Pelarangan di Dua Kota

11/06/2012 at 15:49 (berita)

Kembali terjadi pelarangan pihak keamanan terhadap acara kesenian : satu di TIM, Jakarta, yang lain di Asdrafi, Yogya. Berbagai alasan tentang sebabnya dan pendapat orang-orang luar.

Dua acara kesenian batal di dua kota hari Rabu pekan silam. Di Jakarta Penyair F. Rahardi, 36, urung membacakan sajak-sajaknya di Taman Ismail Marzuki, sedang di kompleks Asdrafi (Akademi Seni Drama dan Film) Yogyakarta, Hari Pramuji, 25, gagal membacakan cerita pendek Langit Makin Mendung Ki Panji Kusmin dan Pemilihan Umum Harris Effendi Tahar. Bagi Rahardi pelarangan yang dialaminya itu bukan hal baru : di tahun 1984 acaranya di tempat yang sama  juga hampir batal – oleh niatnya membawa para pelacur ke TIM, yang tidak disetujui Dewan Kesenian Jakarta. Waktu itu sajak-sajak yang dibacakannya memang berjudul Soempah WTS.

Pekan silam, Rahardi seharusnya tampil dengan sajak-sajak dalam berkas berjudul Catatan Harian Sang Koruptor. Tapi pelarangan itu diputuskan yang berwajib bukan karena Rahardi berniat membawa sejumlah koruptor. Melainkan karena, antara lain, karya-karya Rahardi, menurut seorang perwira di Dinas Penerangan Kodam Jakarta, “mengarah pada mempersamakan Tuhan dengan pemerintah RI”. Tampaknya perwira ini membaca sajak berjudul Mosi Tak Percaya yang merupakan petisi para koruptor yang secara imajiner tentu, digambarkan sang penyair sebagai menuntut Tuhan untuk mengundurkan diri dari singgasananya “secara terhormat dan kesatria, sebelum khalayak ramai mendongkelnya beramai-ramai”.

Di kantor Laksusda Jakarta, wartawan Tempo Agus Bsri mendapat cerita lain. Seorang perwira menjelaskan bahwa sebenarnya yang terjadi bukan pelarangan, tapi penundaan. Soalnya, kumpulan sajak yang akan dibacakan itu mencapai kantor Laksusda cuma sehari sebelum acara TIM, dan para pejabat keamanan tidak lagi punya waktu untuk menanyai Rahardi. Kata perwira yang enggan disebutkan namanya itu. “Sebentar lagi Rahardi akan kami panggil untuk dimintai keterangan”.

Dan Togi, pejabat Hubungan Masyarakat TIM, di kantor Polda Metro Jaya mendapat keterangan : Laksusda menganggap sajak-sajak F. Rahardi “tidak berketuhanan”. Lalu, meski tidak sekeras Laksus, Pastor Drs. J. Hadiwikarta, 43, secara pribadi juga gusar dengan sajak-sajak Rahardi. Pejabat penting di kantor Majelis Wali Gereja Indonesia (MAWI) ini mengaku sangat tersinggung karena, misalnya, Rahardi menyebut Kristus “homoseks” dan “disundut pantatnya”. Namun, katanya, “Tapi mungkin dia itu tidak bermaksud menghina”.

Ternyata, Rahardi memang tidak bermaksud menghina – menurut pengakuannya kepada A. Luqman dari Tempo. Yang konon ingin dilakukan penyair yang beragama Katolik dan beranak tiga ini ialah mengubah gambaran tentang Tuhan yang kini dominan terutama di kalangan anak muda. Katanya, “Selama ini saya melihat konsepsi tentang Tuhan itu bagi anak muda terlalu dipaksakan, jadi tidak cocok lagi. Misalnya Tuhan selalu dianggap sakral, dipuja. Kita harus merevisi, meski tidak secara total. Sehingga kelihatan Tuhan itu akrab”.

Yang menarik, sajak-sajak yang dilarang itu sudah pernah sempat dibacakan di TIM tahun silam, dan … tidak dilarang Laksus. Tentu, itu karena publikasinya tidak sehebat yang sekarang. Menurut Abdul Hadi W.M., penyair dan pejabat kesenian di DKJ, judul kumpulan sajak itu memang mudah memancing perhatian pihak keamanan. Tapi, sebagaimana umumnya seniman, Abdul Hadi W.M. sangat tidak setuju pelarangan. “Serahkan saja kepada masyarakat, dan biarkan kritikus sastra mengarahkan masyarakat”.

Lain pula W.S. Rendra. Meski memuji bakat Rahardi, seniman yang baru diizinkan muncul kembali ini terus terang menolak penggambaran Tuhan dalam sajak-sajaknya. Kata penyair ini, “Saya tidak setuju puisi-puisinya yang menggambarkan Tuhan seenaknya. Di mana pun penggambaran tentang Tuhan yang seperti itu pasti ditolak”.

H.B. Jassin ternyata berbeda pendapat. Menurut Jassin, gambaran tentang Tuhan dalam sajak-sajak itu bukan gambaran Tuhan dalam diri penyair, melainkan dalam benak sang koruptor. Jassin menyayangkan pelarangan Laksus, sebab sebenarnya yang harus jadi sasaran ialah para koruptor. Bahkan Jassin cenderung berterimakasih kepada penyair yang lewat sajak-sajaknya mempelihatkan kepada kita cara berpikir para koruptor. Nah, “Kalau mau marah, marah sama koruptor, jangan sama penyairnya,” katanya. Lagi pula, di Indonesia ini, menurut Jassin, belum ada pertunjukan kesenian yang menyulut huru-hara. “Di Indonesia ini para pengarang tidak mengajak berontak. Mereka itu hanya sampai pada pelukisan secara artistik,” kata tokoh yang pernah mendapat hukuman percobaan dua tahun akibat keputusannya memuat cerita Ki Panji Kusmin di majalah Sastra yang dipimpinnya.

Ternyata, cerita Langit Makin Mendung itu masih tetap melahirkan cerita hampir 20 tahun kemudian. Di Yogyakarta, karena adanya dua cerita yang menurut rencana akan dibacakan, maka kurang jelas penilaian polisi terhadap Langit Makin Mendung di samping cerita lainnya. Pemilihan Umum. Tapi bisa diduga, pelarangan terutama didasarkan pada kenyataan bahwa karya pertama itu pernah menjadi heboh. Polisi Yogya sendiri mengemukakan alasan lain, seperti mereka jelaskan kepada Yuyuk Sugarman dari Tempo. Yakni pelarangan itu akibat tidak adanya permohonan izin dari penyelenggara. “Tentang materinya, naskahnya saja tidak dikirimkan ke polisi,” kata seorang perwira yang enggan menyebutkan namanya. Tapi di Semarang, Kepala Penerangan Polisi Jawa Tengah, Mayor Polisi Sriyono, S.H., menjelaskan pelarangan di Yogya itu disebabkan oleh isi cerita “yang bisa menuntun opini negatif”. Tidak dijelaskan cerita yang mana dan opini yang bagaimana. Tapi, kata Mayor Sriyono, “Kami khawatir massa terbakar semangatnya ke tindakan negatif”.

Menurut Sriyono, polisi tidak selalu melarang pementasan. “Asal karya yang dipentaskan tidak tendensius dan bersifat politik”. Kepada Yusro M.S. dari Tempo, perwira ini juga menjelaskan, polisi biasanya berkompromi dengan pihak penyelenggara dengan “mengubah kalimat yang dianggap rawan”. Kalau pihak yang satunya tidak sedia menerima perubahan? “Baca saja karya itu sendiri, di kamar,” katanya. Mayor Sriyono mengimbau para seniman untuk berkorban sedikit untuk ketenteraman dan ketertiban. Yang baik, menurut dia, “Adalah seni untuk masyarakat, bukan seni untuk seni”. Sebab, “Lebih penting ketertiban umum ketimbang popularitas seseorang”. (Salim Said/Laporan Biro Jakarta & Biro Yogya)

Sumber : Majalah Tempo, 1 Februari 1986)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: