SAMBIL MENJAGA SOPAN SANTUNKU

02/01/2013 at 16:15 (puisi)

sambil menjaga sopan santunku
aku bertiarap
sambil menjaga sopan santunku
aku meludah
(kalau aku bertiarap di atas
tubuh wanita dan
yang melidah kemaluanku
itu baik!)

tapi aku lapar
tapi
sudah jam berapa kini
aku bertiarap
sambil meludah
ke kiri dan ke kanan
mulutku berbusa
kemaluanku tegang
tapi sopan santunku tetap terjaga

aku ketemu maling
dan ditegur
aku berjabat salam
dan rindu
aku ngantuk
dan gatal
seluruh diriku semrawut
tidak karuan
caranya bagaimana
supaya kembali normal

aku sudah menjaga sopa santunku
sambil duduk-duduk di stanplat
aku menjaga sopan santunku
sambil menggaruk-garuk lutut
aku menjaga sopan santunku
sambil apa saja
kujaga sopan santunku
sopan santunku kujaga ketat
tapi mulutku gatal
tapi biru sekali langit itu
aku memandang
tapi mataku letih
aku mengaduh
tapi telingaku minta
aduh, aku kekurangan
telingaku kekurangan bunyi
mulutku kekurangan sabun
napasku lambat
yah mau apa lagi
memang kita orang kecil
maka sambil melihat pilem
sopan santunku kukrangkeng
aku tetap menjaga
siang dan malam
ketika di wc
kulihat perutku putih
ketika di pasar
nampak sapi dipotong
sapi-sapi ini aduhai
sopan-santunnya
waktu dipotong
hanya melenguh
tidak mengeluh
aku sudah menjaga aku sopan
sebab nyatanya di mana-mana
aku disambut baik
di sekolahan
aku diajar sopan
di gereja
aku disuruh sopan
dan manakala lewat di cermin
kulirik sopanku
bagus sekali

hanya mengapa aku masih saja
ketakutan
dalam bis
aku menggigil
jangan-jangan sopanku sedikit
dalam klas
aku mendongkol
jangan-jangan sopanku keliru
aku takut
sopan santunku habis
bagaimana caranya
agar takutku hilang
bagaimana

sedih
sedih sekali
sambil bersedih aku berbaring
sambil menangis aku melihat
aku begitu sambil menjaga
agar sopanku berkembang biak
dan takutku selesai

itu di kamar
aku sendiri
dingin dan sepi
sedihku bangkit

sambil menjaga sopan santunku
aku meratap-ratap
sambil menjaga sopan santunku
aku sakit
aku sakit berat
dipanggil-panggil dokter
takutku berkembang biak
dan sopanku sedih

sambil sakit berat
aku bersopan santun
sambil berak di kamar
aku menggaruk lutut
sambil meringis
aku tertawa
aku sopan bukan?

dan aku terus bersopan santun
tetap bersopan santun
sampai sakit berat
sampai sekarat
mengapa diriku
masih semrawut
dan kacau balau
aduh
aku kekurangan.

Amb. 28 Februari 1975
Pernah dimuat di Majalah Horison, Juli 1977

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: