yang kuat. Kakekku Lurah. Pendidikan : akulah satu-satunya orang yang mengantongi ijazah SMA di kampung ini. Tapi yang paling penting, aku mendapat dukungan paling banyak dari warga desa untuk ikut mencalonkan diri sebagai “Lurah”.

Karena dari semula aku sudah benar-benar siap, maka tak ada kesulitan yang kuhadapi. Santai saja! Saat ini aku telah memegang jabatan Carik. Resminya akulah sekarang penguasa tertinggi di desa semenjak Lurah tua itu meninggal. Hansip, Kebayan, Modin, Bekel, pendeknya semua tokoh masyarakat tunduk padaku. Camat, Komandan Koramil dan Kepolisian sudah berhasil kurangkul untuk menjadi “Belongku”. Dan masih ada satu lagi yang membuatku benar-benar mantap seratus persen lahir dan batin, yakni wangsit. Beberapa hari yang lalu aku telah mendapatkan wangsit di bawah sebatang pohon besar yang keramat. Isi wangsit tersebut : Akulah yang bakal menduduki singgasana Lurah di desa ini sepeninggal Lurah tua yang sakit-sakitan itu. Untuk memahami orisinil atau tidaknya wangsit tersebut aku telah berkonsultasi dengan cerdik pandai dalam bidang perwangsitan yang lazimnya disebut dukun. Dan semua dukun yang kuhubungi selalu mengatakan bahwa wangsit yang kuterima itu asli adanya. Dan supaya keadaanku menjadi mantap maka dukun-dukun yang kudatangi itu selalu memberi bermacam-macam jimat yang ampuh yang senantiasa harus kubawa kemana-mana. Ini penting. Bukannya klenik atau tahayul. Soalnya rival-rivalku semua pasti membawa-bawa jimat juga. Dan aku yakin merekapun pasti mengaku-ngaku mendapatkan wangsit juga. Tapi jelas wangsit mereka itu wangsit palsu. Secara rasional hal ini memang susah untuk dapat diterima akal sehat. Tapi di sini masalahnya lain. Jangan hanya pakai akal kalau mau sukses. Pakailah apa saja, halal atau tidak halal pokoknya menang.

Aku tidak perlu ikut turun ke lapangan untuk kampanye. Orang-orang sudah cukup banyak. Mereka lebih tahu mana yang harus disikat, mana yang mesti dijotos dan mana pula yang bisa dirayu agar memilihku dalam pemungutan suara ini. Karena aku adalah Carik, maka yang kumaksud dengan orang-orangku adalah Hansip, Kebayan, Bekel, dan lain-lain pembantuku. Merekalah yang kuserahi tugas untuk berkampanye. Tentunya dengan dukungan Pak Camat, Komandan Koramil dan Kepolisian. Aku tinggal ongkang-ongkang saja di rumah, 80 % kemenangan sudah di tangan. Tinggal menyusun rencana selanjutnya. Tenang! Santai!.

Yang pertama-tama harus kukerjakan nanti setelah aku benar-benar terpilih menjadi Lurah adalah membereskan saingan-sainganku. Sebagai manusia normal mereka pasti kecewa dengan kekalahan mereka, Jalan pikiran orang yang kalah di manapun dan kapan pun pasti sama. Pemungutan suara tidak sah, main sabun dalam menghitung, main guna-guna, layak didukung ABRI kok, dan sebagainya dan sebagainya. Untuk itu semua, aku juga sudah lama siap. Kan ada pepatah : diam itu emas! Nah mau apalagi? Aku sudah sah menjadi Lurah dengan Pemilihan yang resmi dan diakui oleh pemerintah, tinggal menunggu tanggal pelantikan dan : Zerro.

Tapi khusus untuk orang-orang frustasi tadi aku tidak boleh hanya diam saja. Mereka bisa kalap dan nekat. Kalau sudah begini berbahaya. Aku harus cepat bertindak. Mereka harus segera kusingkirkan. Tidak perlu dibunuh, sebab itu namanya biadab. Cukuplah sudah kalau dikucilkan dari pergaulan masyarakat. Tapi ada juga yang karena sangat berbahaya malah justru harus kurangkul.

Contohnya Si Dulhat. Selisih suara kami pasti tidak akan banyak, sebab pendukungnya dan pendukungku hampir seimbang. Kan gawat? Dasar orangnya licik dan pintar bikin isyu Kalau ia kusingkirkan, awak yang payah. Makanya dia harus segera kurangkul nanti sehabis pemilihan. Dia harus kuangkat menjadi Carik mengganti kedudukanku sekarang ini. Hal ini mendatangkan keuntungan ganda. Pertama dia mudah kuawasi, kedua bisa kupakai sebagai perisai. Sebab dengan kedudukannya sebagai Carik maka praktis para pendukungnya tidak akan berani menggangguku lagi,

Mengganggu saya berarti mengganggu dia juga! Selain itu kalau dia sudah jadi Carik frustrasinya pasti berkurang. Sedapat mungkin janji tetap harus kutepati. Terutama janji selama kampanye untuk jadi Lurah ini. Orang-orangku sudah terlanjur mengobral janji yang kadang-kadang terlalu fantastik. Tak apa. Rakyat tidak banyak tuntutannya. Langkah pertama Mesjid dan gedung sekolah yang sudah mau ambruk itu harus cepat-cepat dipugar. Lalu tempat mandi umum, jembatan, jalan-jalan, sudah! Mudah saja. Toh untuk ini semua nanti tak sepersenpun bakal keluar dari kantungku? Semua ya dari mereka juga nantinya. Tapi mereka puas. Dan aku dapat tidur dengan tenang dan untuk meminterkan mereka? Atau membuat mereka dapat hidup dengan lebih layak? Yah itu juga! Tapi Lurah kan bisanya cuma membimbing dan mengarahkan kerjanya, bukannya menyulap.

Meskipun sudah menjadi Lurah, nantinya aku juga tetap manusia biasa yang lemah. Yang punya rencana-rencana khusus untuk kepentingan pribadi. Kurasa ini sehat saja. Aku pingin punya rumah yang mendingan besarnya. Soalnya kalau ada rapat atau pertemuan-pertemuan yang lain rumah ini terlalu sempit. Juga perabotannya kalau dapat harus diganti semua nantinya. Memalukan sekali kalau aku sudah betul-betul jadi Lurah lalu ada tamu Pak Camat atau Pak Bupati dan beliau-beliau itu harus duduk di kursi yang macam begini. Lalu aku juga harus memikirkan bagaimana nanti kalau aku sudah dipanggil untuk kembali ke haribaanNya, apakah tanah warisan ini akan cukup kalau harus dipotong-potong untuk hidup anak-cucuku? Lalu, nanti diiris-iris lagi oleh ahli waris anak-cucuku! Ngeres sekali jadinya. Apa keturunanku mesti ikut juga ditransmigrasikan? Ya Tuhan! Maka nanti kalau aku sudah terpilih jadi Lurah hal ini harus kupikirkan. Ini penting.

Istriku memang cantik dan memenuhi syarat untuk keperluan tidur bersama. Tapi apakah dia akan tetap cantik dan memenuhi syarat setelah nanti anak-anaknya sama besar dengan ayah dan ibunya? Kapan-kapan tentunya pingin juga sekali-kali merasakan santapan orisinil dan segar. Dan selain itu masih ada pula segudang rencana-rencana yang lain yang sudah 80 % di tangan. Tapi? Apakah yang 20 %, yang meskipun kecil tapi kemungkinan toh  tetap ada itu tidak ikut kumasukkan dalam daftar rencana panjang ini? Bagaimana kalau aku kalah? Bagaimana kalau Si Dulhat yang jadi Lurah? Padahal pasti banyak biaya yang kukeluarkan untuk memikat massa agar mau memilihku. Bagaimana ya? Tapi berhubung kemungkinan untuk kalah itu hanyalah 20 %, maka baiklah kubulatkan saja sekalian. Sebab mendingan bikin rencana-rencana seperti tadi itu. Habis mengasyikkan sih soalnya! ***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: