Rahardi : Bukan Akal-akalan

14/08/2012 at 16:31 (berita)

TAHUN lalu, nama F. Rahardi sempat menjadi perbincangan ramai gara-gara dia membacakan kumpulan sajaknya  Soempah WTS di Teater Arena, TIM, Jakarta. Sajak-sajak yang dibacakan penyair kelahiran Ambarawa tahun 1950 ini, cenderung nakal dan konyol, tapi tak berarti dia tanpa misi.

Setelah suksesnya itu dia kembali tampil di TIM, 22 Januari. Dia akan membacakan kumpulan sajaknya, Catatan Harian Sang Koruptor, yang tebalnya 79 halaman, memuat 48 sajak.

Salah satu ciri penyair yang pernah menjadi guru di Kendal ini ialah sifatnya yang suka bermain-main dengan ide dan kata-kata. Dalam sajak-sajak yang mengandung humor segar dan terkadang jorok itu, dia menampilkan sesuatu kepada masyarakat, potret buram masyarakat yang pernah akrab dengan dirinya.

Berikut ini percakapan Suara Karya Minggu dengan F. Rahardi yang sehari-hari menjadi wakil pimpinan majalah pertanian Trubus.

Tanya (T) : Bagaimana proses lahirnya sajak-sajak Catatan Harian Sang Koruptor itu?

Jawab (J) : Waktu menulis sajak, saya tergelincir dari kehidupan saya sendiri. Dua bekas pacar saya tergelincir ke lembah hitam. Mereka menjadi pelacur. Bekas tetangga saya ada yang bekerja sebagai germo.

Sajak-sajak yang terhimpun dalam Catatan Harian Sang Koruptor, juga merupakan cerita mengenai sesuatu yang dekat dengan diri saya. Saya pernah menjadi guru selama tujuh tahun di Kendal. Waktu berada di Jakarta, saudara-saudara saya, teman saya, dan orang yang dekat dengan saya, melakukan korupsi. Kenyataan inilah yang melahirkan sajak-sajak saya.

T : Protes Anda dalam sajak-sajak ini bernada keras. Anda mau mengekor Rendra?

J : Saya menyadari sajak-sajak saya ini keras, tapi itu adalah kenyataan. Saya sempat juga repot waktu akan menerbitkan sajak-sajak ini. Soalnya tak ada penerbit yang berani menerbitkannya. Saya tawarkan ke penerbit Puisi Indonesia yang menerbitkan Soempah WTS, tapi ditolak dengan alasan tak berani menerbitkannya. Akhirnya sajak-sajak itu saya terbitkan sendiri dengan biaya lebih dari Rp 1 juta.

Soal ada yang mengatakan saya mengekor Rendra, itu tak benar. Rendra punya visi lain dalam menyuarakan protes sosialnya, saya juga punya cara yang lain. Rendra itu bergaya orator, tapi saya dengan bermain-main, humor, dan kadang-kadang konyol.

T : Mana yang lebih komunikatif sajak-sajak Rendra atau sajak-sajak milik Anda?

J : Sukar memilih mana yang lebih komunikatif. Dua-duanya punya corak sendiri-sendiri. Masing-masing sajak mempunyai kekuatan. Keadaan ini sama dengan kita memilih, mana yang lebih baik lukisan Affandi atau Basoeki Abdullah? Masing-masing corak mempunyai penggemar sendiri-sendiri.

T : Mana yang Anda pentingkan dalam sajak, gagasan atau nilai estetika sajak itu sendiri?

J : Saya mengharapkan gagasan dalam sajak saya sampai kepada masyarakat, tapi juga mengandung nilai-nilai estetika.

T : Mengapa Anda memilih judul kumpulan sajak Catatan Harian Sang Koruptor?

J : Dulu saya sudah mempersiapkan judulnya Catatan Harian Pimpinan Proyek. Judul ini saya buang. Saya merasakan, sajak-sajak yang saya kerjakan selama dua tahun itu, tanpa proses pengendapan.

T : Menurut Anda apa itu korupsi dan bagaimana mengatasi masalah ini di Indonesia?

J : Korupsi itu adalah tindakan kita yang merugikan pemerintah, negara dan perusahaan, baik secara langsung atau pun tidak langsung. Cara mengatasinya adalah dengan kesadaran masing-masing orang, bahwa yang mereka ambil itu bukan hak mereka.

T : Anda memilih sajak-sajak yang kadang-kadang membuat orang terpingkal-pingkal. Mau mengikuti Srimulat?

J : Itu tak benar. Memang itu sudah gaya saya. Saya pernah jadi redaktur sajak di majalah humor, Stop. Tapi, kalau ada sajak saya yang dimuat Horison, Kompas dan Suara Karya agak kontemplatif, itu selera redaktur itu yang telah memilih sajak-sajak yang saya kirimkan.

T : Dulu Anda gagal membawa pelacur dalam pembacaan sajak Anda. Apalagi akal Anda untuk menarik perhatian masyarakat kali ini?

J : Saya akan mencoba menggunakan teknik menjual komoditi. Tiga syarat yang saya lakukan ialah promosi, distribusi dan kualitas barang itu sendiri. Kali ini saya tak akal-akalan lagi. (Ray Fernandez)

Sumber : SK, 18-1-86

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: