Rahardi Tuntut Ganti Rugi Rp 1,5 Juta Karena WTS Dilarang Bacakan Puisi

22/05/2012 at 14:56 (berita)

JAKARTA : Sejumlah WTS (Wanita Tuna Susila) gagal tampil di panggung TIM untuk membacakan puisi “Sumpah WTS”. Kegagalan tersebut disebabkan karena adanya larangan dari Dr. Toeti Heraty, selaku Ketua Dewan Kesenian Jakarta dalam bentuk surat tertanggal 28 Juli 1984 yang ditujukan kepada penyair F. Rahardi yang sedianya akan tampil bersama WTS yang dikoordinirnya sejak beberapa bulan yang lalu. Sehingga kejutan baru di panggung TIM gagal total dan mengecewakan publik.

Akibat larangan tersebut irama pembacaan sajak Senin malam menjadi tersendat. Apalagi sebelum acara dimulai, tampak sejumlah alat keamanan (Polres 701) dan Koramil Menteng sempat berulah dibalik panggung dengan cara mencatat nama-nama calon pembaca yang berlangsung di Pusat Kesenian Jakarta itu seolah berubah menjadi peristiwa kriminal. Gara-gara ini agaknya memprihatinkan sejumlah seniman kreatif.

Ketua DKJ sekarang menurut pelukis Hardi sudah pada latah. Lagaknya sudah ikut-ikutan pejabat yang suka melarang ini dan itu.

Tindakan Dr. Toeti Heraty dalam hubungan ini sangat disayangkan. Karena sebagai pengayom justru banyak mensuport seniman yang berada di bawah, tetapi justru malah memenggal leher seniman.

Surat larangan yang datang dari Ketua DKJ malam itu sempat dibacakan oleh penyakir Rahardi di depan publik yang memenuhi Teater Tertutup.

Berbarengan dengan itu Rahardi sempat pula membacakan surat balasan yang ditujukan kepada Ketua DKJ yang intinya menolak surat larangan yang datangnya secara mendadak dan tidak bijak.

“Saya merasa dirugikan”, ucap Rahardi, karena dalam mempersiapkan acara ini, saya telah melakukannya dengan prosedur yang syah, tetapi tiba-tiba harus digagalkan. Padahal saya telah banyak mengeluarkan tenaga, fikiran dan juga uang sebanyak Rp 1,5 juta lebih.

Itikad baik menghubungi para WTS di tempat lokalisasi mereka seperti di Kramat Tunggak, Boker dan Tanah Abang Bongkaran itu bukan pekerjaan yang gampang. Apalagi melatih mereka membaca puisi dan mereka pun menuntut honor yang sudah terlanjur saya serahkan sebanyak Rp 563 ribu, kepada lima WTS.

Oleh sebab itu, tutur Rahardi, sebagai ganti rugi untuk beban moral yang saya derita, saya menuntut ganti rugi kepada Ketua DKJ sebesar Rp 1,5 juta.

Sementara itu sastrawan terkemuka HB. Jassin yang hadir pada acara tersebut mengomentari bahwa tindakan larangan oleh Dr, Toeti Heraty sangat disesalkan dan sebagai suatu hal yang tidak terpuji.

Seharusnya, kata Jassin seorang Toety harus lebih bersikap dewasa, sebagai landasan untuk mendewasakan publik TIM. Karena justru dengan adanya Pusat Kesenian Jakarta TIM, inilah masyarakat diharapkan akan dapat memperoleh hikmah dan sanggup membudayakan masyarakat luas lewat pergelaran kesenian yang belum tentu buruk tetapi sudah dicurigai. Ironis jadinya. (Buana/Tjok)

Sumber : Pusat Dokumentasi Sastra HB. Jassin/Berita Buana, Rabu 1 Agustus 1984.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: