Manusia Singkong F. Rahardi …

23/07/2012 at 14:50 (berita)

F. RAHARDI barangkali bisa dijuluki “manusia singkong”. Dialah petani dari lereng Gunung Ungaran yang mencoba mengolah hidupnya sendiri serta mengolah Jakarta baik dalam kapasitas sebagai penyair, Wakil Pemimpin Redaksi majalah pertanian Trubus, pemberi motivasi banyak orang untuk bercocok tanam, dengan engagement terhadap pertanian yang sangat kuat.

“Saya punya pengalaman konkret menanam buncis, singkong dan lain-lain. Jadi kalau saya bikin sajak itu betul-betul saya hayati, tidak imaginatif,” kata Rahardi.

Pembaca yang budiman, banyak tokoh besar bahkan lebih hebat lagi kalau mereka dari lembaga resmi dan besar. Sebaliknya, yang satu ini tidak berafiliasi dengan sesuatu yang besar, melainkan dengan membina yang serba kecil dengan kepercayaan, toh kita butuh “planet kecil” yang sehat. Sikapnya tidak resmi, sebaliknya kelihatan urakan.

Kausnya dekil, begitu pula jaket yang menjadi salah satu ciri khas penampilannya. Sepatunya kelihatan tak pernah disemir, dengan di beberapa bagian kulit hitam itu telah melepuh menjadi putih.

Sajaknya, lebih kurang ajar lagi. Lihat saja potongan Sajak Transmigran ini :
Sepuluh tahun masih makan singkong
duapuluh tahun makin singkong
dan limapuluh tahun kemudian
transmigran beruban
sakit-sakitan
mati
lalu dikubur di ladang singkong

***

SUMOWONO, lereng Gunung Ungaran, Jawa Tengah. Di daerah inilah Rahardi yang kini telah menulis beberapa buku berupa buku-buku pertanian, peternakan, serta sastra, pernah melewatkan sebagian masa remajanya. Lahir di Ambarawa, Jateng, 10 Juni 1950, karena kesulitan ekonomi dia mengaku harus bertani, menggarap ladang orangtuanya sendiri yang sempit maupun memburuh di ladang orang lain.

“Sejak remaja saya sudah terpaksa bertani, memelihara kambing, itik. Bapak saya kerja sebagai penjahit. Waktu itu saya bertani dengan memburuh, artinya menggarap ladang orang lain, menyewa ladang, atau juga menggarap ladang sendiri yang tak seberapa,” ceritanya.

Seorang tetangganya, kemudian mengajaknya untuk mencangkul di Sumowono, daerah pegunungan di lereng Gunung Ungaran. Di situ ia mencangkul sepanjang hari menanam kubis.

Waktu itu tahun 1967, keadaan baru saja porak-poranda oleh pemberontakan G 30 S/PKI. Terjadi kekurangan guru di mana-mana. Rahardi yang putus sekolah di SMA karena kekurangan biaya, dengan ijazah SMP melamar jadi guru SD dan diterima. Jadilah ia mengajar di sebuah SD di sebuah desa di perbatasan Kabupaten Kendal dan Temanggung. Pekerjaan guru sambil bertani dimana ia harus berjalan kaki 8 km dari rumah ke sekolah ia jalani sampai 1974, sebelum ia hijrah ke Jakarta.

“Saya tak berbakat jadi guru. Saya mengajar kelas enam, saat itu masih berlaku ujian negara. Dari jumlah murid yang 21 orang, yang lulus cuma satu orang. La … ini kan memalukan,” katanya.

Faktor lain yang ikut mempercepat pengambilan keputusan untuk berhenti jadi guru, katanya karena waktu itu ia sudah mulai pacaran dengan wanita yang kini menjadi istrinya, Sri Winarti.

Dia mengenal Sri Winarti waktu masih di Sumowono. Sri adalah lulusan IKIP Sanata Darma Yogyakarta, pengajar di SMP Theresiana di lereng gunung Ungaran itu. “Guru SMP di desa kan sangat bergengsi. Sementara saya cuma guru SD, yang harus nglaju (menempuh jarak-red) delapan kilometer. Maka saya putuskan untuk ke Jakarta saja.”

Di Jakarta Rahardi melakukan pekerjaan apa saja. Dari tukang mencat bangunan, membuat kartu untuk dijual di pinggir jalan, sampai membuat papan nama untuk restoran Padang. “Yang belum saya jalani hanya menjadi kuli bangunan,” ujarnya.

Begitulah hidupnya bergulir. Di masyarakat di mana status amat diperlukan, betapapun ia punya uang dari apa yang dikerjakannya, ia tetap berstatus “penganggur”. Baru tahun 1976 ia bekerja di Sanggar Prativi, sebelum bergabung dengan majalah Trubus tahun 1977.

Pada Trubus yang berinduk pada sebuah lembaga swadaya masyarakat bernama Bina Swadaya adalah lembaga yang berdiri sejak akhir 60-an dan kini telah beranak-pinak dengan berbagai divisi yang hampir semuanya bergerak di pertanian. Di situ Rahardi seperti mengalami kelahiran baru : pelopor petani di Ibu Kota.

Ia tetap dekil. Tapi, mobilnya Starlet (ia suka menyetir sendiri, termasuk ketika melakukan pembacaan sajak di Semarang pekan lalu, di mana ia mampir ke Sumowono dan mandi di air pancuran di desa). Kantornya di bilangan Jl. Gunug Sahari Jakarta cukup bagus, lengkap dengan resepsionis yang rewel dan satpam yang galak.

Kalau ada mobil bagus di halaman parkir kantornya, boleh jadi itu milik seorang nyonya besar yang sedang berbelanja tanaman di toko kecil di pojok bangunan kantor dengan menghabiskan uang ratusan ribu atau jutaan rupiah. Omset penjualan toko tanaman itu saja konon mencapai lebih Rp 50 juta sebulan. Padahal, ini hanya unit usaha kecil dari keseluruhan usaha Bina Swadaya.

Sementara kalau ada bajaj, penumpangnya dekil, mungkin itu salah satu teman Rahardi sesama seniman…

***

RAHARDI tetaplah Rahardi yang liar. Pandangan-pandangannya tentang masalah pertanian kadang terasa tajam. Ia melihat peluang bahwa kita sebenarnya masih bisa melakukan swasembada di banyak sektor, bukan hanya beras.

“Tapi yang diurus para menteri adalah organisasi bonsai, organisasi kuda, dan lain-lain. Mengapa mereka tak urus petani kapas? Kita bisa swasembada di situ. Tapi inilah soalnya. Kapas tidak bergengsi. Budaya kita adalah budaya klangengan  (dalam bahasa seniman ini artinya hiburan dengan “h” kecil-red). Setelah kita cukup makan, yang kita urus klangenan,” ujarnya.

Sementara minatnya terhadap sastra, katanya terbentuk tanpa sengaja. Ia melukiskan betapa miskinnya saat ia remaja. Di Ambarawa ada kios koran dan majalah. Di situ digelar majalah-majalah yang top saat itu seperti Selecta, Intisari, dan majalah-majalah hiburan lain. Rahardi mengaku hanya bisa beli Horison. Bukan karena majalah itu merupakan majalah sastra atau apa, melainkan katanya “Majalah itu yang paling murah, sehingga saya bisa beli”.

Pahitnya masalah keuangan yang melilitnya waktu itu ia gambarkan, betapa baginya menulis merupakan “kemewahan”. Untuk membeli kertas folio putih dia hanya bisa beli per lembar. Itu pun, ia harus berjalan ke kota kecamatan yang jaraknya 8 km dari tempat tinggalntya.

“Di lingkungan saya tak ada penyair, tak ada sastrawan. Saya sendiri bahkan tak tahu cara mengirim tulisan ke majalah. Itu sudah tak realistik. Untuk menulis harus pinjam mesin ketik di kelurahan, terus memposkan surat ke kota kawedanan yang jaraknya jauh,” katanya mengenang keadaan sebelum dia bersinggungan dengan dunia media massa.

Sajak-sajak pertamanya yang terbit di majalah Semangat tahun 70-an, dikirim oleh teman yang mengetikkan puisinya. Ia sendiri tak tahu bahwa teman itu bakal mengirim sajaknya, dan sampai beberapa waktu juga tak tahu bahwa sajaknya dimuat di majalah.

Dengan pengalaman seperti ini, situasi “tidak bisa menulis” hanya ia pahami sebagai kesulitan teknis, katakanlah seperti kalau kita tak punya kertas.

“Maka ketika Leon Agusta (penyair dan mantan anggota Dewan Kesenian Jakarta-Red) datang pada saya dan bilang, ia tak bisa menulis, saya tanya, memangnya kenapa? Jari Anda sakit? Mata Anda rabun?” cerita Rahardi.

Dengan sikap seperti itu, bisa dipahami kalau Rahardi bisa menulis apa saja, dari buku Ternak Kodok, Itik Alabio sampai buku-buku kumpulan puisi. Menulis adalah “masalah teknis” yang ia lakukan dengan bebas.

Kredonya, seperti ditulisnya dalam Proklamasi Puisi, bunyinya begini :
Saya penyair Indonesia
Dengan ini menyatakan kemerdekaan puisi saya
Mulai sekarang puisi bukan lagi seni agung
Yang terkurung di puncak gunung
Bagi saya puisi hanyalah alat permainan. (Bre Redana)

Sumber : Kompas, 7 November 1992

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: