Kebosanan yang Asyik dari Hemingway

04/06/2012 at 14:06 (berita)

F. Rahardi

Laki-laki ayah dari tiga anak, kecil, berkacamata itu berkesan pendiam. Rambutnya yang nyeniman, membuat siapa pun akan menduganya masih bujangan. Tentu saja, ketika hal itu disampaikan, dia tertawa (senang), sambil berkomentar, ‘Awet muda, ya?’

Mas Rahardi, begitu biasanya dia dipanggil, memang seniman. Lahir 10 Juni 1950 di Ambarawa. Kelas dua SMA ia keluar, lalu jadi guru SD di Kendal, Jawa Tengah tahun 1967. Dan mulai menulis sajak. Tahun 1974 keluar dari pegawai negeri, lalu ke Jakarta. Tulisannya mulai dimuat di media massa. Tahun 1977 menjadi wartawan Majalah Pertanian Trubus, dan sekarang sudah menjabat wakil pemimpin redaksi di majalah tersebut.

Tahun 1983 terbit kumpulan sajaknya yang pertama, Sumpah WTS. Setahun kemudian ia merencanakan mengajak para WTS membaca sajak di Taman Ismail Marzuki (TIM), tapi dilarang oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Setahun kemudian, kumpulan sajaknya yang kedua, Catatan Harian Sang Koruptor, terbit. Setahun kemudian, pembacaan sajaknya di TIM dilarang oleh yang berwajib. Tahun ini, 1990, dua kumpulan sajaknya, Silsilah Garong dan Tuyul, terbit. Ketika ditanya mengapa ia memilih judul-judul seperti itu untuk kumpulan sajaknya? “Biar laku di pasar!” jawabnya sambil tersenyum.

Tapi buru-buru ia membuat nota bene untuk pertanyaannya, bahwa dunia puisi itu aneh. “Yang senang baca puisi itu banyak tapi buku puisi nggak laku. Lihat saja Rendra. Bukunya, laku? Tapi coba kalau dia baca sajak, yang nonton penuhnya bukan main!” katanya, seraya menghisap cerutunya dalam-dalam.

Karena jabatan, di samping buku sastra dan budaya, buku pertanian juga menjadi salah satu buku yang harus dibacanya. Dan The Old Man and Sea karya Ernest Hemingway yang diterjemahkan Sapardi Djoko Damono dengan judul Lelaki Tua dan Laut disebut Rahardi sebagai salah satu buku bagus yang pernah dibacanya. “Buku itu dengan sangat bagus mengungkapkan kebosanan. Dua hal yang membuat buku itu menjadi bagus. Pertama, karena persoalan yang digarap memang sedang in, sehingga masyarakat lebih tanggap dan terbantu memahami sajian si pengarang.  Kedua, yang digarap hal yang istimewa, bahkan sangat sehari-hari, tapi mampu menggugah kesadaran”, katanya. (Yn/tm) ***

Sumber : Berita Buku No. 23, 1990

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: