Catatan Buta Tentang Puisi

09/07/2012 at 14:42 (berita)

(Tanggapan untuk S. Prasetyo Utomo)

LONTARAN S. Prasetyo Utomo atas puisi-puisi F. Rahardi (Suara, Merdeka, 17 Januari 1992) sangat menarik untuk disimak. Pertama sebagai seorang kritikus ia telah menghantarkan saya untuk melihat celah-celah kelemahan F. Rahardi, yang mau tak mau memang saya sukai puisi-puisinya. Kedua, saya dibuatnya mengangguk-angguk sambil mengerutkan kening begitu membaca uraiannya yang saya yakin ia dapatkan di bangku kuliah. Dan rasanya hal inilah yang tak pernah saya kuasai dengan baik bahkan boleh dikata dalam hal kritik-mengkritik sebuah karya sastra saya buta. Tapi walau begiu tentu saja hal itu tak akan merupakan penghalang bagi saya untuk menikmati sastra yang sudah saya cintai sejak bangku SD.

Saya tak ingin mengungkit-ungkit lagi masalah keterpencilan sastra yang selalu saja ada yang mempermasalahkan. Sebab persoalan tersebut bisa saja dikemukakan di sini mengingat pernyataan-pernyataan F. Rahardi atas puisi-puisinya yang seakan menggiring kita untuk memandang puisi sebagai hal yang wajar-wajar saja. Pada gilirannya bisa saja dikatakan itu adalah usaha untuk lebih membebaskan sastra dari keterpencilan. Sedang disisi lain saya melihat bahwa Prasetyo Utomo mengajak kita untuk memandang lagi bahwa puisi itu adalah sesuatu yang kelihatan begitu sukar untuk dipahami dan hanya dengan ilmu sastra bisa dipahami.

Sejauh pengetahuan saya tak ada seorang penyair pun yang bisa dengan jelas dan gamblang memberikan alasan mengapa ia menulis puisi, begitu juga dengan teori-teori sastra yang nampaknya juga hanya bisa bicara itu-itu saja. Jadi siapapun akan berhak bicara apa saja dan dalam bentuk apa saja tentang sastra dan siapapun juga berhak mencipta puisi dan menyebutnya sebagai sastra tanpa mempedulikan para pengkritik sastra.

S. Prasetyo Utomo mengatakan bahwa penciptaan puisi-puisi F. Rahardi adalah satu kemerosotan bila dibanding dengan Chairil Anwar. Ini rasanya satu pernyataan yang terlalu terburu-buru dan sangat gegabah apalagi bila itu dikatakan oleh seorang terpelajar dalam bidang sastra. Juga perbandingannya antara puisi F. Rahardi dengan Rendra, Emha Ainun Najib, Goenawan Mohammad atau Subagyo Sastrowardoyo. Tak layak kala kemudian ia menyebut karya Rahardi sebagai karya murahan. Apa kriteria kemerosotan dan murahan satu puisi? Perbandingannya dengan karya Chairil tak relevan sama sekali karena bagaimanapun kita harus melihat satu karya lewat zaman dimana sang penyair hidup, baik segi sosial, politik, ekonomi, arus pemikiran dan sekian banyak keadaan lainnya yang sangat mempengaruhi karyanya. Puisi baru bisa kita sebut sebagai karya murahan kalau jelas-jelas puisi tersebut memang ditulis dengan tujuan-tujuan tertentu (menghasut, menghina, propaganda atau untuk cari untung).

Bagaimanapun seenaknya puisi-puisi Rahardi yang kini jadi wartawan majalah pertanian Trubus ini, saya masih bisa melihat kesungguhan berfikirnya. Kalau Prasetyo mengatakan bahwa tak akan ada lagi penafsiran-penafsiran yang bisa membuka pemahaman multidimensional saya kira itu hanyalah sebagai satu kemalasan berfikir saja. Betapa banyak sebenarnya yang bisa kita dapatkan dengan membaca puisi Transmigran 1 : paijan dan tukimin dan waginem/ dan 20 orang anaknya dan adiknya/ dan pamannya/ dan ayahnya/ dan bantalnya yang coklat/ dan jepitnya/ dan menantunya juga/ dan kemenakannya/ dan seluruh tetek bengeknya ditumpuk di pantat bis dijejal di perut kapal/ lalu diserakkan di belantara Sumatra.

Memang nampaknya hanya sepele saja, Rahardi cuma ingin mengatakan Paijan yang ikut transmigrasi yang lalu diserakkan di belantara Sumatra. Cuma itu. Mengapa kita tak berfikir bahwa trasmigrasi bukan persoalan sepele? Ia tak kalah pentingnya dengan para penyair yang katanya merindukan Tuhannya dan batinnya yang terus gelisah. Kalau para penyair hanya bisa nyinyir dengan kata-kata indah yang sudah tidak bisa sederhana lagi, maka para trasmigran yang diserakkan di belantara Sumatra harus berjuang keras membuka ladang baru. Ini sudah bukan persoalan dan perjuangan ringan. Padahal kalau kita bicara soal perjuangan manusia menghadapi hidup maka mau tak mau kita akan bicara persoalan multidimensional. Saya cenderung menilai bahwa dengan puisinya yang sederhana macam obrolan di warung kopi F. Raardi bisa memberi banyak keluasan cakrawala berfikir pada kita. Tentu saja ini hanya berlaku pada mereka yang punya anggapan bahwa untuk mengatakan satu hal yang berat tak mesti harus dengan rumus-rumus dan kata-kata yang berat dan nampak angker. Lihat para penyair kita yang dengan enaknya mengobral kata-kata indahnya, hingga ingin mengatakan mati saja harus berindah-indah yang membuat kita lupa soal kematian karena terbius keindahan bahasanya.

Eksistensi seorang penyair bukan ditandai dengan produktivitasnya semata. *** (Sugiarto B. Darmawan – 36)

Sumber : Suara Merdeka, 7 Februari 1992

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: