“Dulu WTS – Sekarang Sang Koruptor”

02/07/2012 at 14:34 (berita)

Oleh : Tjok Hendro

MASALAH sosial selalu menarik dan apik setelah dikemas secara cerdik, cermat, santai, sedikit nakal menyandang goro-goro sehingga menimbulkan gerrrrr. Pengolahan karya sastra yang diharapkan mencapai efek sastra macam ini sebenarnya sudah lama terjadi ketika Remy Silado muncul dengan sajak-sajak mbelingnya. Tetapi Remy berbeda dengan penyair kita F. Rahardi. Meskipun keduanya punya pengamatan sosial yang sama tetapi memiliki bobot yang berbeda pula.

F. Rahardi, 36 tahun, menyibak dunia sastra lewat permainan kata yang enteng, polos, gampang dicerna, lincah tetapi terasa boros kata. Sebagaimana yang dikemas dalam buku kumpulan puisinya yang pertama “Sumpah WTS” yang secara lisan pula dibawakan dalam acara baca puisi bulan Juli 1984 yang lalu di Taman Ismail Marzuki. Dari sana ia mulai melejit setelah bertarung melawan genggaman Ketua Dewan Kesenian Jakarta periode Tuty Herati yang melarang naik pentas. Hanya karena Rahardi yang realistis itu ingin membuka cakrawala baru bagi suatu kemerdekaan yang dimiliki oleh siapapun di tanah air tercinta. Waktu itu sekitar 3-8 WTS yang sama-sama punya hak apresiasi kesenian dilatih baca puisi, selanjutnya bakal diangkat ke atas panggung. Tetapi ikhwal ini pun urung sebelum para wanita tuna susila itu menunjukkan kebolehan bersastra-sastra karena selembar surat larangan yang ditandatangani penguasa DKJ waktu itu.

Saya bukan mengada-ada, ujar Rahardi yang punya niat baik dalam hal apresiasi sastra yang ditularkan kepada siapa pun orangnya, apa pun profesinya. Apakah mereka tukang catut, direktur, sopir bajaj, babu atau WTS. Karena pada galibnya, kesenian itu milik kita semua. Tak apalah, tak ada rotan akar pun jadi. Juli 1984 ia naik pentas sendirian tanpa didampingi manusia-manusia yang direncanakan bakal tampil bersama di panggung TIM. Penonton luber memenuhi wing kanan dan kiri pentas berukuran 9 x 6 meter. Beberapa tokoh sastra seperti HB Jassin tampak hadir. Kadang-kadang Jassin yang disebut sebagai Paus Sastra manggut-manggut, sesekali tertawa terkekeh-kekeh menangkap bait-bait puisi Rahardi yang nakal tetapi juga jenaka. Apalagi ditambah aksen Rahardi yang Jawa medok, melengkapi seluruh penampilannya di dalam acara baca puisi “Sumpah WTS”.

Laki-laki kurus rambut gondrong berkaca mata itu sampai dengan umur 24 tahun tinggal di kampungnya yang sunyi, di sebuah perbukitan beriklim sedang, Ambarawa Jawa Tengah. Sebagai anak tukang jahit pakaian, F. Rahardi yang pernah bekerja sebagai guru Sekolah Dasar di Kendal sudah merasa tergoda oleh ulah orang yang melakukan korupsi.

Apalagi ketika ia pertama kali menjejakkan kakinya di kota Jakarta yang keras. Diamatinya kota dan para penghuninya yang juga semakin menarik perhatiannya. Di kota besar ini ia mengamati secara serius terhadap tindakan orang-orang yang suka korupsi. Bahkan di kantornya, di lingkungan redaksi Majalah Trubus tempat ia bekerja sekarang, dan di kantor-kantor orang lain ada juga yang melakukan tindak yang kurang terpuji itu. Dari pengamatannya itulah, Rahardi mencoba menuangkannya dalam bentuk karya sastra tapi selalu mengalami kegagalan. Salah satu sebabnya menurut Rahardi adalah mungkin karena ia belum berhasil mengambil jarak dengan masalah tersebut. Baru setelah diendapkan selama hampir dua tahun, masalah tersebut bisa dituangkan dalam bentuknya, sebagai sebuah kumpulan sajak berjudul “Catatan Harian Sang Koruptor”. Diterbitkan oleh Pustaka Sastra sebagai buku sastra kedua setelah sebelumnya di tahun 1983 berhasil menerbitkan kumpulan puisi “Sumpah WTS”. Sebuah kumpulan yang orientasinya di tengah manusia kelas singkong daerah Kramat Tunggak, Bongkaran Tanah Abang, Boker dan sekitarnya.

Konon menurut pengakuannya, laki-laki yang sekarang menyandang sebagai penyair itu sudah mulai meminati sastra sejak masih duduk di bangku SD. Kemudian minat dan bakatnya di kubangan sastra menjadi lebih berkembang ketika karya-karya sastranya banyak dimuat pada berbagai media massa cetak, seperti di majalah Semangat dan Basis Yogyakarta, dan juga majalah sastra Horison Jakarta. Sajak, cerpen, fiksi dan artikel-artikel lain menjadi bagian hidupnya sampai sekarang, bahkan lebih berkembang tulisannya gara-gara ia duduk sebagai redaktur majalah Trubus. Di sana ia bukan saja menggarap hal-hal yang berbau sastra melainkan pada dunia flora, dari kecambah sampai jambu mede.

Seniman kita ada yang bermental korup

Kekesalan hati Rahardi ternyata bukan saja tertuju kepada orang-orang tertentu yang suka bikin aib, misalnya korupsi, dan lain-lain. Konon menurut pengakuannya, di lingkungan seniman sendiri terjadi korupsi. Pengalaman membuktikan ketika ia menyodorkan hasil karyanya berupa kumpulan puisi “Catatan Harian Sang Koruptor” dalam bentuk ketikan, maka beberapa seniman itu malah cuma menasihati agar puisinya itu diserahkan ke Pusat Dokumentasi HB. Jassin, dan pada suatu saat diterbitkan setelah direvisi secara besar-besaran. Mendengar nasihat beberapa seniman tersebut jadi kheki banget, ujar Rahardi. Rupanya, ujarnya pula, di kalangan seniman ternyata ada yang bermental korup. Karena mau menyunat bait-bait puisi yang menurut hematnya terlalu kurangajar. Namun berkat kegigihannya, pada akhirnya kumpulan puisi “Catatan Harian Sang Koruptor”, alkhamdullillah terbit.

Sebagai usaha pertanggungjawaban terhadap kesenimanannya, Rahardi siap naik pentas untuk membacakan karya puisinya “Catatan Harian Sang Koruptor”. Acara tersebut akan berlangsung hari Rabu, tanggal 22 Januari 1986, bertempat di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki. Ia akan tampil selama 2 jam secara nonstop membacakan puisi-puisinya yang antara lain berjudul : Di balik Jeruji Besi, Pledoi di Meja Hijau, Perex Ancol, Sepuluh Nasihat Buat Kadal, Abang Becak, Natal di Ethiopia, dan lain-lain. Selain itu ada dua puisi baru lainnya yang belum dipublisir yang juga akan dibaca di depan penggemar sastra. Dua puisi tersebut adalah berjudul “Matahari”, “Orang dan Sol Sepatu”, serta “Sajak Jimat”. ***

Sumber : Dok. HB. Jassin/Berita Buana, 21 Januari 1986

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: