MIMPIKU BERSAMA WAKTU

29/08/2012 at 15:39 (puisi)

aku tak tahu persis posisiku waktu itu
mencuat di atas dipan atau
telentang di kolong ranjang
atau – apapun, di mana letak kasih sayangmu
yang selama ini populer jadi slogan
bagi semua lapisan masyarakat
dari menteri sampai kere
dari pendeta sampai lonte
aku – itu “individualita” cemohmu
tapi: tubuhku yang jadi bayi lagi
percuma ditutup-tutupi
benar!
kutandaskan lagi : benar! kendati
di mana kini aku berada
tak tahu
di waktu lalu
tak tahu
di waktu kini
tak tahu
di waktu nanti
tak tahu
bukan lantaran sudah tua
lalu jadi pelupa
atau berlagak linglung
tidak!
otakku masih normal
jangan panggil dokter jiwa
percayalah
otakku masih waras
aku sendiri malah jadi takut
sebab setelah tubuhku kautelanjangi
lalu kau sulap jadi bayi lagi
mataku kaubikin buta
kupingku kaubikin tuli
mulutku kaubikin bisu
tidak sedikit demi sedikit
mulur bersama waktu tapi
bagai petir yang menyambar
tiba-tiba
bagai tali yang terputus
ingatanku kautiadakan
tapi cita rasaku kaulipat-gandakan
inilah yang tak terkirakan menyiksaku
rasa takut, marah, duka, lapar dan haus
kauaduk jadi satu
bulat dan menggelinding
menjauh dan mendekat
menyendal-nyendal syarafku
panas-dingin
menusuk-nusuk
mengiris-iris
melemparkan diriku setinggi langit
lalu membantingku dan menginjak-injak
nyeri dan sakit
tapi apa daya
aku meronta sejadi-jadinya
tapi apa daya
tubuhku jadi bayi lagi
lemes dan tak bertenaga sama sekali
wahai …
ketakadilan telah menimpa diriku
kelaliman telah merundungku
satu kekejaman telah menyiksaku
di satu tempat
di ruang kosong
dan sedikit-sedikit masih kurasakan
waktu menyeretku pelahan
tanpa kutahu
di luar batas kemampuanku
citarasaku yang tajam
masih bisa merasakan
betapa kautelah menggilasku lumat-lumat
bersama waktu yang merambat
aku terus bergolak
aku terus berontak
sambil menanti
satu keluarbiasaan
yang bisa menolongku
sambil merancang-rancang satu perangkap
tipu daya
bila kaulengah
rasakan pembalasanku
rasakan balas dendamku
siksalah diriku terus-terusan
buatlah diriku jadi bayi
tak berdaya
lemas
buatlah mataku buta
buatlah kupingku tuli
buatlah lidahku kelu
dan lenyapkanlah ingatanku
aku menyerah
sudahlah
aku kalah
buatlah diriku mulur
bersama waktu
lama-lama jadi biasa
dan dengan citarasaku sendiri
segala siksaanmu teratasi
kurasakan diriku jadi lincah
melenting ke sana, melenting ke mari
dan – kurasakan angin sejuk meniupku
lalu mulutku nyanyi kecil-kecil
lincah dan riang
nyanyikan diriku sendiri
dan tiba-tiba aku bisa melihat diriku sendiri
tergeletak di satu tempat
di ruang kosong
hitam dan putih
dan tiba-tiba aku bisa dengar nyanyianku sendiri
lincah dan riang
sayup-sayup dan lembut
silih berganti
menjauh dan mendekat
menggembirakan sekali
tapi kau jangan buru-buru pingin tahu
kegembiraan dan kesenangan ini
jerih payahku sendiri
dalam diriku sendiri
buatku sendiri
tanpa kaubisa tahu
serta ikut menikmati
bukankah kau telah menyiksaku selama ini?
dan sampai saat ini
aku tetap merasa
belum kaubebaskan dari siksamu
aku masih merasa buta dan tuli
aku masih merasa bisu dan kelu
dan tak satu pun kuingat lagi
aku hanya bisa merasa semua itu
masih melekat padaku
maka kegembiraan ini adalah
milikku sendiri
hasil jerih payahku sendiri
tanpa belas kasihanmu
tanpa campur tanganmu
aku sudah bebas dari siksamu
aku sudah tegak berdiri
tanpa ngemis atau melawanmu
sambil nyanyi dan memandangku sendiri
megah dan berwibawa
di satu tempat
di ruang kosong
hitam dan putih
dan aku terus nyanyi
laju bersama
sang waktu.

Amb. 20 Desember ’70
Pernah dimuat di Majalah Horison, Agustus 1975

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: