Puisi Bambu Runcing

18/06/2012 at 16:48 (berita)

Senin tanggal 30 Juli ada acara yang luar biasa di ibukota, kelompok hipokril akan bilang, acara itu keblinger. Sudah gila, rupanya para penyair sekarang. Acara itu menurut rencana akan dihadiri WTS Kramat Tunggak. Temanya sendiri berjudul “Sumpah WTS”.

Jaman puisi kontemporer pada akhir-akhir ini seperti sudah jadi mode. Bahkan lebih dari itu puisi sekarang tidak lebih dari suatu komoditi. Bisa diperjualbelikan. Karena itu nasib para penyair kontemporer cukup lumayan. Artinya tidak terlalu miskin.

Dulu ada penyair yang membacakan puisi-puisinya sambil minum bir. Sekarang menurut rencana lebih gila lagi. WTS Kramat Tunggak, bakal dihadirkan. Banyak para seniman yang bertanya. Apa puisi sekarang memang seperti sudah menjadi WTS?

Tapi ada juga yang berkarya, puisi masa kini banyak yang menjadikan dirinya seperti pelacur. Pendeknya, puisi sekarang bernapaskan pelacuran diri, sementara penyairnya? Orang boleh senang atau tidak. Itu persoalan lain. Mengapa tidak? Bukankah kalau puisi sudah seperti pelacur, bisa dijadikan seperti suatu komoditi yang bisa diperjualbelikan?

Orang sekarang harus pragmatis. Pokoknya dengan puisi, duit bisa diperoleh dengan mudah. Tuduhan mengkomersilkan puisi, hanya merupakan sebutan yang kemungkinan dikeluarkan oleh para seniman mapan saja. Bagaimana, kalau mereka yang baru menjadi penyair?

Mereka harus mulai merangkak dari bawah. Sementara saingan-saingannya sudah jauh menduduki posisi amat tinggi. Mengapa kami tidak boleh melakukan jalan pintas alias potong kompas? Persetan dengan julukan-julukan yang menghinakan. Pendeknya, kami berkeinginan untuk bisa eksis.

Banyak sementara kalangan seniman/penyair yang mencemoohkan ulah sementara penyair kontemporer ini. Untuk apa dia ajukan upacara pembacaan “Sumpah WTS” demi Motivasi apakah yang turut mendorong niatnya? Apa mereka meledek WTS atau sebaliknya, justru menyanjungnya.

Fitrah puisi itu sendiri seperti manusia. Dia merupakan sesuatu yang bisa mengundang banyak tafsiran (polyinterpretable). Dia bisa menjijikkan, memuakkan. Tapi juga mengagumkan. Kok, bisa dipergelarkan upacara “Sumpah WTS” di tengah-tengah derapan pembangunan yang menggebu-gebu seperti sekarang ini.

Secara sinis, niscaya banyak kalangan masyarakat yang menilai pembangunan sekarang inilah yang melahirkannya. Jutaan tangan manusia masih menggapai nikmatnya pembangunan. Sementara itu ada sementara kalangan masyarakat yang tenggelam dengan kenikmatannya.

Boleh saja orang tidak senang dengan semboyan dan slogan. Tapi tidak ada salahnya kalau sementara penyair mengumandangkan puisi bisa mengusir kemiskinan. Dulu kok tidak ada orang yang terkejut, ketika kemerdekaan Republik ini direbut dengan bambu runcing.

Pada masa mutakhir ini memang banyak kalangan masyarakat Indonesia membutuhkan puisi bambu runcing. Siapa tahu, kemiskinan bisa diusir. Untuk itu marilah kita bersumpah bersama WTS.

Soempah WTS
satu
kami
bangsa
tempe
bersurga
satu
surga
dunia

dua
kami
bangsa
tahu
bergincu
batu
berbantal
pantat

tiga
kami
bangsa
tokek
bertarget
satu
menggaet
tuhan
jadi
langganan.

(Bung Yudistira)

Sumber : Dokumentasi Sastra HB. Jassin/Merdeka, Kamis 2 Agustus 1984

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: