“Koruptor” Dilarang Dibacakan di TIM

11/06/2012 at 15:56 (berita)

Jakarta, 22 Januari

Pembacaan sajak “Catatan Harian Sang Koruptor” oleh F. Rahardi, yang sedianya akan dilangsungkan hari Rabu malam ini di TIM, Jakarta, dibatalkan pihak yang berwajib. Pembatalan acara ini diterima panitia penyelenggara hari Selasa, sekitar jam 14.00 WIB, dan selanjutnya disampaikan kepada F. Rahardi, penyairnya.

F. Rahardi (36 tahun), ketika dihubungi “SH” Rabu pagi di Jakarta, menyatakan keprihatinannya atas pembatalan tersebut. Dia sendiri menganggap bahwa seluruh sajak yang hendak dibacakannya malam ini, tidak perlu dicurigai. “Kalau saya tidak merasa rugi. Yang dirugikan dalam hal ini terutama publik sastra. Termasuk masyarakat yang telah membeli tiket pertunjukan”, katanya.

Ditanya sampai kapan masa pembatalan, penyair ini menjawab “tidak tahu”. Sebab alasan pembatalan baca sajak itu juga tidak jelas sepenuhnya. Dia hanya mendapat laporan dari Hardi, salah seorang penyelenggara acara, yang menyebutkan bahwa acara pembacaan sajak “Catatan Harian Sang Koruptor” dibatalkan.

Sementara pihak yang berwajib, sebagaimana dikutip Rahardi, mengatakan, sajak-sajak tersebut sensitif terhadap kehidupan beragama. Tetapi Rahardi menjelaskan, sejumlah sajaknya itu sudah pernah dibacakan dalam acara Cakrawala Puisi 11 November 1985 lalu, juga di TIM, serta dihadiri beberapa teolog.

“Landasan estetik saya dalam sajak-sajak itu adalah bercanda. Sebagaimana dalam kebudayaan Jawa, saya menstimulir kehidupan punakawan, yang sering berpura-pura jadi raksasa, jadi penggede, atau juga jadi rakyat jelata. Dan si penyair di sini berperan sebagai koruptor, yang mengangkangi Tuhan-nya”, jelas F. Rahardi putra seorang penjahit dari Ambarawa, Jawa Tengah, mengomentari isi sajaknya.

Dengan pembatalan kali ini, berarti penyair yang satu ini sudah dua kali mendapat larangan berpentas. Yang pertama tahun 1983, ketika hendak mengusung sejumlah WTS (Wanita Tuna Susila) dalam pembacaan sajaknya berjudul “Soempah WTS”, di TIM. Pihak yang melarang kala itu adalah Ketua DKJ. Dan ia pun mengambil anak-anak Wanita dari Teater Adinda menggantikan peranan WTS yang dilarang.

Seperti disaksikan “SH” Selasa malam, sejumlah poster pembacaan sajak “Catatan Harian Sang Koruptor” di TIM telah ditempel dengan pemberitahuan pelarangan yang ditandatangani Humas TIM. Bagi masyarakat yang telah sempat membeli tiket pertunjukan, panitia bersedia mengembalikan uang pembelian. (TH/H-4)

Sumber : Dokumentasi Sastra HB. Jassin

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: