PERPISAHAN (DI STASIUN BIS AMBARAWA)

28/08/2012 at 16:52 (puisi)

kami berderet di stasiun bis kecil ini
mengantar kepergian mereka :
bayangan-bayangan itu
yang tak pernah kami tahu
kami tak sempat bersalam-salaman
atau mengucapkan kata-kata perpisahan
kami diam merekapun diam
dan taksi itu dengan biasa meluncur makin jauh
lalu tak kami lihat lagi
mereka : bayangan-bayangan itu telah pergi

kami : bayangan-bayangan ini
makin merasakan kesendirian kami dalam
bersama-sama
kami makin sunyi di tengah keramaian bersama
kami jadi bayangan-bayangan sunyi di sini
di stasiun bis kecil ini.

Ambarawa, 16 Desember 1969
Pernah dimuat di Majalah Basis, September 1972

3 Komentar

  1. Bened said,

    Eyang, kenapa memilih kata stasiun? bukan terminal? Khayalan saya ketika membaca karya ini adalah langit yg merah, sedih, suram, tidak nyaman. Ngomong2, terminal mbahrowo tahun ’69 sudah ada mie ayam pak no belum ya eyang..:D

  2. frahardi said,

    Tahun 1960an belum ada istilah terminal. Orang-orang bilangnya stanplat bis, dari kata standplätze dalam Bahasa belanda. Di papan nama terminal bis waktu itu tertulis: Stasiun Bis, sebagai pengganti istllah stanplat. Lokasi terminal awalnya di pojokan sebelah Jembatan Kali Panjang, kemudian pindah ke tempat yang sekarang menjadi Palagan Ambarawa, sebelum pindah ke tempat yang sekarang. Waktu itu belum ada mie ayam Pak No.

    • Bened said,

      sangat menarik…kemudian untuk taksi, apakah yang dimaksud taksi disini bis? Bis esto yang memang dari dulu sudah ada eyang?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: