Memahami Puisi F. Rahardi

02/07/2012 at 14:25 (berita)

Oleh Eka Budianta

UNTUK sementara ini, Rahardi adalah penyair Indonesia yang kurang dipahami dan dihargai. Itu terbukti dari sedikit sekali resensi atas karya-karyanya, selain larangan terhadap pembacaan sajaknya. Jarang penyair dan kritikus mapan bicara tentang sajaknya. Prof. Dr. Toeti Heraty, misalnya, lebih pandai mencegah Rahardi agar tidak tampil di Taman Ismail Marzuki, daripada menjelaskan apa salahnya.

Ketika itu (1984) ia ingin menampilkan sejumlah wanita tuna susila (ini istilah masyarakat, bukan sastra), untuk membacakan Soempah WTS. Rupanya dengan sajak dolanannya Rahardi ingin main-main.

Bagi orang yang fanatik, dunia main-main yang demikian memang bisa menyakitkan. Tetapi Rahardi adalah pribadi yang bebas. Ia burung yang leluasa. Boleh berkicau sepuas hatinya, sebebas lidahnya. Apakah kita perlu menembak burung yang kicaunya menyakitkan telinga?  Apakah semua burung harus berkicau merdu dan sesuai dengan selera kita?

Pertanyaan seperti ini tidak perlu seandainya masyarakat kita bersifat terbuka. Tetapi karena seringkali ada budaya sensor, kita seperti wajib mempertanyakan. Dan inilah yang membuat sajak-sajak Rahardi seringkali bagaikan tamu yang tak dibukakan pintu, apalagi dipersilahkan masuk ke dalam perbincangan sastra Indonesia dasawarsa 80-an.

Kritikus sulit mengutip, apalagi mengupas bait-bait seperti :
Seorang menteri menganggap bahwa
banjir besar
yang menghanyutkan warung bakso,
jembatan gantung
serta menenggelamkan pos kamling
dan SD Inpres itu
sebenarnya sudah tidak murni lagi
(“Dalang”, dalam Tuyul, halaman 68)

Puitis

Alasan apa yang dapat kita pakai untuk mengatakan bahwa bait sajak itu puitis? Kata-katanya sangat dekat dengan bumi. Semua teraba dan konkret, kecuali satu ajektif, yaitu “murni”. Lainnya : menteri, banjir besar, warung bakso, jembatan gantung, pos kamling, dan SD Inpres, gampang dicari, dilihat atau dibayangkan.

Sama bagusnya bila kita pakai kata-kata benda lain semacam rembulan, laut, angin, mutiara, matahari, dan pohon cemara. Apakah karena sifat benda-benda yang disebutnya tidak secantik embun dan bulu angsa, maka sajaknya juga kurang terasa manis? Atau apakah konsumen perpuisian Indonesia belum siap mencerna loncatan pikiran semacam “menteri besar menganggap” ada “banjir yang tidak murni lagi”?

Jawabnya terpulang pada kita semua. Ketika Chairil Anwar menulis  “ada dahan di tingkap merapuh, dipukul angin yang terpendam” orang awam juga tidak serta merta menerima idiom demikian. Tetapi karena bahan baku frasa tersebut terdiri atas kata-kata yang dianggap “puitis” seperti : dahan, tingkap, merapuh, dipukul angin, terpendam, maka perlahan-lahan bangsa kita mudah mencerna dan menikmatinya.

Untuk menikmati sajak-sajak Rahardi kita perlu bebas dari konvensi kenikmatan masing-masing. Keleluasaan sastrawan kita dalam menggunakan kata-kata, selama ini terbatas pada kata-kata yang konon dianggap indah oleh masyarakat. Dan itu sesuai dengan keyakinan yang timbul dari kata “susastra” itu sendiri, yakni “tulisan bagus”.

Tetapi apakah bagus? Kita menamai Rendra “Burung merak”, kritikus di Kompas menyebut Eka Budianta “macan kumbang dalam perpuisian Indonesia”, dan Sutradji Calzoum Bachri “presiden penyair”. Para pendahulu pun mendapat “penghormatan” indah macam itu. Muhammad Yamin adalah “Bapak Soneta”, Nur Sutan Iskandar adalah “Raja pengarang pujangga baru”. Amarahadi adalah “Penyair api revolusi”, dan Chairil Anwar “pelopor Angkatan 45”.

Kalau mau diperpanjang lagi, sesial-sialnya kita masih dengar Abdulhadi WM “penyair sufi” dan Motinggo Boesje “novelis erotika”. Tetapi F. Rahardi? Senangkah kita menggelari dia dengan nama “Penyair Tuyul”? Bahkan Darmanto Jt, penulis “Bangsat!” itu tidak akan ditonjolkan “kebangsatannya”. Kemuliaan namanya merebak justru karena kearifannya sebagai psikolog, dan sajaknya yang cocok untuk nasihat-nasihat hidup berumah tangga, termasuk untuk mas kawin kalau ada yang menikah. “Perlakuan istrimu seperti Dewi Sri” katanya.

Tuyul

Dan F. Rahardi? “e, la dalah/ jebul ada tuyul bugil di dalam situ/ ayo min kita pergi dari sini” tulisannya. Mengertikah kita? Segerakah kita menangkap bahwa kedua baris itu merupakan bagian dari sebuah puisi? Tentu tidak selekas kalau membaca sepotong baris Taufiq Ismail “Kembalikan Indonesia padaku!”

Penyair kelahiran Ambarawa, 10 Juni 1950 ini mempunyai empat buku terpenting : Soempah WTS (Puisi Indonesia 1983); Catatan Harian Sang Koruptor (Pustaka Sastra, 1985); Tuyul (Pustaka Sastra, 1990); dan Silsilah Garong (Pustaka Sastra, 1990). Keempat buku puisi ini belum terbukti memberinya hadiah apapun. Koran-koran lebih memberitakan acara pembacaan sajaknya ketimbang resensi atas karya-karyanya itu.

Satu-satunya media yang menghormatinya baru majalah Jakarta-Jakarta. Ia ditonjolkan sebagai “Penyair Sarkastis dari Lereng Gunung”. Tidak ketinggalan pula kata-kata “sangat kurang ajar” (JJ No. 274, 1991). Selain itu baru Kurnia JR, pengamat sastra Indonesia yang setengah membela karya-karya F. Rahardi. Dalam sebuah tulisan berbobot, di Media Indonesia, Kurnia menulis, “Menghadapi pola-pola sajaknya itu, kita pun bagai diisyaratkan supaya membuka diri untuk menikmati apa yang ditawarkannya dengan sikap longgar,” (MI, 25-5-1991).

Tetapi bagaimanakah pola sajak-sajak F. Rahardi? Dengan satu kata : cekatan. Karena lincah, lugas dan gesit, sajak-sajaknya perlu pembaca yang tangkas pula. Kata-kata Rahardi meloncat dari tatanan pengertian yang satu ke yang lain. Dari imaji ke imaji, dari bunyi ke bunyi. Di atas semua itu, sajak-sajak Rahardi adalah humor besar. Rasa humor yang tinggi itulah yang diyakininya sebagai nilai puitis.

Coba bayangkan. Ini satu sajaknya dari tahun 1975.
dari mesjid sampai ke parit
jalannya lurus
dari gereja sampai neraka
jalannya lurus
dari mulut sampai ke perut
jalannya lurus
(Silsilah Garong, hal. 164)

Sajak apa itu? Apakah sajak tidak perlu ditengok dari segi moral? Nah, kalau begitu apa itu moral? Semacam timbangan? Meteran? Atau perasaan tak jelas yang membuat kita merasa cocok atau tidak, suka atau benci? Kalau begitu halnya, semua terpulang pada selera dan kapasitas pribadi. Yang penting, kita tidak menerima humor dengan serius dan tidak memain-mainkan yang serius sebagai humor.

Hukum alam yang lain mengatakan : yang berasal dari hati akan sampai ke hati. Yang dikerjakan sungguh-sungguh tak akan diterima dengan serampangan. Dan sebaliknya yang digarap asal-asalan, akan diperlakukan pula dengan cara yang sama. Waktu kita membaca sajak Rahardi, pertanyaan utama adalah : apakah dia telah maksimal dan bersungguh-sungguh?

Apapun yang diciptakan dan dipersembahkan kepada masyarakat, membawa konsekuensi bahwa dia telah melakukan yang terbaik. Sekiranya menjadi tuyul, seorang penyair tetap bertanggungjawab untuk tampil sebagai tuyul terbaik untuk bangsanya.

* Tulisan ini sekaligus sebagai penghantar rencana penampilan F. Rahardi di Semarang, 31 Oktober mendatang.

Sumber : Suara Merdeka, 16 Oktober 1992

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: