Ribut-ribut Soal WTS di TIM

01/10/2012 at 12:21 (berita)

* Penyair Rahardi Akan Tuntut Ganti Rugi

Penyair F. Rahardi amat gembira, ketika dia membaca kalender acara TIM bulan Juli bahwa dia akan membacakan sajaknya dengan WTS. Untuk merealisir idenya itu, dia mengunjungi berbagai lokasi WTS seperti Boker dan Bongkaran. Dia tak segan-segan mengeluarkan uang dari sakunya. Hasrat menggebu penyair kelahiran Ambarawa ini, karena dia ingin memberikan sesuatu yang lain pada publik TIM. Dia tidak hanya menulis sajak tentang dunia pelacur, tapi kalau bisa, sajak tentang kehidupan pelacur itu dibacakan sendiri oleh WTS.

Kegembiaraan F. Rahardi, karena rencana pembacaan sajaknya, banyak dibicarakan di berbagai mass media, tiba-tiba buyar. Harapannya seperti embun dijilat matahari. Hari Sabtu, dua hari menjelang pembacaan sajaknya, dia menerima surat dari Ketua Dewan Pekerja Harian, Dewan Kesenian Jakarta Toety Herati bahwa pembacaan sajak dengan WTS sesuatu hal yang tidak manusiawi. Tidak manusiawi, karena Toety menilai F. Rahardi terlalu mengeksploitir WTS.

Antusias pengunjung :

Pembacaan sajak F. Rahardi, Senin malam, pukul 20.00 mendapat sambutan hangat. Teater tertutup, TIM, penuh sesak pengunjung. Banyak pengunjung yang tak kebagian tempat duduk. Para seniman yang biasanya jarang muncul di TIM, menyempatkan diri untuk menyaksikan pembacaan sajak F. Rahardi. Mochtar Lubis dan HB Jassin kelihatan duduk di antara penonton.

Semula, penonton kecewa karena diberitahukan oleh F. Rahardi bahwa para WTS yang akan memperkuat pembacaan sajaknya, tidak “diperkenankan” tampil. Memang, tidak kelihatan reaksi penontyon yang menyakitkan, ketika F. Rahardi membacakan surat Ketua Dewan Pekerja Harian, Dewan Kesenian Jakarta, Toety Herati yang bernomor 270/DPH/R/VII/1984. Tapi, ketika F. Rahardi membacakan sendiri balasan surat untuk Ketua DPH-DKJ, penonton bersuit dan bertepuk tangan. Alasannya, mungkin karena penonton tidak merasa dikibuli. Apalagi setelah F. Rahardi membeberkan biaya yang dikeluarkannya sebanyak Rp 563.000 untuk menghubungi WTS di enam lokasi.

Sebenarnya, pembacaan sajak-sajak F. Rahardi yang sederhana itu, sudah cukup menarik perhatian pengunjung, Hamid Jabbar sebagai moderator. Sajak-sajak F. Rahardi boleh dikatakan tidak romantis atau kenes. Tidak kelihatan maksudnya untuk menampilkan slogan. Sajak-sajaknya cenderung narative. Dia bercerita tentang kehidupan rakyat kecil seperti nelayan, transmigran, pelacur dan lain-lain. Sekilas sajak-sajak F. Rahardi tidak memperlihatkan kedalaman. Seolah lepas dari suasana kontemplatif. Tak heran, kalau ada seorang yang tampil di akhir pembacaan sajak menuding sajak-sajak F. Rahardi sebagai sajak-sajak kering, pop, tak berbobot, sekali jadi dan ditulis asal jadi. Benarkah demikian?

Sebagai penyair, F. Rahardi telah banyak mempublikasikan sajak-sajaknya di berbgai mass media. Sajak-sajaknya banyak dimuat di majalah sastra Horison. Dia bukanlah seorang pionir dan bukan seorang penggebrak seperti Chairil Anwar atau Sutardji. Dia adalah seorang penyair yang tampil apa adanya. Tapi, bukan berarti sajak-sajaknya lahir tanpa perenungan. Dia seorang penyair yang “nakal”, dan sajak-sajak yang dibacakannya di TIM, cenderng sinis. Rasa sinis itu, tidak diungkapkannya lewat slogan. Tapi, potret kehidupan rakyat kecil diangkatnya ke bait-bait sajaknya. Perhatikan sajaknya Sajak Transmigran II berikut ini :

dia selalu singkong
dan terus menerus singkong
hari ini singkong tadi malam singkong
besok mungkin singkong
besoknya lagi juga singkong
di rumah sepotong singkong di ladang seikat singkong
di pasar segerobak singkong
di rumah tetangga sepiring singkong
enam bulan lagi tetap singkong
setahun lagi tetap singkong sepuluh tahun
masih singkong duapuluh tahun makin singkong
dan limapuluh tahun kemudian transmigran telah
berubah sakit-sakitan mati lalu dikubur di ladang singkong.

Sajak tentang transmigran ini, seperti main-main. Tapi, jika ditilik lebih jauh, sajak ini memberikan kenikmatan lain pada pembaca. Dengan hanya mengesploitir kata “singkong”, F. Rahardi telah bercerita banyak tentang transmigran. Hal ini menunjukkan betapa ia seorang penyair yang cukup jeli. Dia tidak melontarkan slogan-slogan. Dia hanya bercerita tentang transmigran dengan singkongnya. Hanya itu saja, tapi berbagai penafsiran bisa muncul dari sajak ini. Sajak ini membersitkan pesimisme dan satiresme bahwa masa depan transmigran itu adalah singkong. Penyair sendiri sebenarnya tidak pesimis, tapi memandang kehidupan transmigran dengan sinis!

Memang, pada malam pembacaan sajak, F. Rahardi, terdapat kesan bahwa dia bukanlah seorang pembaca sajak yang baik seperti halnya Sutardji, Leon Agusta, Rendra atau Taufiq Ismail. Menyadari kelemahannya, dia berusaha minta bantuan Teater Adinda dan pembaca sajak asuhan Leon Agusta. Hasilnya? Ya, lumayan, meskipun tidak bisa dikatagorikan memuaskan! Tapi, satu hal yang patut dicatat, sajak-sajak F. Rahardi yang nakal dan memberi kesan bermain-main itu, amat komunikatif dibacakan. Tak heran, setiap sampai pada kata-kata yang “nakal” penonton memberikan reaksi spontan : tepuk tangan atau tertawa!

Tidak Manusiawi :

Tidak tampilnya WTS pada pembacaan sajak di TIM banyak menimbulkan pro dan kontra. Terbersit berita bahwa Toety Herati mendapat pesan dari Sutan Takdir Alisjahbana agar pembacaan sajak dengan WTS itu dibatalkan, sebab tidak manusiawi. WTS sudah banyak dieksploitir. Kini WTS diperalat lagi untuk mencari sensasional seorang penyair.

Ada lagi pendapat yang mengatakan bahwa penyair F. Rahardi hanya berani mengundang orang-orang yang tak berdaya, karena mereka butuh uang Rp 5 ribu sampai Rp 10 ribu. Memang, WTS itu tidak dipaksa untuk tampil di TIM, tapi penyair F. Rahardi jelas mengadakan pendekatan dengan berbagai rayuan atau janji memberi imbalan. Bukankah membujuk dan menjanjikan imbalan pada WTS sudah merupakan paksaan yang terselubung dari manusia modern abad ini? Bukankah kalau WTS itu tidak dipaksa, mereka akan datang ke TIM tanpa diembel-embeli imbalan? Bukankah F. Rahardi sendiri ingin tampil di TIM karena ingin mendapat imbalan, yang artinya pengunjung bisa datang berduyun-duyun ke teater tertutup TIM?

“Apa yang ingin dilakukan F. Rahardi hanyalah sensasi murahan. Coba kalau dia benar-benar berani, misalnya mengundang koruptor, garong atau pengkhianat negara, kemudian mereka ini membacakan sumpahnya. Mereka ini jelas tidak akan tergiur oleh uang yang Rp 10 ribu. Jadi, pembacaan sajak dengan WTS itu sesuatu yang tidak manusiawi. Apakah setiap pembacaan sajak ada keharusan untuk menampilkan orang yang sebenarna?” kata seorang pengunjung yang selalu setia mengikuti setiap kegiatan sastra di TIM.

Memang, apa yang ditakutkan oleh Toety Herati, ada benarnya. Tetapi menjadi pertanyaan mengapa Toety Herati jauh sebelumnya tidak meralat kalender acara TIM bulan Juli halaman 32 dan 33 yang menyatakan F. Rahardi akan membacakan sajaknya dengan WTS? Apakah pantas seorang Ketua Dewan Pekerja Harian DKJ mengatakan bahwa dia kebobolan? Bagaimana mungkin seorang seperti Toety berani mengatakan bahwa dia tidak membaca kalender acara TIM bulan Juli?

“Saya merasa dirugikan dengan sikap Toety. Saya akan menuntut Toety Rp 1.563.000”, kata F. Rahardi dengan kesal. (Ry Fernandez)

Sumber : SK, 3 – 8 – 1984

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: