Pementasan “Soempah WTS” Gagal : Rahardi Tuntut Ganti Rugi pada DKJ

18/06/2012 at 16:39 (berita)

Jakarta, Rabu

Penyair F. Rahardi merasa dirugikan akibat SK Ketua DKJ Dr. Tuti Herati yang melarang acara Pembacaan Puisi “Sumpah WTS” yang sedianya akan dibacakan oleh WTS-WTS yang telah dikoordinir oleh F. Rahardi. Surat larangan tertanggal 28 Juli 1984 langung dijawab oleh F. Rahardi, yang mengatakan bahwa ia tidak bisa menerima surat itu.

Dikatakan, untuk mengkoordinir sejumlah WTS dari Boker, Bongkaran Tanah Abang dan Kramat Tunggak, F. Rahardi sudah banyak mengeluarkan tenaga dan uang tidak kurang dari Rp 1,5 juta. Karena itu ia akan menuntut ganti rugi kepada Dr. Tuti Herati yang melarangnya secara mendadak.

Larangan itu betul-betul tidak lucu, kata F. Rahardi Senin malam lalu. Karena, seluruh persiapan pembacaan puisi di Taman Ismail Marzuki telah dilakukan dengan melalui prosedur yang syah, dan bahkan telah dipublisir di Surat Kabar. Yang menjadi pertanyaan, menurut para penyair yang juga datang pada malam kemarin, mengapa Dr. Tuti Herati tidak melarangnya jauh-jauh hari sebelumnya. Bahkan, pemuatan acara pada Kalender acara TIM tokh juga diketahui oleh Ketua DKJ itu.

Akibat larangan Dr. Tuti selaku Ketua DKJ kemarin, jalannya acara Pembacaan Puisi menjadi sumbang. Apalagi ketika sebelum acara dimulai, dibelakang panggung terlihat beberapa aparat keamanan berpakaian preman yang bersikap tidak bersahabat dengan menanyai dan mencatat nama-nama para calon pembaca puisi tersebut.

Sastrawan H.B. Yassin yang juga hadir dalam acara tersebut kemarin malam mengomentari bahwa sikap dan tindakan Dr. Tuti Herati sebagai suatu hal yang tidak terpuji.

Dikatakan, bahwa kedewasaan sikap Tuti sebenarnya sangat diperlukan untuk mendewasakan publik TIM. Dengan adanya pusat kesenian Jakarta TIM itulah masyarakat akan banyak memperoleh hikmah yang sanggup membudayakan masyarakat lewat pagelaran-pagelaran yang belum tentu buruk. Tetapi belum apa-apa sudah dicurigai.

Pelukis Hardi, dalam komentarnya mengatakan bahwa Ketua DKJ sekarang sudah mulai latah dan sok melarang. Hardi sangat menyayangkan sikap Tuti itu, karena bukannya mensuport para seniman yang baru mau maju tapi malah memenggalnya. (Muh)

Sumber : Merdeka, 2 Agustus 1984

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: