Menikmati Sajak Guru Biologi

08/05/2012 at 15:50 (berita)

Oleh : Sunoto Surodibroto

Sebagai seorang sastrawan, F. Rahardi lebih banyak kita kenal lewat cerpen-cerpennya yang suka mengangkat binatang-binatang, seperti kadal, burung, dan sebagainya. Ya, tentu saja. Soalnya memang F. Rahardi adalah orang yang berkecimpung dalam bidang biologi. Seperti kita ketahui, dia adalah salah seorang pengasuh majalah pertanian Trubus. Dia juga pernah menerbitkan bukunya seperti Beternak Kodok, dan Bercocoktanam Dalam Pot.

Kenyataan seperti itulah yang mungkin sekali memberi warna pada karya-karyanya. Seolah-olah lewat binatang-binatang, F. Rahardi lebih mudah dan lincah meneteskan karya-karyanya. Kalau pelukis Basuki Abdullah merasa lebih cocok melukis wanita, maka F. Rahardi merasa lebih senang bermain-main dengan dunia binatang.

Di samping dia dikenal sebagai seorang cerpenis, akhir-akhir ini dia tampil sebagai seorang penyair. Dan uniknya, sebagai penyair dia menampilkan sajak-sajak yang lucu tapi penuh sindiran. Buku kumpulan puisinya itu diberi judul SOEMPAH WTS.
Walau bernada menyindir, kebanyakan puisi-puisinya dibawakan dengan kocak dan lucu. Baca sajak di bawah ini :

SUNAN BIRU

sunan baju biru
berjalan-jalan sampai kuning
dia berhenti di stanplat bis
kotamadya semarang
di bawah patung burung
sunan mata biru
berdarah kuning dan matanya
dibiarkannya meraba-raba
sampai Jakarta
dan dia pensiun
di bawah jembatan semanggi
sunan bersandal jepit
berniat mengendorkan syarafnya yang coklat
dia tiarap di puncak monas
sambil dipijat gadis
dan diurut janda
sekali diurut sunan terpejam
duakali dipijat sunan terperanjat
tigakali diinjak sunan bergumam
empatkali dibetot sunan copot
sunan mati empatkali
jubahnya yang biru luntur jadi kuning
semarang mengerang
bajingang

Tentu saja, kita tak tahu benar, siapa yang dimaksud Sunan biru. Tapi sebagai pembaca, dimana kita berhak memberi makna sajak, sejauh ini kita pasti boleh meraba siapakah itu si sunan biru yang dimaksudkan F. Rahardi. Dan jelas, dugaan kita itu, walaupun mungkin tidak sama persis dengan yang dimaksudkan F. Rahardi, tidak dapat disalahkan. Mengapa? Sebab sebagai pembaca, bagaimanapun juga kita berhak untuk berpendapat berbeda. Apalagi dalam dunia sastra, dimana kebenaran yang berlaku sangat relatif.

Sajak-sajak yang lain yang terangkum dalam “SOEMPAH WTS” pun kebanyakan bernada kritik sosial yang dibawakan dengan lucu atau kadang pula “mengejek dengan terang-terangan. Sajak berjudul “Doktorandus Tikus 1” ini saya kira salah satu contoh sajaknya yang mengejek (menyindir) dengan terang-terangan.

DOKTORANDUS TIKUS I

selusin toga
me
nga
nga
seratus tikus berkampus
di atasnya
dosen dijerat
profesor diracun
kucing
kawin
dan bunting
dengan predikat
sangat memuaskan

1983

Sementara itu situasi para transmigran pun tak luput dari pengamatan F. Rahardi. Ia menyaksikan para transmigran hampir tak bisa berpisah dengan singkong. Ke mana-mana bertemu dengan singkong.

Soal kangkung lain lagi masalahnya. F. Rahardi menjungkirbalikkan soal penciptaan kangkung. Dia bilang bahwa kangkung mempunyai silsilah. Sehingga lahirlah sajak yang berjudul “Silsilah Kangkung”.

SILSILAH KANGKUNG

seusai zaman es
nenek kangkung dan kakek kangkung
berzinah di sawah dan
lahirlah kangkung-kangkung
haram jadah
nenek kangkung dicumbu kakek kangkung
cucu kangkung dicium menantu kangkung
anak kangkung dirayu bapak kangkung
gadis kangkung ditraktir oom kangkung
dan ibu-ibu diperkosa
di kebun kangkung
bayi kankung meratapi ibu kangkung
adik kangkung merindukan tante kangkung
ipar kangkung digauli istri kangkung
pakde kangkuing menggauli keponakan kangkung
keponakan mencret-mencret
kebanyakan sayur kangkung
seusai zaman batu
kangkung-kangkung dicincang
bayi-bayi telanjang
tak berbapak.

1983

Dibaca sepintas lalu sajak itu dibuat seperti main-main belaka, seakan-akan tidak mengundang makna yang mendalam. Tapi sungguhkah sajak itu tidak mengandung makna yang tersirat? Pembaca yang satu dengan pembaca lainnya pasti punya pandangan sendiri-sendiri. Yang pasti menurut dugaan saya, Rahardi lewat sajak Silsilah Kangkung mau menyarankan tentang keadaan dunia yang kacau, dimana setiap saat bisa terjadi ipar kangkung digauli istri kangkung, pakde kangkung dirayu gadis kangkung, dsb. Tapi mungkin juga bisa diduga siapakah yang dimaksudkan kangkung itu sendiri. Simbol dari apakah kangkung dalam sajak tersebut?

Tentu saja pembaca berhak untuk berpendapat berbeda, seturut dengan pandangannya yang ia anggap paling tepat. Siapa tahu pembaca lain lebih jitu menyusuri makna sajak yang dibuat seperti main-main itu.

Dari 40 sajak yang terangkum dalam “Soempah WTS” itu, sajak yang menurut rasa saya bagus adalah sajak “Sepotong Paha Tikus”. Coba para pembaca resapi.

SEPOTONG PAHA TIKUS

sepotong paha tikus
kuupetikan ke hadiratmu
ya tubuh
semoga kau tangkap
dengan lapang leher
lompatnya yang coklat
cicitnya yang rincing
maukah kau
moncongkan mertua
mengendus-endus tetangga
ya tumit
kupaketkan salamku
padamu
selamat maling.

1983

Menurut rasa saya, sajak tersebut terasa menyentuh dan unik. Meskipun agak sulit apa yang dimaui penyair, tapi sajak tersebut apik dirasa. Juga sajak tersebut terasa sederhana dan memikat, imagenya unik dan lucu.

Dari 40 sajak yang terangkum dalam Soempah WTS tersebut ada beberapa sajak yang kurang berhasil, dibuat tergesa-gesa. Misalnya sajak Bandung II, Konser Kampung, Bulan, Selamat Wafat. Tampaknya F. Rahardi, dalam keempat sajak itu, kurang begitu mendalam saat merenung. Begitu ilham datang, langsung saja ia bikin sajak. Sehingga sajak-sajak tersebut kurang matang.

Menikmati sajak-sajak F. Rahardi memang tak usah mengerutkan kening seperti kalau kita menghadapi sajak-sajak penyair ternama kita Subagio Sastrowardoyo. Meski demikian, sajak-sajak F. Rahardi bukan mudah untuk direbut maknanya. Yang sering terjadi justru sebaliknya. Simbol binatang atau tumbuh-tumbuhan yang ditampilkan dalam saja, sering kabur dan ide yang ingin disarankan oleh penyair tidak jelas atau bahkan kurang tepat mengenai sasaran.

Pengalaman saya menghadapi sajak-sajak F. Rahardi mengatakan, membaca sajak-sajaknya memang cukup nikmat, menyenangkan dan menggelikan; tetapi harus dikatakan pula, saya sering bingung dan kurang jelas dengan makna yang ingin disampaikan oleh penyair.

Barangkali ini kebodohan saya sebagai pembaca dan penikmat sajak. Walaupun sudah berkali-kali saya berusaha merebut makna yang ingin disarankan penyair, toh sering kandas. Atau mungkin sajak-sajaknya yang ruwet? Saya kurang tahu. Pembaca budiman lainnya, mungkin punya pengalaman sendiri dalam usahanya merebut makna sajak.

Akhirnya harus disebut, kumpulan puisi “Soempah WTS” (Puisi Indonesia, 1983) memang ada artinya dalam rangka menambah ragam (genre) sastra kita. Paling tidak, image dan tipografinya terasa unik. Dan sebagai penutup kata, saya ingin mengutip sajak “Soempah WTS” yang dijadikan judul kumpulan puisi tersebut.

SOEMPAH WTS

satu
kami
bangsa
tempe
bersurga
satu
surga
dunia
dua
kami
bangsa
tahu
bergincu
batu
berbantal
pantat
tiga
kami
bangsa
tokek
bertarget
satu
menggaet
tuhan
jadi
langganan

1983

Sumber : SK, 24 Mei 1985

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: