BALLADA SEORANG WANITA YANG KUCINTAI DENGAN PAYAH

10/09/2012 at 16:16 (puisi)

I. aku akan menulis tentang
seorang wanita yang kucintai dengan payah
wajahnya gundul
ia telah bosan sendiri meratapi sejarahnya
nasibnya yang berurat berakar pada tanah
sejak hari pertama tahun yang sudah lama
berlalu
ayah ibunya menunai pekerjaan mulia itu
mencangkuli tanah-tanah
mengairi sawah-sawah
dan menancapkan nasibnya dalam-dalam
di tiap jengkal
dan waktu pun tak henti-henti berbiak
adalah gadis itu setelah begitu lama bertingkah
kembali menyesali keadaannya
mengapa ia mendadak saja menjadi kaya
dengan pertanyaan-pertanyaan
dan saudara-saudaranya pun lahirlah
dengan derasnya

II. pada waktu mula pertama ia menjadi remaja
dan mulai mengerti laki-laki
berkenalan dengan mahasiswa dan tentara
bergaul dengan tubuh-tubuh dan benda-benda
kenikmatan-kenikmatan itupun datanglah
bagai banjir
tiap pagi matahari terseyum dan membukai
pintu-pintu dan jendela kamarnya
mulailah aku jatuh cinta padanya
sambil tersenyum

III. harapanku yang pertama ialah bisa
memegangi
tubuh itu dan sekali-sekali
menghindar dari misteri-misteri
maka kutulis sebuah surat cinta yang lebar
malam bertambah sebal
bulan dan bintang menukik di atas mataku
ubun-ubunku pecah ketika surat pertamaku itu
tak dibalasnya
mulailah kuhitung-hitung
masa depanku yang konyol
dan masa remaja itu pun berlalu seadanya
sampai dengan hitungan yang keberapa
sampai aku lupa tak satu pun suratku
dibalasnya
malam kembali letih
meluruskan pohon-pohon
meja-meja yang kaku
kertas-kertas kuyu
alangkah pedih
tubuhku kuremas dan kuinjak-injak
seluruhnya kayal itu terbingkai dan terkaca
tak satupun kulihat lagi.

IV. setelah lama sekali waktu menanggalkan
ibanya
matahari di atas pohon-pohon, kota pun menjadi
ramai
kudengar sebetik kabar
tentang gadis itu telah bersuami dan hamil
dan tinggal di sebuah kota yang jauh
ia telah menjadi kaya-raya dan pasti
hidupnya adalah benda-benda
seluruh tubuhnya adalah
wanita belaka
aku mulai senang dan bintang-bintang pun
menukik
di atas mataku malam bertambah hitam
penyesalanku tentang wanita itu tak
terbayarkan
mengapa dulu kutulis surat-surat cinta
mengapa tidak kutumpahkan saja berbotol-botol
tinta itu
menjadi sebuah kisah
cerita-cerita tentang warna-warna
tentang suara-suara dan wanita
malam semakin gundul
seluruh tubuhku menjadi putih
dan mulailah kucintai wanita-wanita
sambil tersenyum.

Ambarawa, 1 Januari 1973

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: