Sajak-sajak F. Rahardi Mengundang Kontroversi

28/05/2012 at 15:24 (berita)

Mencuat kesederhanaan yang khas pada visi F. Rahardi dalam memandang kehidupan, pergolakan-pergolakan manusia, dan kesemestaan. Bahkan kegaiban keilahian pun, baginya, bisa sangat kasat mata, dan mengalami desakralisasi. Hilang suasana magis-mistis, kepekaan kontemplatif yang merumit.

Tegas sekali F. Rahardi mencanangkan visinya. Menulis puisi, baginya, sama halnya dengan berkomunikasi dengan sesamanya. Pengalaman puitik yang diraihnya pun tak muluk-muluk, lantaran dapat ditangkap siapa saja, kapan saja, di mana saja. Dalam memandang kehidupan, dia terkesan santai. Layak bila puisi-puisinya yang terkumpul dalam Catatan Harian Seorang Koruptor, Silsilah Garong dan Tuyul menampakkan kesederhanaan, kesantaian, dan kenaifan bahasa puitik yang komunikatif.

Dalam pengamatan saya, F. Rahardi menjadi kontroversial lantaran kesederhanaannya dalam menangkap kehidupan, dan membebaskannya lewat puisi yang mudah dipahami. Menulis puisi bukanlah merupakan sesuatu yang dahsyat, atau semulia empu yang mesti bertapa, melainkan sebagai proses kreatif yang benar-benar manusiawi.

Dengan memanfaatkan ragam bahasa percakapan keseharian, F. Rahardi menyajikan puisi-puisi yang bisa bicara segala hal. Sudah semestinya kita menduga, penggunaan bahasa keseharian yang encer itu sengaja diciptakan untuk mencapai pemahaman orang banyak. Lebih jauh, pemakaian bahasa keseharian itu telah membentuk arus kesadaran penciptaan puisi-puisinya, sebagai keseimbangan substansi tema yang diangkat dari sentuhan realitas keseharian.

Harus diakui, puisi-puisi F. Rahardi terasa komunikatif, gampang ditangkap maknanya, lantaran berbicara secara langsung kepada pembacanya. Kesadaran akan pergeseran persoalan zaman yang kian merumit belakangan ini telah membangkitkan obsesi F. Rahardi untuk mengembangkan tema-tema puisi yang digarapnya. Dia berbicara tentang persoalan kehidupan secara santai, dan memberikan sentuhan humor di dalamnya.

Kenaifan

Dapat dikatakan, kreativitas F. Rahardi mengisyaratkan pada pembebasan terhadap mitos agung penciptaan puisi-puisi Chairil Anwar. Sebutlah, F. Rahardi sengaja melahirkan kontra mitos terhadap sikap dan visi kepenyairan si penyair binatang jalang. Di tangannya, puisi tak lebih cuma perpanjangan sastra lisan yang mentradisi, senapas dengan obrolan di warung, di gardu ronda, atau di saat nongkrong di mulut gang : bisa bicara apa saja, dengan bahasa keseharian, dan mencipta suasana kekonyolan yang akrab dan menggelitik.

Selaras benar bila F. Rahardi mengakui bahwa puisi itu bukan seni yang muluk-muluk, apalagi agung. Lalu, puisi pun senilai dengan kacang goreng dan topeng monyet. Orang boleh makan, nonton lalu melupakan.

Rupanya ia cenderung menampakkan persoalan keseharian yang memberangus nurani manusia; dan puisi-puisinya telah mengapungkannya tanpa memihak. Dia bisa bicara segala persoalan yang melibatkan manusia sekitarnya, seperti penuturan seorang bocah tak mengenal dosa, naif, polos, dan sesekali menikamkan kritik.

Puisi-puisinya lebih bersifat prosais dan bahkan terkesan berseloroh. Dia memiliki sudut pandang yang lain ketika menangkap realitas dan distorsi perilaku sosial budaya manusia. Ada kesan puisi-puisinya menjadi kenes, tetapi keterlibatannya dengan persoalan kehidupan menawarkan kegelisahan kita yang kian terasa menyesakkan.

Lewat puisi-puisinya, F. Rahardi bisa bicara apa saja : sesuatu peristiwa yang melibatkan kehidupan masyarakat luas; atau sesuatu peristiwa yang sangat personal; bahkan tentang krisis spiritual manusia. Ia terkesan ingin memudarkan kepekatan puisi yang biasanya sarat metafor dan simbol, dengan bahasa yang polos, dengan kekuatan sentilan-sentilan nakal. Dalam puisi-puisi yang mengungkapkan masalah personal manusia, dia masih menyusupkan gurauan-gurauan yang seringkali mengapungkan tokoh antagonis dalam masyarakat tanpa menghakimi. Eksistensi maling atau pelacur dalam puisi-puisinya bukanlah sosok manusia yang diadili atau layak memperoleh penghukuman, tetapi ditempatkan sebagai suatu bagian komunitas kehidupan yang memiliki pranatanya sendiri.

Betapapun F. Rahardi telah mengemas kehidupan dengan banyolan nakal, tapi kehendaknya untuk memberikan suatu gambaran kenyataan secara gamblang sebagaimana prosa, telah mengantarkan penjelasan makna-makna yang ingin dicapainya. Tak ada lagi penafsiran-penafsiran yang membuka pemahaman multidimensi. Rasanya dia telah mengambil peran terlalu banyak untuk menjadi juru bicara realitas yang mengepung di sekelilingnya.

Dunia Makna

Titik balik penciptaan puisi-puisi F. Rahardi telah melawan arus kesadaran penciptaan puisi pada masa-masa sebelumnya, terutama pada keagungan vitalitas daya cipta Chairil Anwar. Dapatkah ini dipandang sebagai kemerosotan? Dan karenanya, perlu dikembalikan lagi ke proses penciptaan puisi sebagai dunia makna?

Keagungan puisi, tentu bukan dipatokkan dari kesederhanaan pengalaman puitik penyairnya, kecairan bahasanya, dan keterlibatan yang nyinyir terhadap zamannya semata-mata. Diperlukan pula kemurnian bentuk dan pemikiran, kekhasan gaya ucap, dan keorisionalan.

Meskipun akhirnya puisi lahir dalam bahasa prosa, suasana naratif, dan bersentuhan langsung dengan batin pembacanya, tetapi toh tidak jatuh sebagai karya yang terkesan vulgar. Ingat puisi-puisi Rendra, Goenawan Mohamad, Subagio Satrowardoyo, dan Emha Ainun Nadjib? Terasa sekali bahasa prosa yang digunakan dan suasana naratif yang dibangun tidak memerosotkan puisi sebagai karya murahan. Malah sebaliknya, bahasa prosa dan suasana naratif itu membangun dunia makna yang tak habis sekali baca.

Berbeda halnya dengan puisi-puisi F. Rahardi yang tidak membekaskan makna yang mendalam, dan kering penafsiran. Usai membaca puisi-puisinya, kurang terusik batin dan kesadaran kita untuk memaknainya. Akan mudah bagi kita meninggalkan dan melupakannya. Hampir mirip obrolan di warung yang enak dan hangat, tetapi segera dilupakan setelah beralih suasana.

Layaknya puisi-puisi yang baik memang tak terlewat begitu saja dari kesan pemahaman pembacanya. Sekalipun memanfaatkan bahasa keseharian dan disisipi banyolan, puisi yang baik akan membentuk dunia baru yang sarat perenungan. Tak mudah terhapus dari kedalaman batin kita.

Eksistensi seorang penyair tentu bukan ditandai dengan kelugasannya semata. Namun, lebih mendasar lagi, adakah kreativitasnya sanggup melahirkan karya yang dapat mengatasi pergeseran masa?

Seyogianya, kita kini mengembalikan puisi sebagai dunia makna. (S. Prasetyo Utomo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: