Kecendekiawanan sebagai Sikap Independen

07/12/2012 at 10:59 (artikel)

F. Rahardi

Cendekiawan seyogyanya tidak hanya berkutat di sekitar kekuasaan pemerintah. Karena cendekiawan juga dituntut untuk mengatasi kungkungan dan penyeragaman berpikir yang dilakukan oleh kekuasaan berbagai paham (isme) dan institusi non pemerintahan di dunia. Namun di lain pihak, cendekiawan juga dituntut untuk cukup rendah hati dan mau mengakui bahwa kecendekiawanan hanyalah sebuah keterampilan otak yang juga sah untuk digunakan sebagai alat mencari nafkah.

Pengertian cendekiawan yang selama ini ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia dan diterima secara luas adalah : (1) Orang cerdik pandai, orang intelek, (2) Orang yang memiliki sikap hidup yang terus-menerus meningkatkan kemampuan berpikirnya untuk dapat mengetahui atau memahami sesuatu. Dalam pengertian ini sama sekali tidak disinggung bahwa cendekiawan itu boleh atau tidak berada dalam institusi pemerintahan.

Meskipun istilah cendekiawan sebenarnya sudah cukup jelas namun dalam praktik sehari-hari yang muncul adalah sebuah pengelompokan pendapat bahwa cendekiawan itu sah untuk institusi ekonomi dan lain-lain. Namun di lain pihak ada juga pendapat yang mentabukan cendekiawan terlibat dalam institusi pemerintahan. Kalangan ini mendukung cendekiawan berada di luar institusi dan ikut aktif berfungsi sebagai pengontrol kekuasaan, penegak kebenaran dan lain-lain.

Perbedaan pendapat demikian sebenarnya hanya akan membuat para cendekiawan berputar-putar di sekitar posisi cendekiawan dan bukan bagaimana seseorang cendekiawan harus bersikap terhadap kecendekiawanannya. Padahal, seorang cendekiawan jelas harus memiliki sikap independen atau harus berpikir bebas dimana pun posisinya. Sebab dengan cara ini seorang cendekiawan dapat terus-menerus mengaktualkan cara berpikirnya sesuai dengan perkembangan seluruh sektor kehidupan. Pengertian bahwa cendekiawan harus berpikiran bebas inilah yang sering menjebak dan disalahartikan bahwa cendekiawan tidak boleh masuk ke dalam institusi pemerintahan. Padahal, maksud sebenarnya, kecendekiawanan harus bebas dari kungkungan semua kekuasaan, terutama kekuasaan paham (isme) dan bukan sekadar kekuasaan institusi.

Jadi, seorang cendekiawan, boleh saja di dalam struktur kekuasaan apa pun (pemerintahan, agama, perguruan tinggi, partai politik, militer), namun dia dituntut untuk berpikir bebas. Ketakutan bahwa posisi cendekiawan dalam institusi ini akan mematikan kecendekiawanannya sebenarnya juga bisa ditujukan kepada cendekiawan yang berada di luar struktur dalam posisi sebagai “pengontrol” kekuasaan. Sebab posisi cendekiawan sebagai pengontrol kekuasaan pun, bisa juga mengakibatkan sang cendekiawan kehilangan kecendekiawanannya karena terhanyut (tidak bisa bebas) dari pengaruh posisi tersebut maupun pengaruh isme-isme yang ada.

***

Ada sesuatu yang lebih urgen untuk diperhatikan oleh para cendekiawan, yakni sikap pikiran yang bebas dari kungkungan isme, agama dan lain-lain paham termasuk upaya penyeragaman berpikir. Kebebasan berpikir, kalau kemudian diajarkan ke orang lain, pada akhirnya akan membentuk isme baru dan justru berubah menjadi upaya penyeragaman berpikir. Contohnya Socrates dan Jesus. Socrates adalah cendekiawan. Pikirannya bebas. Dia tidak mau dikungkung oleh institusi Republik Athena dan agama Yunani Kuno. Dia memberontak dengan mengajak para pemuda untuk berpikir bebas. Akibatnya dia ditangkap, diadili dan disuruh minum racun. Untung dia punya murid bernama Plato yang mau melanjutkan upayanya. Plato berhasil membentuk sebuah institusi Akadema. Socrates dan Plato adalah salah satu tonggak kebebasan berpikir yang kemudian dilembagakan berupa sekolah dan terutama perguruan tinggi, namun dalam praktik sehari-hari institusi sekolah maupun perguruan tinggi ini lebih banyak melakukan praktik penyeragaman berpikir daripada kebebasan berpikir.

Kebebasan berpikir warisan Socrates dan Plato ini di abad modern telah menjadi institusi yang sama sekali tidak punya toleransi. Di Amerika Serikat yang katanya demokratis pun, pendidikan tradisional ala orang Indian tidak diberi tempat memadai. Di Indonesia, pendidikan yang diberikan oleh orang-orang Badui Dalam terhadap anak-anak mereka pelan-pelan namun pasti akan tergusur oleh pendidikan modern ala Barat. Pendidikan model pesantren yang khas itu juga harus menyesuaikan diri dengan kurikulum resmi pemerintahan agar lulusannya dapat diakui atau disamakan. Kebebasan berpikir dari Socrates itu telah berubah total menjadi penyeragaman berpikir.

Jesus juga mirip dengan Socrates. Kebebasan berpikir, yang diajarkannya adalah reaksi keras terhadap penyeragaman berpikir yang dilansir oleh agama Jahudi dan kekasiaran Romawi. Akhirnya Jesus juga ditangkap, diadili dan dibunuh. Namun ketika para muridnya berhasil membangun sebuah institusi kebebasan berpikir ini pun serta merta menjadi sebuah pembatasan berpikir. Bahkan di abad pertengahan upaya pembatasan berpikir ini dilakukan dengan tindakan kekerasan.

Di Indonesia, agama-agama modern (Islam, Kristen, Katholik, Hindu dan Budha) juga diperalat untuk menyeragamkan pola pikir masyarakat. Selain lima agama modern ini tidak diperbolehkan menyebutkan dirinya sebagai agama. Istilahnya menjadi aliran kepercayaan, ekstrem kiri-kanan, sempalan, aliran sesat, dan lain-lain.

Jadi kecendekiawanan itu sendiri sebenarnya juga membawa sebuah paradoks. Begitu sikap berpikir bebas itu ditularkan ke orang lain, lebih-lebih diwadahi dengan paham dan institusi baru, maka yang terjadi kemudian adalah sebuah pengekangan dan penyeragaman berpikir. Jadi tantangan yang dihadapi cendekiawan, bukan hanya sekadar membebaskan dirinya dari isme tertentu, namun juga membebaskan diri dari niat untuk mengajarkan dan memaksakan ismenya kepada orang lain.

***

Pembebasan pikiran para cendekiawan dari kekuasaan isme, institusi dan lain-lain, tidak bisa dipaksakan ke masyarakat, bukan hanya karena paradoks tadi. Ada alasan lain. Masyarakat pada umumnya memang cenderung senang dikuasai, senang ditindas, senang membayar upeti, senang diperlakukan tidak adil (diskriminatif) dan lain-lain. Sebagai imbalan dari sikap ini, masyarakat menuntut untuk dilindungi, dibina, dibela, diarahkan dan diberi pedoman serta hiburan.

Pada zaman Yunani dan Romawi masyarakat mau dikuasai para raja, dewa-dewa dan Nabi. Di lain pihak masyarakat bisa aman dan enak hidupnya karena perlindungan dan pedoman hidup dari para penguasa itu. Di abad modern ini Nabi-nabi sudah tidak datang lagi. Dewa-dewa sudah diganti dengan ajaran Monotheisme. Namun masyarakat tetap mau dikuasai dan minta perlindungan serta pedoman.

Amerika pun, masyarakatnya senang sekali dikuasai oleh uang, media massa, mahabintang, olahragawan kelas dunia dan lain-lain Untuk itu masyarakat Amerika mau saja diperbudak di depan televisi, mau membayar tiket tontonan mahabintang yang mahal dan lain-lain. Sebagai imbalan, mereka mendapat hiburan dan pedoman hidup.

Massa, pada akhirnya memang ibarat binatang yang bodoh. Mudah digiring ke mana-mana. Individu yang lemah hanya akan merasa aman apabila bergabung dengan individu lain dan mengelompok menjadi massa dengan segala institusinya. Cendekiawan adalah individu yang kuat dan bebas. Dia tidak memerlukan perlindungan, pembina atau pimpinan. Sebaliknya, cendekiawan juga tidak bisa dikuasai, dilindungi, ditentukan arahnya dan lain-lain oleh siapa pun. Kontroversi ICMI misalnya, sebenarnya tidak perlu ada, kalau kita sekadar melihat ICMI hanyalah sebagai institusi fisik. ICMI tidak mungkin dapat mengatur atau mengontrol kecendekiawanan dan kemusliman para anggotanya. Jadi menggebu-gebu menaruh harapan yang luar biasa pada ICMI jelas salah. Tapi menentangnya habis-habisan juga keliru. Bagi saya ICMI sama halnya dengan organisasi profesor, organisasi kiai, organisasi pastor dan lain-lain. Mangunwijaya misalnya, adalah pastor Katholik, tapi dia toh tetap dapat berfungsi sebagai cendekiawan dengan baik. Demikian pula halnya dengan Emil Salim yang cendekiawan tetapi toh berkali-kali menjadi menteri.

***

Kecendekiawan adalah milik khas umat manusia. Hanya dengan memelihara dan mengembangkan kecendekiawanannya manusia tidak menjadi binatang.

Saat ini pemerintah, agama, konglomerat, pendidikan, media massa dan lain-lain cenderung mengungkung dan menyeragamkan pikiran manusia. Kalau ini dibiarkan, manusia akan kembali mirip dengan binatang.

Tugas cendekiawan adalah senantiasa mengaktualkan pikirannya agar bebas dari kekuasaan apa pun, termasuk kekuasaan intelektualnya sendiri untuk sekadar membentuk isme/institusi baru.

Namun cendekiawan juga dituntut rendah hati. Kecendekiawanan hanyalah keterampilan otak biasa. Mirip dengan keterampilan menganyam rotan, menembak, bela diri dan lain-lain. Kecendekiawanan sah untuk digunakan sang pemilik otak guna mencari nafkah. Misalnya dengan menjadi wartawan, konsultan, staf ahli menteri, dosen dan lain-lain tanpa perlu mengorbankan kecendekiawanannya. ***

Diskusi II : Kecendekiawanan dan Kebebasan

F. Rahardi (Pembicara I) :

(Meskipun mengambil banyak ilustrasi, hampir seluruh uraian Pembicara I ini bersandar penuh pada makalahnya).

F. Rahardi :

Saya tidak berani mengkritik ICMI, bukan karena saya Katolik, tetapi saya tidak pernah mau berkomentar terhadap sesuatu yang tidak saya ketahui. Saya harus mengetahui terlebih dahulu tentang hal itu, baru saya berani mengkritik.

Karena saya orang Katolik, saya tidak berani mengkritik Islam. Bukan karena takut, tapi karena saya tidak mengetahui tentang Islam. Saya memang tidak mengkritik. Yang saya sebutkan di sini adalah komentar orang-orang terhadap ICMI, bukan komentar saya terhadap ICMI.

Ada hal yang menarik dari komentar moderator dan tentang ruang kebebasan yang tidak boleh diajarkan, karena takut akan terbentuknya suatu isme atau institusi baru. Lalu bagaimana?

Menurut saya hal itu tidak perlu diajarkan. Saya sendiri mempunyai gagasan dan persepsi sendiri tentang agama Katolik, tetapi saya tidak mengajarkan hal tersebut, karena begitu saya ajarkan terbentuk suatu sekte atau isme baru. Saya menganggap bahwa agama bukan sebuah kemungkinan, karena, sebagai anggota komunitas, saya melihat bahwa agama – agama Katolik yang membelenggu, dan memenjara tadi – juga sekaligus memberikan perlindungan. Itu membuat orang merasa aman atau bebas berada di dalamnya. Jadi agama bukan merupakan kungkungan.

Tentang kebebasan, saya berpendapat tidak ada yang bisa mengatur kebebasan seseorang, termasuk pemerintah. Jadi apabila ada yang berteriak-teriak “kebebasan berpikir dibelenggu”, itu keliru.

Mengenai konsep menyatu dengan Tuhan – sebenarnya pertanyaan ini ditujukan pada Saudara Anharudin. Tapi menurut saya, menyatu dengan Tuhan itu dapatlah dianalogikan seperti kita menyatu dengan istri atau dengan perempuan.  Saya tidak memakai baju tersebut tatkala mendekati perempuan, saya akan dianggap gila. Tetapi begitu saya datang dengan agama, dengan baju itu menghadap Tuhan, lalu saya tetap memakai baju itu sementara saya sudah di kamar, saya bisa dianggap bego. Sebab dengan tidak menanggalkan baju tadi, paling banter saya hanya dapat mendekatkan diri dengan Tuhan, tapi tidak pernah bisa menyatu dengan-Nya. Kondisi dimana ketika saya bisa menyatu dengan Tuhan, adalah kondisi ketika seluruh baju yang saya pakai saya tanggalkan, seluruh konsep-konsep agama itu saya tanggalkan. Itu hanya berlaku untuk saya, karena untuk Saudara Anhar mungkin berbeda. Hal ini tidak bisa saya paksakan. Kalau saya paksakan berarti saya sudah membentuk suatu sekte atau isme baru. Lalu kalau saya tetap memakai baju ini, itu karena menyatu dengan Tuhan, itu sesuatu yang tidak mungkin. Jadi ini sekadar memperjelas bahwa sebenarnya agama tetap bisa mendekatkan orang dengan Tuhan tetapi tidak bisa menyatukan orang dengan Tuhan. ***
Sumber : Buku Kebebasan Cendekiawanan – Refleksi Kaum Muda, Pustaka Republika, Jakarta, 1996. Buku ini berasal dari Simposium mengenai “Cendekiawan Indonesia, Masyarakat dan Negara: Wacana Lintas Kultural ” yang diselenggaraakan oleh Majelis Sinergi Kalam (Masika), ICMI, di Puncak, Jawa Barat, pada 8 – Oktober 1993.

Iklan

1 Komentar

  1. Evi said,

    Sangat suka dengan pernyataan Bapak, tidak mengkritik sesuatu yang tidak kita tahu. Itu kan juga kode etik cendikiawan ya Pak..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: