Sumpah WTS, F. Rahardi dan Bayangan Sutardji

04/06/2012 at 14:18 (berita)

Oleh : Endang K. Sobirin

Kedengarannya agak aneh juga, kalau seorang penyair minta segera diadakan konperensi pers, sehubungan dengan diterbitkan kumpulan sajaknya? tapi ini hampir nyata. Seolah dia percaya betul bahwa dengan konperensi pers, statusnya sebagai penyair diakui publik. Itulah ulah F. Rahardi. Untunglah, Hamsad Rangkuti yang bertindak atas nama penerbit Puisi Indonesia tidak segera meluluskan permintaan itu. Walhasil, niat itupun gagal.

Bulan depan, usia F. Rahardi 34 tahun. Tepat 20 tahun pernah jadi kepala Sekolah Dasar disebuah desa Perbatasan Kabupaten Kendal dengan kabupaten Temanggung. Empat tahun kemudian, jabatan itu dilepaskan karena tak cocok menjadi pegawai negeri dan kini menjadi redaktur di sebuah majalah bukan sastra, tapi pertanian!

Sejak masih tinggal di pelosok desa, F. Rahardi sudah sering mengirimkan tulisannya ke berbagai media ibukota, termasuk majalah sastra Horison, Semangat dan Basis. Tahun ’80 pernah ada kumpulan puisinya yang sudah di ACC untuk diterbitkan, tapi malang ikut terjual bersama tumpukan koran bekas ketika resesi.

Dengan begitu Soempah WTS merupakan kumpulannya yang pertama yang “selamat” diterbitkan, memuat 40 buah sajak dengan berbagai tema, kata dan permasalahannya, namun masih tetap dalam satu jalur warna (bayangan) “penyair bir” Sutardji Calsum Bachri.

Empat puluh kumpulan puisi yang dibukukan karya F. Rahardi (selanjutnya disebut FR), apa yang dijadikan dasarnya untuk berpijak, nampaknya hampa dan kering. Protes, pamplet atau sanjungan, entah kepada siapa dan untuk siapa tak menemukan arahnya.

Kebebasan menggunakan kata yang tanpa arti, nampaknya sudah didahului oleh Sutardji, kalau tidak mau disebut sebagai epigon Sutardji. Kebebasan memaki pun agaknya bukan suara baru dalam sebuah sajak karena sudah didahului Rendra. Kebebasannya untuk meletakkan setiap suku kata pada kertas, merupakan ciri khas Sutardji, jadi kebebasan apa yang dihayalkan oleh FR? Nampaknya kehilangan identitas.

Keterlibatan binatang kadal, kuda, babi, monyet, anjing, tokek, kerbau, kambing, unta, tikus, burung, ikan, kebiri dan bangsa, dalam puisinya merupakan pertanda ingin diakuinya sebagai orang yang mengerti betul tentang sifat-sifat binatang. Tetapi kaitannya dengan suku kata yang lain, binatang yang ditulis FR nampaknya sekedar ingin mengumumkan kebebasannya dalam berkarya, ambil contoh : Impian satwa

mimpiku kuning
kata babi pada unta
mimpiku biru, selalu biru kata kera
terbata-bata
mimpiku seram, kata kadal
mimpiku selalu hot
aku selalu ketemu dia, kata kuda

Perumpamaan babi berkata dengan unta, secara logika tidak bisa dibenarkan. Di satu pihak babi hidup pada tanah becek dan kubangan, sementara unta senantiasa ada di padang pasir. Namun babi yang identik dengan kekafiran sedang unta menjadi perlambang Islam, pun tidak akan pernah terjadi. Seorang yang berbeda jenis dan sifatnya membicarakan mimpi pada orang lain juga berbeda ideologinya. Meski kemungkinan itu bisa saja terjadi, tetapi dalam sebuah puisi?

Rangkaian ini bukan lagi samar tapi sudah berbentuk absurd.

Penulisan kata cabul, seperti : pantat, anumu, kencing, berak, tai, haram-jadah, bunting dan beberapa lagi, pun ingin membuktikan bahwa penyair punya kebebasan dalam menuliskan kata-kata kotor.

Ini malah aib yang justru tanpa disadari oleh FR, di satu pihak orang bersuara dan tekad keras meng-Indonesiakan seluruh sektor termasuk bahasa, dipihak lain sebagai (yang ngaku) penyair malah memutar balikkan kata dari kaidah bahasa Indonesia yang baik. Lantas berbahasa Indonesia yang baik itu tanggungjawab siapa? Bayangkan, kalau penyair sudah mulai memporak-porandakannya.

Dalam rangkaian sajak itupun terdapat pengejawantahan kata-kata gaib yang mempersonifikasikan Tuhan, surga, neraka, dan beberapa lagi. Ini masalah lebih ekstrim, seolah FR mau mencari dasar berpijak ke wilayah edar kekuasaan Tuhan yang lain. Hebatnya, Tuhan yang diakuinya sebagai asal dari segala dan akan kembali padaNya jua. Tuhan juga disebut sebagai “langganan” WTS dan dipersonifikasikan sebagai sesuatu yang bisa disebut, ambil contoh pada Soempah WTS :

satu
kami
bangsa
tempe
bersurga
satu
surga
dunia

dua
kami
bangsa
tahu
bergincu
batu
berbantal
pantat

tiga
kami
bangsa
tokek
bertarget
satu
menggaet
tuhan
jadi
langganan

Tragis, kalau Tuhan sudah dijadikan langganan WTS. Apalagi kalau FR masih kebingungan dan bertanya tentang kehamilan Santa Maria :

santa
maria
bundo
kandung
engkau mengandung
padahal
tak ada
laki-laki
yang babi
tak ada
sapi, kerbau
yang marmut
tikus terbius
kambing digiring
tak ada
cacing
tak ada maling
kenapa kau bunting?

Ada kecenderungan dari kreatifitas seorang penyair, melahirkan sebuah kata baru yang kemudian bisa dijadikan kata baku. Bahkan penyair pun bisa menjadi penemu-penemu kata baru yang indah untuk memperkaya khasanah perbahasaan yang sedang berkembang ini, sehingga tidak menutup kemungkinan untuk menerima dari berbagai sektor, termasuk dari penyair.

Kata-kata yang dijadikan ungkapan spontan oleh FR, merupakan kata dan ungkapan usang yang sudah terbiasa dan malah menjadi alergi bila diletakkan di atas dasar kaidah bahasa. Lantas pencarian apa pula yang sedang dilakukan oleh FR?

Untuk melahirkan seorang penyair berwawasan estetik luas dan dalam, membutuhkan waktu yang lama dan panjang. Sejak Chairil Anwar yang dinobatkan sebagai angkatan ’45 oleh HB Jassin, baru Sutardji yang dianggap sejajar dengannya, itu ditemukan sekitar tahun delapan puluhan.

Dengan bukti ini, seorang bisa saja dikatakan sejajar dengan Chairil Anwar atau Sutardji, namun selama Sutardji masih berkarya dan masih diakui, pengikut atau penyair bayangan itupun tak akan pernah diperhitungkan oleh orang lain. Betapapun, sebagai pengekor seorang penyair belum menemukan ke-jatidiri-annya. Hal ini harus disadari oleh FR, bahwa penemuan pribadi yang individualis tidak mungkin didapat dengan cara mengekor keberhasilan orang lain. ***

Sumber : Merdeka

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: